SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Family & Relationship MEMILIH PASANGAN HIDUP

MEMILIH PASANGAN HIDUP

E-mail Print PDF
User Rating: / 5
PoorBest 

Bagaimana memilih pasangan hidup? Apakah saya akan mengetahui tandanya bila orang yang tepat itu datang? Bagaimana saya harus menampilkan diri? Orang seperti apa yang dirancang Allah bagi saya? Bagaimana jika orangtua atau teman-teman saya tidak suka pada orang yang saya anggap tepat? Apakah ada perbedaan yang cukup nyata jika salah satu dari antara kami bukan orang percaya?

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda semakin lama semakin tertarik pada seseorang tetapi belum merasa yakin bahwa ia adalah pasangan hidup Anda? Atau, apakah Anda ingin menikah tetapi sampai sekarang belum mendapat pasangan? Apapun kondisi Anda, tulisan Kurt De Haan, staf RBC, dalam buku ini akan menawan perhatian Anda. Buku ini menawarkan prinsip-prinsip alkitabiah untuk membimbing Anda mengambil keputusan yang membutuhkan kepekaan nurani, yang berkaitan dengan menemukan pasangan hidup.


Martin R. De Haan II.


Image



I. SESEORANG YANG TEPAT



    Penciptaku, Penciptaku, berikan aku sandaran hati;
    Temukan bagiku seseorang, kejarlah ia untukku.
    Penciptaku, Penciptaku; lihatlah dalam buku-Mu,
    Danjadikanlah aku orang yang sempurna sebagai pasangan hidup.
    (dari Fiddler on the Roof)


Tak seorang pun senang dipaksa untuk menjalin sebuah hubungan. "Diatur" untuk mengadakan kencan, atau terus-menerus didesak kehidupan romantis seseorang, paling tidak membebani anggota keluarga atau teman-teman, walaupun secara halus. Dan meskipun seseorang mungkin ingin menikah suatu hari kelak, proses yang tidak tepat dalam mencari orang yang tepat kelihatannya menjadi sesuatu yang membosankan daripada sesuatu yang mendatangkan manfaat. Belum lagi adanya resiko melakukan kesalahan yang dapat mengubah hidup, dan proses pengambilan keputusan yang dapat melumpuhkan.

Pada banyak tempat di dunia ini, seseorang yang hidup melajang tidak mempunyai pilihan tentang seseorang yang ingin dinikahi. Pernikahan dirancang oleh orangtua (biasanya oleh ayah), dan pengantin laki-laki diperlakukan lebih sebagai harta kekayaan keluarga.

Musik populer Fiddler on the Roof (Pemain Biola di Atas Atap) mengisahkan tiga gadis Yahudi yang takut menjadi pasangan yang tidak disukai oleh pria di Anatevka (sebuah desa kecil di Rusia) dalam suatu pernikahan yang telah diatur. Mereka menyanyikan pengharapan supaya sang Pencipta membuat mereka menjadi "pasangan yang sempurna," tetapi di akhir lagu mereka memohon sang Pencipta tidak terburu-buru dengan proses penyempurnan tersebut! Dalam cerita selanjutnya, mereka mencoba mengubah sikap ayah mereka, Tevye, terhadap pemilihan calon pengantin laki-laki. Meskipun Mak Comblang (pengatur jodoh) masih sangat aktif di Anatevka, dan sang ayah memiliki kekuasaan penuh dalam keluarga, anak-anak perempuan Tevye mengatur pembicaraan dengan ayahnya untuk meminta izin supaya mereka dapat menikah dengan laki-laki yang mere ka cintai - kecuali salah satu anak yang memaksa menikah dengan laki-laki yang tidak seiman dengan iman keluarganya.

Sikap terhadap pernikahan terus mengalami perubahan. Dalam perubahan yang sedemikian cepat, kebudayaan kota besar di mana sebuah keluarga-besar tidak begitu berkuasa lagi (dan para bapak tidak lagi memerintah seperti seorang raja), proses pengambilan keputusan mengenai calon suami atau istri telah diserahkan kepada yang akan menikah, walaupun biasanya dengan persetujuan keluarga. Namun hal ini tidak selalu berarti bahwa pilihan orang muda selalu lebih baik.

"Proses yang tidak tepat dalam mencari orang yang tepat kelihatannya menjadi sesuatu yang membosankan daripada sesuatu yang mendatangkan manfaat."

Orang muda yang belum menikah dan orang yang lebih tua dengan status janda atau duda, mungkin saja memasuki pernikahan dengan alasan-alasan yang salah. Seseorang yang masih muda mungkin menikah hanya berdasarkan perasaan romantis semata-mata - atau berdasarkan fakta-fakta yang tidak kuat. Duda atau janda mungkin menikah kembali tanpa belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu - menikah dengan orang yang salah dengan alasan yang salah. Atau seorang duda atau janda yang merasa sangat kesepian sehingga terburu-buru menjalin hubungan baru dan menikah - hanya untuk menyesal di kemudian hari.

Alkitab menawarkan prinsip-prinsip yang sangat menolong dan dapat diterapkan pada setiap orang: muda atau tua, pernikahan pertama atau pernikahan kedua, pernikahan hasil rancangan orangtua atau pernikahan dengan orang yang disukai. Siapa pun yang akan mengambil keputusan seharusnya mempertimbangkan hal-hal yang akan dibahas di bawah ini.



 

II. BAGAIMANA MEMILIH PASANGAN HIDUP



Gadis itu muda dan cantik, dan dibesarkan di sebuah kota kecil. Sang jejaka seorang yang makmur, anak tunggal, berusia 40 tahun, dan meneruskan bisnis peternakan ayahnya. Rumah mereka terpisah lebih dari 640 km, dan belum pernah bertemu sebelumnya sampai pada hari ketika mereka menjadi suami-istri.

Seorang laki-laki tua, yang telah lama bekerja di peternakan ayah sang pengantin laki-laki, bertindak sebagai mak comblang. Ketika ia tiba di kota kecil itu, ia mendekati gadis tersebut dan menanyakan beberapa hal, bercakap-cakap dengan saudara-saudaranya, dan kemudian tahulah ia bahwa gadis itu cocok menjadi istri anak laki-laki majikannya. Laki-laki tua ini "mencetuskan pertanyaan" kepada ayah sang gadis dan kemudian sepakat membawa qadis itu untuk menikah -dan gadiS ini sangat ingin pergi!

Pasangan tersebut adalah Ribka dan Ishak. Kejadian 24 yang berisi penjelasan tentang hal-hal yang mengarahkan pernikahan mereka, memberi sebuah contoh yang jarang terjadi tentang bagaimana Allah memimpin dua orang untuk bersama-sama. Meskipun contoh dari mereka tidak cocok lagi diterapkan secara rinci pada masa kini, tindakan yang dilakukan mak comblang Abraham Itu mengungkapkan beberapa prinsip yang dapat diterapkan pada zaman sekarang tentang bagaimana memutuskan siapa yang akan kita nikahi.

Oleh karena itu, dalam buku ini kami akan merujuk pada kisah Ishak dan Ribka. Sebenarnya, sebelum Anda membaca lebih jauh, akan lebih baik bila Anda membuka Alkitab dan membaca Kejadian 24, menggali prinsip-prinsip yang dapat diterapkan pad.a masa kini.

Untuk memperoleh gambaran utuh tentang bagaimana memilih pasangan hidup, kita juga akan melihat bagian Alkitab yang lain. Kita akan membagi penemuan-penemuan tersebut dengan Judul:

(1) Pilih yang seiman,
(2) Percaya pada Allah,
(3) Pertimbangkan Karakternya,
(4) Gunakan Hikmat,
(5) Pikirkan Jauh ke Depan.



