SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Entertainment
Entertainment


Movie Review : ELEGY

E-mail Print PDF


ImageConsuela Castillo seorang gadis yang manis berdarah kuba, ia cantik dan sopan. Sang Professor mengagumi kecantikannya sejak pertama ia masuk di ruang kelasnya. Mata dan alisnya mengingatkannya pada lukisan karya Francesco de Goya, dan ia ingin menunjukkan kepada gadis itu. Namun, sebagai seorang dosen ia tak pernah ingin mempunyai skandal dengan muridnya, dan ia menunggu sampai gadis itu lulus dari kampus dimana ia mengajar.

 

Demikianlah sering ada cerita antara hubungan murid dan guru, kadang-kadang ada saling ketertarikan, murid memuja sang guru yang dianggap punya banyak pengetahuan. Professor David Kepesh sepertinya memiliki segalanya, ia cerdas, seorang penulis terkenal, meski tidak tampan, ia berpenampilan menawan, pembawaannya menarik, berpakaian rapi, bicaranya menandakan ia berbudaya tinggi. Consuela akhirnya mengakui dirinya begitu tertarik kepada sang guru. Consuela pun menyambut rasa kasih sayang dan perhatian dari sang dosen yang begitu charming dan berwibawa, dan terjadilah hubungan yang saling kagum-mengagumi diantara keduanya.

Professor Kepesh pernah menikah dan gagal, kemudian ia memilih hidup independen tanpa ikatan pernikahan. Ia telah menjalani hidupnya sampai masa tuanya itu tanpa pernah lagi berkomitmen. Ia menjalani long relationship dengan seorang perempuan setengah baya Carolyn yang masih cantik dan memahami keinginan professor yang ingin hubungan tanpa status.

Berbeda dengan Carolyn, Professor Kepesh kali ini menemukan "the power of beauty" dari Consuela. Namun ada suatu konflik dalam batinnya, "suatu ketakutan" bahwa Consuela suatu saat akan menemukan pria muda dan meninggalkannya. Maka, ia menampik rasa posesif-nya terhadap Consuela dan mengendurkan setiap keinginan untuk menjadikan hubungannya dengan Consuela menuju ke arah komitmen yang serius. Rupanya ia salah sangka, gadis itu benar-benar mengaguminya, mencintainya, dan tak ambil pusing akan perbedaan usia 30 tahun di antara mereka. Professor Kepesh selalu nervous setiap kali Consuela menyatakan cinta dan kekagumannya padanya. Ia menjadi semakin nervous manakala si gadis itu ingin memperkenalkannya kepada keluarganya. Sepanjang cerita mengungkapkan suatu masalah-masalah yang sering dihadapi dua insan dalam hubungannya, ada konflik namun ada juga rasa saling butuh.

Ben Kingsley dan Penélope Cruz menampilkan diri mereka dengan sempurna dalam film ini, suatu couple yang memang kaliber Oscar berkolaborasi dalam satu film. Jika Anda lelaki, Anda akan melihat Miss Cruz ini memang pantas dikagumi, kecantikannya yang khas latin, tubuhnya, gaya bicara dan perangainya menimbulkan suatu eksotisme yang lain daripada yang lain, ini adalah penampilan terbaik Cruz, bahkan lebih bagus daripada di film yang memberinya Oscar di film Vicky Cristina Barcelona. Di film-film lain, Cruz sebenarnya sudah banyak menunjukkan kebolehannya sebagai aktris yang layak diperhitungkan, misalnya dalam film Captain Corelli's Mandolin. Di lain pihak, jika Anda seorang perempuan, Anda bisa dibuat terpesona oleh penampilan sang Professor. Ben Kingsley memang salah satu aktor terbaik dunia, walaupun orang jarang memandangnya sebagai pria yang menarik dan tampan, tapi kali ini dia ternyata dapat menampilkan dirinya yang membuat lawan jenisnya terpesona.

Film ELEGY adalah sebuah "love affair" dalam kemasan kebudayaan tinggi. Film ini diadaptasi dari novel yang ditulis oleh seorang penulis pemenang Pulitzer Philip Roth, karyanya yang lain juga banyak difilmkan, misalnya The Human Stain yang juga mengangkat hubungan kasih antara perempuan muda dan lelaki baya. Jika di film The Human Stain kurang memberikan suatu chemistry antara Anthony Hopkins dan Nichole Kidman, di Film Elegy ini, Ben Kingsley dan Penélope Cruz memberikan suatu energy dan emosi dua insan yang membuat kita mengerti bahwa seringkali cinta itu memang aneh. "Love has no boundaries" itulah tema film ini, cinta tidak mengenal batasan-batasan atau perbedaan-perbedaan. Dan sesuai dengan judulnya, film ini menampilkan sastra dan musik yang bagus dan memberi warna. Sutradara Isabel Coixet memanjakan penontonnya dengan suatu sajian gambar-gambar yang bagus, deretan aktor dan aktris pendukung yang pas, mereka berpenampilan sebagai manusia modern yang mencintai budaya dan intelektualitas.


