SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Family & Relationship Kelaparan Sentuhan (Skin Hunger)

Kelaparan Sentuhan (Skin Hunger)

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 
‘Kelaparan-sentuhan’ atau yang dikenal dengan istilah ‘skin hunger’ (kelaparan-kulit, harfiah) sering menjangkiti orang-orang, walau tanpa sadar. Semua orang memiliki yang disebut "skin hunger" itu : rasa lapar akan sentuhan. Tak perduli berapa usia kita, kita membutuhkan kasih sayang yang diwujudkan dengan sentuhan.



Silhouette,Father,Mother,Child,Son,Happiness,Family,Satisfaction,Boys,Men,Vector,Daughter,Walking,Action,Girls,Illustration and Painting,Isolated,Love,People,One Person,Posing,Looking At Camera,TeenagerSilhouette,Father,Mother,Child,Son,Happiness,Family,Satisfaction,Boys,Men,Vector,Daughter,Walking,Action,Girls,Illustration and Painting,Isolated,Love,People,Posing,Looking At Camera,Creativity,Design










KELAPARAN SENTUHAN (SKIN HUNGER)








Manusia butuh sentuhan, seorang yang jarang mendapatkan sentuhan, ada sesuatu yang hilang dalam bagian hidupnya. Seorang bayi tidak hanya memerlukan susu, tetapi juga memerlukan gendongan, sentuhan dan pelukan kasih-sayang. Sepasang kekasih sangat menikmati sentuhan tangan ketika bergandengan, seorang anak merasa aman ketika berjalan sambil menggandeng tangan orang-orang terdekatnya. Perjumpaan antara 2 orang sahabat yang lama berpisah kedua-nya akan secara spontan berjabat-tangan dengan erat, atau berpelukan saat bertemu.

Sentuhan di punggung menandakan sebuah dukungan, sentuhan di pundak mengungkapkan tanda setuju, sentuhan di tangan mengungkapkan rasa kasih. Sentuhan tangan di kepala dapat berarti sebuah berkat dan kasih. Pelukan adalah gambaran sebuah lambang intimacy yang disebabkan oleh perasaan kasih-sayang. Sentuhan saat berjabat tangan dapat berarti banyak hal; keakraban, kesepakatan, dan sebagai alat interaksi antar sesama yang sederhana dan effektif.

Bapak saya cukup banyak memberi masukan kepada anak-anaknya tentang pendidikan tingkah-laku. Satu diantaranya “Jika seorang berjabat-tangan tanpa ‘tenaga’ (tidak meremas tangan yang orang lain yang sedang berjabat tangan dengannya), artinya orang tersebut punya sifat ‘tidak tahu terima-kasih/ sering melupakan jasa orang-lain’”. Saya pikir ini bukanlah suatu mitos atau yang lain, tetapi pengajaran ini merupakan ‘hasil’ observasi psikologi warisan nenek-moyang.

Mungkin anda ada yang tidak setuju dengan pendapat diatas, tetapi hal tersebut cukup masuk-akal, sebab kegiatan menjabat-tangan seseorang adalah ungkapan-hati yang beragam artinya : ‘sapaan, tanda akrab, senang, setuju, dll. nah, apabila seorang tidak memberikan tangannya secara ‘willingly’ artinya jabatan-tangannya itu hanya setengah-hati, bukan?

-----

‘Kelaparan-sentuhan’ atau yang dikenal dengan istilah ‘skin hunger’ (kelaparan-kulit, harfiah) sering menjangkiti orang-orang, walau tanpa sadar. Semua orang memiliki yang disebut "skin hunger" itu : rasa lapar akan sentuhan. Tak perduli berapa usia kita, kita membutuhkan kasih sayang yang diwujudkan dengan sentuhan.

Penyakit "skin hunger" cukup berbahaya, bisa mengakibatkan depresi dan putus-asa, bahkan penyakit-penyakit lain. Menurut penelitian para ahli, penyakit dalam tubuh manusia sering juga dikarenakan oleh faktor psikis daripada faktor fisik. Karena faktor fisik dan psikis dalam diri manusia saling mempengaruhi.

Setiap orang butuh disentuh, anak-anak kita butuh sentuhan. Ini bisa berarti pelukan, ciuman dll. Selama anda masih bisa, sebanyak-banyaknyalah sentuhan itu diberikan kepada anak-anak; Mungkin tidak akan lama lagi mereka sudah akan merasa malu dicium oleh orang-tuanya, karena budaya kita kurang terbiasa dengan ‘cium dan pelukan’. Namun jangan berhenti karena mereka malu dicium; orang-tua bisa menyentuh dengan cara lain, misalnya merangkul/ menepuk bahu, memegang tangan mereka dll. Sebab, pada dasarnya, mereka tetap membutuhkannya.





TO TEACH IS TO TOUCH :



Tuhan Yesus Kristus menjadikan hubungan antara Allah dan manusia menjadi sebuah sentuhan yang akrab. Pribadi Allah yang Maha Tinggi itu menjadi sosok yang sangat dekat dengan umatNya. Karakter Yesus adalah pribadi yang suka menyapa :


* Markus 10:13-16
10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.



Yesus suka sekali menyapa, menyentuh dan memberkati kepada anak-anak kecil sekalipun. “To teach is to touch” adalah gaya pelayanan Yesus. Ketika Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus, Yesus memegang tangannya dan dia menjadi sembuh (Matius 8:14-17). Yesus mencelikkan mata orang buta (Markus 8:23), Yesus menyentuh orang yang sakit kusta (Matius 8:1-4; suatu perbuatan yang sangat tidak lazim dilakukan kala itu), dan masih banyak lagi. Seorang wanita yang sakit pendarahan mendapat kesembuhan ketika ‘menyentuh’ jubah Yesus dengan iman.

“To touch” tidak selalu berarti sentuhan fisik saja. Menyapa seseorang dengan “Hai, apa kabar?” itu merupakan sentuhan yang paling sederhana. Alkitab juga mengajar bagaimana Yesus dengan mudahnya menyapa seorang pendosa yang bernama Zakheus si pemungut cukai, pelacur, penjahat, orang penyakitan, bahkan kepada orang yang pernah menyakitiNya, dst. Ketika kasih itu menyapa maka akan berlanjut kepada “sentuhan”.

Komunikasi dengan kata-kata juga merupakan ‘sentuhan’. Berbicara adalah juga mendengar dengan baik dan peka. Dalam kegiatan ini, seorang dengan yang lain bisa saling membaca raut muka serta pengungkapan isi hati masing-masing. Berbicara adalah bisa menyatakan sentuhan pernyataan kasih, menyatakan kesedihan dan kekecewaan, dimana perasaan, isi pikiran, masing-masing diungkapkan dan dirasakan.

Telah kita pelajari gaya Yesus, "To teach is to touch". Mari kita ikuti teladan Yesus ini. Menjadi sama seperti Yesus mungkin adalah hal yang sulit dilaksanakan. Tetapi meniru gaya Yesus yang satu ini, adalah hal yang mudah dilakukan bagi semua umat Tuhan.


Amin.


Blessings in Christ,
Bagus Pramono
November 14, 2005






Last Updated on Saturday, 17 November 2007 01:07  

Add comment


Security code
Refresh