(1) Pilih yang seiman


PILIH YANG SEIMAN PERCAYA PADA ALLAH PERTIMBANGKAN KARAKTERNYA GUNAKAN HIKMAT PIKIRKAN JAUH KE DEPAN

Air dan minyak tidak dapat bercampur. Tikus dan lilitan ular sawah yang tidak berbisa pun tidak akan dapat membuat keduanya bersahabat. Seseorang yang takut pada ketinggian tentu tidak bijaksana menerima ajakan seorang pendaki yang ingin mendaki lereng Gunung Everest. Seorang komunis yang radikal bukan merupakan pasangan yang baik bagi seseorang dengan haluan politik kapitalis. Anjing kutub dan anjing berkaki pendek tidak mungkin bekerjasama dengan baik sebagai anjing penarik kereta salju di keganasan Alaska. Dan seorang pengikut Kristus tidak akan membangun pernikahan yang berhasil jika menikah dengan orang yang tidak percaya.


Mengapa orang harus meributkan apakah pasangan hidup saya seorang percaya atau bukan?

Tiada hal yang lebih penting bagi Anda atau orang yang akan Anda nikahi selain kerohanian yang baik. Abraham mengetahui hal ini. la mengirim pelayannya berjalan jauh (lebih dari 640 km) untuk menemukan pengantin yang kerohaniannya sepadan dengan kerohanian anak laki-lakinya. Hal ini tidaklah sesederhana kenyataan bahwa ia seorang ayah yang melindungi dan mengawasi anaknya - ia tahu nilai pernikahan yang abadi. Kejadian 24 menolong kita untuk memahami mengapa hal tersebut sangat penting.

Abraham memberikan kepada pelayannya (kemungkinan adalah pelayannya yang sudah tua dan setia, Eliezer, seperti yang disebutkan dalam Kejadian 15:2) perintah-perintah tegas seperti ini: " ... supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku" (ayat 3-4). Orang Kanaan adalah penyembah-penyembah berhala dengan nilai moral yang terkenal amat rendah. Penyembahan kepada dewa-dewi mereka juga meliputi pengorbanan manusia dan upacara kesuburan dengan menyelewengkan kekudusan seks.


Siapa orang Kanaan zaman sekarang?

Baiklah, orang yang sekarang berkencan dengan kita tidak pergi ke gereja yang menganjurkan pengorbanan manusia atau upacara seksual dan tidak memuja dewa-dewa kesuburan. Masalahnya, kalau begitu, siapa yang disernbahnya. Apakah orang yang kepadanya Anda tertarik ini mengenal Yesus Kristus sebagai Juruselamat? Apakah orang ini hidup untuk-Nya? Orang Kenaan zaman sekarang tidak selalu merupakan penyembah berhala yang terlihat dengan jelas. Mereka dapat saja menampakkan kehidupan beragama dalam segi-segi positif, tetapi orang yang religius tetap tidak cukup.

II Korintus 6: 14-15 menyatakan, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?" Ketika Rasul Paulus menuliskan kata-kata tersebut, ia memang tidak khusus berbicara tentang pernikahan, tetapi prinsip yang terkandung di dalamnya tetap dapat diterapkan dalam hal pernikahan. Seseorang yang menaruh imannya dalam Kristus sudah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3-16), dan "siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru" (II Korintus 5: 17). Perubahan yang demikian mendasar dalam kehidupan rohani kita seharusnya berdampak sangat kuat terhadap prioritas, tujuan, gaya hidup dan hubungan antar pribadi kita.

I Korintus 7:39 menunjukkan bahwa seorang janda, jika ia memilih untuk menikah lagi, sebaiknya menikahi pria yang juga "di dalam Tuhan." Pria itu haruslah seorang percaya, seorang yang hidup dengan iman di dalam Yesus Kristus. Hal ini berarti ketentuan tersebut tidak hanya berlaku untuk para janda tetapi untuk setiap orang yang ingin menikah.

Jadi, jika Anda adalah orang percaya, orang yang akan Anda nikahi juga harus orang percaya. Carilah seseorang yang mengenal Kristus sebagai Juruselamat, dan yang memiliki bukti-bukti pertumbuhan rohani.


Apakah salah jika saya menikah dengan orang yang kerohaniannya tidak sepadan dengan saya?

Kehampaan. Jika Anda dapat berbicara dengan Musa atau Raja Salomo, mereka akan menunjukkan bahayanya, baik bagi keluarga Anda maupun komunitas orang percaya. Musa mendapat perintah langsung dari Tuhan mengenai hal ini, dan Salomo mengalami sendiri kengerian akibat menikah dengan orang yang tidak seiman.

Hukum Allah yang diberikan kepada Musa berisi larangan terhadap pernikahan dengan orang-orang penyembah berhala yang hidup di sekeliling banqsa Israel. Ulangan 7:3-4 menyatakan, "Janganlahjuga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan la akan memunahkan engkau dengan segera."

Meskipun Salomo ruengetahui hal ini dengan lebih baik, ia menyalahgunakan hak istimewanya sebagai raja dan menikahi wanita-wanita dari bangsa asing yang menyembah berhala. Sebagai akibatnya, " ... waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya" (I Raja 11 :4). Baik Salomo maupun seluruh bangsa pada akhirnya turut menderita (ayat 11-13).

Sepanjang sejarah bangsa Israel, jika orang menikah dengan penyembah berhala, selalu ada pengaruh yang kuat dan negatif pada orang-orang Israel. Bahkan setelah mereka dihukum oleh tentara asing, orang-orang Yahudi yang kembali ke Yerusalem ditegur oleh Ezra dan Nehemia (Ezra g, 10; Nehemia 13:23-27), dan kemudian oleh Maleakhi (2: 11-12). Cinta, nafsu, dan lingkungan sekeliling membutakan mereka dari hal-hal yang benar dan salah.

Kita harus siap melawan pencobaan untuk melupakan hal yang paling mendasar dari kesepadanan rohani. Hanya karena ia "cantik," "baik hati," "ramah dan penuh perhatian," atau kelihatan "betul-betulmengasihi saya," jangan biarkan perasaan membuat Anda menginjak-injak hubungan Anda dengan Tuhan.

Meskipun Rasul Paulus dan Petrus membicarakan kemungkinan memenangkan pasangan yang tidak seiman sehingga percaya pada Tuhan (I Korintus 7:12-16; I Petrus 3:1-2), tidaklah berarti kita dapat menikah, walaupun kita tahu ada ketidaksepadanan rohani. Seorang percaya yang menikah dengan orang yang tidak percaya mungkin akan menghadapi neraka rohani seumur hidup dan peperangan bagi kesejahteraan rohani anak-anak mereka.


Pikirkan Lebih Jauh.

Mengapa ada orang Kristen yang menikahi orang yang tidak percaya walaupun mereka tahu itu tidak benar? Konflik apa yang dapat berkembang dalam pernikahan jika keduanya bukan orang percaya? Apakah akibat dari pernikahan model ini terhadap anak-anak mereka yang sedang bertumbuh?



(2) Percaya pada Allah


PILIH YANG SEIMAN PERCAYA PADA ALLAH PERTIMBANGKAN KARAKTERNYA GUNAKAN HIKMAT PIKIRKAN JAUH KE DEPAN


Memang tidak mudah menunggu seseorang yang dapat memenuhi keinginan kita. Naif memang, saya tahu, tetapi saya tidak akan menanti dalam antrian panjang di rumah makan siap saji di mana aroma makanan semakin membuat saya lapar. Saya tidak sejahtera bila kondisi keuangan lagi kritis saat berbagai tagihan datang sebelum saya menerima gaji, dan saya tidak akan tinggal diam ketika dan kalau keseimbangan neraca goncang lagi.

Seluruh hidup kita tampaknya menjadi suatu proses belajar menunggu dalam ketergantungan kepada orang lain. Semua ini bermula dari masa kanak-kanak kita- kita mau susu, selimut kesayangan, boneka kesayangan, atau popok yang bersih. Kita harus belajar lagi dan lagi bahwa kita tidak dapat memperoleh semua itu saat itujuga. Kita harus menunggu ayah dan ibu atau orang lain menyediakan apa yang kita butuhkan.

