SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Entertainment THE LAST STATION – Tolstoy and Tolstoyan.

THE LAST STATION – Tolstoy and Tolstoyan.

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 
ImageMOVIE REVIEW:

Film THE LAST STATION berkisah tentang masa-masa akhir hidup filsuf Rusia, sekitar tahun 1910-an. Rusia memang menarik, paling tidak dari sana kita mengenal nama-nama yang amat terkenal: Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin (1870-1924), tokoh politik pendiri Komunisme di Rusia, seorang penganut setia Karl Marx (1818 – 1883) filsuf Jerman pendiri faham marxisme. Lenin menjadi orang yang paling berpengaruh dan tokoh utama yang menyebar Komunisme ke seluruh penjuru dunia. Dan satu lagi tokoh religius, bernama Leo Tolstoy (1828 – 1910). Count Lev Nikolayevich Tolstoy (Leo Tolstoy) adalah penulis dan seorang filsuf. Ia bermula sebagai penulis novel romance fiksi yang terkenal misalnya Anna Karenina, dan War and Peace. Karya-karya Tolstoy kemudian berevolusi menjadi karya tulis filosofi yang amat terkenal. Sebagai seorang filsuf moral religius Kristen, tulisan-tulisan Tolstoy telah menginspirasi dua tokoh reformator dunia: Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. Tulisan Leo Tolstoy menginspirasi kedua tokoh dunia ini karena gagasan-gagasannya yang cinta damai, yaitu tentang perlawanan tanpa kekerasan melalui karyanya The Kingdom of God is Within You.

Keluhuran budinya, keindahan tulisannya, pesan-pesan moralnya membuat Leo Tolstoy (Christopher Plummer), sering dianggap sebagai seorang santa (orang suci), bahkan ada yang secara fanatik menganggapnya sebagai inkarnasi dari Kristus sendiri. Dalam film THE LAST STATION, yang diangkat dari sebuah novel karya Jay Parini, sosok Leo Tolstoy digambarkan sebagai tokoh yang luarbiasa sekaligus seorang biasa yang penuh konflik di dalam kehidupannya, bahkan konflik yang terpelik yang dihadapi sang filsuf adalah pada akhir kehidupannya. Agaknya film ini hendak menceritakan kepada kita bahwa tidak ada ada seorang yang sempurna yang memenuhi suatu kriteria "icon" kesempurnaan. Seorang filsuf bisa menulis dan mengajar apa itu kebenaran, bisa menasehati tentang hal-hal yang benar, namun dia bukanlah kebenaran itu sendiri.

Leo Tolstoy tinggal di Yasnaya Polyana. Ia tinggal bersama komunitas Tolstoyan (para pengikut ajaran filsuf Tolstoy) yang memandangnya sebagai "nabi." Namun demikian seringkali Leo Tolstoy sendiri mengaku bahwa dia bukanlah seorang Tolstoyan yang baik. Kepala dari gerakan Tolstoyan yang dikisahkan ini adalah Vladimir Chertkov (Paul Giamatti). Chertkov tidak memiliki hubungan baik dengan Countess Sophia Andreyevna Tolstaya atau Sofya Tolstaya (Helen Mirren), istri Leo Tolstoy. Sofya dan Leo Tolstoy saling mencintai, tetapi dalam kehidupan mereka banyak sekali konflik terutama ketidak-setujuan Sofya kepada pemahaman/ pemikiran-pemikiran fiosofis Tolstoy yang bersifat religius semakin menggebu-gebu, radikal, dan tidak lagi memikirkan harta duniawi. Sofya tidak menyukai karya-karya tulisan terakhir Tolstoy. Di lain pihak, seorang pengikutnya yang juga seorang Tolstoyan sejati, Chertkov ini mendukung sepenuhnya gagasan-gagasan Tolstoy dan selalu mendorong keinginan Tolstoy untuk mewariskan segala harta yang dimilikinya dan semua tulisan-tulisannya untuk rakyat Rusia, bukan kepada keluarganya sendiri. Sofya menentang keputusan pengalihan hak waris ini, dan memandang bahwa sikap ini adalah suatu ketidak-adilan yang dilakukan suaminya terhadap dirinya dan keluarganya. Sofya memandang Chertkov adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam keputusan ini, dan menempatkan Chertkov sebagai musuh yang tinggal di dalam keluarganya.

Chertkov mempunyai anak didik yang ia rekomendasikan kepada Tolstoy untuk menjadi sekretaris pribadinya, dia adalah Valentin Bulgakov (James McAvoy). Kehadiran Valentin cukup disukai baik oleh Tolstoy maupun Sofya. Sementara Sofya dan Chertkov tiada henti beradu akal untuk memenangkan perhatian Tolstoy. Dan Valentin lebih memilih untuk menjadi penengah bagi pihak-pihak yang berseteru, dia tidak menempatkan dirinya untuk ada di dalam satu pihak tertentu.

