SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Family & Relationship Pendidikan Rumah : Kasih versus "Apatis"

Pendidikan Rumah : Kasih versus "Apatis"

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 
ImageKasih dan kepedulian seperti sahabat yang tak terpisahkan. Lawannya kasih itu bukan 'benci' atau 'jahat', lawannya kasih adalah 'tidak peduli' (bahasa Inggris, "apathy" berasal dari kata Yunani "a-pathos", harfiah : tanpa perasaan). Olehnya kita menggunakan istilah "apatis". Orang yang apatis adalah orang yang tidak peduli urusan orang lain, tidak peduli lingkungan dan apa yang terjadi di sekitarnya. Kadang kita bersikap "apatis", susahnya kalau kemudian sikap ini menjadi suatu penyakit yang menahun dan akut. Apakah kita kurang mempunyai waktu sehingga kita hilang kepedulian kita? Manusia membutuhkan komunikasi dan kerjasama diantara sesamanya. Manusia perlu saling mengisi, saling menegor, saling mengoreksi, saling memberi masukan untuk sesuatu yang baik. Seorang yang apatis mustahil ia akan sukses pada hari depannya.

Jikalau kita adalah orang tua yang mempunyai anak-anak. Apa jadinya jikalau kita orang tua mempunyai sikap "apatis" kepada anak-anak kita? Kata "apatis" tidak selalu bermakna untuk sikap-sikap "ogah mengasuh/ melayani anak". Karena ada kalanya akibat cinta yang begitu dalam kepada anak, ada orang-tua tua menjadi lupa -- tidak peduli -- terhadap apapun yang dilakukan anaknya dan menganggap apapun yang dilakukan anaknya adalah benar. Atas nama cinta, mereka tidak menegor anaknya ketika si anak berbuat salah, pun juga merupakan sikap "apatis" (tidak peduli).

Tuhan Yesus adalah teladan kita, dan Ia menunjukkan kepada kita sikapnya yang peduli sebagai wujud nyata dari sikap dasar dari kasihNya. Dalam Matius 11:29 Tuhan Yesus berkata "belajarlah pada-Ku, karena Aku 'lemah lembut'...". Apa yang dimaksud Yesus mengenai sifatNya yang 'lemah lembut' ini, apakah ia selalu bersifat lembut terhadap apapun yang dilakukan murid-muridNya, apakah Ia senantiasa mengiyakan apa yang dilakukan murid-muridNya? Ternyata tidak! Ia tidak selalu bersikap manis, kadangkala Ia memberi tegoran yang keras. Ketika Ia marah dan menegor, apakah sikapnya itu dapat disebut dengan istilah kita "lemah-lembut" atau bahasa Inggrisnya "meek"?

Rupanya kita mempunyai "kendala bahasa" disini, ternyata kata "lemah-lembut" atau "meek" dalam Matius 11:29 itu adalah terjemahan dari kata Yunani πραος – "praos" yang tidak ada padanannya baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Sehingga kita kehilangan "greget" dari makna yang sebenarnya yang dimaksud oleh Tuhan Yesus.

Meekness/ kelemah-lembutan (Yunani: πραοτης - praotês dari kata πραος – praos), adalah salah satu sifat Buah Roh, (baca di buah-roh-vt586.html#p1359 )

Kata "lemah lembut" yang dimaksud dalam Alkitab, bukan saja menyangkut sikap hati, tetapi juga tingkah laku (behavior). Untuk memahami makna kata Yunani πραοτης - praotês ini, Anda bisa imajinasikan dengan menggambar sebuah garis horizontal. Di sebelah kanan tuliskan murka teramat sangat dan tidak terkontrol / marah yang kelewatan (οργιλοτης – orgilotês), sedangkan di sebelah kiri tuliskan ketidak-marahan yang berlebihan (tidak marah , meskipun apa saja yang terjadi, αοργισια – aorgisia). Nah, praotês terletak di tengah-tengah:
Image


Kata Yunani πραοτης - praotês merupakan kata yang cukup sulit untuk diterjemahkan. Aristoteles mendefinisikan kata πραοτης - praotês sebagai sikap seseorang yang marah hanya pada saat yang tepat dan tidak pernah marah pada saat yang tidak tepat.

Sikap kepedulian dalam lingkup makna "praotês" ini adalah sikap yang penting diterapkan oleh para orang-tua dalam mendidik anak-anaknya. Dalam Matius 11:29 Yesus mengundang kita untuk belajar pada sikapnya yang "praos". Sikap pembelajaran itu kita turunkan kepada anak-anak kita agar mereka pun menjadi generasi yang "praos".

Ingat, lawannya kasih itu bukan 'benci' atau 'jahat', lawannya kasih adalah 'tidak peduli'. Ingatlah pula bahwa kepedulian senantiasa memberikan pengaruh terhadap yang dipedulikan. Orang-tua harus senantiasa menjadi garam yang dapat menggarami anak-anaknya, supaya anak-anaknya pun dapat menjadi garam yang asin yang dapat memberi pengaruh kepada lingkungannya. Menjadi generasi yang peduli pula terhadap lingkungan sosialnya. Ketika orang-tua tidak menegor dikala anaknya berbuat salah, maka orang tua itu sedang kehilangan keasinannya, Tuhan Yesus berkata dalam Matius 5:13 "Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang". Orang tua yang demikian tak dapat menghasilkan suatu gerenasi "yang asin". Apalah gunanya generasi "yang tidak asin"?.

Kasih yang terbesar yang perlu dinyatakan orang tua kepada anak adalah kepeduliannya, Allah menempatkan diriNya sebagai Bapa kita, dan sebagai "orang tua", Ia pun berkata "Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar"(Wahyu 3:19). Mengapa Allah berkata demikian? Jawabnya jelas karena Ia peduli!

Tegoran selain bersifat "menggarami" (memberi pengaruh), tegoran juga bagaikan tongkat. Wejangan/ kata hikmat dalam Alkitab memberikan acuan kepada para orang tua untuk peduli :

    Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya. (Amsal 13:24)

    Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya. (Amsal 22:15)


Kita sebagai orang tua harus senantiasa menilai kapan tegoran itu perlu dilakukan dan kapan tidak perlu dilakukan (lihat sifat "praos"). Kita tahu, menegor untuk suatu kebaikan pun seringkali dipandang sebagai sesuatu yang mengada-ada, banyak anak-anak kita membenci/ mengabaikan tegoran. Tetapi orang tua yang tidak pernah menegor adalah orang tua yang 'tidak peduli'. Ketidak-pedulian adalah lawan dari kasih.

    Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya. (Amsal 29:15)


Sebagai orang tua janganlah ada yang menjadi "apatis" dan menghasilkan generasi "apatis" pula. Seorang yang apatis mustahil ia akan sukses pada hari depannya. Tentunya kita tidak pernah mengharapkan anak-anak kita menjadi gerenasi yang gagal. Kita semua mau agar anak-anak kita lebih sukses dari orang tuanya. Kita mempersiapkannya dan memperlengkapi mereka menjadi manusia-manusia yang berguna dan dapat menggarami dan menjadi terang bagi sekitarnya.


Amin.


Blessings in Christ,
Bagus Pramono
March 12, 2009
Last Updated on Friday, 13 March 2009 00:14  

Add comment


Security code
Refresh