SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents IlmuPengetahuan & Sejarah Blue Energy : ABRAKADA... BLUE!

Blue Energy : ABRAKADA... BLUE!

E-mail Print PDF
User Rating: / 2
PoorBest 

Image
NEGERI dengan selaksa persoalan seperti Indonesia barangkali memang butuh pemimpi. Tapi ada pemimpi yang mengejar cita-cita dengan kerja ilmiah yang bisa dibuktikan, ada pula yang sekadar berilusi.

Untuk yang pertama kita teringat Rudolf Christian Karl Diesel. Di usia 35 tahun, pada 1893, dia menemukan mesin minyak, perkakas yang bisa bekerja dengan bahan bakar nabati—minyak kacang, ganja, atau buah jarak. Temuan ini mengubah paradigma para ahli ketika itu, yang berpikir mesin hanya bisa digerakkan dengan bahan bakar fosil seperti bensin. Atas jasanya, mesin minyak lalu diubah namanya menjadi mesin diesel.

Lahir di Paris, Prancis, dari keluarga perajin kulit asal Jerman, sejak kecil Rudolf dikenal jenius. Pada usia 20, ia menerima medali dari Société Pour L’Instruction Elémentaire, atas beberapa karya ilmiahnya. Sempat tak lulus sekolah teknik mesin dan dirawat di rumah sakit jiwa, ia membuat mesin uap dengan efisiensi tinggi, mesin pembuat es bening, dan mesin penyerap amoniak.

Dalam pidatonya yang terkenal ketika menerima hak paten atas mesin diesel ciptaannya, ia menegaskan pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar saat itu mungkin tidak berarti. Tapi suatu saat, ketika orang berteriak tentang harga minyak dunia yang membubung, minyak nabati akan dicari sebagaimana minyak bumi dan batu bara. Jauh di kemudian hari, ucapan Rudolf terbukti benar.

Untuk yang kedua, sulit untuk tak menyebut Joko Suprapto. Pria 48 tahun ini bermimpi membuat bahan bakar minyak dari air. Seperti apa proses pembuatannya, tak jelas betul. Yang pasti, ia berhasil meyakinkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kalangan Istana. Adalah Presiden sendiri yang memberi nama (calon) produk ajaib itu ”Minyak Indonesia Bersatu”—sesuatu yang, aha, mengingatkan kita pada slogan kampanye.

Strategi lalu disiapkan: miliaran rupiah dikumpulkan, belasan hektare lahan dibentangkan. Target dipatok: membuat blue energy, nama lain ”minyak persatuan”, bisa diproduksi secara massal. Joko lalu memberikan janji yang membuat Presiden bungah: pada Mei 2008, tepat seabad usia Kebangkitan Nasional, lelaki yang tak jelas pendidikannya itu akan memulai proyek mimpinya.

Kita tahu cerita selanjutnya. Joko menghilang. Desas-desus beredar: ia diculik. Orang dekat Yudhoyono curiga ia disekap mafia minyak dunia yang terancam bisnisnya oleh temuan Joko. Mereka mungkin teringat Rudolf Diesel yang tewas secara misterius ketika berlayar dari Prancis ke Inggris pada 1913. Kabarnya, ia terjatuh ke laut dan tenggelam. Lima hari kemudian jasadnya baru ditemukan. Ada yang menduga Rudolf mati karena persaingan bisnis otomotif. Istana barangkali tak ingin kisah Rudolf terulang: mereka mengirim Detasemen Khusus Antiteror untuk mencari Joko. ”Sang penemu” ternyata tengah tergolek di rumah sakit.

Dengan akal sehat kita bisa mengatakan, proyek ”minyak persatuan” itu hanya bualan. Secara teori, energi memang bisa diperoleh dengan memecah unsur hidrogen dan oksigen di dalam unsur air. Tapi proses pemisahan membutuhkan energi lain yang tak murah. Gas hidrogen yang dijual di pasar tak diperoleh dari proses elektrolisa tapi melalui pemanasan gas alam seperti propana, metana, dan etana.

Rupanya, Istana telanjur terpukau. Setelah huru-hara raibnya Joko, Presiden kabarnya masih memberikan kesempatan agar proyek itu dilanjutkan hingga Agustus 2008. Harapannya, siapa tahu, abrakadabra, energi biru muncul pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Mungkin saja optimisme itu dipelihara karena Presiden prihatin dan ingin mencari solusi atas melambungnya harga minyak dunia. Sekalian: jika proyek ini berhasil, jangankan rakyat di dalam negeri, dunia pun akan menoleh kepadanya. Di tengah rongrongan hebat kelompok ”oposisi” akibat keputusan menaikkan harga bahan bakar, ”minyak persatuan” agaknya diharapkan Istana menjadi senjata pamungkas untuk merebut hati rakyat.

Punya mimpi tentu tak ada salahnya. Tapi pemerintah punya cara-cara elegan untuk mewujudkan mimpi itu. Dalam kasus ini, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, sejumlah ahli, patut diminta meneliti kebenaran proyek berbau sulap itu. Tidak semua urusan mesti ditangani langsung oleh Presiden. Dengan meminta para pembantunya meneliti dulu berbagai proposal, ia bisa terhindar dari kemungkinan tertipu proyek yang tak jelas juntrungannya. Presiden pilihan rakyat itu mesti diselamatkan dari rayuan para pembisik tak bertanggung jawab.