Directed by Isabel Coixet
Screenplay : Nicholas Meyer
From novel "The Dying Animal" : Philip Roth

Cast :
Ben Kingsley ... David Kepesh
Penélope Cruz ... Consuela Castillo
Patricia Clarkson ... Carolyn
Dennis Hopper ... George O'Hearn
Peter Sarsgaard ... Kenneth Kepesh

 

 

Blessings,
Bagus Pramono
February 27, 2009

Consuela Castillo seorang gadis yang manis berdarah kuba, ia cantik dan sopan. Sang Professor mengagumi kecantikannya sejak pertama ia masuk di ruang kelasnya. Mata dan alisnya mengingatkannya pada lukisan karya Francesco de Goya, dan ia ingin menunjukkan kepada gadis itu. Namun, sebagai seorang dosen ia tak pernah ingin mempunyai skandal dengan muridnya, dan ia menunggu sampai gadis itu lulus dari kampus dimana ia mengajar.

Demikianlah sering ada cerita antara hubungan murid dan guru, kadang-kadang ada saling ketertarikan, murid memuja sang guru yang dianggap punya banyak pengetahuan. Professor David Kepesh sepertinya memiliki segalanya, ia cerdas, seorang penulis terkenal, meski tidak tampan, ia berpenampilan menawan, pembawaannya menarik, berpakaian rapi, bicaranya menandakan ia berbudaya tinggi. Consuela akhirnya mengakui dirinya begitu tertarik kepada sang guru. Consuela pun menyambut rasa kasih sayang dan perhatian dari sang dosen yang begitu charming dan berwibawa, dan terjadilah hubungan yang saling kagum-mengagumi diantara keduanya.

Professor Kepesh pernah menikah dan gagal, kemudian ia memilih hidup independen tanpa ikatan pernikahan. Ia telah menjalani hidupnya sampai masa tuanya itu tanpa pernah lagi berkomitmen. Ia menjalani long relationship dengan seorang perempuan setengah baya Carolyn yang masih cantik dan memahami keinginan professor yang ingin hubungan tanpa status.

Berbeda dengan Carolyn, Professor Kepesh kali ini menemukan "the power of beauty" dari Consuela. Namun ada suatu konflik dalam batinnya, "suatu ketakutan" bahwa Consuela suatu saat akan menemukan pria muda dan meninggalkannya. Maka, ia menampik rasa posesif-nya terhadap Consuela dan mengendurkan setiap keinginan untuk menjadikan hubungannya dengan Consuela menuju ke arah komitmen yang serius. Rupanya ia salah sangka, gadis itu benar-benar mengaguminya, mencintainya, dan tak ambil pusing akan perbedaan usia 30 tahun di antara mereka. Professor Kepesh selalu nervous setiap kali Consuela menyatakan cinta dan kekagumannya padanya. Ia menjadi semakin nervous manakala si gadis itu ingin memperkenalkannya kepada keluarganya. Sepanjang cerita mengungkapkan suatu masalah-masalah yang sering dihadapi dua insan dalam hubungannya, ada konflik namun ada juga rasa saling butuh.

Ben Kingsley dan Penélope Cruz menampilkan diri mereka dengan sempurna dalam film ini, suatu couple yang memang kaliber Oscar berkolaborasi dalam satu film. Jika Anda lelaki, Anda akan melihat Miss Cruz ini memang pantas dikagumi, kecantikannya yang khas latin, tubuhnya, gaya bicara dan perangainya menimbulkan suatu eksotisme yang lain daripada yang lain, ini adalah penampilan terbaik Cruz, bahkan lebih bagus daripada di film yang memberinya Oscar di film Vicky Cristina Barcelona. Di film-film lain, Cruz sebenarnya sudah banyak menunjukkan kebolehannya sebagai aktris yang layak diperhitungkan, misalnya dalam film Captain Corelli's Mandolin. Di lain pihak, jika Anda seorang perempuan, Anda bisa dibuat terpesona oleh penampilan sang Professor. Ben Kingsley memang salah satu aktor terbaik dunia, walaupun orang jarang memandangnya sebagai pria yang menarik dan tampan, tapi kali ini dia ternyata dapat menampilkan dirinya yang membuat lawan jenisnya terpesona.

Film ELEGY adalah sebuah "love affair" dalam kemasan kebudayaan tinggi. Film ini diadaptasi dari novel yang ditulis oleh seorang penulis pemenang Pulitzer Philip Roth, karyanya yang lain juga banyak difilmkan, misalnya The Human Stain yang juga mengangkat hubungan kasih antara perempuan muda dan lelaki baya. Jika di film The Human Stain kurang memberikan suatu chemistry antara Anthony Hopkins dan Nichole Kidman, di Film Elegy ini, Ben Kingsley dan Penélope Cruz memberikan suatu energy dan emosi dua insan yang membuat kita mengerti bahwa seringkali cinta itu memang aneh. "Love has no boundaries" itulah tema film ini, cinta tidak mengenal batasan-batasan atau perbedaan-perbedaan. Dan sesuai dengan judulnya, film ini menampilkan sastra dan musik yang bagus dan memberi warna. Sutradara Isabel Coixet memanjakan penontonnya dengan suatu sajian gambar-gambar yang bagus, deretan aktor dan aktris pendukung yang pas, mereka berpenampilan sebagai manusia modern yang mencintai budaya dan intelektualitas.


Directed by Isabel Coixet
Screenplay : Nicholas Meyer
From novel "The Dying Animal" : Philip Roth

Cast :
Ben Kingsley ... David Kepesh
Penélope Cruz ... Consuela Castillo
Patricia Clarkson ... Carolyn
Dennis Hopper ... George O'Hearn
Peter Sarsgaard ... Kenneth Kepesh

 

 

Blessings,
Bagus Pramono
February 27, 2009

Last Updated on Thursday, 05 March 2009 13:39
 


Page 6 of 20