SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents IlmuPengetahuan & Sejarah Kontroversi Penemuan Makam Yesus

Kontroversi Penemuan Makam Yesus

E-mail Print PDF
User Rating: / 5
PoorBest 

DE’BULTMAN’ISASI MITOS PASKAH


“Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu, Ia telah bangkit. Ia tidak ada disini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.” (Markus 16:6)

Hari Paskah adalah hari peringatan kebangkitan Yesus, karena itu kubur itu kosong. Berbagai usaha dilakukan orang untuk menjelaskan fenomena ini. Ketika rasionalisme melanda umat manusia, mereka yang terpengaruh berusaha menjelaskan bahwa kebangkitan tidak memenuhi kriteria hukum alam yang dianggap dapat menjelaskan semua realita di dunia ini termasuk soal mujizat yang diceritakan dalam Alkitab.

Diawali dengan teori pencurian mayat oleh para murid Yesus yang dilontarkan pemuka Yahudi (Matius 28:13), sepanjang sejarah selalu ada usaha untuk menyangkal kebangkitan Yesus itu. Dalam kitab Gnostik ‘Second Treatise of the Greath Seth’ disebutkan Yesus tidak disalib, tetapi digantikan orang lain yang dipaku di salib (The Nag Hammady Library, hlm.365). Ide ini mirip yang ditulis dalam Al Quran dimana dikatakan bahwa Yesus tidak disalib tetapi digantikan orang yang serupa wajahnya (QS.4:157), sedangkan Injil Barnabas (217) menyebut Yesus digantikan oleh Yudas untuk disalib. Lain dengan ini, aliran Ahmadyah menyebut bahwa Yesus disalib tetapi tidak mati dan hanya pingsan, sesudah siuman Ia pergi ke India dan akhirnya meninggal dengan kuburannya ada di Srinagar, Kashmir.

Para teolog liberal terpengaruh konsep rasionalisme menolak kebangkitan sebagai melawan hukum alam. Banyak yang kemudian melakukan studi Kristologi (terutama abad-18/19) yang didasari asumsi rasionalisme bahwa mujizat dan hal supranatural dalam Alkitab tidak mungkin terjadi terutama soal kebangkitan Yesus, penolakan ini dimulai oleh H.S. Reimarus dan G.E. Lessing yang diikuti K.F. Bahrt, K.H. Venturini, H.E.G. Paulus, K.H. Hasse, dan Bruno Baur kemudian memuncak dalam karya Albert Schweitzer berjudul 'The Quest of the Historical Jesus.' Buku terkenal lainnya adalah 'Life of Jesus' karya D.F. Strauss, dan J.E. Renan. Karya Strauss menolak samasekali sifat sejarah hal-hal yang bersifat supra alami dalam Alkitab demikian juga dalam tulisan Renan. Arthur Drews dalam buku 'The Christ Myth' menganggap kitab Injil sebagai fiktif. Adolf von Harnack dalam 'What is Christianity' menurunkan Yesus hanya manusia yang memiliki damai dan membaginya kepada orang lain. Pandangan yang menurunkan Yesus sekedar menjadi manusia etis dan menjadikan 'Etika sebagai Jantung Agama' adalah Albrecht Ritschl.

Puncak pemikiran liberal yang menolak mujizat Alkitab terutama kebangkitan Kristus diwakili Rudolf Bultman. Istilah Demitologisasi dipopulerkan Rudolf Bultmann (1884-1976), menurutnya kitab Injil seharusnya dianalisis lebih lanjut dalam berbagai bentuk yang dibuat oleh gereja awal sebelum ditulis. Bentuk-bentuk ini tidak banyak menjelaskan kepada kita tentang apa yang sebenarnya dilakukan dan dikatakan Yesus, melainkan tentang 'apa yang dipercayai oleh gereja awal tentang Yesus'. Di tahun 1926 Bultmann menulis buku 'Jesus' dimana dikatakan bahwa yang penting bukan apa yang obyektip tentang Yesus, tetapi bahwa 'kebenaran itu akan timbul dalam tanggapan iman yang subyektip dari para pengikut.'