Presiden pun mestinya tidak terburu-buru memberikan simbol— minyak persatuan, kebangkitan nasional, sumbangan Indonesia pada dunia—untuk sesuatu yang masih di awang-awang. Satu prinsip dasar yang mesti dipercayai siapa pun: tak ada penemuan besar yang dasarnya hanya sulapan.

Setiap zaman punya keedanannya sendiri. Krisis minyak dunia yang dilawan dengan simsalabim dan abrakadabra mungkin salah satunya.


Abrakada... Blue!

Sumber :
Majalah Tempo, OPINI, edisi 2-8 Juni 2008
http://www.tempointeraktif.com/hg/opini/2008/06/02/opi,20080602-127344,id.html


=====================================================



Dirayu Madu Energi Biru


ImagePria asal Nganjuk mengaku bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur. Presiden yakin ini ”sumbangan Indonesia bagi dunia”. Namun teknologi ini diragukan banyak orang.

TEMUAN mahapenting itu akan dipresentasikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor. Kalender menunjukkan Ahad, 18 Mei 2008. Tapi Joko Suprapto, orang yang ditunggu-tunggu, tak juga datang. Ia bahkan hampir dua pekan tak memberikan kabar. Presiden, menurut seorang sumber, hari itu menghubungi Heru Lelono, anggota staf khusus bidang otonomi daerah yang bekerja bersama Joko. Yudhoyono, yang oleh para pengawalnya diberi kata sandi ”Krisna”, bertanya apakah pria 48 tahun itu sudah datang dari asalnya, Nganjuk, Jawa Timur. ”Heru menjawab belum,” kata sumber itu.

Sang Krisna tahu Joko bukan orang sembarangan. Pria itu dipercaya bisa memproduksi minyak mentah?kelompoknya memberi nama oil base?dari air. Dengan proses selanjutnya, biang minyak itu bisa diolah menjadi bahan bakar sekelas minyak tanah, bensin, bahkan avtur, bahan bakar pesawat  terbang. Temuan dahsyat ini?jika benar?bisa meruntuhkan bisnis perusahaan minyak multinasional. Jangan-jangan ia diculik. Perintah pun dikeluarkan: cari Joko sampai ketemu.

Perintah itu diteruskan ke Kepolisian Negara Republik Indonesia. Satu tim dari Detasemen Khusus 88 Antiteror diterjunkan. Dipimpin seorang perwira berpangkat komisaris besar, tim ini langsung bergerak. Tak sampai sepekan, pada 23 Mei, ”sang penemu” ditemukan: ia tergolek di Rumah Sakit Soedono, Madiun, Jawa Timur. ”Ia sakit jantung,” kata Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, juru bicara Kepolisian Republik Indonesia.



-----


Pertautan antara Joko dan Istana dimulai pada awal 2007. Mulanya ia berkenalan dengan Iswahyudi. Konsultan perminyakan itu aktif di Gerakan Indonesia Bersatu, lembaga yang dibentuk para pendukung Yudhoyono pada 2006. Iswahyudi kemudian mengenalkan Joko kepada Heru Lelono, sekretaris umum gerakan itu. Kepada Heru, menurut sumber yang terlibat dalam kelompok itu, Joko mengenalkan ”teknologi listrik murah”?sama dengan yang dipresentasikan Joko ke Universitas Gadjah Mada tapi ditolak setahun sebelumnya. Di universitas itu, Joko membawa proyek pembangkit listrik dan panel surya.

Heru Lelono tertarik. Ia semakin kesengsem ketika Joko mengatakan bisa membuat ”minyak mentah” dengan memisahkan hidrogen dari air. ”Ini sesuai dengan keinginan Presiden di berbagai kesempatan tentang perlunya kita mengembangkan FEW: food, energy, and water,” kata Heru, seperti ditirukan sumber Tempo.

Eureka! Inilah solusi bagi bangsa, yang dilanda krisis akibat melangitnya harga minyak. Heru dan Iswahyudi lalu mengenalkan Joko kepada Yudhoyono. Soal ini, juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, Presiden selalu menyambut baik teknologi yang dibawa kepadanya. ”Setelah bertemu dengan kawan-kawan yang menyumbangkan blue energy, Pak Heru mungkin berpikir ini bagus. Lalu dia presentasikan ke Presiden,” kata Andi. Kepada Presiden, menurut Andi, Joko mengatakan temuannya merupakan terobosan baru yang sedang dalam tahap riset. Jika berhasil, ini bisa memberikan dampak luar biasa dalam teknologi energi nonfosil. Presiden menyambut baik presentasi itu, kata Andi.

Presiden pun memberikan lampu hijau untuk pengembangannya. ”Tiga sekawan” itu lalu membentuk\ PT Sarana Harapan Indo Group, yang menaungi Sarana Harapan Indopangan, Sarana Harapan Indopower, dan Sarana Harapan Indohidro. Heru menjadi komisaris, dan Iswahyudi sebagai direktur.

Pengembangan minyak dilakukan sayap Indohidro. Adapun Indopangan kini giat mengkampanyekan padi varietas baru: Supertoy HL 1-3. HL, singkatan dari Heru Lelono, diklaim bisa menghasilkan padi belasan ton per hektare. Suko Sudarso, Ketua Umum Gerakan Indonesia Bersatu, mengatakan Iswahyudi sempat mengajaknya bergabung dalam proyek ini. Namun aktivis yang sempat menjadi lingkaran dekat Yudhoyono itu menolak. ”Sebagai orang fisika, saya meragukan teknologinya,” ujarnya kepada Tempo.