Sebagai seorang Kristen, kita harus belajar dan belajar lagi bahwa kita harus menunggu Tuhan, Pribadi yang akan menyediakan semua yang kita butuhkan. Menunggu bukanlah pelajaran yang mudah bagi setiap orang. Kita harus mengetahui bahwa waktu Tuhan adalah saat yang paling baik, bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali-Nya. Memang lebih mudah berkata-kata daripada melakukannya. Bagi seorang pria atau wanita yang nyalinya tidak begitu kuat dan sangat mqm untuk menikah, menunggu merupakan hal yang paling sulit.


Apa yang dapat kita petik dari kisah Ishak dan Ribka tentang mempercayai Allah yang akan menyediakan?

Jika dibanding kisah Ishak dan Ribka, maka kisah Abraham dan pelayannya Eliezer lebih mengungkapkan contoh yang patut kita ikuti (Kejadian 15:2-6; 24:2-4). Pada ayat 7, Abraham mengungkapkan keyakinannya pada kemampuan Allah untuk memimpin Eliezer bertemu dengan wanita yang tepat bagi anaknya. Abraham berkata, "Tuhan ... akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku." Pernyataan iman ini bukanlah semata-mata keinginan hati Abraham, melainkan terungkap berdasarkan hubungan akrab yang telah terjalin selama bertahun-tahun antara Abraham dan Tuhan. Ia dapat berkaca pada masa lalu dan melihat bagaimana Tuhan memenuhi setiap kebutuhan dan memimpinnya. Ia tahu bahwa Tuhan dapat dipercaya untuk membimbingnya menentukan pilihan yang sangat penting ini bagi anaknya Ishak.

Abraham adalah contoh hidup tentang kebenaran Amsal 3:5-6, "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Seperti Abraham yang hidup oleh iman, Tuhan memberkati dan membimbing hidupnya pelayannya, Eliezer, menunjukkan iman yang sama ketika ia berdoa, "TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham" (Kejadian 24: 12).

Kita pun dapat memiliki keyakinan yang sama dan jaminan yang pasti bahwa hidup kita ada di bawah kontrol Allah. Sepanjang kita hidup dengan rendah hati, tunduk, dan taat, kita tidak perlu kuatir bila suatu ketika kehilangan pengarahan Allah mengenai jalan yang harus ditempuh. Seperti Abraham yang mere.ndahkan diri. di hadapan Raja alam semesta, kita pun perlu mencari dahulu Kerajaan Allah dan Dia akan memenuhi semua kebutuhan kita (Matius 6:33); termasuk menolong kita menemukan pasangan hidup atau kita hidup bagi Dia sebagai seorang yang melajang.


Mengapa Allah begitu lama dalam bertindak?

Yakinlah bahwa setiap "penundaan" yang terjadi adalah untuk kebaikan Anda, bukan maksud Allah untuk mempermainkan Anda! Hal itu bisa saja tampak seolah-olah Allah membiarkan Anda terkatung-katung ketika Anda benar-benar ingin menikah dan hidup mapan.

Banyak orang, muda dan tua, menderita "panik yang berkepanjangan." Seorang anak muda yang belum punya pacar mulai dilanda panik ketika ia memasuki tahun terakhir di perguruan tinggi atau ketika mencapai usia tertentu yang dianggap tua, sementara semua temannya telah menikah. Dan orang yang lebih tua mulai panik ketika mereka menjadi janda atau sampai pada tahap kehidupan di mana mereka betul-betul mendambakan seorang pendamping. Entah tua atau muda, pada saatnya orang akan berhenti mencari pasangan hidup. Jika sampai terjadi hal demikian, maka tidak perlu diucapkan, kita tahu bahwa hal itu agak berbahaya.

Entah Anda sudah tua atau masih muda, Allah ingin Anda menghubungi-Nya, hidup dekat dengan-Nya dan menunggu tindakan-Nya (Mazmur 27:13-14; Yesaya 30: 18). Jujurlah kepada Allah tentang keinginan Anda untuk menikah. Semua perasaan itu tidak salah dan indah! Tetapi jangan hilang sabar dan rnenyirnpanq dan Allah dalam usaha menemukan seseorang yang ingin Anda nikahi.


Bagaimana bubungan pribadi Anda dengan Allah?

Apakah Anda mempercayai-Nya dalam keputusan kecil sehan-han. Apakah Anda hidup dalam ketergantungan mutlak kepadanya? Apakah Anda berada pada posisi dan sikap yang memperhatikan Allah?

Ketika pelayan Abraham berbicara kepada Ribka tentang tujuannya berada di Nahor, ia berkata, " ... dan TUHAN telah menuntun aku dijalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini" (Kejadian 24:27). Eliezer telah mengikuti perintah dan berada di tempat di mana Allah dapat memberi petunjuk selanjutnya. Kita juga harus "berada di jalan itu," hidup dalam ketaatan kepada Allah, jika kita ingin Dia memimpin kita pada masa yang akan datang.

Apakah Anda berada di tempat di mana Allah dapat memimpin Anda? Anda tidak dapat berharap Allah mengarahkan Anda kepada pasangan Kristen yang sungguh-sungguh baik jika Anda berada di antara orang bereputasi buruk, jika Anda terlibat dalam hubungan seks pra-nikah, jika Anda tak mau menggunakan waktu untuk berdoa dan menyembah Dia, ataujika Anda masih memiliki sikap-sikap berdosa. Kita tidak dapat mengharapkan pertolongan Allah dalam memilih pasangan hidup jika kita hidup dalam ketidaktaatan terhadap kehendak-Nya.


Apakah Allah akan menyediakan pasangan hidup bagi setiap orang?

Tidak. Beberapa orang memang dirancang dan diberi karunia untuk hidup melajang dan yang lain dirancang untuk menikah (I Korintus 7). Idealnya. di dalam keberadaan seperti Taman Firdaus, setiap laki-laki dan wanita akan mendapatkan pasangan hidup yang sempurna. Namun, kini kita hidup di dunia yang tidak sempurna, di mana keadaan ideal tidak lagi berjalan semestinya. Dalam situasi sekarang, kehendak Allah bagi beberapa orang adalah hidup melajang - dan bagi mereka, itulah keadaan sebenarnya bagaimana Dia dimuliakan dalam hidup mereka.


Mengapa saya butuh pertolongan Allah dalam memilih pasangan hidup?

Memutuskan untuk menikah dapat menjadi pikiran yang mengejutkan, pilihan yang mengubah hidup, dan berakibat dalam dan kekal terhadap kerohanian. Dan sangatlah jelas, kebanyakan kita tidak menyadari apa yang terdapat di dalam diri kita. Kita butuh pertolongan Allah untuk mempersiapkan kita menghadapi pernikahan dan menolong kita memilih orang yang terbaik.

Yakobus 1:5 menyatakan, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya." Pada ayat ini, Yakobus menulis tentang hikmat yang kita butuhkan untuk menghadapi pencobaan dalam hidup kita. Dan tentu saja, usaha untuk menghadapi hidup melajang dan kepastian jika Allah ingin Anda menikah dengan orang tertentu atau tidak perlu dianggap pencobaan yang serius!

Menurut Amsal, kita telah mengambil langkah besar untuk menjadi bijak tatkala memilih untuk takut akan Tuhan dengan memperlihatkan pada-Nya hormat dan penghargaan yang memang milik-Nya (Amsal 1:7; 2:1-11).


Bagaimana Roh Kudus membimbing pllihan pikiran dan perasaan saya?

