SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents
Contents


Zhang Yimou's masterpiece: The Flowers of War (2011)

E-mail Print PDF
ImageKalau kita mengingat kemegahan opening & closing ceremony pada Beijing Olympic 2008 sukses itu tidak lepas dari hasil kreasi sutradara besar China: Zhang Yimou. Pada akhir 2011 Zhang Yimou merelease film terbarunya yang berjudul The Flowers of War. Film ini diangkat dari sebuah novel yang berjudul "13 Flowers of Nanjing" karya penulis wanita yang terkenal Yan Geling. Ini adalah sebuah kisah fiksi tapi mengambil background sejarah, yaitu pembantaian di kota Nanjing pada 13 Desember 1937 selama 6 minggu, kisah sejarah ini dikenal dengan istilah "The Nanjing Massacre" atau "The Rape of Nanking" yang menurut catatan sejarah terjadi pembunuhan terhadap 300,000 penduduk termasuk kejahatan pemerkosaan di dalamnya yang dilakukan oleh tentara Kekaisaran Jepang.

Peristiwa "The Nanjing Massacre" sampai sekarang masih menjadi ganjalan hubungan China dan Jepang, yang paling ramai diberitakan di banyak mas media pada tahun 2006 pada masa pemerintahan Perdana Menteri Junichiro Koizumi. Saat itu ada hal yang membuat pemerintah China sangat marah ketika Kementerian Pendidikan Jepang memproduksi buku sejarah untuk anak-anak sekolah di Jepang yang "menyulap" fakta kekejaman dan kejahatan perang yang dilakukan militer Jepang di wilayah pendudukan antara tahun 1930-an hingga 1940-an. Dalam buku tsb. Jepang lebih dicitrakan sebagai pembebas negara-negara Asia daripada sebagai penjajah; dan peristiwa "Pembantaian Nanjing" tidak dimasukkan ke dalam buku tersebut. Terlepas dari kenyataan sejarah, Jepang ingin menyampaikan kepada generasi mudanya bahwa perbuatan militer mereka di masa lampau tidak lain adalah "insiden kecil" dalam peperangan sehingga tidak ada yang perlu disesalkan. Namun bagaimanapun bukti-bukti sejarah tidak dapat dengan mudah dihapus begitu saja, teriakan darah para korban di masa lalu, masih terngiang sampai sekarang dalam rekaman foto, film dokumenter, kesaksian berita, tulisan-tulisan, dll.

Nanjing pernah menjadi ibukota China pada masa Dinasti Ming (dan 6 dinasti lainnya). Dan pada penghujung akhir kekuasaan Dinasti Qing (dinasti terakhir) yang berpusat di Beijing, setelah Revolusi Nasional (The Xinhai Revolution) di tahun 1911, oleh Dr. Sun Yatsen, Nanjing kembali ditunjuk menjadi Ibukota China pada tatanan pemerintahan baru "Republic of China" mulai January 1912. Dan pada 1927, di dalam kekuasaan Partai Kuomintang (KMT) yang diketuai Jendral Chiang Kai-shek, Nanjing resmi sebagai ibukota. Namun pada tahun yang sama, yaitu tahun 1927 terdapat perang saudara antara Partai Kuomintang (nasionalis) dan Partai Kung Chan Tang (komunis) sampai Jepang menguasai China pada tahun 1937. Setelah Jepang menguasai China termasuk menguasai Nanjing pada tahun 1937, Jenderal Chiang pernah menyetujui kerja-sama dengan Partai Komunis untuk melawan Jepang sampai tahun 1945 Jepang kalah perang dalam PD II. Namun demikian permusuhan 2 partai besar ini terus berlanjut, kedua partai tidak punya saling kepercayaan, Partai Nasionalis yang walaupun didukung Amerika/ pihak barat, mereka dikalahkan oleh tentara rakyat pembebasan (partai komunis) dan akhirnya Jenderal Chiang harus keluar dari China dan mendirikan "pemerintahan baru" di Taiwan pada tahun 1949.

Itu adalah sedikit cacatan sejarah mengenai kota Nanjing, dan film The Flowers of War mengangkat kembali kisah pilu hancurnya kota itu. Film ini dibuka dengan seting gambar pada 13 Desember 1937, dalam suasana keputus-asaan kota yang telah hancur lebur di dalam cuaca dingin dan berkabut, ledakan ramai di sana sini, anak-anak dari gereja Winchester Cathedral itu berlari-lari dalam ketakutan, mereka kembali menuju gereja karena sudah tidak ada harapan lagi sampai menuju tempat pengungsian/ keluar dari kota Nanjing. George Chen (Huang Tianyuan) satu-satunya anak laki-laki dalam rombongan itu memimpin teman-teman perempuannya dan berusaha menghindar dari ledakan dan hujanan peluru. Suasana mencekam itu agaknya kemudian dibikin agak sejuk dengan narasi salah satu murid gereja itu yang bernama Shu (Zhang Xinyi). Dia bersama 1 murid lainnya terpisah dari rombongan teman-temannya, dan bersembunyi di tempat penggilingan tepung, tempat itu mengawali pertemuannya dengan John Miller (Christian Bale) yang dipanggil ke Nanjing untuk mengurus pemakaman father Ingleman di gereja Winchester Cathedral.