Heru dan Iswahyudi jalan terus. Mereka membeli 11 hektare lahan di Desa Cikeas Udik, Bogor, hanya beberapa kilometer dari kompleks kediaman Yudhoyono. Di lahan ini kemudian dibangun pusat penelitian yang diberi nama Center for Food, Energy, and Water Studies, disingkat CFEWS. Peletakan batu pertamanya dilakukan Heru pada 20 November 2007. Edhie Baskoro, putra kedua Yudhoyono, hadir ketika itu.

Area pusat penelitian itu kini telah dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang seperti dua tanki berdiameter 10 meter. Tangki setinggi enam meteran itu mengapit dua bangunan satu lantai beratap biru. Tampak umbul-umbul bertulisan CFEWS dipasang di gerbang masuk. Heru Lelono, seperti dikutip Koran Tempo, telah menghabiskan Rp 10 miliar untuk proyek ini. ”Semua dari swasta, tak ada dana dari SBY sama sekali,” katanya. Lima hari setelah peletakan batu pertama itu, Heru dan kawan-kawan melakukan konvoi yang diklaim untuk menguji bahan bakar buatan Joko. Ada dua pikap Ford Ranger, satu sedan Mazda 6, satu bus, dan satu truk pengangkut jeriken. Menurut Heru, rombongan ini mengangkut 2.500 liter bahan bakar sekelas solar dan 600 liter kelas gasoline. Sebagian di antaranya dipamerkan dalam area Konferensi Internasional Perubahan Iklim
di Bali.

Presiden melepas rombongan ini di depan rumah pribadinya. Hadir Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Presiden berjongkok di dekat knalpot mobil bersama Sudi Silalahi, untuk menunjukkan bahwa bahan bakar itu beremisi rendah. ”Saya mengikuti terus perkembangan penelitian ini,” katanya.

Setelah dilepas Presiden, rombongan itu berkeliling Jakarta. Baru pada 28 November mereka meninggalkan Ibu Kota, menuju Solo, Nganjuk, Banyuwangi, dan tiba di Denpasar, dua hari kemudian. Heru dan rombongan mampir ke rumah Joko di Nganjuk. ”Kita ingin membuktikan kepada dunia bahwa kita bukan bangsa kere, yang terombang-ambing harga minyak dunia,” kata Heru ketika itu. ”Bangsa Indonesia bisa menemukan sendiri bahan bakar.”

Presiden kembali menyambut rombongan ini di Denpasar. Di area Konferensi Perubahan Iklim, bahan bakar yang diberi nama ”Minyak Indonesia Bersatu” itu dipamerkan. Lagu-lagu ciptaan Yudhoyono, yang albumnya baru saja diluncurkan, diputar di lokasi pameran. Mereka yang hadir mengenakan seragam putih bergaris biru, dengan tulisan Blue Energy. Presiden dengan bangga mengatakan, ”Inilah kemenangan bangsa Indonesia.” Tepuk tangan menggema.


-----


DI Restoran Wyllows, kawasan Moiliili, Honolulu, 31 Maret lalu, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman makan malam dengan mahasiswa Indonesia. Teguh Santosa, mahasiswa Universitas Hawaii Manoa, yang mengikuti isu blue energy di Tanah Air, menanyakan perkembangan temuan itu.

Alih-alih menjawab pertanyaan Teguh, Kusmayanto menceritakan kisah konyol: ”Markonah, ingat cerita Markonah?” Para mahasiswa menggeleng. Begitu juga Agusti Anwar, Konsul Bidang Pendidikan Konsul Jenderal RI di Los Angeles.

Kusmayanto lalu menceritakan tipuan seorang perempuan pada 1970-an yang mengatakan bayi di kandungannya bisa bicara. Para petinggi tertipu. Si perempuan ternyata meletakkan tape mini?barang langka ketika itu?di balik bajunya. Dalam versi asli, si perempuan bernama Cut Sahara Fonna, bukan Markonah. Kusmayanto juga mengingatkan penggalian situs Batutulis, Bogor, oleh Menteri Agama Said Agil Al-Munawar pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

Menurut Teguh Santosa, Kusmayanto terkesan tak percaya dengan temuan Joko Suprapto. Apalagi ia sama sekali tak dilibatkan dalam proyek itu. ”Ini sepenuhnya pekerjaan Heru Lelono,” kata Kusmayanto, seperti ditirukan Teguh kepada Tempo.

Menurut sumber Tempo, Kusmayanto juga sempat mengungkapkan keraguannya itu kepada Presiden. Namun ia malah diminta diam tak mengomentari proyek Heru dan kawan-kawan. Dimintai konfirmasi soal ini, Kusmayanto menolak menjawab.

Teknologi pembuatan oil base Joko memang masih misterius. Kepada wartawan, November lalu, ia mengatakan meneliti bahan ini sejak 2001. Intinya, ia menjelaskan, pemecahan molekul air menjadi unsur hidrogen dan oksigen. Dengan suatu katalis, hidrogen lalu diikat dengan rangkaian karbon tertentu. ”Tinggal mengatur jumlah rangkaian karbonnya, mau untuk mesin bensin, solar, atau avtur,” tuturnya ketika itu.

Dalam situs Gerakan Indonesia Bersatu, Heru Lelono menyebut nama blue energy diberikan Presiden. Penemuannya didasarkan pada ”teknologi mata hati”, yaitu ”penyelarasan kemampuan olah pikir manusia yang berbatas dan kuasa Allah yang tak ada batasnya”. Bahan bakar dihasilkan dari ”substitusi molekul hidrogen ke dalam rangkai karbon tak jenuh.” Joko Suprianto mengatakan ide penelitian ini dari Al-Quran.