Ini masalah yang cukup rumit karena kita berbicara tentang informasi yang kurang objektif. Meskipun Perjanjian Baru memuat beberapa contoh tentang bagaimana Roh Kudus dapat memimpin melalui kesan di dalam diri (Kisah Para Rasul 8:29; 11 :28; 13:2; 21 :11; I Korintus 14:30), ternyata memisahkan perasaan yang subjektif atau dorongan hati kita dari suara Roh Kudus tidak selalu mudah untuk dilakukan. Kita dapat rneyakini bahwa Roh Kudus tidak akan pernah melanggar perintah-perintah yang tercantum dalam Alkitab. Roh Kudus tidak akan pernah meemerintahkan kita menikah dengan orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, juga Dia tidak pernah membimbing kita untuk menikah demi uang, atau menuntun kita menikah dengan konflik yang masih terjadi berkaitan dengan prinsip-prinsip hikmat (baca "Gunakan Hikmat" pada halaman point 4).

Roh Kudus akan membimbing saat kita mempeIajan Alkitab, dan Dia akan memberi kepekaan akan apa yang baik atau salah dalam suatu hubungan antarpribadi. Tanda di dalam diri kita yang diberikan Roh Kudus pasti akan sejalan dengan kebenaran dan kebijaksanaan yang saleh.


Bagaimana kita harus berdoa supaya Allah memimpin kita menemukan suami atau Isteri?

Sesering mungkin dan jangan bosan! Allah sangat ingin mendengar permintaan Anda sehubungan dengan hal ini. Saat Anda membawa permintaan ini ke hadapan-Nya dan menyerahkan diri ke dalam pengarahan-Nya, yakinlah bahwa Dia akan menyatakan kehendak-Nya (Mazmur 37:4; Matius 7:7-12).


Pikirkan Lebih Lanjut.

Dari skala 0-10, berapakah nilai Anda dalam mempercayai Allah? Sudahkah Anda berdoa tentang siapa yang akan Anda nikahi? Apakah Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah dan bertumbuh dalam hubungan Anda dengan Yesus Kristus? Sudahkah Anda mempelajari rahasia kepuasan, entah Anda menikah atau tidak? (Filipi 4: 11-13).



(3) Pertimbangkan Karakternya


PILIH YANG SEiMAN PERCAYA PADA ALLAH PERTIMBANGKAN KARAKTERNYA GUNAKAN HIKMAT PIKIRKAN JAUH KE DEPAN

Orang macam apa yang mampu menggetarkan hati Anda? Apakah Anda mau menikah dengan seorang pecandu kokain, pembunuh yang sakit jiwa, atau seorang dokter yang melakukan penipuan ketika masuk ke fakultas kedokteran? Mungkin bukan salah satu dari kelompok orang di atas, bukan? Anda pasti menginginkan seorang dokter yang ahli dan dapat diandaikan semasa kuliahnya, seseorang yang benar-benar siap untuk membedah Anda.

Jadi, Anda perlu merasa yakin kalau orang yang akan Anda nikahi memiliki persyaratan-persyaratan seorang suami atau istri yang baik. Hal ini tidak berarti bahwa Anda harus memberikan lembaran tes kepada setiap orang yang berkencan dengan Anda, tetapi maksudnya Anda harus sadar akan sifat-sifat yang disenangi dari seorang pacar, dan sifat-sifat yang harus diwaspadai. Dan mungkin, yang paling penting dari semua itu adalah: apa yang Anda harapkan dari orang lain, juga harus terbukti dalam hidup Anda!


Ciri-ciri karakter apa yang penting dalam kasus Ishak dan Ribka?

Ketika Eliezer masuk ke kota Nahor, ia berdoa dan memohon Tuhan menunjukkan wanita yang sesuai dengan syarat-syarat yang diajukannya; dan saya pikir ia tidak meminta tanda yang berubah-ubah. Eliezer memohon Tuhan membawanya kepada seorang wanita muda yang tindakannya menunjukkan kerendahan hati, ketaatan, Sikap yang melayani. Ciri-ciri karakter itu ditunjukkan dengan kemauannya untuk memberi Eliezer dan unta-untanya minum (Kejadian 24: 13-14).

Ketika Ribka memenuhi semua persyaratan tersebut, dikisahkan bahwa Eliezer memperhatikan Ribka dengan lebih teliti untuk meyakinkan diri bahwa dialah wanita yang tepat untuk Ishak (ayat 21). Ketika keadaan yang sebenarnya terbuka, Ribka menuNjukkan kepekaan terhadap pimpinan Tuhan dengan kesediaannYa mengikuti pelayan Abraham-bahkan sesudah ia mendengar cerita yang mencengangkan.

Pada ayat 16, Ribka digambarkan sebagai wanita yang sangat cantik dan seorang perawan. Saya yakin, dengan kecantikan alamiah yang dimilikinya, tidaklah sulit baginya untuk mendapa:kan pria walaupun kita tidak dapat memastikan bahwa kecantikan adalah salah satu faktor yang menentukan. Kita hanya dapat merasa agak pasti bahwa keperawanan adalah hal yang penting. Hukum Perjanjian Lama tentang perilaku seksual sangatlah keras (Ulangan 5:18; 22:13-21). Penipuan mengenai kemurnian seksual seseorang pada saat pernikahan dapat membawa kematian (ayat 21)


Kualitas karakter bagaimana yang pentang bagi orang-orang yang akan memasuki pernikahan pada zaman sekarang?


Berikut ini beberapa ciri yang sebaiknya Anda cari pada diri orang lain dan kembangkan dalam diri Anda sendiri :


a. Kesediaan untuk melayani, kerendahan hati.

Ia harus dapat hidup secara harmonis dengan orang lain, mau bergaul dengan orang yang lebih rendah kedudukannya, tidak sombong (Yohanes 13:1-7; Roma 12:16). Di atas semua itu, ia harus mau melayani Anda.


b. Murni dalam hal seksual.

Seks diciptakan untuk pernikahan. Anda harus menjaga diri Anda bagi seseorang yang juga telah menjaga dirinya bagi Anda (Roma 13:13-14; Ibrani 13:4).

Namun bagaimana jika orang yang menarik parhetlan Anda mempunyai masa lalu yang tidak baik dalam hal seksual? Apakah Anda akan kehilangan pernikahan yang bahagia? Tidak. Memang Anda akan menghadapi luka-luka emosional akibat perilaku seksual sebelumnya, tetapi dengan kemurahan dan kasih karunia Allah setiap orang dapat diampuni dan dimurnikan sepenuhnya oleh Kristus (II Samuel 12:13; I Yohanes 1:9).

Menurut penelitian terakhir, kemungkman besar orang yang membaca buku ini parnah terlibat hubungan seksual. Lalu, apakah Anda akan membuang semua standar Alkitabiah yang dipaparkan. Tentu saja tidak. Dosa tidak pernah membuat keadaan tanpa hukum dapat berjalan dengan baik. Dosa hanya membuat kita semakin nyata membutuhkan pengampunan dan kasih karunia Allah.

Masalah tentang masa lalu kehidupan seksual Anda atau pasangan Anda, dapat menjadi masalah kepribadian yang serius. Adalah bijaksana jika Anda memastikan bahwa masa lalu itu telah diselesaikan sepenuhnya dan pola perilaku seksual yang berdosa telah benar-benar diputuskan dan ditinggalkan. Jika tidak, kelemahan karakter yang sama akan muncul kembali pada masa yang akan datang dan mengancam hubungan seksual dalam pernikahan Anda. Ada baiknya Anda membicarakan masalah ini dengan pendeta atau konselor Kristen dan memastikan bahwa Anda dan pasangan Anda telah meninggalkan masa lalu dan bertekad hidup kudus dalam hal seksual.


c. Menyembah Kristus.

Anda seharusnya hanya bersedia menerima pasangan seiman yang memiliki kepekaan rohani dan rindu hidup bagi Kristus (II Korintus 6:14-18; Efesus 4:17 - 5:20; Filipi 3:7 -16; I Yohanes 2: 15-17).


d. Prioritas yang benar.

