SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Entertainment AGORA, Movie Review

AGORA, Movie Review

E-mail Print PDF
User Rating: / 2
PoorBest 
ImageRachel Weisz ... Hypatia
Max Minghella ... Davus
Oscar Isaac ... Orestes
Ashraf Barhom ... Ammonius
Michael Lonsdale ... Theon
Rupert Evans ... Synesius
Richard Durden ... Olympius
Sami Samir ... Cyril
Manuel Cauchi ... Theophilus
Homayoun Ershadi ... Aspasius
Oshri Cohen ... Medorus

Director: Alejandro Amenábar
Writers: Alejandro Amenábar, Mateo Gil
Music Score: Dario Marianelli
Cinematography: Xavi Giménez


MOVIE REVIEW:

AGORA, adalah drama sejarah pada masa pemerintahan Roma di Mesir (Alexandria). Makna kata AGORA (bahasa Yunani: αγορα – agora) adalah tempat untuk pertemuan terbuka untuk warga negara berkumpul untuk bermusyawarah dengan raja atau dewan di negara/kota di Yunani Kuno. Film ini bercerita tentang tokoh sejarah perempuan yang bernama Hypatia (Rachel Weisz) yang lahir antara tahun 350-370, meninggal pada bulan Maret 415 Masehi. Hypatia adalah anak perempuan dari Theon Alexandricus (Michael Lonsdale), seorang kepala museum/ perpustakaan di Alexandria. Hypatia adalah seorang perempuan pertama yang diakui sebagai ilmuwan, ahli matematika, anstronomi sekaligus dikenal sebagai Professor filsafat di Alexandria. Hypatia sangat terobsesi dengan ilmu pengetahuan, ia ingin meneruskan penelitian yang telah dilakukan Claudius Ptolemaeus (90-168 M), yang adalah ahli astronomi dan geografi. Ada 3 buah buku yang menjadi maha karya pemikirannya: "Almagest" (Risalah Besar), "Geographia," dan "Tetrabiblos" (4 Buku) mengenai astrologi, horoskop dan filsafat Aristotelian. Ptolemeus mengajukan teori Geosentris di mana bumi adalah pusat tata surya sehingga seluruh planet dan matahari mengelilingi bumi. Saking kuatnya pemikiran geosentris ini, Gereja pun sampai pada abad-abad selanjutnya mengadopsi pemikiran ini sehingga teori Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) yang diajukan Copernicus (1473-1543 M) dan diperkuat oleh Galileo (1564-1642 M) sempat dianggap sebagai hal yang sesat. Tetapi kemudian Gereja mengakuinya dan merehabilitasi nama baik Galileo beberapa abad kemudian.

ImageHypatia mengajar di Platonic School (sekolah untuk kaum terhormat pada waktu itu yang berdasarkan ajaran filsuf Plato). Hypatia mempunyai murid yang nantinya menjadi tokoh masyarakat bernama Orestes (Oscar Isaac) dan Synesius (Rupert Evans). Orestes nanti menjadi Gubernur Romawi di Alexandria dan Synesius menjadi uskup di Ptolemais/ Cyrene. Dalam film ini pula diceritakan tokoh sentral lainnya, yaitu Davus (Max Minghella, anak dari sutradara dan penulis skenario senior Anthony Minghella). Davus adalah seorang tokoh fiksi untuk mendramatisasi kisah. Meski demikian, peristiwa yang diangkat dalam film ini tidak sepenuhnya fiksi, tetapi juga sebuah cuplikan sejarah masa lalu. Sajian gambar visualisasi perpustakaan sungguh amat bagus demikian pula suasana diskusi ilmiah tentang filsafat, astronomi dan matematika di Alexandria, ini membuat film ini menjadi semakin menarik, bravo buat penulis skenario film ini: Alejandro Amenábar dan Mateo Gil.

Orestes sang murid digambarkan sebagai pribadi yang menarik, setia dan teguh kepada janjinya termasuk cintanya kepada Hypatia. Tetapi Hypatia tidak menerima cinta Orestes, karena ia lebih mencintai filsafat sebagai jalan hidupnya. Demikian pula Davus si budak Kristen itupun jatuh cinta kepada Lady Hypatia yang atheis. Sosok kecemerlangan intelegensi Hypatia rupanya terlalu tinggi bagi setiap laki-laki untuk dapat memperistrinya, apalagi bagi Davus yang terjebak pada strata sosial.

