THE RESISTANCE - a Bellamy Philosophy

Bagus Pramono
Print
User Rating: / 1
PoorBest 
ImageALBUM REVIEW : Muse yang terdiri dari Matthew Bellamy (vocals, guitars, keyboards, synths, piano), Christopher Wolstenholme (bass, vocals), dan Dominic Howard (drums, percussions, synths, programmings), baru saja me-release album terbaru : THE RESISTANCE pada tanggal 14 September 2009 yang disebut-sebut sebagai proyek album paling ambisius yang pernah mereka buat. Namun jangan kawatir, disamping lagu-lagu "yang berat", Muse juga menampilkan komposisi yang lebih ringan seperti misalnya : Undisclosed Desires yang agak berbau R&B, tapi tidak terlalu R&B (saya kurang menyukai genre ini) tapi di tangan Muse, musik bergenre tersebut berubah jadi menarik dan apresiatif. Lagu Resistance dimulai alunan synthesizer khas Muse, intro dengan gaya yang mirip dengan lagu Map of The Problematique, disambut ketukan drum tribal dari Dominic Howard yang keren dengan lyric yang berkisah seputar romansa Winston dan Julia yang tumbuh dan terjebak dalam turbulansi dunia geo-politik unik dalam novel Nineteen Eighty-Four (1984) karya George Orwell. Dan juga single pertama Uprising yang dilempar ke pasaran, tidak lebih pop seperti pada lagu Starlight dalam album terdahulu mereka.

Muse adalah salah satu 'the most talented and enjoyable Rock Bands'! Dalam komposisi mereka, tidak hanya injects parts of Rachmaninoff's concertos, tetapi juga Beethoven & Chopin. Ciri khas Muse : Fusion progressive rock, classical music, dan electro benar-benar hidup di album The Resistance ini. Mereka merekam lagu-lagunya di studio pribadinya di Lake Cuomo, Italia.

Image Tracklist :

    1. Uprising
    2. Resistance
    3. Undisclosed Desires
    4. United States of Eurasia/Collateral Damage
    5. Guiding Light
    6. Unnatural Selection
    7. MK Ultra
    8. I Belong to You/Mon Cœur S’ouvre à ta Voix
    9. Exogenesis : Symphony Part I : Overture
    10. Exogenesis : Symphony Part II : Cross Pollination
    11. Exogenesis : Symphony Part III : Redemption


Muse berbaik hati dan sangat percaya diri mempresentasikan lagu-lagunya secara penuh pada situs mereka, juga di jaringan Facebook satu minggu sebelum album mereka resmi di-release, karena mereka yakin yang benar-benar fans mereka itu cukup fanatik untuk memiliki official recording (bukan bajakan). Melalui jaringan internet ini, para fans diberikan fasilitas mendengar/ mengapresiasi lagu-lagu baru mereka yang tentu saja terdapat banyak surprise pada komposisi lagu-lagu yang mereka buat.

Lagu-lagu, aransemen dan lyric dalam album The Resistance lebih merupakan "a Bellamy philosophy". Dimana semuanya bukan sekedar lagu-lagu yang tersurat/ yang ter-artikulasi dalam kata, namun semuanya membentuk suatu cara pandang filosofis. Seperti dalam album sebelumnya : Black Holes & Revelations dari segi lirik, lagu-lagunya menujukkan orientasi politik Muse yang anti konspirasi para penguasa dunia. Sebagai contoh dalam komposisi lagu dengan ide kontroversial : United States of Eurasia/ Collateral Damage. Dalam dunia nyata tidak ada negara yang namanya "United States of Eurasia" atau Eurasia Serikat atau Negara Kesatuan Eurasia. Mungkin negara semacam ini diharapkan oleh Bellamy terhadap dominasi United States of America. Dimana apabila ada negara-negara bersatu menjadi United States of Eurasia untuk dapat melawan kepongahan suatu negara yang merasa berkuasa. Secara implisit lagu ini mengecam dominasi Amerika Serikat yang telah menjadi tiran dunia. Mereka tidak mencintai perdamaian melainkan hanya ingin turut campur untuk menjadi "penguasa" dalam semua urusan negara-negara di dunia. Pendeknya, "United States of Eurasia" adalah sebuah olok-olok kepada sebuah negara yang menamakan diri mereka paling demokratis dan yang "katanya" paling anti-terorisme itu, sebenarnya mempunyai ambisi busuk yang haus darah dan kekuasaan. Selain lyric yang berbicara, Bellamy pun menyampaikan pesannya dengan gaya komposisinya, yaitu Arabic influence rhythm pada menit '1:34-1:58 & 2:56-3:20' yang seolah memberikan pesan "Apa yang membuat Amerika Serikat dkk tidak segera hengkang dari Iraq dll.?!". Apakah dengan modal nama negara adidaya mereka akan menang?, dengan sinis lagu ini mengatakan "And these wars they can't be won...".