Karena basisnya tak jelas, para pakar perminyakan skeptis. Tumiran, Ketua Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, menilai air tak memiliki unsur kimia yang bisa diubah menjadi minyak. Ia bahkan menuduh kelompok Joko menipu.

Pakar bisa bilang apa saja. Namun Presiden yakin betul dengan keampuhan teknologi itu. Kepada rombongannya dalam perjalanan menuju Iran, Maret lalu, ia mengatakan temuan itu akan diumumkan pada bulan April. Syaratnya, mesin yang dibangun di Cikeas mampu memproduksi 5.000 liter per menit. Harganya direncanakan Rp 3.000 per liter. ”Ini sumbangan bangsa Indonesia kepada dunia,” ujarnya, seperti ditirukan seorang anggota rombongan.

Menurut Heru, akhir April lalu, Presiden kembali menerima Joko. Dalam pertemuan itu, sang peneliti berjanji menunjukkan hasil karyanya kepada Presiden pada 18 Mei. Joko berangkat dari Surabaya dengan memboyong semua peralatannya pada 6 Mei. Sejak itu ia menghilang. ”Ketika dijemput di Bandar Udara Soekarno-Hatta, ia tak pernah muncul,” kata Heru, seperti dikutip Koran Tempo.

Setelah ”ditemukan” pada 23 Mei, Joko tak bebas lagi. Siang-malam tentara dan polisi menjaga rumahnya. Ia tak gampang ditemui wartawan, yang ingin meminta kejelasan dasar ilmiah temuannya. Kepada Metro TV, yang ia undang khusus ke rumahnya, Joko mengatakan bahwa ia menghilang untuk menenangkan diri. Ia mengaku tak nyaman lagi dengan mereka yang mendukung
proyek ini.

Joko merasa kerap ditekan para pendukung proyek. Di antaranya, ia dipaksa menandatangani kontrak yang mengharuskan dirinya menyerahkan semua rahasia penemuannya. Ia juga keberatan dengan istilah blue energy, yang kini populer. Baik Heru Lelono maupun Iswahyudi menolak dimintai konfirmasi atas pengakuan Joko. ”Kami tak akan memperpanjang perdebatan lagi,” ujar
Heru.

Para penggagas proyek itu kini yakin, minyak murah akan bisa diluncurkan pada 17 Agustus nanti. Tokek…, bisa. Tokek..., tidak.


Budi Setyarso, Bunga Manggiasih, Rina Astuti


Sumber :
Majalah Tempo, LAPORAN UTAMA, edisi 2-8 Juni 2008, hlm 26-29





=====================================================



Minyak Ajaib Sang Werkudoro


Joko Suprapto pernah mencalonkan diri jadi bupati. Setahun terakhir ia kaya raya.
TUBUH itu terbaring lemas di sofa. Kaki berselonjor, tangan kanannya menutup kening, mata tertutup rapat. Sosok pria separuh baya yang tengah lelap pada Kamis pekan lalu itu adalah Joko Suprapto, warga Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur, penemu bahan bakar dari air alias blue energy, yang sedang heboh. Di sebelahnya, duduk sang istri, Winda Mirah, yang sibuk memencet telepon seluler, menulis pesan pendek.

Dari jarak sekitar tiga meter - Tempo tak diizinkan masuk dan hanya berdiri di pintu—wajah Joko tak terlihat jelas. ”Dia sedang sakit,” kata Komandan Distrik Militer Nganjuk Letnan Kolonel Christiono, yang mengantar Tempo ”mengintip” Joko. Christiono juga gesit mencegah ketika wartawan berusaha memotret pasangan itu. ”Jangan, kasihan dia,” katanya.

Pemandangan sekilas itulah yang muncul ke publik sepekan terakhir. Sejak berita raibnya Joko merebak dua pekan lalu, rumahnya yang jembar di atas tanah satu hektare di ujung Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, dijaga puluhan orang dari tiga profesi: polisi, tentara, dan wartawan. Namun, di dalam rumah, Joko seperti ngumpet. Permintaan wawancara Tempo hanya ditang¬gapi dengan pesan pendek dari istri Joko. ”Nyuwun pangapunten sak meniko tasik dereng saged pinanggih margi bapak tasih gerah, wonten pengawasan dokter” (”maaf, saat ini Bapak belum bisa ditemui karena sakit, masih dalam pengawasan dokter”).

Dua pekan terakhir, hanya dua kali Joko ”keluar kandang” berbicara langsung kepada jurnalis. Jumat dua pekan lalu, dia memberikan wawancara kepada Metro TV. Dua hari kemudian, dia menggelar konferensi pers untuk semua wartawan. Sayangnya, baru 15 menit, Joko terkulai. Ketika wartawan bertanya apa formula rahasianya meng¬ubah air jadi minyak, mulutnya terkatup erat, tangannya gemetaran, lalu bluk... pingsan.


-----


TAK ada yang tahu persis apa latar belakang pendidikan penemu energi biru ini. Sempat muncul kabar, Joko Suprapto adalah alumnus Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada. Namun kabar ini dibantah. Kepala jurus¬an teknik elektro universitas itu, Tumiran, mengaku tak menemukan nama Joko di dalam daftar alumnus. Ada juga yang sempat mengira Joko alumnus Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ini pun tak benar. Rektor universitas itu, Khoiruddin Basyori, juga membantah.