Pada akhir abad ke 4 ini, Kristianitas di Alexandria telah mendapatkan tempat pada masyarakat luas terutama kaum papa termasuk kaum budak. Ajaran kasih dan persamaan derajat menarik hati rakyat kelas bawah. Dalam masa ini pula diceritakan di Alexandria hidup 3 macam golongan: Kristen, Yahudi dan Pagan. Ada satu paradoks yang ditampilkan disini, bahwa ajaran tentang Kasih itu rupanya dapat membuat orang menjadi sombong, dan atas nama kasih pula orang dapat berbuat anarki. Kekristenan yang diperkenalkan menjunjung kasih dan kedamaian tidak selalu membuktikan atibut-atribut ini. Sebaliknya Kekristenan pada masa itu menunjukkan arogansinya, menghina/ merendahkan kaum-kaum lainnya karena merasa bahwa ajaran yang dipegangnya sekarang ini merupakan ajaran yang paling sempurna, karena ajaran itu diterima dari Allah sendiri yang datang sebagai manusia. Penginjil Kristen Ammonius (Ashraf Barhom) sebagai contoh dalam film ini bertindak sangat arogan ketika memperagakan mujizat yang dia klaim dari Tuhan, ia dan kelompoknya bahkan tidak segan membakar hidup-hidup seorang pagan dalam sebuah KKR "kompetisi mujizat" yang disaksikan orang-orang di tengah kota.

Kaum Pagan yang diketuai Olympius (Richard Durden) tidak tahan dengan penghinaan orang-orang Kristen, kemudian atas restu Theon, ayah Hypatia mengadakan perlawanan. Namun kekuatan Kristen arus bawah tidak dapat dibendung dan memaksa kaum Pagan bertahan di Serapeun & Library. Kekacauan ini membuat pemerintah pusat melakukan tindakan, melalui Gubernur Alexandria, Evagrius (Harry Borg), dibacakan keputusan penyelesaian konflik Pagan vs Kristen, yaitu dengan mengampuni semua kalangan Pagan yang terlibat dalam konflik tetapi mereka harus meninggalkan Serapeun & Library. Selanjutnya Serapeun & Library akan diberikan kepada kaum Kristen. Hypatia dan murid-muridnya sibuk menyelamatkan literatur-literatur yang sangat berharga yang ada di perpustakaan. Pada saat ini Davus di dalam konflik batinnya antara memilih bergabung dengan kelompok Kristen ataukah tetap melayani lady-nya. Selanjutnya Hypatia memberikan kebebasan kepadanya dari status budak dan Davus bergabung dalam kelompok Parabolani di bawah asuhan penginjil Ammonius (Note: Parabolani adalah kelompok Kristen yang melayani orang-orang miskin yang berani mati bagi Kristus, kadang pula kelompok ini dipakai Gereja menjadi pengawal bagi uskup setempat, atau sebagai seksi keamanan untuk Gereja atau lebih tepatnya premannya Gereja).

Kemudian cerita beralih ke tokoh sejarah yang lain, yaitu Bapa Gereja, St. Cyril dari Alexandria (380-444). Cyril (Sami Samir) adalah keponakan dari uskup Alexandria sebelumnya Theophilus (Manuel Cauchi). Sosok Cyril digambarkan sebagai seorang yang haus kekuasaan, terlihat dari ketika ia melepas cincin dan topi keuskupan dari pamannya pada saat meninggal dan kemudian mengangkat dirinya menjadi uskup selanjutnya. Di bawah kepemimpinannya, kelompok Kristen tidak hanya mengambil hati arus bawah, lambat laun dapat mempengaruhi orang-orang di pemerintahan, banyak pejabat pemerintahan yang kemudian menjadi Kristen. Kemudian berlaku pula suatu keputusan di Alexandria bahwa segala bentuk penyembahan paganisme dilarang, hanya agama Kristen dan agama Yahudi yang diperbolehkan.