Orang yang Anda pilih untuk menerima komitmen Anda sebagai suami atau istri sebaiknya tidak diperbudak uang, kesenangan, atau popularitas (Pengkhotbah 2:1-11; 5:8-17; 6:1-12; Matius 6:33; Roma 12:2; I Timotius 6:10; Ibrani 13:5).


e. Keyakinan yang benar.

Jangan menikah dengan seorang penganut bidat! Anda tidak harus sepaham dalam hal-hal yang tidak pokok, tetapi pastikan bahwa Anda memegang doktrin yang Alkitabiah (I Yohanes 4: 1-6).


f. Komitmen untuk bergereja.

Allah tidak memaksudkan hidup kekristenan sebagai cara untuk hidup menyendiri. Dia merancang gereja untuk memenuhi kebutuhan dan sebagai wadah kita melayani sesama. Anda harus setuju dalam masalah ini dengan pasangan Anda (Efesus 4: 1-16; Ibrani 10:24-25).


g. Sikap mengasihi.

Inilah karakter paling penting yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya (Yohanes 13:35; Galatia 5:22; I Yohanes 3: 11-20). Jangan menikah dengan seorang penggerutu! Saya tidak dapat membayangkan bagaimana orang seperti itu dapat memberi harapan, tetapi mereka melakukannya – dengan menyembunyikan karakter mereka yang sebenarnya dan dengan memikat pasangannya melalui hal lain. Hikmat Amsal memperingatkan kita bahwa menikah dengan orang yang lekas marah dan suka bertengkar dapat menyiksa hidup kita! (Amsal 19: 13; 21:9,19). Ujilah hubungan Anda dan lihatlah bagaimana hasilnya. Apakah Anda selalu cekcok? Apakah Anda merasa diperlakukan sewenang-wenang, baik dengan perkataan maupun secara emosional?

.
h. Penguasaan diri.

Apakah calon Anda menunjukkan penguasaan emosi yang baik ketika marah? Apakah ia kecanduan alkohol, obat-obat penenang, makanan, seks, kerja, olah-raga atau keinginan membeli barang yang timbul secara tiba-tiba dan tidak dapat dikendalikan? (Amsal 23:20-21; 25:28; Galatia 5:22-23; Efesus5:15-18).


i. Kejujuran.

Penulis Amsal berkata bahwa siapa memberi jawaban yang tepat mengecup bibir" (Amsal 24:26). Jika seseorang sungguh-sungguh mencintai Anda, ia akan memperlihatkan perasaan itu dengan kata-kata yang jujur.


j. Kecantikan di bawah kulit.

Tuhan mencan kualitas yang menarik di dalam diri seorang laki-laki atau wanita; haruskah kita menguranginya? (I Samuel 16:7; Amsal 11:22; 31:13; I Petrus 3:2-5). Kecantikan hanya sedalam kulit, tetapi karakter masuk sampai ke dalam tulang. Anda sebaiknya menemukan sesuatu yang menarik pada bentuk fisik pasangan Anda, tetapi hal Itu tidaklah sepenting kecantikan yang terdapat di dalam diri.


k. Tanggung-jawab

Jangan menikah dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan malas, yang kehilangan keinginan atau kehabisan cara untuk memenuhi tanggun-jawab tertentu. Ribka dan ayahnya dapat melihat dari karunia Eliezer dan gambarannya tentang Ishak bahwa ia mampu memenuhi kebutuhan Ribka (Kejadian 24:22,35,53).

Kedengarannya tidak praktis, bukan? Tetapi berbeda dengan beberapa pendapat yang kebanyakan dianut orang, Anda tidak dapat membayar tagihan utang hanya
dengan janji kasih.

Dalam I Timotius 5 Paulus berkata, "Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dan orang yang tidak beriman" (ayat 8). Paulus tidak memotong-motong kalimatnya, bukan? Jika Anda tidak diperkenankan menikah dengan orang yang tidak percaya, tentu saja Anda tidak boleh menikah dengan orang yang tidak bertanggung jawab secara keuangan, dan kemalasan membuatnya "lebih buruk dari orang yang tidak beriman." "Orang pemalas" yang begitu sering disebutkan dalam kitab Amsal adalah orang yang harus dihindari untuk dijadikan pasangan hidup (24:30-34).


l. Hubungan yang baik dengan orangtua.

Bagaimana seseorang berhubungan dengan orangtuanya akan memperlihatkan kepada Anda banyak hal tentang karakternya. Allah menempatkan standar yang tinggi untuk penghargaan dan hormat kepada orangtua (Efesus 6: 1- 3).

Apakah harapan-harapan kita bisa menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah? Sebagian orang mungkin mengharapkan kesempurnaan sementara orang lain tidak berharap banyak. Masalah yang timbul dari daftar seperti yang disebutkan di atas, yakni membuat kita mempunyai tuntutan yang tidak wajar terhadap orang lain. Tentu saja dasar kerohanian dan kualitas karakter harus ada dalam daftar, tetapi kita tidak dapat berharap seseorang menjadi sempurna. Tidak ada makhluk ciptaan yang sempurna seperti itu di muka bumi ini! Jadi, berpijaklah pada kenyataan. Jangan mengalah untuk hal-hal pokok, tetapi beri keleluasaan bagi pertumbuhan karakter. Hal yang penting adalah apakah orang yang Anda nikahi menyembah Kristus dan mengizinkan Allah bekerja melalui hidupnya untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Dan satu lagi catatan praktis: Jangan memilih orang dengan bayangan bahwa Anda mampu mengubah karakter suami atau istri Anda secara drastis setelah upacara pernikahan. Bersiaplah untuk hidup dengan orang yang bahkan tidak pernah berubah!


Pikirkan Lebih Lanjut.

Bidang kehidupan Anda yang mana yang membutuhkan pergumulan doa? Apakah Anda akan rnenjadi "penangkap" yang baik untuk seseorang yang mencari pasanqan hidup? Jika Anda berpikir untuk menikah dengan seseorang, tahukah Anda bahwa orang itu cukup baik untuk menolong hubungan Anda dengan Kristus?



(4) Gunakan Hikmat


PILIH YANG SEIMAN PERCAYA PADA ALLAH PERTIMBANGKAN KARAKTERNYA GUNAKAN HIKMAT PIKIRKAN JAUH KE DEPAN


Jika Anda sedang mencari mobil, bijaksanakah jika Anda membuka koran di bagian iklan mobil, menutup mata, meletakkan jari Anda sembarangan di halaman tersebut, dan kemudian memburu mobil itu? Akankah lebih baik jika Anda berdoa dan meminta Tuhan menolong Anda meletakkan jari Anda pada iklan yang tepat? Atau kedua cara ini agak menggelikan? Allah ingin kita menggunakan hikmat, baik untuk membeli mobil, memi¬lih tempat tinggal, memilih kuliah yang akan diambil, atau mencari seseorang yang tepat sebagai pasangan hidup.

Beberapa keputusan dalam hidup dapat dibuat dengan melemparkan uang logam - seperti memutuskan apakah yang dipilih selai kacang atau sosis besar untuk roti pada makan pagi. Namun banyak keputusan lain lebih menuntut analisa pikiran. Pemilihan pasangan hidup, misalnya, memerlukan pemikiran yang mendalam, doa yang sungguh-sungguh dan ketergantungan mutlak pada Allah untuk pimpinan-Nya. Setelah itu, barulah muncul keputusan yang akan mempengaruhi Anda (dan pasangan Anda) dalam sisa hidup Anda. Hal semacam ini tidaklah dapat dilakukan pada tahap permukaan saja.


Apakah yang ditunjukkan cerita Ishak dan Ribka tentang pemakaian hikmat?

Kejadian 24 memuat beberapa hikmat praktis. Jika kita memadukannya dengan pengajaran dalarn seluruh Alkitab, kita akan mendapati sekumpulan kiat praktis yang baik.