Hari itu tinggal tersisa sedikit pasukan dari Republik of China yang dipimpin oleh Major Li (Tong Dawai) yang juga seorang sniper. Di dalam pertempuran yang sudah tidak berimbang, Major Li tetap bersemangat memimpin pasukannya dan memanfaatkan sebaik-baiknya kekuatan dan senjata yang masih tersisa, termasuk mempergunakan manusia sebagai "senjata" untuk melawan tank-tank musuh. Drama pertempuran yang dikemas Zhang Yimou ini seperti suatu perpaduan ganasnya perang dari beberapa film yang sudah kita kenal: Saving Private Ryan (1998), Enemy at the Gates (2001), dan Black Hawk Down (2001) di dalam kegetiran pembantaian manusia seperti di film Schindler's List (1993). Zhang tidak melupakan sentuhan emosional dari keadaan yang mencekam itu, dia memadukan gambar-gambar itu dengan musik orkestra dan paduan suara anak-anak, dengan sound effect peperangan yang porporsional. Kekuatan film ini juga pada sinematografi, Zhang memainkan banyak warna di tengah cuaca dingin berkabut dan suramnya kota Nanjing yang telah hancur.
Warna-warni indahnya mozaik kaca gereja dan kilau beling-beling pakaian para wanita, bentangan tanda palang merah di halaman gereja, sinar yang disajikan menembus kabut kelamnya kota Nanjing, semburatnya darah dari bayonet serdadu Jepang menjadi satu percampuran antara keindahan warna sekaligus kegetiran perang yang biadab. Semuanya turut bercerita dalam kemasan sinematografi yang digarap secara hati-hati dan cermat.

Zhang berhasil menyajikan paduan gambar-gambar itu dengan musik yang luar biasa, yang mau tak mau membuat penonton hatinya turut tersayat-sayat dengan indahnya nyanyian dari paduan suara anak-anak itu. Saya sangat memperhatikan musik-latar ketika menonton film. Buat saya itu adalah bagian yang sangat penting dalam sebuah film. Dan, sajian Musik di film ini sungguh bagus, musik lokal sendiri dari China Philharmonic Orchestra, conductor Zhang Yi. Sebelumnya saya mengira bahwa koor anak-anak itu mungkin dari Vienna boy's choir, atau dari The King's College, Cambridge atau Libera, London ternyata juga muatan lokal, yang menyanyi adalah anak-anak dari Beijing No. 17 Middle Schooll Jinfan. Saya yang masih beranggapan bahwa dunia barat adalah barometer musik dunia, kini harus menyadari bahwa dalam Industri music di masa datang, China sudah layak diperhitungkan. Sekarang ini China memiliki jumlah murid yang belajar musik terbesar di dunia. Menurut catatan statistik sudah lebih dari 50juta siswa yang belajar berbagai genre music di sekolah-sekolah music di China. Dan, sebenarnya kita sudah melihat hasilnya, contohnya, yaitu nama pianis terbaik dunia Lang Lang dan komponis pemenang oscar Tan Dun.

Kembali kepada kisah cerita. Diantara luluh-lantaknya kota Nanjing, gereja katedral itu masih berdiri hampir masih utuh. Di gereja itu tinggal murid-murid perempuan dan seorang anak yatim piatu laki-laki bernama George Chen asuhan father Ingleman, kebanyakan diantara mereka sudah dijemput orang tuanya dan pergi ke pengungsian atau meninggalkan kota Nanjing. Kini di gereja itu tinggal para murid yatim-piatu, mereka tidak punya siapa-siapa hanya menunggu mujizat bagaimana dapat meninggalkan kota yang saat itu sudah menjadi neraka. Kehadiran John Miller di gereja itu memberikan harapan bagi anak-anak sepeninggal father Ingleman. Bahkan mereka memanggil dia dengan father John yang dimana pada awalnya dia menolak panggilan ini, tetapi karena keadaan yang memaksa akhirnya diapun menerima panggilan itu dan bertindak selayaknya bapak yang melindungi anak-anaknya. Shu sebenarnya masih mempunyai ayah yang berusaha menyelamatkannya dengan bekerja bagi tentara Jepang. Namun, tindakan yang dilakukan ayahnya ini tidak disetujuinya, sehingga ia lebih memilih tinggal bersama-sama dengan teman-temannya yang lain. Gereja itu juga menjadi tempat tujuan para pengungsi lain yaitu kelompok wanita penghibur dari daerah Qinhuai River berusaha masuk ke gereja itu untuk menyelamatkan diri mereka. Primadona dari kelompok wanita penghibur itu bernama Yu Mo (Ni Ni) yang fasih berbahasa Inggris sehingga mudah bagi father John berkomunikasi dengannya.