Dalam karyanya berjudul 'New Testament and Mythology' (1941) ia mengemukakan bahwa seluruh pola pikir masa Perjanjian Baru terutama kosmologinya bersifat mitologi yang merupakan faham pra-ilmiah yang berasal dari faham Gnostik pra-Kristen (seperti misalnya soal surga-bumi-neraka, kekuatan spiritual, kekuatan supranatural yang menerobos alam nyata, dan perlunya manusia ditebus) (New Testament & Mythology, dalam Karygma & Myth, hlm. 1 dst.). Mengenai Mitologi, tepatnya dikatakan:

"Seluruh konsep dunia yang dikemukakan dalam kotbah Yesus seperti yang dijumpai dalam Perjanjian Baru bersifat mitologis; yaitu: konsep mengenai dunia yang terdiri dari tiga lapis, surga, bumi dan neraka; konsep campur tangan kekuatan-kekuatan supranatural pada kejadian-kejadian di bumi; dan konsep mujizat terutama konsep mengenai campur tangan supra-natural dalam kehidupan dalam dari jiwa, konsep bahwa manusia dapat digoda dan dirusak oleh iblis dan dirasuk roh-roh jahat" (Jesus Christ & Mytheology, hlm.15)

Menurut Bultman, konsep itu disebut mitologi karena berbeda dengan konsep dunia yang dibentuk dan dikembangkan oleh ilmu pengetahuan yang diterima orang modern. Menurutnya, dalam konsep dunia, hubungan sebab-akibat bersifat azasi. Yang sekarang dibutuhkan adalah 'demitologisasi kekristenan' yaitu 'melepaskan dan mengartikan kembali kenyataan sebenarnya lepas dari kerangka mitologi tersebut sehingga Injil dapat diberitakan dalam kemurniannya.' Dalam bukunya Bultmann juga mengatakan:

"... ucapan mitologis secara keseluruhan mengandung makna yang lebih dalam yang dikemas dalam bungkus mitologi. Bila demikian, tepatnya, kita membuang konsep mitologi karena kita ingin menemukan artinya yang lebih dalam. Cara penafsiran demikian yang berusaha mengungkap artinya yang lebih dalam dibalik konsep mitologi saya sebut sebagai demitologisasi ... Maksudnya bukannya untuk meniadakan pernyataan yang bersifat mitologis tetapi menafsirkannya kembali" (Jesus Christ & Mythology, hlm. 18).

Pada prinsipnya Kritik Historis dan studi tentang Yesus Sejarah dan Kitab Injil menunjukkan 'keraguan akan sifat sejarah kitab-kitab Injil, menolak hal-hal yang bersifat supranatural, dan menjadikan Yesus hanya sebagai tokoh moral atau politis saja,' dan lebih lanjut menurut Bultmann, tugas manusia adalah melepaskan manusia dari kerangka mitos yang tidak ilmiah itu (demitologisasi) atau melepaskan 'Yesus Sejarah' dari 'Yesus Iman.' Konsep ini jelas menolak kematian Yesus sebagai juruselamat dan penebus, dan kebangkitannya sebagai kemenangan atas maut ditolak sebagai bukan bagian sejarah.

Jesus Seminar yang dirintis a.l. oleh John Dominic Crossan di tahun 1985 mewarisi penolakan akan sifat supranatural berita Injil. Bagi mereka Yesus seorang pemberontak Yahudi yang mati disalib dan kemungkinan mayatnya dimakan anjing atau binatang pemangsa lain yang berkeliaran di bawah salib sebagai shock therapi untuk menakuti para pengikutnya. Pengikut Jesus Seminar lainnya berteori bahwa Yesus hanya mati suri kemudian sadar kembali dan diwaktu kemudian mati dan dikuburkan disuatu tempat.

Menarik menyaksikan perkembangan budaya dunia dimana era modern (abad-17-20) yang sekular dan materialistis ternyata membuat manusia mengalami kekosongan rohani, dan sejak era 1960-an kembali mencari nilai supranatural dan transendental yang selama ini dibungkam rasionalisme. Era posmo ditandai kembalinya manusia membuka diri akan masalalu dan banyak yang kembali melongok ke agama-agama mistik. Dalam kekristenan mulai ada kegairahan kembali akan mujizat ilahi terutama di kalangan Kharismatik dan Jesus People. Masyarakat umum kembali membuka diri kepada yang paranormal yang menurut The Journal of Parapsychology (2006), diartikan sebagai:

“semua gejala yang dalam satu dan banyak hal melampaui batas apa yang secara fisik dianggap mungkin menurut perkiraan ilmu pengetahuan masakini”.