Sementara itu Hypatia tetap menjadi anggota elit ilmuwan di Alexandria dan tetap mengajar. Menariknya Hypatia ini selalu digambarkan melibatkan budaknya Aspasius (Homayoun Ershadi) untuk bertukar pikiran tentang ilmu pengetahuan. Hubungannya dengan Orestes sang murid yang juga telah menjadi Kristen ini tetap berjalan baik meskipun Hypatia tidak pernah mau menikah. Banyak bekas murid Hypatia yang kemudian menduduki jabatan penting/ social elite di Alexandria, Orestes menjadi Gubernur (Prefect) di Alexandria, dan ia tetap menghormati Hypatia.

Kekuatan Kristen semakin menjadi, Cyril sang Uskup berambisi untuk membersihkan Alexandria dari segala bentuk kepercayaan lain, dan termasuk kemudian memusuhi kaum Yahudi. Kaum Yahudi kemudian mengadakan strategi perlawanan yaitu jebakan yang menyebabkan banyak Parabolani mati dalam keadaan dirajam batu. Beruntung Davus dan Ammonius selamat dalam insiden ini. Namun bagaimanapun Davus tetap diperhadapkan pada perang batin, antara membela agamanya dan suara hati yang mengatakan bahwa sesungguhnya kelompok Kristen yang dia bela juga melakukan kekejaman, kekotoran dan menyimpang dari ajaran Kristus yang selalu mengajarkan pengampunan. Selanjutnya Cyril memerintahkan Parabolani mengadakan pembalasan yang disebutnya "annihilation of women and children" (penihilan/ pembasmian perempuan dan anak-anak). Orestes yang menjabat sebagai gubernur (Prefect), tidak dapat berbuat banyak untuk mencegah kejahatan Cyril karena dia sendiri telah menjadi Kristen dan bagian dari jemaat Gereja. Terlebih lagi semenjak kelompok Kristen juga menguasai pemerintahan, pembelaan seorang Orestes kepada orang Yahudi akan dianggap melawan pemerintah pusat. Saat Orestes menjadi gubernur, Hypatia cukup berpengaruh, ia adalah satu-satunya perempuan yang bisa berbicara di depan para anggota parlemen dan dia juga menjadi orang kepercayaan gubernur. Menanggapi insiden perang antara "Kristen dan Yahudi," Hypatia menegur Orestes di ruang senat dan meminta Orestes segera menangkap Cyril. Meski Orestes memahami alasan yang dikemukakan Hypatia, namun ini mustahil dilakukan. Orestes hanya dapat melakukan tindakan mencegahan kerusuhan selanjutnya dengan mengusir orang-orang Yahudi keluar dari Alexandria.

Orestes memahami kritikan Hypatia. Namun Kritikannya yang dilakukan di depan anggota Parlemen dan mengutuk tindakan Cyril sang Uskup dapat membahayakan keselamatannya, apalagi Hypatia mengaku bahwa ia seorang yang hanya percaya pada filosofi yang artinya dia adalah seorang atheis. Synesius yang telah menjadi uskup di Cyrene masih sering mengunjungi Hypatia. Maka dalam suatu pertemuan antara Orestes, Hypatia dan Synesius, sang gubernur itu meminta Synesius untuk mengadakan pendekatan kepada Cyril uskup Alexandria. Kemudian Synesius mengadakan upaya mediasi antara Hypatia dan Cyril. Cyril menolak untuk datang ke tempat Orestes, Cyril menganggap dialah wakil Tuhan. Maka Orestes yang menjadi jemaat Gereja yang dipimpinyalah yang harus datang kepadanya. Cyril meminta pertemuan diadakan saat kebaktian Minggu. Disini Cyril memanfaatkan kesempatan denan berkhotbah yang diambil dari 1 Timotius 2:8-15 terutama ayat 12 "Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri." Cyrill menjabarkan ayat-ayat Alkitab untuk melawan Hypatia sosok perempuan satu-satunya ilmuwan dan pengajar. Dari ayat itu Cyril menuduh Hypatia adalah pengajar ajaran sesat dan bukan cermin kehidupan Kristen yang seperti ditulis dalam Kitab Suci. Cyril menjabarkan ayat-ayat untuk kepentingannya dan untuk melakukan tuduhan bahwa Hypatia adalah seorang fasik (menentang Allah/ ungodly) dan penyihir. Di lain pihak Orestes juga merasakan bahwa khotbah yang disampaikan Cyrill adalah juga untuknya, sebab dia menempatkan Hypatia adalah penasehat dalam pemerintahan yang ia pimpin. Dalam sebuah tantangan Cyril yang disampaikan secara terbuka di kebaktian minggu itu, Orestes menolak untuk mengkianati Hypatia di depan umum. Orestes selanjutnya justru menanggapi khotbah Cyrill adalah hasil pemelintiran ayat.