Sumber penghasilan dan mata pencarian tokoh ini juga kabur. ”Kami hanya tahu Pak Joko bekerja di Jakarta,” kata Kepala Desa Ngadiboyo, Wanuji. Menurut dia, Joko datang ke desanya pada 1980-an setelah memperistri Winda, warga Dusun Bangsri di desa itu. Tak ada yang janggal dari kehidupan Joko sampai setahun terakhir. ”Tiba-tiba dia jadi sangat kaya,” kata Wanuji.

Berlimpahnya harta Joko secara mendadak memang mencolok di desa kecil itu. Apalagi Joko sama sekali tak berusaha menyembunyikan perubahan per¬untungannya. Setahun lalu, dia membeli tanah lebih dari satu hektare dan membangun rumah besar di sana. Rumah itu baru rampung enam bulan lalu. Dia juga mendirikan radio Jodhipati FM, yang isinya melulu gamelan dan gending Jawa. Kini sebuah menara pemancar radio berdiri di belakang rumahnya. Tak hanya itu, setiap pekan, Joko nanggap wayang kulit. ”Sekali menggelar wayang itu biayanya Rp 50-75 juta,” kata Wanuji.

Tokoh kegemaran Joko di dunia pewayangan adalah Werkudoro alias Bima. Putra kedua Pandawa dalam mitologi Mahabarata ini selalu digambarkan sebagai tokoh yang tegas, berani menghantam tata krama, dan sakti mandraguna. Saking kesengsemnya Joko kepada tokoh wayang ini, seluruh tembok yang mengelilingi rumah besarnya digambari kisah Werkudoro sejak lahir sampai puncak kejayaannya. Karena itulah kompleks rumahnya yang megah diberi nama Padepokan Jodhipati, sama dengan nama radio swastanya. Jodhipati adalah nama kerajaan Werkudoro di alam pewayangan.

Joko punya dua rumah lain di Desa Ngadiboyo. Rumah pertamanya, di Dusun Bangsri, kini ditempati kerabatnya. Satu lagi rumahnya dipergunakan sebagai ”la¬boratorium”. Warga desa menyebutnya ”bengkel Pak Joko” karena di sana ada sejumlah mobil rongsokan. Di rumah ketiga inilah penelitian energi biru dilakukan.

Letkol Christiono pernah menyaksikan demonstrasi pembuatan minyak ajaib di ”bengkel” ini dua bulan lalu. Saat itu, menurut Christiono, Joko mempersiapkan tong besar bekas aspal yang kemudian diisi air sampai penuh. Sebuah tungku kayu dinyalakan di bawah tong. Setelah itu, sejumlah barang dimasukkan ke dalam air. ”Yang saya lihat ada yang mirip kapur barus dan bubuk sabun cuci,” kata Christiono. Semuanya lalu diaduk sampai mendidih. ”Pembakaran berlangsung sampai air di tong tinggal separuh,” katanya. Air yang tersisa itulah yang diklaim sudah berubah menjadi bahan bakar. ”Satu jeriken dibawa pulang anak buah saya untuk memasak,” kata Christiono, tertawa.


-----


PETUALANGAN Joko di ”dunia penelitian” diawali dengan penemuan pola tanam padi, dua tahun lalu. Joko mengaku bisa melipatgandakan produksi padi dari 6-7 ton menjadi 9-10 ton per hektare. Demonstrasi temuan Joko di Nganjuk dihadiri sejumlah dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Tak puas bergerak di bidang pangan, Joko merambah sektor lain: energi. Penemuan pertamanya adalah pembangkit listrik yang diklaim bisa membuat ”listrik mengalir selamanya”. Temuan ini kemudian dijajakan kepada sejumlah perusahaan di bawah bendera PT Dharma Brahmana. Selain ke kalangan bisnis, Joko aktif mempromosikan temuannya ke perguruan tinggi.

Desember 2005, Joko mendatangi Universitas Gadjah Mada, yang rektornya ketika itu Sofian Effendi. Dia menyo¬dorkan proposal kerja sama dan meminta Gadjah Mada menyetor Rp 3 miliar untuk pengembangan teknologi ini. Di sampul fotokopi proposal 10 halaman ini tertulis ”Energi Alternatif dengan Teknologi Mata Hati”.

Universitas Gadjah Mada menolak tawaran kerja sama itu. ”Ini pembangkit listrik tenaga jin,” kata Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada Sudiartono. Menurut dia, staf peneliti Joko tak bisa menjelaskan dasar ilmiah pembangkit listrik itu.

Salah satu anggota tim Joko ketika itu adalah Purwanto. Kini dia bekerja sebagai konsultan tim penelitian Pusat Studi Pengelolaan Energi Regional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Saat dihubungi Tempo pekan lalu, dia mengaku sudah lama mengenal Joko. ”Awalnya, kami sama-sama suka wa¬yang,” katanya. Sayangnya, dia menolak berkomentar soal kawan lamanya itu. ”Saya tak pernah lagi berhubungan dengan Pak Joko sejak setahun lalu,” katanya. Purwanto sekarang mengembangkan energi alternatif yang serupa dengan energi biru. Namanya Banyugeni. ”Kami masih dalam skala laboratorium, masih jauh,” kata Purwanto merendah.

Yang menarik, selain aktif sebagai penemu macam-macam, kiprah Joko melebar ke politik. Juni tahun lalu, dia mencalonkan diri menjadi Bupati Nganjuk. Dalam daftar calon kepala daerah dari Partai Kebangkitan Bangsa, namanya ada di urutan teratas.

