SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

THE MAGDALENE SISTERS

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Magdalene Sisters Poster

THE MAGDALENE SISTERS

Tak ada ada kejahatan yg lebih kejam di dunia ini selain kejahatan sistematis, apalagi dgn menggunakan agama sbg alat utk pembenaran. Adalah 3 perempuan, Margaret yg diperkosa sepupunya di acara pernikahan saudaranya, Bernadette anak yatim piatu di panti asuhan yg dianggap terlalu banyak bersolek dan menggoda laki-laki disekitarnya, dan Rose seseorang yg baru melahirkan dan menjadi ibu tapi melahirkan seorang “bastard child” shg harus melepaskan haknya sbg ibu, harus menerima hukuman publik (oleh gereja dan keluarganya) utk menebus dosa mereka krn telah menimbulkan aib dgn menjadi budak tanpa dibayar di asylum tempat pencucian umum (laundry) yg dikelola para biarawati dr orde Magdalene yg dipimpin sister Bridgette yg kalem tapi bengis.

Beruntung saya ngga ketinggalan screening THE MAGDALENE SISTERS gara-gara screening BOWLING FOR COLUMBINE telat 15 menit sehingga saya bisa nonton dari awal film. Karena adegan di pesta pernikahan saat terjadi peristiwa yang menimpa Margaret sudah menentukan suasana akan seperti apa film ini. Yang saya suka adalah setelah kejadian, dialog di pesta itu tidak bisa didengar penonton karena mereka berbisik-bisik dalam berbicara karena riuhnya suasana dengan musik yang mengalun keras. Sementara Margaret berharap cemas bagaimana reaksi keluarganya setelah dia memberitahu kepada salah satu saudara perempuannya. Sama juga dengan adegan Rose di rumah sakit saat melahirkan. Ibunya samasekali tidak mau melihat bayinya meskipun duduk disampingnya, sementara sang ayah tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk Rose, pada saat ayahnya menahan Rose yang akan dipisahkan dari bayinya. Peter Mullan men-setup opening THE MAGDALENE SISTERS dengan ketenangan dan kecepatan yang penuh daya magis membuat saya menahan nafas. Dan Peter Mullan tetap bisa menjaga intensitas ini sampai akhir film ketika sesuatu yang tidak bisa dielakkan lagi sudah saatnya harus terjadi. Benar-benar sebuah powerful film.

Kisah yg merupakan kejadian nyata di Irlandia thn 60-an ini disuguhkan Peter Mullan (writer & director) tanpa kompromi dan apa adanya. Bagaimana ketiga perempuan ini dan para pekerja lainnya dieksploitasi, dilecehkan dan dihina harkat dan martabatnya. Banyak adegan yg akan membuat kita terenyah dan tidak nyaman melihat perlakuan para biarawati yg “menghukum” para pekerja yg melanggar peraturan. Ada satu adegan yg mungkin para penonton (di screening PPHUI tanggal 10/18, dimana saya nonton) tdk tahu harus bereaksi bagaimana menyaksikan seorang biarawati mengadakan kontes ter-… utk para pekerja wanita ini. Malah justru banyak yg ketawa. Disturbing.

Di masa sekarang, filmmakers yg hanya bersikap obyektif dan netral dlm menyikapi dan menampilkan suatu fakta dan realitas tidaklah cukup, harus ditambah dgn “keberpihakan” pd salah satu pihak, yg tertindas atau penindas, yg beruntung atau yg dirugikan, utk memberikan perspektif thd persoalan tsb. Dan itulah yg dilakukan Peter Mullan. Spt BOWLING FOR COLUMBINE-nya Michael Moore dan DOGVILLE-nya Lars Von Trier, film ini adl film yg provokatif dan kontroversial tapi dibalik itu semua punya maksud dan tujuan yg tulus. Segalanya kembali kpd kita sbg penonton, setuju atau tidak? Bagi saya sendiri, saya setuju dgn Peter Mullan.

Film Rating (out of ****): ****
Outstanding



Last Updated on Sunday, 20 May 2007 20:04  

Add comment


Security code
Refresh