Davus semakin tidak tahan dengan paradoks perilaku nyata orang Kristen di depan matanya dan pengajaran Yesus. Ketika Ammonius mencoba memprovokasi masa untuk menyerang Orestes (sebab ia juga dianggap menentang kitab suci dan gereja). Davus memilih tidak mengikuti ajakannya dan sebaliknya membunuh Ammonius. Davus melakukan langkah berani karena dasar hati nurani dan ikatan batin antara dia Hypatia. Paradoks pula yang dihadapi, dalam kematiannya itu Ammonius kemudian diangkat oleh Gereja sebagai seorang santo (orang suci). Setelah insiden itu Orestes semakin di dalam dilema, antara membela perempuan yang dia hormati dan cintai ataukah membela "agama"-nya. Dalam suasana yang gundah gulana ini Orestes tidak berani melakukan langkah-langkah yang jelas di pihak manakah seharusnya ia berpijak. Orestes berbicara kepada Synesius, apakah ia tetap menjadi kawan yang setia bagi dirinya dan ia mengungkapkan ketidak setujuan terhadap tafsir ayat dipakai Cyrill untuk menyerang Hypatia dan dirinya. Namun Synesius kembali memperhadapkan Orestes pada keyakinan yang dipilihnya, apakah ia seorang Kristen sejati yang menghormati ayat-ayat kitab suci yang adalah firman Allah?
Kita tahu, persoalannya disini kita dapat melihat bukan dari isi ayatnya itu sendiri, namun persoalannya adalah pada tafsir, yaitu tafsir yang disesuaikan dengan kepentingan seorang yang menjabat sebagai kepala Gereja untuk menekan lawannya dan menggiringnya kepada legitimasi untuk menghabisi seorang yang dianggap sesat dan fasik itu atas nama Tuhan.

Orestes dan Synesius bersepakat untuk berusaha keras agar Hypatia selamat, mereka memohon Hypatia untuk "berganti iman" menjadi seorang Kristen, hal ini dimaksudkan untuk dapat meredakan kemarahan dan akibat dari kemarahan Cyrill. Meski mereka menggunakan pendekatan filosofi yang pernah diajarkan Hypatia sendiri kepada mereka, Hypatia tetap pada pendiriannya. Hal ini dapat dipahami, bagaimana mungkin seseorang berpindah iman menjadi Kristen ketika orang-orang Kristen itu tidak memberikan kesaksian yang baik tentang Kristen itu sendiri. Hypatia tetap memilih filosofi sebagai suatu hal tertinggi yang ia percayai. Hal ini berarti Hypatia jelas akan berhadapan dengan kekuatan Gereja yang tidak segan menghukumnya dan membunuhnya. Orestes meratapi kenyataan ini, posisinya sebagai gubernur tidak cukup mampu melindungi Hypatia di dalam sebuah situasi dimana agama melebihi urusan kenegaraan.