Saat menjadi calon, Joko mengembangkan jejaring politiknya dengan mendirikan Dewan Nganjuk Bersatu. Kelompok itu berhasil menghimpun sejumlah aktivis politik dan tokoh masyarakat. Dua kan¬didat bupati pesaing Joko ketika itu, Taufiqurahman dan Pied Yudianto, dirangkulnya masuk forum. Selain itu, ada mantan Bupati Nganjuk Soetrisno, mantan Bupati Trenggalek, dan sejumlah anggota parlemen daerah.

Sampai awal tahun ini, Joko masih bersemangat ikut pemilihan kepala daerah. Namun belakangan dia mengundurkan diri. Kata Ali Wasi’in Abbas, Sekretaris Partai Kebangkitan Bangsa Nganjuk, ”Dia mengaku ingin berkonsentrasi pada penelitian bahan bakar air.”


Wahyu Dhyatmika, Dwidjo Utomo Maksum (Nganjuk), Muh. Syaifullah, Bernarda Rurit (Yogyakarta)


Sumber :
Majalah Tempo, LAPORAN UTAMA, edisi 2-8 Juni 2008, hlm 30-32




Image




=====================================================




LEMBAGA KEPRESIDENAN : Kisah Tujuh Staf Khusus



Kamis, 12 Juni 2008 | 01:39 WIB



Cerita tentang misteri blue energy yang menuai kontroversi membuat orang bertanya siapa saja orang yang ada di sekitar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden pilihan langsung rakyat ini dikelilingi banyak orang, yang sejak masa kampanye Pemilihan Umum 2004 memang mengitarinya.




Image



Oleh : Wisnu Nugroho


Salah satu kumpulan orang di lingkaran dalam Presiden Yudhoyono adalah staf khusus. Kumpulan yang terdiri atas tujuh orang itu diangkat melalui keputusan presiden dan berada di bawah koordinasi Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.

Untuk ketujuh orang di lingkaran dalam itu, kisahnya bermacam-macam dan seperti bergantian muncul mencuri perhatian. Kisah terbaru terkait dengan staf khusus Presiden yang terkuak adalah misteri blue energy.

Tujuh staf khusus Presiden itu adalah Dino Patti Djalal (Juru Bicara masalah luar negeri), Andi Mallarangeng (Juru Bicara masalah dalam negeri), Sardan Marbun (penegakan hukum dan korupsi), Irvan Edison (pertahanan), Heru Lelono (otonomi dan pemerintahan daerah), Kurdi Mustafa (komunikasi sosial), dan Djali Yusuf (komunikasi politik).

Sebelumnya ada Yenny Zannuba Wahid. Putri mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid itu hanya kerasan kurang dari dua tahun dan akhirnya mundur. Yenny, satu-satunya perempuan dalam staf khusus Presiden, merasa hanya dijadikan pajangan. Ia merasa mendapatkan tugas tanpa kewenangan.

Yenny yang ketika berada di lingkaran dalam mengurusi masalah komunikasi politik itu mengaku tidak punya akses langsung ke Presiden. Karena itu, Yenny kerap tidak yakin, hasil kerjanya sampai atau sampai dengan utuh di tangan Presiden. Akses informasi dari Presiden yang memintanya duduk di jajaran staf khusus juga sangat minim.

”Memang ada rapat ramai-ramai dengan Presiden seminggu atau dua minggu sekali. Dengan waktu 30 menit, tidak ada pembicaraan yang tuntas dibahas dan diatasi,” ujarnya.

Jajaran tujuh staf khusus kini lengkap lagi dengan masuknya Djali Yusuf. Dari Gedung Bina Graha, kegiatan staf khusus dirancang dan dilakukan.

Masing-masing staf khusus sudah membuat kisah sejak sebelum masa kampanye Pemilu 2004. Namun, kisah mereka baru menarik diikuti setelah Presiden Yudhoyono dilantik, 20 Oktober 2004, dan mereka berada di Istana Kepresidenan, Jakarta.


Juru bicara

Andi Mallarangeng yang mendekat ke Cikeas menjelang kemenangan Yudhoyono menyedot perhatian publik saat belum sebulan usia pemerintahan yang menjanjikan perubahan ini berjalan, November 2004. Perhatian publik terarah pada pernyataan Andi yang membela diri mendahului fakta yang sedang dikumpulkan dan diteliti polisi.

Lima menit sebelum iring-iringan kendaraan Presiden masuk jalan tol Jagorawi dari Cibubur menuju Istana Kepresidenan, tujuh kendaraan di jalan tol tabrakan beruntun. Enam orang tewas. Empat orang di antaranya satu keluarga asal Bogor yang hendak rekreasi ke Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. Mereka adalah Diki Ahmad Fauzi (6), Santi (8), Siti Rohimat (30), dan Asna Hasanah (45).

Atas peristiwa kelabu itu, Presiden berbelasungkawa dan bersimpati. Sebagai ungkapannya, Presiden menanggung semua biaya perawatan korban luka-luka dan menyantuni enam korban tewas.

Karena kerap berbicara sebagai juru bicara, kerap juga mantan politisi Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK) ini membuat ”blunder” lewat pernyataannya. Andi keluar dari PPDK, beralih mendukung Yudhoyono karena menolak dukungan PPDK kepada Jenderal (Purn) Wiranto.