Ketika pertama kali membaca, kedengarannya seolah-olah pelayan Abraham membuka iklan tertentu dan meletakkan jarinya pada salah satu iklan di halaman itu. Namun mari kita lihat lebih teliti beberapa prinsip yang dapat diterapkan pada zaman sekarang.


a. Carilah di tempat yang tepat.

Dalam rangka menemukan istri yang sepadan dan yang rohani bagi anaknya, Abraham mengirim Eliezer ke tempat yang masuk akal baginya - kampung halamannya sendiri (Kejadian 24:3-4,10). Eliezer tidak pergi ke kampung orang Kanaan yang menyembah berhala untuk mencari istri bagi .Ishak, seperti halnya kita tidak pergi ke komunitas orang ateis, gereja setan, atau tempat hiburan khusus bagi orang yang hidup melejanq untuk menemukan seseorang yang mengasihi Tuhan Yesus Kristus.


b. Mintalah pertolongan Tuhan.

Eliezer berdoa bagi pernikahan yang dirancangnya (Kejadian 24:12) dan ia melihat Tuhan memimpin. Tidak ada lagi hal yang lebih praktis atau lebih bijaksana daripada hal ini. Amsal berulang-ulang berbicara bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (1:7). Penggunaan logika paling maksimal yang dapat Anda lakukan adalah menaruh hati yang sedang mencari ke dalam tangan Allah.


c. Jangan dasarkan keputusan Anda hanya pada satu "tanda."

Bahkan seandainya Anda percaya bahwa tanda itu datangnya dari Tuhan, tetap jangan kesampingkan akal sehat.

Salah satu bagian dari kisah Ishak dan Ribka sering disalah mergerti. Ketika Eliezer meminta tanda kepada Tuhan (seorang wanita muda yang akan menawarkan air kepadanya dan unta-untanya), ia tidak meloncat pada kesimpulan bahwa Ribka adalah orang yang tepat saat Ribka menawarkan airnya. Alkitab menunjukkan bahwa sekalipun wanita itu telah lolos dari ujian pendahuluan Eliezer dengan diam-diam mengamati dan bertanya-tanya apakah ini adalah wanita yang tepat untuk Ishak (ayat 21).

Eliezer telah mengamati karakter Ribka ketika dengan rendah hati ia membawakan air untuk Eliezer dan unta-untanya. Dan ketika berbicara dengan wanita itu, ia mengetahui bahwa wanita itu berasal dari keluarga baik-baik (ayat 24-27). Kemudian, ketika berbicara dengan ayah dan saudara laki-laki nya, Eliezer mendapat informasi tambahan saat mereka dengan cepat memberikan persetujuannya. Dan petunjuk terakhir adalah pernyataan Ribka sendiri bahwa ia akan ikut (ayat 58). Perpaduan semua petunjuk ini menolong kita untuk menguji pilihan.


d. Mintalah nasihat.

Apakah Anda menyadari seberapa jauh lshak harus rnernpercayai penilaian Eliezer? Saya tidak dapat membayangkan ide membiarkan orang lain memilihkan pasangan hidup bagi saya. Saya membayangkan Ishak telah berbicara panjang lebar dengan Eliezer sebelum ia pergi mencari istri, memberitahu sahabat terbaiknya dan yang juga adalah pelayannya apa yang diinginkan dalam diri seorang Istri, Yang kita tahu secara pasti adalah bahwa Abraham mempercayai penilaian pelayannya, dan Eliezer tidak membuat keputusan yang ceroboh. Kejadian 24 memaparkan bahwa Eliezer dengan hati-hati menjelaskan tujuan perjalanannya kepada ayah Ribka dan menyerahkan hal itu kepadanya (ayat 49). Dan Ribka sendiri dengan rendah hati mengikuti pengarahan dari ayah dan saudara-saudaranya (ayat 51 ,58-61).

Proses berpikir kita tidak selalu objektif seperti Yimg seharusnya terjadi. Emosi dapat membutakan kita akan cacat karakter dalam diri orang yang ingin kita nikahi. Amsal mengingatkan kita akan perlunya membandingkan penilaian kita dengan cara mendiskusikannya bersama orang yang kita percayai (12: 15; 20: 18).


Syarat-syarat praktis apa lagi yang perlu kita perhatikan saat ini?

Sebagai tambahan atas empat petunjuk yang baru saja disebutkan, kita juga harus mempertimbangkan hal-hal berikut:


e. Teliti keluarganya.

Bagaimana seseorang bergaul dengan orangtua dan saudara-saudaranya akan banyak memperlihatkan karakternya. Seorang anak laki-laki yang "menganiaya ayahnya atau mengusir ibunya, memburukkan dan memalukan diri" (Amsal 19:26). Seseorang yang menghormati ayah dan ibunya (Efesus 6:2-3) menjadi kesukaan bagi Tuhan. Orang seperti itu memperlihatkan karakter yang selalu kita inginkan dalam diri pasangan hidup kita. Bagaimana orangtuanya berhubungan satu sama lain? Yakinlah bahwa teladan mereka meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri pasangan hidup Anda.

Dan bagaimanapun juga, jangan lupa meneliti kehidupan keluarga Anda sendiri dan teladan pernikahan orangtua Anda. Mungkin Allah tidak ingin atau ingin Anda meniru tipe pernikahan itu.


f. Jangan terburu-buru!

Pastikan bahwa Anda mengenal diri sendiri dan orang lain juga cukup mengenal bahwa Anda -adalah orang yang tepat untuk orang lain dan siap untuk hubungan seumur hidup (Amsal 19:2; 29:20). Cinta pada pandangan pertama adalah ketertarikan sementara -atau sesuatu yang cepat hilang. Cinta butuh waktu untuk bertumbuh dan berkembang.


PERTIMBANGAN PRAKTIS

a. Carilah di tempat yang tepat.
b. Mintalah pertolongan Tuhan.
c. Jangan dasarkan keputusan Anda hanya pada satu "tanda."
d. Mintalah nasihat.
e. Teliti keluarganya.
f. Jangan terburu-buru!


Bolehkah saya mempertimbangkan untuk menikah dengan seseorang yang berbeda suku?


Peraturan dalam Perjanjian Lama bahwa orang Yahudi harus menikah dengan sesama orang Yahudi dimaksudkan untuk menjaga bangsa Israel dari hubungan akrab dengan sekeliling mereka yang menyembah berhala, yang sebenarnya ingin dihancurkan Allah. Kemurnian suku atau ras juga penting karena rencana Allah untuk bangsa Israel sebagai bangsa yang unik. Melalui ras inilah Penebus yang dijanjikan akan datang.

Oleh karena itu pembedaan ras mendahului pembedaan kerohanian. Namun Perjanjian Baru tidak menganjurkan pemisahan ras.

Jadi, tidak ada alasan alkitabiah yang melarang pernikahan antarras pada zaman sekarang. Meskipun demikian, peringatan tetap diperlukan. Dari sudut pandangan praktis, Anda harus mempertimbangkan perbedaan-perbedaan yang lebih dalam dari sekadar perbedaan warna kulit, seperti latar belakang budaya dan bahkan penerimaan sosial. Anda dan pasangan Anda butuh kemampuan untuk berhubungan satu sama lain dalam berbagai tahap. Pastikan bahwa Anda dapat mengatasi apapun penghalang budaya yang mungkin timbul, dan pastikan bahwa Anda siap dan akan terus bertahan terhadap setiap stigma sosial yang akan Anda maupun anak-anak hadapi. Dalam kenyataan, prasangka terhadap pernikahan lintas budaya demikian buruk, yang mendukakan kita semua. Karena itu, dibutuhkan penilaian yang tajam dan penuh kewaspadaan.


Bagaimana jika orangtua saya tidak setuju?