Sementara itu kelompok Parabolani telah mendapatkan restu dari Gereja untuk menghabisi si kafir Hypatia dan mereka menyusun rencana bagi pembunuhannya. Davus yang masih mencintai lady-nya berusaha menemui Hypatia untuk memperingatkannya atau melindunginya, namun keadaan tidak memungkinkan Hypatia terlanjur sudah berada dicengkeraman kelompok Parabolani, mereka menelanjanginya, dan ketika kelompok Parabolani mempersiapkan pembunuhan rajam bagi perempuan ini, Davus dengan terpaksa membunuh Hypatia dengan harapan Hypatia dapat mati dengan cara yang tidak melalui sengsaranya ketakutan dan penyiksaan hukuman rajam. Ketika Hypatia tergeletak lemas, Davus mengatakan kepada kelompok Parabolani bahwa Hypatia hanya pinsan. Penghukuman dengan cara rajam tetap dilakukan selanjutnya tubuh Hypatia dimutilasi, kejadian ini telah direkam dalam sejarah, dan sepertinya tak mungkin menyangkalnya. Bahwa memang ada suatu ketika di masa lalu, seorang ilmuwan pertama perempuan mati di tangan gerombolan Kristen dalam keadaan ditelanjangi dan dihukum rajam dengan tuduhan bahwa dia adalah seorang fasik, penyihir sesat. Disini kita diperhadapkan dengan keberadaban dan budi seorang filsuf atheis dan ketidakberadaban orang-orang yang beragama.

Meski tidak banyak teori-teori yang ditinggalkan Hypatia namun tetap dia adalah seorang ahli matematika, ahli study conical curves, dan astronomer yang hebat. Seribu dua ratus tahun kemudian yaitu pada abad ke 17, hasil pemikirannya tentang curves itu dikembangkan oleh Johannes Kepler (1571-1630 M). Kepler menemukan jawaban tentang orbit planet yang berbentuk ellipse.

Konon setelah Hypatia tewas Prefect Orestes menghilang entah kemana, tidak ada orang yang tahu. Dengan absennya Orestes sebagai gubernur, Cyrill semakin memiliki kekuasaan yang absolut di Alexandria. Gereja kemudian mengumumkan bahwa Orestes adalah seorang pelanggar hukum. Pengasingan diri Orestes dapat dipahami, ia tak dapat lagi menghadapi perang batin dan suara-suara hati yang menegurnya. Dia seorang Kristen, sekaligus seorang yang berkuasa, tetapi ia tidak dapat melakukan hal-hal yang baik sebagai seorang pejabat pemerintah, sebagai seorang Kristen yang takut akan Tuhan, dan sebagai seorang laki-laki yang mencintai perempuan dengan tulus. Hal yang sama dialami oleh Davus, ia menemui kebobrokan-kebobrokan dari agama yang dianutnya, dan ia tidak dapat berbuat apa-apa bahkan menjadi bagian dari anarkisme itu. Dia tidak merasa menjadi seorang Kristen yang baik, sebaliknya ia adalah seorang pendosa yang merasa malu akan dosanya.

Sejarah di satu sisi mencatat Cyril, uskup Alexandria itu dikukuhkan sebagai orang suci (santo), dan menjadi salah satu Bapa Gereja mula-mula, dan di sisi yang lain terdapat catatan pula bahwa ada nama Hypatia sang professor filsafat tewas terbunuh oleh anarkisme Kristen, di masa Cyril menjabat.


REFLEKSI :

Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." (Kejadian 3:1,5)

Ayat diatas adalah sebuah contoh, bagaimana Firman yang telah diucapkan Allah dapat "diubah" untuk disampaikan kepada manusia untuk suatu tujuan jahat. Demikian pula yang disajikan dalam film AGORA. Seorang pemimpin agama dapat mempergunakan suatu ayat untuk ambisinya, untuk suatu tujuan jahat menghabisi lawannya. Film ini juga berceritera tentang catatan kecelakaan sejarah dari kaum Kristiani di masa lalu. Ketika kaum Kristiani meraih kejayaan mendapat tempat di sebuah komunitas dan dapat mempengaruhi politik. Ketika kesombongan itu terjadi, Kekristenan tidak beda dengan agama-agama lainnya. Dia menghakimi semua orang yang dianggapnya sesat, bahkan melakukan pembunuhan secara keji atas nama kasih kepada Tuhan. Sesungguhnya apa yang dilakukan mereka ini adalah bentuk arogansi, ambisi yang busuk dalam kemasan agama Kristen. Sebagai seorang Kristen, kita sering diperhadapkan dengan kecelakaan-kecelakaan sejarah yang dilakukan oleh orang-orang Kristen sendiri, termasuk diantaranya adalah tragedi Perang salib yang berlangsung ± 4 abad lamanya, Inquisisi/ pembunuhan kaum yang dianggap heresy yang dilakukan Gereja Katolik Roma, maupun Inquisisi ala gereja-gereja Protestan, dll. Tuhan kita rupanya tidak berbahagia ketika orang-orang Kristen membelaNya mati-matian dalam suatu perjuangan yang salah, sebagai salah-satu buktinya adalah Perang salib yang berlangsung ± 4 abad itu pada akhirnya tidak dimenangkan oleh kubu Kristen, melainkan berakhir dengan runtuhnya simbol kejayaan Kristen di Konstantinopel. Arogansi harus dibayar mahal dengan simbol-simbol yang dibanggakannya.