Dino Patti Djalal, meski dekat dengan Yudhoyono sejak masa persiapannya menjadi Presiden, baru ke Cikeas setelah Yudhoyono menang pada putaran kedua pemilihan presiden. Pegawai negeri sipil di Departemen Luar Negeri ini hampir selalu mendampingi Presiden saat menerima tamu negara, memberi keterangan pers, dan menyiapkan pidato Presiden.

Banyaknya tugas dengan Presiden yang digambarkannya sebagai energik, demanding, teliti, dan perfeksionis, Dino mengungkapkan sering merasa seperti kuda lumping yang mengejar kuda balap. Karena kerap terengah-engah dan kewalahan, ia kerap ditegur Presiden, baik langsung maupun tidak.

Puncak teguran Presiden kepada Dino terjadi pada Februari 2007. Beredar kabar dari dalam lingkungan Istana Kepresidenan, Dino dinonaktifkan dari tugasnya sebagai staf khusus. Dino yang selalu ada di sisi kanan Presiden saat menerima tamu negara absen saat Ratu Sofia asal Spanyol dan Presiden Swiss Micheline Calmy-Ray bertemu dengan Presiden Yudhoyono.

Dino mengaku memiliki keterbatasan dan kekurangan di hadapan Presiden yang perfeksionis. Namun, ia menjamin, sejak pertama datang ke Cikeas hingga dicuekin Presiden, telah bekerja keras. ”Saya tidak pernah meminta jabatan. Saya juga siap ke Deplu,” ujar Dino ketika selama sekitar seminggu menghilang.


Mereka jenderal

Sardan Marbun, purnawirawan jenderal, saat ini sibuk mengolah dan mengklasifikasi pesan singkat yang masuk ke nomor 9949 untuk dilaporkan ke Presiden. Presiden ingin menangkap denyut nadi rakyat melalui teknologi jempol. Nomor 9949 adalah angka tanggal lahir Presiden, yaitu 9 September 1949.

Nomor ini dibuatkan setelah nomor telepon seluler Presiden hang karena kebanjiran pesan singkat dalam waktu bersamaan. Rakyat tahu nomor telepon seluler Presiden setelah ia menyebutkan dan disiarkan media massa saat berdialog dengan ribuan petani di Waduk Jati Luhur, Purwakarta, Jawa Barat.

Demokrasi jempol lewat SMS kemudian menjadi tambahan tugas Sardan yang diplot mengurusi penegakan hukum dan korupsi. Secara berkala, SMS rakyat diklasifikasi dan disampaikan kepada Presiden untuk ditindaklanjuti.

Untuk laporan kepada rakyat, Sardan menerbitkan tabloid Sambung Hati 9949, Bertindak untuk Rakyat untuk disebarkan ke seluruh daerah. Di tabloid dua mingguan yang dibagikan gratis itu, Presiden duduk sebagai pembina.

Pada tabloid edisi 09/April 2008, Sardan menulis naskah dalam ”Obrolan Warung Kopi” yang divisualisasikan dengan karikatur. Digambarkan dua sosok mirip Wiranto dan Megawati Soekarnoputri yang kerap mengkritik kebijakan Presiden. Wiranto digambarkan sebagai pria uzur peminta-minta dan Megawati sebagai nenek sihir dengan sapunya.

Presiden marah besar mendengar itu. Mengolok-olok lawan politik bukanlah gayanya dalam berpolitik. Kemarahan Presiden reda setelah mengetahui dari media massa, tabloid itu ditarik dari peredaran.

Setelah tabloid itu terbit kembali, Presiden tak didudukkan sebagai pembina. Meskipun demikian, ucapan dan foto Presiden ada di setiap halaman tabloid yang penuh warna itu. ”Saya sekarang fokus di bidang saya seperti diminta juga kepada staf khusus yang lain,” ujar Sardan.

Irvan Edison adalah satu dari tujuh staf khusus yang tidak banyak muncul dan juga bicara. Mantan Gubernur Akademi Militer ini kian tidak pernah muncul di Istana Kepresidenan setelah kalah saat maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Maluku Utara, November 2007. Irvan yang berpasangan dengan Ati Achmad berada di urutan terakhir dengan 9,76 persen suara (34.903 suara).

Jika Andi kerap beriringan berjalan dengan Dino, Irvan kerap beriringan berjalan dengan Sardan sebelum atau setelah bertemu Presiden. Irvan yang berperawakan tinggi besar dan berkaca mata sudah ada di sekitar Yudhoyono saat masa kampanye. Karena penampilannya, Irvan yang menjadi asisten semasa kampanye Pemilu 2004 kerap dikira saudara Yudhoyono.

Djali Yusuf adalah purnawirawan jenderal ketiga yang ada di jajaran staf khusus Presiden. Mantan Panglima Kodam Iskandar Muda ini berkantor di Bina Graha setelah Yenny Wahid mundur. Djali ada di samping Yudhoyono sejak awal 2004.

Ketika Yudhoyono mundur dari kabinet pimpinan Megawati karena merasa dibatasi gerak dan kewenangannya, Maret 2004, Djali menjadi komandan pengamanan Yudhoyono. Bersama sejumlah anggota pengamanan swasta ”911”, ia mengamankan Yudhoyono yang aktif berkampanye.

Sebelum masuk di lingkaran dalam, Djali pernah duduk sebagai penasihat Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias. Putra Aceh ini juga sempat mencoba peruntungan dalam pemilihan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sejumlah pengalaman dan kedekatannya dengan Yudhoyono ternyata tidak banyak membawa pengaruh. Senasib dengan Irvan, Djali paling sedikit meraup suara dalam Pilkada NAD.