Apakah Anda akan menuruti keinginan mereka? Jika Anda ingin menjaga kedamaian dalam keluarga, lakukanlah! Tetapi jika Anda telah cukup umur untuk mengambil keputusan yang dewasa dan bertanggung jawab, dan Anda berpikir itulah keputusan yang tepat, lalu bagaimana?

Apapun yang Anda lakukan, jangan sia-siakan waktu untuk memperlihatkan rasa hormat kepada orangtua Anda (Efesus 6:2-3), bahkan jika Anda tidak sepakat dengan mereka. Beri waktu bagi mereka untuk melihat sudut pandang Anda. Bicarakan hal ini dengan mereka. Temukan alasan sebenarnya mengapa mereka tidak ingin Anda menikah dengannya, dan seterusnya. Mungkin saja mereka merasa adanya kerusakan karakter yang serius atau beberapa masalah yang tidak Anda sadari. Berikan mereka sedikit waktu untuk melerai keragu-raguan ini. Jangan salah tingkah. Mintalah Tuhan menolong Anda dan orangtua Anda melihat permasalahan dengan jelas. Tunjukkan kasih dan hormat Anda kepada mereka.

Pendeta Anda dan orang lain mungkin dapat memberikan nasihat yang objektif tentang apa yang harus dilakukan. Hal ini dapat berarti keberatan orangtua Anda mungkin tidak masuk akal, tetapi lakukan semua usaha yang Anda mampu untuk mempertahankan hubungan Anda dengan mereka. Orang yang ingin Anda nikahi sebaiknya juga memahami masalah ini dan sabar menunggu.

Sebagai upaya akhir, setelah Anda pertimbangkan dan doakan motif Anda, kesiapan Anda menikah, kesepadanan Anda, dan kasih Anda, barulah Anda dapat mengabaikan keinginan orangtua Anda.


Seberapa besar kebebasan yang saya miliki untuk memilih?

Apakah hanya ada satu orang di dunia ini yang tepat untuk Anda, atau Anda memiliki beberapa pilihan yang menyenangkan Allah? Ini adalah masalah lain yang juga tidak dapat dijawab dengan mudah, karena kita memasuki kedigdayaan Allah dan kehendak bebas kita -dan itu di luar pemahaman manusia.

Namun kita dapat meyakini bahwa semua itu ada dalam kendali Allah dan Dia memberi kebebasan kepada kita. Kebebasan itu termasuk kemungkinan untuk berbuat salah - baik disengaja maupun tidak. Daripada hanya duduk dan meributkan apakah hanya ada satu orang atau lebih yang direncanakan Allah bagi kita di dunia ini, lebih baik kita hidup dalam ketergantungan yang terus-menerus kepada Tuhan, mempercayai-Nya untuk membawa kita kepada orang yang tepat.

Pikirkan lebih jauh. Apa yang menghalangi kita untuk menggunakan akal sehat sebelum menikah? Masalah-masalah praktis apa yang diungkap dalam bab ini yang penting bagi pernikahan yang bahagia? Pilihan-pilihan praktis apa yang membuat seseorang mau menikah dengan Anda? Alasan-alasan praktis apakah kiranya yang menyebabkan seseorang tidak ingin menikah dengan Anda?



(5) Pikirkan Jauh ke Depan


PILIH YANG SEIMAN PERCAYA PADA ALLAH PERTIMBANGKAN KARAKTERNYA GUNAKAN HIKMAT PIKIRKAN JAUH KE DEPAN


Apakah Anda menyelam dengan kepala lebih dahulu masuk ke dalam danau tanpa mempelajari lebih dulu kedalaman dan suhu air? Apakah Anda membeli atau mengontrak rumah tanpa memeriksanya terlebih dulu? Apakah Anda menerima suatu pekerjaan jika Anda tidak tahu apa yang akan Anda kerjakan, berapa gaji Anda, keuntungan apa yang akan Anda peroleh, atau kondisi pekerjaan yang Anda hadapi? Hal tersebut terjadi hanya jika Anda ingin bertindak tanpa berpikir terlebih dulu atau jika keinginan Anda tidak bisa dibendung lagi, bukan?

Hal yang sama juga berlaku dalam pernikahan. Hanya sedikit orang yang menikah tanpa merancang masa depan. Meskipun demikian, terlalu sering mereka hanya memiliki sedikit gambaran tentang pernikahan secara alkitabiah di dalam pikiran mereka. Persoalannya dapat pula terletak pada kenaifan mereka akan gambaran pernikahan yang berjalan romantis tanpa hambatan, atau mereka semata-mata meniru pola pernikahan yang tidak begitu baik seperti yang mereka alami pada masa pertumbuhan. Akibatnya, jika timbul masalah dalam pernikahan, mereka gagal menempatkan masalah itu pada tempat yang tepat dan terus hidup dalam konflik, meniadakan masalah dan berharap masalah itu segera berlalu, atau memutuskan untuk mengakhiri pernikahan itu. Itulah pentingnya bagi pasangan yang akan menikah untuk berpikir jauh ke depan terhadap hal yang akan dihadapi.


Apa yang dipikirkan Ishak dan Ribka terhadap hal-hal di depan mereka?

Kejadian 24 tidak banyak mengungkap hal ini. Kita menduga bahwa mereka, seperti Abraham, tahu apa yang telah terjadi dalam pernikahan pertama di Taman Firdaus. Dan mereka telah melihat orangtua yang takut akan Allah menghormati rencana Tuhan bagi pernikahan.

Ishak seharusnya tahu, misalnya, bahwa pernikahan berdampak besar terhadap kerohanian - ia tahu bahwa istrinya bukanlah penyembah berhala tetapi seseorang yang sepadan secara rohani. Bersamanya, Ishak akan mempertahankan den meneruskan iman kepada Allah ke generasi berikutnya (24: 1-7). Sebab, 37 tahun sebelum ibunya meninggal, Ishak telah mengamati hubunqan di antara orangtuanya.


Apa pandangan Allah tentang pernikahan?

Allah merancang pernikahan menjadi hubungan antarmanusia yang paling karib dan paling baik. Pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi, baik secara fisik, kerohanian, emosi, kebutuhan sosial dan kemampuan dalam hubungan yang kkhusus, yang kita sebut pernikahan (Kejadian 2:18-25). Kesatuan mereka bukan sekadar perbuatan seksual, tetapi kesatuan dalam tujuan, hati dan jiwa, Pasangan hidup yang Anda pilih haruslah orang yang akan memperlengkapi kebutuhan Anda, dan orang yang kebutuhannya dapat Anda penuhi dengan sukacita.

Allah mengatur pernikahan yang pertama, dan semenjak itu Dia terlibat dalam setiap pernikahan. Yesus mengacu pada penciptaan Adam dan Hawa dan kesatuan daging Adam dan istrinya, dan kemudian berkata, "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6).

Dengan jelas Allah menunjukkan kebencian-Nya akan perceraian (Maleakhi 2:16). Pasal-pasal dalam Perjanjian Baru' seperti Efesus 5 memuji kekudusan hubungan pernikahan serta kebutuhan suami dan istri untuk memberikan segalanya satu sama lain.


Apa tanggung jawab suami dan istri?

Berlawanan dengan kebanyakan pendapat, pernikahan bukanlah hubungan tuan-budak. Dan bertentangan dengan pola yang kini banyak terdapat dalam pernikahan, pernikahan tidaklah dimaksudkan sebagai hubungan yang saling memusuhi. Berikut ini dipaparkan dua kunci jawab pernikahan:


a. Kesetiaan seksual (Keluaran 20:14, Galatia 5:19).

Hal ini berarti kesetiaan dalam perbuatan dan sikap (Matius 5:27-28). Suami dan istri mengarahkan pandangan dan pikiran hanya untuk pasangannya.


b. Perbedaan peran (I Korintus 11 :3-16; Efesus 5:22-33; Kolose 3:18-19; I Timotius 3:4.12; Titus 2:4-5; I Petrus 3:1-7).