Di film ini dikisahkan ada dua orang Tolstoyan sejati, yang pertama adalah Chertkov yang kedua adalah Sasha Tolstoy (Anne-Marie Duff), anak perempuan Tolstoy. Chertkov dengan dibantu Sasha berusaha untuk senantiasa menampilkan sosok Tolstoy sebagai panutan utama/ sebagai icon sempurna bagi Tolstoyan. Icon ini harus tetap ditegakkan, mereka bahkan secara terang-terangan berseteru dengan Sofya yang tidak dapat memahami idealisme Tolstoyan. Chertkov dan Sasha berusaha menghalangi dan bahkan memisahkan hubungan antara Tolstoy dan istrinya itu, dengan harapan agar Sofya tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan Tolstoy. Chertkov dan Sasha merencanakan sebuah perjalanan untuk Tolstoy semacam perjalanan meninggalkan hal-hal yang duniawi (termasuk Sofya) untuk mendapatkan ketenangan hakiki di akhir hidup sang filsuf. Mereka berbuat demikian untuk makin mengikrarkan nama Leo Tolstoy sebagai icon sempurna dari kaum Tolstoyan. Namun demikian, film ini tidak menampilkan sebuah perbedaan hitam dan putih, dan tidak menghakimi pihak manakah yang lebih benar, apakah sikap emosional manusiawi Sofya yang lebih benar ataukah idealisme luhur Tolstoyan yang dianut Sasha yang lebih benar. Tolstoy sendiri tidak digambarkan begitu teguh dalam pendiriannya, pada akhir masa kehidupannya ini, dia lebih sering ditempatkan pada keadaan-keadaan yang ambigu dimana dia sendiri tidak yakin dalam keputusan yang diambilnya karena hal itu seringkali membuahkan pertikaian di dalam rumah-tangganya.

Film ini juga diceritakan konflik-konflik yang lain, misalnya suatu paradoks dimana Tolstoy sendiri adalah orang yang sudah terikat dengan pesan-pesan moral yang ditulisnya, namun ternyata dia pun masih mengingat ’'kenakalannya' di kala ia masih muda dulu tentang pengalamannya bermain cinta. Terhadap hal tersebut, Valentin bertanya kepada Tolstoy apakah dia merasa bersalah? Tolstoy tidak menjawab, dia hanya tertawa mendengarnya, dan kemudian Tolstoy bertanya balik, kenapa harus merasa bersalah? Diceritakan pula Tolstoy tidak suka mendengar rekaman ceramah/pidato-nya sendiri, malahan dia lebih memilih mendengar Mozart dan berdansa dengan istrinya. Valentin dalam kehidupannya yang baru bersama Tolstoyan di Yasnaya Polyana, pun tak mampu menjadi Tolstoyan sejati. Dia bertemu dengan Masha (Kerry Condon), dan ia jatuh cinta, dan melakukan hubungan sex di luar pernikahan yang jelas melanggar paham-paham yang dipercayai oleh Tolstoyan. Ada contoh tindakan yang radikal dari Tolstoyan misalnya, saking cintanya akan kedamaian mereka tidak mau menyakiti makhluk hidup termasuk membunuh seekor nyamuk. Namun ada suatu ketika Tolstoy sendiri dengan terang-terangan menepuk nyamuk yang hinggap di pipi Valentin. Dan, Tolstoy melakukan ini di depan Chertkov yang memandang tindakannya gurunya yang telah membunuh makhluk hidup tersebut sangat tidak "Tolstoyan". Inilah "paradoks," sementara Tolstoy sendiri sering mengaku bahwa dia sendiri bukan seorang Tolstoyan yang baik, namun di lain pihak kita ditunjukkan sosok Chertkov yang justru menampakkan bahwa dia adalah seorang Tolstoyan yang ortodok.

Film ini bukannya mengkritisi sifat dan moral Tolstoy, namun menampilkan sisi manusiawi dari seorang yang punya nama besar. Bahwa betapapun hebatnya pemikiran seseorang, betapapun mulianya karya seseorang tentang filosofi moral/ ajaran, dia pun tetap manusia biasa yang juga mengalami berbagai ujian-ujian hidup. Ada satu yang penting kita ketahui mengenai ajaran kebenaran moral. Bahwa moral seseorang sebenarnya tidak mempengaruhi ajaran orang itu. Akan tetapi kalau seorang ingin mengajarkan kebenaran moral, bagaimana watak orang itu akan amat penting. Seorang yang suka berzinah bisa saja mengajarkan hal pentingnya kesucian. Seorang yang suka mencuri barang orang lain, bisa saja mengajarkan soal nilai kedermawanan. Seorang yang bernafsu untuk menguasai bisa saja mengajarkan tentang keindahan kerendahan hati. Seorang pemarah bisa saja mengajarkan tentang keindahan penguasaan diri. Seorang yang mendendam bisa saja mengajarkan tentang keindahan kasih.