Encarta memasukkan paranormal dalam kategori Psychical Research, yaitu penelitian ilmiah akan gejala yang terjadi tetapi berada diluar jangkauan teori fisika, biologi, maupun psikologi konvensional. Ensiklopedi Britannica menyebut paranormal sebagai gejala parapsikologi (PSI) yang menyangkut kejadian yang tidak dimengerti hukum alam atau ilmu pengetahuan biasa yang hanya terjangkau oleh pancaindera.
Pendekatan gejala paranormal melalui perspektif penelitian sulit, bukan karena gejala itu tidak benar, tetapi sulit dijelaskan menggunakan ukuran teori dan hukum yang ada. Karena itu gejala paranormal terjadi diluar konvensi yang normal. Apakah paranormal itu realita yang lain dari realita tiga dimensi yang bisa diamati dan dirasakan oleh kelima pancaindera manusia? Ataukah paranormal bisa disebut bagian dari realita supra-natural yang lebih luas dari realita natural dan mencakup dimensi ke-empat?

Sedini tahun 1882, di Inggeris sudah dibentuk Society of Psychical Research, dan salah satu tokohnya, J.B. Rhine (1895-1980), di tahun 1930-an mulai menggunakan pendekatan eksperimen untuk meneliti gejala-gejala yang termasuk paranormal atau psikik. Pada tahun 1957 dibentuklah Parapsychological Association yang kemudian berafiliasi dengan American Association for the Advancement of Science, jadi paranormal sekarang masuk dalam hitungan sains!

Charles Fort (1874-1932) adalah kolektor anekdot paranormal yang mengumpulkan 40.000 gejala paranormal yang sukar untuk dijelaskan menurut hukum alam yang selama ini kita ketahui. Kejadian ganjil/aneh yang dikumpulkannya termasuk gejala poltergeist (roh ribut), jatuhnya katak/ikan/benda-benda dari langit dalam area yang luas, suara-suara dan ledakan yang tidak jelas penyebabnya, kehadiran api yang tiba-tiba, kondisi melayang, bola api, UFO, penampakan yang misterius, roda cahaya di lautan, penampakan binatang diluar habitatnya, penampakan maupun menghilangnya manusia tanpa kejelasan, dll.

Keterbukaan akan paranormal bisa dilihat dari hasil survai Gallup Poll yang pada tahun 2005 menemukan di Amerika Serikat, fakta bahwa 73% responden angketnya pernah mengalami setidaknya salah satu dari 10 gejala paranormal berikut:
- Indera keenam (ESP, 41%);
- rumah hantu (37%);
- hantu (32%); telepati (31%);
- melihat jarak jauh (26%);
- astrologi (25%);
- hubungan dengan orang mati (21%);
- dukun sihir (21%);
- reinkarnasi (20%);
- pawang (9%).

Penelitian lain yang dilakukan Monash University di Australia pada tahun 2006 kepada 2000 responden mengungkapkan fakta bahwa 70% responden mengalami gejala paranormal yang tidak bisa dimengerti tetapi telah mengubah kehidupan mereka.

Di Amerika Serikat ada serial TV yang menguak kejadian-kejadian paranormal, yaitu ‘Miracle Research Center’ yang mengumpulkan dan menyelidiki peristiwa-peristiwa demikian di seluruh dunia. Realita yang lain itu yang tidak diragukan lagi dan jelas keberadaannya itu diberi nama bermacam-macam. Selain supranatural dan paranormal, ada nama-nama lain yang kita kenal. Mercia Eliade pakar sejarah agama itu sudah lama menyebut realita lain itu sebagai ‘The Sacred’ (yang dibedakan dengan ‘the Profane’). Terobosan realita the Sacred ke the Profane oleh Mercia Eliade disebut ‘Hierophany’ yaitu penampakan yang suci. Biasanya hierophany menggunakan media orang suci, kitab suci, gunung, pohon besar atau tempat-tempat khusus lainnya sebagai jendela antar realita untuk menyatakan diri.

Buku The World of the Paranormal (1995) menunjukkan secara skriptural dan visual bahwa gejala-gejala paranormal adalah normal banyak terjadi di alam ini disana-sini. Pendahuluan buku itu menyebutkan:

“Dunia baru yang mengagumkan nyaris terungkap didepan mata saudara. Sebuah dunia yang mencengangkan para ahli ilmu pengetahuan dan para skeptik. Sebuah dunia yang menggugah rasa ingin tahu kita. Sebuah dunia yang menantang penjelasan rasional.”