Queen's sound dan Chopin begitu jelas pada lagu tsb, dan justru inilah kelihaian Bellamy menampilkan a wonderful dialog between genius pada komposisinya. Kemudian terdapat cuplikan Chopin's Nocturne In E-Flat Major, Op.9 no.2 yang diberi istilah "Collateral Damage, di dalam melody yang menyayat hati itu, mengisyaratkan efek samping proyek ambisius tirani yang tidak hanya memporak-porandakan keamanan, ekonomi dan infrasruktur di banyak negara tetapi juga nyawa-nyawa manusia yang tidak berdosa. Hal tsb membawa kita kembali kepada pertanyaan retorik dalam lagu ini : "must we do as we're told?" yang diungkapkan sebagai jeritan dari para serdadu yang dikirim untuk peperangan itu yang banyak tidak tahu-menahu ambisi sang penguasa. Mereka hanya melakukan tugas atas nama negara. Pertanyaan retorik ini agaknya pas bila disandingkan dengan bentuk kritik lainnya yang dibuat oleh Brian De Palma lewat sebuah film yang dibuatnya dengan judul : REDACTED (2007).

Komposisi pamungkas Album ini adalah The Exogenesis Symphony merupakan Symphony khas Muse yang dikemas dalam 3 track terakhir, yakni, Exogenesis: Symphony Part I (Overture), Symphony Part II (Cross Pollination), dan Symphony Part III (Redemption). Boleh dibilang komposisi ini adalah masterpiece album ini dan merupakan karya original dimana song writing & orchestral arrangements dikerjakan sendiri oleh Matthew Bellamy. Ia mengundang musisi perempuan Audrey Riley untuk menjadi conductor untuk orkestranya. Bellamy pernah berkata bahwa Exogenesis Symphony ini dia inginkan sebagai peninggalan utamanya di masa depan. Well, bisa dibayangkan misalnya nanti seribu tahun ke depan akan ada sebuah pegelaran musik bertajuk "The Exogenesis Symphony, composed by Matthew Bellamy (2009)".

Exogenesis yang selama masa pengerjaannya diberi judul 'Symphonic Monster'. Namun kemudian Bellamy mengambil istilah "Exogenesis", sebuah teori di abad ke-5 sM dari seorang filsuf Yunani bernama Anaxagoras yang kemudian lebih dipopulerkan oleh Benoit de Maillet pada tahun 1743. Namun, sepertinya pengambilan istilah Exogenesis ini dengan cara pandang yang berbeda dari teori tsb. Istilah "Exogenesis" mungkin dimaksudkan pada sebuah penciptaan langit/ bumi yang baru dimana manusia pada akhirnya hidup dalam kesempurnaan yang disediakan oleh Sang Pencipta. Judul "Exogenesis" mungkin juga suatu penjabaran ide imajinatif dimana ada suatu saat nanti umat manusia exodus ke planet lain. Ide-ide ini juga tertampak pada cover album ini yang menyimpan banyak arti dalam penafsirannya.

Track ke 9 : Exogenesis Symphony Part I (Overture) , simfoni bernuasa klasik ini dibuka dengan sayatan string yang menempatkan suara violin and cello in unison khas film score. Secara penuh Anda akan dibawa kedalam sebuah adegan dramatis yang ironis-melankolis yang kemudian disusul dengan suara falseto Matthew Bellamy. Lalu kemudian sound guitar yang menyayat, dalam lyric yang merupakan jeritan dari anak manusia yang terlahir dan terjebak di dalam dunia yang sudah rusak. Pada track ke 10 : Exogenesis Symphony Part II (Cross Pollination) . Lagu ini dimulai dengan dentingan piano ala Rachmaninoff, kemudian hentakan drums dari Dominic Howard yang bernuansa rock, menggambarkan sebuah proses penyelamatan, badai dan turbulasi menuju perubahan ke langit-bumi yang baru. Dalam track ke 11, Exogenesis Part III (Redemption) , disini kembali ditampilkan nuansa piano klasik ala Beethoven (Moonlight Sonata) dengan iringan string section yang indah, menggambarkan manusia-manusia nantinya akan menempati langit-bumi yang baru yang didapat dari sebuah pengampunan/ penebusan. Vocal latar dari Chris Wolstenholme dalam nomor pamungkas ini sangat mendominasi dan memberikan nuansa haru dalam harapan yang baru "let's start over again...... and we'll be good.".

Sungguh menarik menyimak sebuah album yang dibuat dengan serius yang berideologi, dan dibuat oleh suatu team-work yang solid yang terdiri dari orang-orang yang terbaik di bidangnya. Dasyatnya sound yang ditampilkan tidak terlepas dari tangan-tangan dingin Adrian Bushby, Mark Stent dan Ted Jensen dan beberapa sound engineer terkait lainnya. Kehadiran Audrey Riley bersama kelompok orkestra yang dipimpinnya memberi nuansa dramatis dan memberi kesan mahal pada album ini, suatu jerih-payah yang layak untuk diapresiasi. Bravo!



Blessings,
Bagus Pramono
October 1, 2009
Last Updated on Thursday, 01 October 2009 03:22