Ada beberapa teman yang memberikan "warning" kepada saya agar jangan menonton film AGORA ini, mereka menganggap film ini sesat, ngawur, mengada-ada dan digunakan untuk menghina Kekristenan. Tetapi sesungguhnya tidak, dan sebaliknya film ini baik ditonton orang-orang Kristen, sebagai suatu otokritik dan pembelajaran, supaya kita mengerti bahwa ajaran yang kasih sempurna dari Tuhan Yesus Kristus pernah dibelokkan berkali-kali oleh orang-orang Kristen sendiri, sehingga kasih berubah menjadi kebencian dan anarki, seperti yang diangkat pada film AGORA ini. Umberto Eco seorang novelis, semiolog, dan seorang ahli abad pertengahan, penulis buku "The Name of The Rose," juga mengupas "kejahatan Gereja" dan ia berpendapat "Kejahatan bisa muncul dari kesalehan"

Kejahatan Gereja muncul ketika kasih yang mula-mula itu dilupakan, Alkitab sendiri sudah memperingatkan dalam Wahyu 2:1-7 kepada jemaat di Efesus. Wahyu 2:4 ", dalam bahasa Yunani menulis "την αγαπην σου την πρωτην αφηκας - tên agapên sou tên prôtên aphêkas," terjemahan harfiah "engkau telah meninggalkan kasih yang pertama (terdahulu)." Kasih-semula dalam Wahyu 2:4 menyangkut dua aspek : Kasih persaudaraan; Kasih kepada Allah. Jemaat di Efesus sebenarnya sudah mempunyai keunggulan : perbuatan baik, jerih lelah, ketekukan, tidak sabar terhadap orang-orang jahat, membenci perbuatan penyembah berhala. Bukankah semuanya ini baik? namun perbuatan baik saja tidak cukup, karena walaupun berbuat baik tetapi kalau kehilangan kasih dapat pula menggiring jemaat untuk membenci dan melakukan perbuatan-perbuatan anarki melawan orang-orang yang dianggap sesat.

Kita bergereja dan belajar Firman Tuhan adalah dikarenakan kita haus akan kebenaran. Namun hal ini tentu saja tidak cukup, karena rasa kehausan itu jika tidak dilakukan dengan kasih akan juga berbelok arahnya. Sebab, ketika manusia merasa tahu akan kebenaran dan merasa di dalam kebenaran, hal-hal ini pun dapat menyebabkan arogansi. Saya kutip satu quote dari film The Devil's Advocate, si Iblis itu berkata "vanity is my favorite sin" (kesombongan adalah dosa yang saya sukai). Maka satu-satunya cara menuju kebenaran adalah belajar membebaskan diri kita dari nafsu tidak sehat akan kebenaran. Dan kiranya kita selalu mengingat, kejatuhan yang paling dalam adalah pada saat umat Tuhan/ Gereja Tuhan kehilangan kasih yang mula-mula. Itulah penyebab dari kejadian kecelakaan-kecelakaan sejarah umat Kristiani yang mau tak mau telah tercatat dalam sejarah dan tidak dapat dihapus sampai bumi ini berakhir.



Blessings,
Bagus Pramono
October 29, 2010
 
Last Updated on Saturday, 30 October 2010 06:44  

Add comment


Security code
Refresh