SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

MUNICH

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 

[Image]


MUNICH Review



Berlatar belakang kisah nyata massacre di perkampungan atlit di Munich tahunh 1972 oleh teroris Arab Palestina yg menamakan dirinya Black September, kisah dari film ini yg disadur dari novel 'Vengeance' (karya tulis George Jonas -- native Hungary) dimulai. Pembantaian atlit Israel itu digambarkan meninggalkan luka yang sangat mendalam di hati setiap warga Israel (Yahudi itu rata-rata ber-motto "lex talionis/the law of retribution"; an eye for an eye, tooth for tooth).

Moral of the story, bahwa emang tidak ada yang menduga teroris-teroris itu akan mentargetkan olahragawan yang tidak main politik (seperti halnya peristiwa 9/11 tidak ada yang menduga ada orang ‘gila’ yang menabrakkan pesawat di gedung WTC). Tapi Palestinians itu harus memilih jalan supaya suara mereka juga didengarkan dunia. Keadilan? Tidak ada, baik bagi Israel yang mengalami pembantaian di Munich, maupun bagi rakyat Palestina yg rindu punya tanah di negeri sendiri.

Film ini selain menuai pujian, juga kritik. Baik dari kritikus film, ahli sejarah kontemporer maupun saksi hidup dari kalangan agen Mossad sendiri. Memang ada banyak shots yang kontroversi. Misalnya agenda strike-back (vengeance) dipimpin sendiri oleh alm Madam Golda Meir, wanita bertangan besi yg sempat memimpin Israel selama satu periode yg penuh kekerasan. Kritik mengatakan tidak mungkin Perdana Menteri ikutan cawe-cawe soal balas dendam, semuanya selalu dilakukan Mossad tanpa konsultasi, demikian kritik.

Tanpa melihat kontroversi yang mengerubungi film yg menceritakan konflik antara Israel dan Palestina ini dan juga tidak memusingkan autentisitas sejarah, Munich adalah karya storytelling yang brilian. Untuk seorang sutradara yg sering dituding sebagai pencipta formula blockbuster Hollywood, Munich merupakan film Spielberg yang paling dewasa dan paling tidak sentilmentil. Segala aspek di film ini dari produksi yg terlihat sangat sederhana sampai tema dan ending yang ambigu membuat Munich tidak terasa seperti sebuah film Spielberg dan lebih mirip ke film-film Francis Ford Coppola atau William Friedkin pada puncak karir mereka.

Adegan penyanderaan dan pembantaian di Munich hanya diperlihatkan dalam 10 menit di awal film, lengkap dengan intercut ke actual news footage dari tahun 1972. Lalu kita mengikuti tokoh utama, Avner (Eric Bana), seorang anak dari pahlawan Israel. Dia direkrut oleh MOSSAD dan Perdana Menteri Israel, Golda Meir (Lynn Cohen) untuk melacak dan membunuh 11 orang Palestina yang diduga merencanakan pembantaian Munich. Avner harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk waktu yg tidak ditentukan menerima dana dengan jumlah tak terbatas (walau dia harus menyimpan semua kuitansi-nya), Ada adegan yang menampilkan seorang bendahara senior yg ngotot minta kuitansi ke si Avner (Eric Bana). Ngomongannya seenaknya: "I don't care what you do, but you have to know who are paying these..". Tentu saja dalam dunia intel yg serba covert, adalah sangat konyol agen-agen sekelas Mossad kudu ngumpulin receipts utk reimburse petty cash-nya. Ya bakalan di-trace back dan beresiko mission jadi exposed. Keberadaan dan pekerjaan Avner dan tim-nya tidak diakui oleh Israel. Satu-satunya orang yang menjalin hubungan Avner dan MOSSAD adalah Ephraim (Geoffrey Rush), yang bertindak sebagai Case Officer dalam operasi ini.

Avner dibantu oleh empat orang lainnya; Carl (Ciaran Hinds, Road to Perdition, Rome, The Sum of All Fears) sang pembersih yg tugasnya adalah "to worry", Robert (Matthieu Kassovitz, Amelie) seorang pembuat mainan dari Jerman yg tugasnya membuat bom, Hans (Hanns Zischler) seorang Yahudi Jerman yg ahli memalsukan dokumen dan Steve (Daniel Craig, Layer Cake, Sylvia, Enduring Love, the next James Bond) seorang supir dari Afrika Selatan. Film ini membawa kelima orang ini keliling Eropa dalam operasi mereka melacak dan membunuh 11 orang Palestina itu. Avner dibantu oleh informan Perancis bernama Louis (Matthieu Almaric) yang memberi tahu lokasi para sasaran Avner.