Kehadiran kelompok wanita penghibur tentu tidak disukai para murid, hal itu wajar saja. namunGeorge Chen berbaik hati memperbolehkan mereka bersembunyi di gudang bawah. Namun, bagaimanapun terdapat pertikaian antara mereka. Tidak lama setelah mereka tinggal ada insiden peluru dari sniper tentara Jepang menembus leher salah satu murid, dan pasukan Jepang memasuki gereja itu dan memperkosa beberapa anak-anak itu dan ada satu diantaranya yang meninggal. John Miller yang berada di tempat yang sama berusaha melindungi para murid dengan berakting sebagai pastor pengasuh bagi anak-anak itu, ia mengusir tentara-tentara Jepang itu, namun tindakan ini tidak berhasil sampai peluru dari Major Li menembus ke beberapa tubuh pasukan Jepang dan beberapa diantaranya mati. Pemburuan anak-anak oleh tentara Jepang itu kemudian beralih menjadi medan pertempuran antara tentara Jepang dan sisa kekuatan Major Li, meski dia harus tewas, tetapi hasil perjuangannya memberikan dampak perginya serdadu-serdadu itu dari gereja itu.

John Miller yang dulunya seorang oportunis, hanya memikirkan uang dan kesenangan pada saat itu berubah drastis menjadi seorang yang sangat berbelas kasihan untuk melindungi anak-anak itu. Nuraninya tergugah, dia sebagai seorang satu-satunya laki-laki dewasa harus menjadi pelindung bagi anak-anak itu. Keadaannya sebagai seorang barat memudahkan dia untuk berpura-pura sebagai pastor gereja itu dan ia dipanggil sebagai"father John". Dan tampang bule yang dimilikinya lebih aman dari bahaya pembunuhan oleh tentara Jepang. Ini ada sejarahnya, dinasti Qing (kekaisaran Manchu 1644-1911) mengalami pelapukan dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi negara-negara asing yang masuk ke daratan China. Akibatnya Hong Kong dikuasai Inggris, Macao dikuasai Portugal, kota Shanghai dibagi-bagi antara banyak negara asing. Jadi sama-sama sebagai agressor, tentara Jepang tidak akan melukai orang-orang yang bertampang bule.

Insiden di dalam gereja yang seharusnya ada dalam perlindungan membuat seorang pemimpin tentara Jepang Colonel Hasegawa (Atsuro Watabe ) datang meminta maaf atas perlakuan serdadu-serdadu Jepang di gereja itu. Colonel Hasegawa berjanji tidak akan ada lagi tentara Jepang yang berbuat tidak senonoh di gereja itu, dan gereja itu dijaga ketat dalam perlindungan pasukan Jepang. Colonel Hasegawa menyukai musik, ia berjanji dalam 2 hari ia akan datang lagi untuk mendengar anak-anak itu bernyanyi dalam paduan suara, dan disinilah pokok dari kisah The Flowers of War yang sangat menyentuh ini.

Tidak hanya John Miller, hati-nurani para wanita penghibur itupun menjadi terketuk untuk menjadi penyelamat anak-anak itu. Mereka yang mulanya datang ke gereja itu untuk mencari keselamatan diri, kini merekalah yang menjadi sang penyelamat. Mereka berjuang agar jangan sampai anak-anak itu celaka karena kebengisan tentara Jepang. Mereka yang merasa sudah dewasa, yang lebih siap dan biasa melayani laki-laki menempatkan diri mereka dengan segala resikonya, dengan satu tujuan bahwa anak-anak ini harus dilindungi. Perbuatan baik kadang datang tidak diduga-duga dari orang-orang yang kita anggap pendosa, bahkan kadang mereka melakukan hal spektakuler tanpa pamrih. Shu gadis yang pernah putus asa dan hampir bunuh diri karena ganasnya perang itu, kini merasakan betapa hidupnya sungguh berharga mahal, sebab dia dan teman-temanya dilindungi para malaikat penyelamat yang mengelilinginya, father John, George, Major Li, ayahnya sendiri dan para wanita penghibur dari Qinhuai River "the flowers of war".

Film The Flowers of War, konon yang termahal dalam sejarah perfilman di China, menelan USD 100juta. Christian Bale bermain sangat bagus, juga aktor cilik Huang Tianyuan yang berperan sebagai George Chen. Ini adalah film yang kedua bagi Christian Bale dengan setting di Mainland China setelah film Empire of the Sun (1987) yang dibintanginya dulu saat ia berumur 13 tahun. Keindahan gambar-gambar dan musik yang disajikan oleh Zhang Yimou ini tidak cukup apabila hanya ditonton satu kali. Film ini masih enak ditonton, masih menyentuh emosi dan perasaan walaupun sudah yang ke-lima kalinya ditonton. Rasakan kekuatan gambar yang bercerita itu, berbobot lebih berat daripada film-film tentang peperangan yang lainnya. Tidak terlalu berlebihan apabila saya merasakan bahwa film ini adalah salah satu yang terbaik di sepanjang abad perfilman dunia.

Bravo!



Blessings,
Bagus Pramono
January 13, 2012


Image
Last Updated on Friday, 13 January 2012 17:02
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 15