Sebagai staf khusus yang bertugas menjalin komunikasi politik, Djali banyak diam dan menjalankan kegiatannya dalam senyap. ”Enggak ada duitnya kalau harus ramai-ramai,” ujarnya beralasan.

Menjelang dan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi diputuskan, Djali menjalin komunikasi dengan berbagai kelompok dan gerakan. Dialog diselenggarakan untuk menjelaskan duduk persoalan. Hal yang sama juga dilakukan saat harga kebutuhan melonjak.

Saat ini Djali tengah menggarap program ”Obor Nusantara” dari Sabang dan Merauke ke Jakarta. Ia duduk sebagai Ketua Dewan Pembina pada program yang melibatkan beberapa departemen itu. Obor akan bertemu di Jakarta, 2 September 2008. Saat dihubungi, Djali sedang berada di Aceh.

Kurdi Mustofa, saat merapat di Cikeas masih berpangkat kolonel TNI Angkatan Darat. Tidak lama setelah pindah ke Istana Kepresidenan pangkatnya naik menjadi Brigadir Jenderal. Sampai awal tahun 2008, Kurdi bertugas sebagai Sekretaris Pribadi Presiden.

Saat Sudi terseret-seret dalam kasus proposal renovasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Korea Selatan dan membuatnya kerap tidak ada di samping Presiden, Kurdi ada di samping Presiden. Sudi menghilang sesaat karena ingin urusan yang melibatkan namanya selesai diusut aparat kepolisian.

Selain menjadi Sekretaris Pribadi, Kurdi mengurusi Majelis Dzikir SBY Nurussalam sejak masa kampanye Pemilu 2004. Saat ini, majelis zikir ini rutin berkegiatan di Masjid Baiturahim, Istana Kepresidenan, setiap Kamis malam. Majelis zikir ini juga selalu menyambut Presiden ke mana pun berkegiatan karena luasnya jaringan.

Dalam dua bulan terakhir ini Kurdi seperti menghilang dan kerap tak muncul di samping Presiden. Sejak pergi umrah, tugasnya sebagai Sekretaris Pribadi mulai digantikan Kolonel Ediwan. Kurdi, menurut staf khusus lain, saat ini mendapat tugas baru sebagai staf Presiden untuk urusan komunikasi sosial.


”Blue energy”

Staf khusus terakhir adalah Heru Lelolo, mantan anggota Badan Penelitian dan Pengembangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Balitbang PDI-P). Heru mulai mendekat sejak Yudhoyono kalah dalam pemilihan wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri, tahun 2001.

Seperti lima staf khusus lain di luar Andi dan Dino, Heru jarang tampil di media massa. Ia lebih intens mengisi dan menerbitkan tabloid Gerakan Indonesia Bersatu (GIB). Di GIB Heru duduk sebagai Sekretaris Umum. Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Penasihat dan Suko Sudarso sebagai Ketua Umum.

Mirip dengan tabloid yang diterbitkan Sardan, tabloid GIB diberikan gratis. Isinya juga tidak banyak berbeda, berupa sosialisasi kebijakan Presiden berikut foto berwarna. Presiden menjadi fokus pemberitaan, termasuk cuplikan biografinya.

Heru mencuri perhatian publik ketika proyek miliaran rupiah yang disetujui Presiden bernama blue energy menjadi misteri saat hendak diperkenalkan kepada masyarakat. Joko Suprapto yang membawa ”temuan” dan diberi nama blue energy oleh Presiden itu menghilang.

Padahal, Presiden menaruh harapan begitu tinggi pada blue energy ini. Di Bali, di sela-sela UNFCCC, Desember 2007, Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono menyempatkan diri menyaksikan pameran blue energy.

Oleh karena penjelasan tentang blue energy yang berbahan dasar air tidak cukup memadai dan meyakinkan, Reuters menyebut proyek blue energy sebagai ”Bali Magic Feul”.

Untuk proyek ini, dibentuk PT Sarana Harapan Indogroup. Heru sebagai komisaris. Pembawa Joko ke Heru dan Presiden, yaitu Iswahyudi sebagai direktur. Tiga anak perusahaan kemudian dibentuk, yaitu PT Sarana Harapan Indopangan, PT Sarana Harapan Indopower, dan PT Sarana Harapan Indohidro.

Di situs GIB, blue energy yang disebut sebagai kemenangan untuk Indonesia tidak perlu dipatenkan karena merupakan ”temuan” milik rakyat. Karena itu, jika dalam prosesnya ada hambatan dari pejabat atau parlemen, rakyat wajib protes.

Hingga kini, proyek yang diharapkan menjadi jalan bagi Indonesia keluar dari krisis energi tetap menjadi misteri karena tidak pernah dijelaskan secara memadai. Dalam pertemuan dengan peneliti dan pakar energi baru dan terbarukan, Presiden membuka pembicaraan dengan berujar, ”I’m not scientist my self.”

Saat itu, Heru muncul, tetapi enggan dimintai keterangan soal misteri blue energy yang sebelumnya dianggap sebagai solusi dari krisis energi. Karena solusi dari blue energy tetap menjadi misteri, kenaikan harga BBM bersubsidi dipilih sebagai opsi.

Lewat kisah ini, tujuh staf khusus kemudian dikenali.



Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/12/01394718/kisah.tujuh.staf.khusus




Last Updated on Monday, 12 January 2009 05:19  

Add comment


Security code
Refresh