Ini adalah film yang sulit, membuat kita masuk kedalam kehidupan 5 orang yg melakukan tindakan pembalasan yang patut dikecam, bahkan berusaha untuk meng-humanize mereka. Munich mengingatkan kita "what we have lost". Film ini sama sekali tidak meng-expose kehebatan Yahudi dan Israelnya. Dua sisi yg seimbang, menurut saya. Memang iya, sudutnya diambil dari sisi si pembalas dendam (Israel), tapi juga tanpa mengorbankan sisi 'Arabs' dengan tidak meng-expose identitas sang target (9 dari 11 target sukses dibunuh Mossad) secara jelas (hanya samar-samar). Adegan yg cukup menarik juga waktu menggambarkan the Mossads hampir aborted their mission hanya utk menghindarkan salah target (anak puteri dari sang terrorist plot) yg kebetulan mengangkat telpon yg sudah di-wired bomb device. Dan lebih lagi, jika simpatisan Yahudi mengharapkan orang-orang Palestina diperlihatkan sebagai orang2 ganas atau dungu seperti di True Lies jelas akan kecewa, karena mereka diperlihatkan sebagai orang-orang normal yg melakukan apa yang mereka anggap sebagai tindakan yang benar setelah tertindas selama bertahun-tahun. Bahkan ada adegan yang menempatkan grup Israel dan grup Palestina dalam satu kamar, dan rebutan untuk mengganti channel musik di radio. Dan lebih lagi, untuk membuat adegan pimpinan group Israel berdiskusi dengan pimpinan grup PLO mengenai kesia-siaan situasi negara mereka dengan santai namun intens. Adegan ini mirip dengan adegan Roberd de Niro dan Al Pacino di Heat, dua musuh mendiskusikan situasi mereka dalam keadaan kasual. Definitely one of the best character scene in 2005.

Kontroversi lain misalnya menampilkan sisi 'manusia' dari agen-agen Mossad sendiri yang serba vulnerable. Ada konflik internal, kegagalan set-up device yang malfunction, intercept dari unknown pedestrian while on killing mission, semuanya menampilkan sisi manusia dari agen-agen Mossad itu sendiri. Avner, the leader dari tim 4 orang yang meng-assasinate target, digambarkan sangat fragile. Bahkan Avner selagi bercinta pun deagan sang istri saja masih terus terbayang adegan2 pembantaian di Munich. Dan di akhir film bahkan ended jadi self traumatic yang paranoid, dari ketakutan akan ranjang kasurnya sendiri sampai ancaman terhadap anggota keluarganya (anak bayi perempuan dan isterinya). Mengingatkan kita semua bahwa Mossaders adalah toh manusia-manusia biasa yg berdaging dan punya perasaan. Bahwa manusia bisa jenuh, bisa trauma, bisa lelah, bisa curiga, bisa salah dan doing stupid mistakes...walau kenyataannya mereka sebagai agen-agen ulung yang geraknya luar biasa.

Dibantu dengan skrip dari Tony Kushner, film ini menghabiskan banyak waktu untuk mendalami hampir semua karakter utamanya. Bahkan hubungan Avner dengan Louis sang informan Perancis juga diperdalam. Louis membawa Avner ke 'Papa'nya (Michael Lonsdale), untuk saling berdiskusi dan mengenali satu sama lain. Adegan ini mengingatkan gue kepada film Godfather, dengan adegan-adegan kekeluargaan, lokasi dikebun buah, dan saling berdiskusi sambil memasak.

Seperti halnya dengan King Kong yg menghabiskan banyak waktu untuk memperdalam karakternya, ini juga menjadi kelemahan utama Munich. Ketika Avner kembali ke Israel, semua perbuatan kekerasan yg dilakukannya mulai menghantuinya dan perlahan-lahan dia menjadi paranoid. Apalagi dengan kejadian ambigu terhadap salah satu anggota timnya membuat dia berpikir apakah Israel memburunya? Kita menghabiskan banyak waktu untuk melihat efek kekerasan terhadap psikologis Avner. Ambiguitas menjadi tema utama; tidak ada jawaban yg benar di film ini, seperti diskusi Avner dengan pimpinan grup PLO.

Munich layak ditonton siapa saja, muslim maupun non muslim. Tidak usah khawatir dgn euforia yahudi yg berlebihan. Tidak terlihat di film ini. Juga the arabs digambarkan biasa saja, bahkan juga teroris-teroris yang mengharu biru the athlete village di Muenchen 1972.

Syuting Munich 1972 dimulai hanya dalam beberapa hari setelah Spielberg menyelesaikan War of the Worlds untuk mengejar tanggal rilis bulan desember, namun sama sekali tidak ada kesan terburu-buru dalam film ini. Spielberg adalah master of staging, dan adegan-adegan action difilmkan dengan baik, dari adegan penyerangan atlit Israel di Munich yg terlihat berantakan, pembunuhan beberapa tokoh Palestina yg disusun rapi, tembak-tembakan di Beirut hingga berbagai macam kecelakaan karena salah perhitungan. Kekerasan di film ini juga tidak main-main, ini adalah film Spielberg paling gory setelah Saving Private Ryan. Dengan tone yang realistis dan pendekatan yang humanis, kekerasan di film ini terasa mengerikan.