Seperti halnya dalam Allah Tritunggal. Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah sama tetapi memiliki peran yang berbeda. Demikian Juga suami dan istri diberi peran yang berbeda oleh Allah.

Suami bertugas untuk memimpin dengan penuh kasih (I Korintus 11 :3; Efesus 5:23,25,28; Kolose 3: 19). la juga harus melakukan segalanya untuk mernaharnl kebutuhan istrinya dan memperlakukannya dengan rasa hormat yang lembut (I Petrus 3:7).

Istri bertugas untuk memberi pertolongan dengan penuh kasih kepada suami dan keluarga (Kejadian 2:18; Efesus 5:22; Kolose 3:18; Titus 2:4-5; I Petrus 3: 1).
Memang dalam kebudayaan modern seperti sekarang ini berkembang pandangan yang populer bahwa perbedaan peran istri dan suami dicap sebaqai diskriminasi seksual dan pembagian peran yang ketinggalan zaman, yang tidak lama lagi akan ditinggal.kan. Masalh yang ada dalam pandanqan itu ialah bahwa Allah menciptakan pria dan wanita dengan peran biologis dan hubungan antar pribadi yang berbeda. Dan Alkitab tidak memberi satu petunjuk pun bahwa Allah menciptakan perbedaan itu untuk diabaikan atau dilindas begitu saja.

Tak seorang pun yang dapat berkata bahwa itu mudah! Cinta memerlukan banyak usaha. Seseorang yang memasuki pernikahan dengan bayangan bahwa hidup akan penuh dengan kebahagiaan romantis telah mengalami kekecewaan terlebih dahulu. Kebanyakan orang lebih realistis, tetapi penqharapan mereka masih melebihi kenyataan yang mereka hadapi.


Seberapa penting seks itu?

Hubungan seksual Anda merupakan ungkapan hubungan intim antara tubuh dan jiwa yang akan dibagikan di antara Anda berdua. Dorongan seks adalah suatu kekuatan yang indah; karena itulah, Allah merancang pernikahan sebagai wadah pemenuhan dorongan seksual (Ibrani 13:4). I Korintus 7:2,9 memberitahu kita bahwa keinginan untuk memenuhi dorongan seksual adalah salah satu alasan yang baik untuk menikah. Hubungan seksual itu terjamin, dan harus dilibatkan, tetapi harus disertai dengan ketertarikan seksual. Meskipun demikian hubungan seksual seharusnya dinikmati tanpa memperlihatkannya secara berlebihan (Amsal 5:15-19). Suami dan istri harus menyadari bahwa mereka bertugas memuaskan keinginan seksual pasangannya (I Korintus 7:3-5).


Apakah diperlukan konseling pra-nikah?

Mungkin tidak perlu, tetapi banyak pasangan mendapat pertolongan dari konseling pra-nikah. Sebagian orang telah mendapat nasihat yang baik dan alkitabiah dari orangtua mereka saat mulai tumbuh dewasa, dan mereka melihat pernikahan yang harmonis dalam rumah tangga orangtua mereka, sehingga dalam hal ini tidak diperlukan lagi konseling yang menyeluruh. Banyak pendeta mengharuskan pasangan yang akan menikah untuk menjalani konseling, dan itu gagasan yang baik. Paling sedikit, mereka perlu memahami apa itu pernikahan, bagaimana mengatasi ketidaksetujuan, bagaimana menjalankan peran mereka, bagaimana hubungan satu sama lain secara seksual, dan bagaimana membangun kerohanian pasangannya. Dan konseling pra-nikah yang baik membuka jalan untuk konseling berikutnya jika muncul masalah dalam pernikahan.


Pikirkan Lebih Jauh.

Mengapa tanggung jawab pernikahan menakutkan sebagian orang? Bagaimana masyarakat sekarang memandang komitmen dalam pernikahan? Jenis pernikahan apakah yang Anda amati dalam keluarga dan teman-teman ketika Anda bertumbuh? Bagaimana Anda dapat memastikan bahwa pernikahan Anda menghormati Tuhan?

 

 

 

 

III. APAKAH INI CINTA?



Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sedang jatuh cinta? Cinta sejati lebih dari sekadar perasaan - walaupun Anda merasa di ujung dunia tatkala bersama dengannya. Namun perasaan dapat membawa Anda ke puncak gunung pada suatu saat dan saat lain menjauhkan Anda ke jurang. Cinta yang kita butuhkan untuk memasuki pernikahan perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, "pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu suka maupun duka ... sampai maut memisahkan kita," adalah cinta yang penuh pengorbanan diri - pengorbanan seseorang untuk kebaikan yang lain.

Tak seorang pun di muka bumi ini (kecuali Tuhan Yesus) yang pernah menunjukkan kasih yang sempurna, tetap.i yang kita rindukan adalah ungkapan kasih yang sedapat mungkin mendekati kesempurnaan. Gantilah kata cinta yang terdapat dalam I Korintus 13:4-7 dengan nama Anda dan nama orang yang akan Anda nikahi. Lihatlah bagaimana Anda memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan pola Alkitab.

- Kasih itu sabar
- Kasih itu murah hati
- Kasih itu tidak cemburu
- Kasih itu tidak memegahkan diri itu tidak sombong
- Kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan
- Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri itu tidak pemarah
- Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain itu tidak bersukacita karena
- Kasih ketidakadilan itu bersukacita karena kebenaran
- Kasih itu menutupi segala sesuatu
- Kasih itu percaya segala sesuatu
- Kasih itu mengharapkan segala sesuatu
- Kasih itu sabar menanggung segala sesuatu



Artikel terkait :
- KASIH, di kasih-itu-vt379.html#p797

- Yang Terbesar ialah KASIH!, di yang-terbesar-ialah-kasih-vt1141.html#p3551





IV. "SAYA BERJANJI"



"Saya berjanji" dua kata singkat dengan dampak yang luar biasa. Dalam upacara pernikahan, kalimat "Saya berjanji" mewakili tekad seorang pria dan seorang wanita yang memasuki hubungan khusus dan menjanjikan kasih dan perhatian satu sama lain - untuk seumur hidup. Hubungan itu bukanlah hubungan yang dapat terjalin dengan mudah atau hubungan yang dapat dijalin dengan tergesa-gesa. Pria dan wanita harus merasa yakin bahwa mereka sepadan secara rohani, tepat dan baik untuk yang lain, serta siap menghadapi tantangan dalam hidup pernikahan.

Bagaimanapun juga, sebelum seseorang berkata "Saya berjanji," pernikahan yang lain telah berlangsung dalam hidupnya. Bukan, saya tidak menganjurkan bigami, maupun menganjurkan perceraian dan menikah kembali. Pernikahan yang saya maksud di atas adalah pernikahan secara rohani - perpaduan hati kita dengan hati-Nya.

    " ... tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 6:23)

Pernahkah Anda berkata "Saya berjanji" kepada Tuhan? Sadarkah Anda bahwa Allah telah mengajukan kepada Anda proposal pengampunan dosa dan kenikmatan hidup hidup dengan-Nya untuk saat ini dan selamanya? Pernikahan ini sangat sederhana. Hanya dengan berkata "Saya berjanji" kepada Allah - memberitahu Dia bahwa Anda butuh pengampunan (Roma 3:23) dan menerima karunia hidup kekal secara cuma-cuma karena telah ditebus Yesus Kristus melalui kematiannya di kayu salib.

Jika Anda telah melakukan hal ini, Anda telah mengambil langkah pertama dari semua langkah penting dalam proses menemukim orang yang akan hidup dengan Anda, dan dengan Tuhan Yesus Kristus.



Disalin dari buku :
Martin R. De Haan II., Seri Mutiara Iman, Bagaimana Memilih Pasangan Hidup?, Yayasan Gloria Yogyakarta.

 

 

 

Last Updated on Thursday, 05 March 2009 18:55  

Add comment


Security code
Refresh