Tolstoy adalah contoh dari seorang filsuf yang diuji dengan standard moral yang diajarkannya sendiri. Seorang filsuf dapat mengajar dan menjabarkan apa itu kebenaran, namun dia bukanlah kebenaran itu sendiri. Kebenaran-kebenaran moral tidak bisa disampaikan hanya dengan kata-kata, tapi harus dengan contoh. Justru itulah yang tidak dapat dilakukan oleh guru manusia sebagaimana seorang Tolstoy. Maka, tidak ada filsuf di dunia ini yang walaupun dapat mengajarkan apa itu kebenaran berani mengatakan bahwa dialah kebenaran itu. Tidak ada guru pernah menghayati dan mendarah-dagingi kebenaran sepenuhnya apa yang ia ajarkan. Banyak orang dapat mengatakan, "Aku telah mengajarkan kebenaran kepadamu," tetapi tidak ada yang dapat berkata, "Akulah Kebenaran."
Kata 'kebenaran' di Alkitab berasal dari kata Yunani αληθεια - alêtheia, di dalam bahasa Yunani terdapat kata lain yang juga bermakna kebenaran, yaitu δικαιοσυνη - dikaiosunê. Namun alêtheia lebih mempunyai makna yang khusus dan secara substansinya lebih dalam. Kata alêtheia adalah kebenaran secara budi. Alêtheia juga merupakan istilah dalam bahasa hukum yang bermakna 'duduk perkara yang nyata' yang masih harus dibuktikan dengan kenyataan dan pernyataan-pernyataan yang dipakai oleh para pihak dalam sebuah pengadilan. Dalam ilmu tentang sejarah, kata alêtheia bermakna 'duduk perkara yang nyata yang dikontraskan dengan dongeng.' Dalam ilmu filsafat alêtheia bermakna, hal yang sungguh-sungguh nyata, dalam arti yang mutlak. Dan, Yesus Kristus, satu-satunya pengajar kebenaran yang berani berkata bahwa "Akulah Kebenaran, .... Akulah Alêtheia" (Yohanes 14:6), itu karena Yesus Kristus satu-satunya pribadi yang memiliki kesempurnaan moral dan yang mendapatkan realisasinya dalam Dia.

THE LAST STATION adalah sebuah kisah manusiawi, dan dari kisah ini kita dapat memetik sebuah pemahaman/ pengertian. Bahwa ada banyak figur-figur di dunia ini yang oleh pengajaran dan karismanya mempengaruhi seseorang, bahkan membuahkan suatu kegerakan besar sebagaimana pernah dilakukan Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. Pemikiran-pemikiran Leo Tolstoy begitu mulia, pengajarannya begitu luhur, namun pemikiran-pemikiran sang guru Leo Tolstoy tersebut seharusnya tidak dipandang secara fanatik, sebagaimana dilakukan oleh Chertkov dan Sasha dan para Tolstoyan . Karena bagaimanapun sang guru Leo Tolstoy secara pribadi, diapun diuji oleh pengajarannya sendiri, dan diapun digoda dan tergoda untuk melanggar pengajaran-pengajarannya sendiri.

Christopher Plummer dan Helen Mirren menampilkan akting yang superb sebagai suami istri yang sungguh saling mencintai dan sekaligus saling berseteru. Demikian juga Paul Giamatti dan James McAvoy, mereka adalah pilihan yang tepat memerankan perannya masing-masing. Bravo!

Cast:
Helen Mirren ... Sofya Tolstoy.
Christopher Plummer ... Leo Tolstoy.
Paul Giamatti ... Vladimir Chertkov.
James McAvoy ... Valentin Bulgakov.
Kerry Condon ... Masha.
Anne-Marie Duff ... Sasha Tolstoy.

Director: Michael Hoffman
Writers: Michael Hoffman (screenplay), Jay Parini (novel)
Music : Sergei Yevtushenko
Cinematography : Sebastian Edschmid



Blessings,
Bagus Pramono
November 23, 2010


Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 11:14  

Comments  

 
0 #1 Finley David Daniel 2010-12-01 15:46
Terima kasih, Pak Bagus untuk resensi film ini.
Jadi tahu ada film baru tentang Leo Tolstoy.
Masukkan, Pak, sepengetahuan saya Karl Marx bukan dari Rusia tetapi dari Trier (wilayah Jerman sekarang).
Mungkin bisa diperiksa di sini "http://en.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx".

Jabat erat,
fins
Quote