Dalam segi teknikal, sinematografi nya tidak terlihat seperti karya Janusz Kaminski seperti biasanya, lebih mirip ke sinematografi Douglas Slocombe untuk Raiders of the Lost Ark. Kaminski juga menggunakan film stock yang biasa digunakan film-film tahun 70-an, hasilnya film ini terlihat agak grainy, dan dengan set-set Eropa yang autentik, costume design dan hairstyle tempo doeloe membuat film ini berasa sangat 70-an banget. If I don't know any better, I would be convinced that the film is actually made in the 70's. Ada pendapat yang bilang, di film ini Spielberg juga melakukan homage ke Stanley Kubrick dengan penggunaan zoom di beberapa adegan, dan juga ketika Avner 'flirting around' dengan seorang wanita di bar London yang mirip dengan adegan bar dalam film The Shining.

Seindah dan sesimpel apapun sinematografi Kaminski dan sehebat apapun direction dari Spielberg tidak ada artinya kalau tidak dibantu dengan cast yang kuat. Tidak ada Hollywood superstar di film ini, yg ada adalah Eric Bana, one of the most underappreciated actor in Hollywood. Dia membawa karakter Avner berubah secara perlahan-lahan dari awal hingga akhir film. Dari awal film Avner adalah average Israeli familyman hingga dihantui paranoia di akhir film, Bana really showcased his acting skill. Geoffrey Rush yang memerankan tokoh Ephraim, adalah great actor (Shines, Les Miserable. Lalu orang-rang di tim Avner, Ciaran Hinds yang biasa memerankan tokoh keras seperti presiden Rusia di The Sum of All Fears atau di Rome sebagai Julius Caesar, disini dia adalah tokoh bijak dari team Avner. Kemarahan team Avner terhadap apa yg terjadi pada dirinya menyadarkan kita how likeable his character is. Lalu Matthieu Kassovitz sebagai pembuat mainan / bom yang perlahan-lahan dihantui perasaan bersalah. Dari semua team Avner, dialah yg pertama kali mendapat beban moral. Daniel Craig memberikan performans yang solid sebagai satu-satunya team Avner yg paling intense dan selalu fokus kepada kerjaannya, dan sepertinya tidak terbebani masalah moral. Seperti apa James Bond ala Daniel Craig nanti? Lynn Cohen memberikan peran menarik sebagai Perdana Menteri Israel Golda Meir, seorang wanita tua yang penampilannya rapuh tapi menyimpan kekuatan pemikiran yg kuat. Dan Michael Lonsdale yang lebih dikenal sebagai Bond villain Hugo Drax di Moonraker memberikan sentuhan humanis kepada karakter 'Papa', master informan Perancis yg beroperasi tanpa mengambil pihak manapun.

Pada intinya, film ini adalah film spy, tapi tidak seperti James Bond, Bourne Identity atau Mission: Impossible di film-film fiksi super hero. Film yang berdurasi 2 jam 40 menit ini after all menggambarkan balas dendam cuman berakibat balas dendam yang tidak akan habis berujung. Buktinya beberapa hari lalu, masih ada pembom bunuh diri yang meledakkan diri di tengah warga masyarakat Israel. Mission dengan hasil 9 against 11 targets yang harusnya sukses dan dibanggakan itu, namun digambarkan oleh Spielberg sebagai tragedi dan malah jadi beban-trauma-skandal bagi sang agen-agen Mossad yang terlibat langsung di lapangan. Filmnya ditutup dengan ending yang ambigu, lengkap dengan shot 'cameo' dari gedung WTC yang membuat penunton berpikir bahwa kekerasan itu tidak akan pernah berhenti, dan juga seperti sebuah pesan bahwa pembalasan terhadap tragedi 9/11 tidak akan membawa hasil dan jawaban, melainkan hanya menambah jumlah korban. Dalam film Munich ini Spielberg berusaha menggambarkan bahwa kekerasan itu after all hanya akan melahirkan kekerasan-kekerasan baru.

Akhir kata kalau mau mencari film buat sekedar hiburan atau having fun, jangan nonton film ini. Munich adalah film yg berat, tidak memberikan ketegangan atau keasyikan a la King Kong atau Chronicles of Narnia, tapi tak perlu diragukan kalau Munich adalah movie-making kelas wahid. Apakah Spielberg berat sebelah dengan berpihak kepada Israel? Nope. Ingat, dia berani menghabiskan cukup banyak waktu untuk menghumanisasi orang-orang Palestina di film ini. Spielberg bahkan sampai dicap 'no friend of Israel' oleh pemerintah Israel untuk ini. For me personally, it's a privilege to see one of the greatest director telling one of the darker period of history, challenges his viewers while crafted his most daring and mature work in the process.


By : GrandTheftAero; PB.
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated on Sunday, 20 May 2007 18:31