Dalam buku lain berjudul Paranormal Files (1997) yang memaparkan secara gamblang banyak gejala paranormal, menyebutkan, bahwa:

“Sejak masa kuno yang tidak diingat manusia, semua bentuk kejadian yang aneh, berlawanan dengan hukum alam seperti yang kita mengerti, telah mencengangkan umat manusia. ... reaksi kita atas kejadian-kejadian yang semula kelihatan sangat tidak mungkin tidak seharusnya diwarnai dengan ketidakpercayaan yang mutlak. Tujuannya seharusnya selalu diarahkan untuk tetap menerimanya dengan pikiran terbuka (open mind)”.

Buku ‘Marvels & Mysteries of the Unexplained’ (2006) mengungkapkan kenyataan mutakhir gejala paranormal diseluruh dunia. Ketiga buku ini menunjukkan bahwa Paranormal adalah gejala riel namun belum dimengerti oleh keterbatasan sains dan hukum alam yang selama ini dikenal. Kenyataan ini mendorong kita untuk membuka diri terhadap hal-hal yang supra-natural baik sebagai sesuatu yang dibedakan dengan yang natural atau memasukannya dalam kategori natural karena memang terjadi. Kenyataan ini juga membuka wawasan kita bahwa hal-hal supranatural dan mujizat yang banyak menghiasi halaman Alkitab memang terjadi dalam alam nyata ini dalam konteksnya masing-masing.

Berdasarkan kenyataan Paranormal dan supranatural yang membuka wawasan, kita dapat melihat bahwa setengah abad sesudah Bultman mengucapkan ‘demitologisasi’nya, kita melihat bahwa ucapannya menjadi kuno dan teori masa lalu. Konsep dunia tiga lapis (dunia, surga dan neraka) menjadi terbuka dalam paranormal, adanya campur tangan yang paranormal pada yang normal sudah tidak diragukan lagi karena banyak kasus paranormal membuktikannya. Mujizat juga adalah biasa dalam dunia paranormal, apalagi konsep kerasukan setan sudah menjadi bagian yang banyak terjadi dan diamati dalam dunia paranormal.

Ada dua kesalahan pokok dalam pola pikir Bultman, yaitu:
(1) Bultman melakukan generalisasi dimana semua gejala paranormal dalam Alkitab seperti kosmologi Perjanjian Lama sampai mujizat Perjanjian Baru digeneralisasikan sebagai mitologi;
(2) Bultman juga melakukan generalisasi dengan menganggap yang disebutnya mitologi/mitos itu sebagai pemikiran pra-ilmiah yang tidak benar terjadi.

Karena itu, berdasarkan perkembangan sains masakini yang terbuka akan gejala paranormal / supranatural, kita bisa yakin bahwa penebusan darah (semua agama kuno memiliki ritual kurban darah), dan mujizat dan kebangkitan Yesus adalah realita yang bisa terjadi, percaya atau tidak. Konsep de’mitologi’sasi Bultman sekarang perlu digantikan de’bultman’isasi mitos, maka dengan men-de’bultman’isasi-kan mitos Paskah, kita menyaksikan realita Paskah sebenarnya, yaitu Yesus yang Bangkit dalam sejarah!

Penampakan Yesus sesudah bangkit oleh lebih dari 500 orang menunjukkan Yesus bangkit secara tubuh karena ia bisa disentuh Thomas, dan bisa berdialog dan makan ikan bersama para murid. Mereka yang menolak mujizat menganggap penampakkan itu sekedar halusinasi. Kita harus sadar bahwa ketika Yesus mati para murid ketakutan dan bersembunyi, justru kenyataan kebangkitan mendorong mereka mengalami perubahan hidup yang radikal dan mendorong terjadinya ledakan agama, dan mereka rela mati sebagai martir (mustahil Polycrapus rela menjadi martir kalau Yesus meringkuk di kuburan) dalam menyambut ‘Amanat Agung Penginjilan’ yang mereka terima dari Yesus secara kasat mata. Para penulis Injil telah diubahkan hidupnya oleh Tuhan dan jelas punya motivasi tanpa pamrih dan tulus daripada teolog skeptik yang mencari popularitas dan uang, dan jangan berharap yang terakhir ini rela berkorban bagi Kristus karena mereka terobsesi untuk mengorbankan Kristus.

Kalau Yesus tidak bangkit dan dikubur di Talpiot, bukankah pemuka Yahudi dengan mudah menunjukkan lokasi kuburan Yesus daripada menyebarkan gosip bahwa mayat Yesus dicuri? Ingat bahwa pada abad pertama banyak saksi mata masih hidup dan mengaminkan fakta kebangkitan Yesus, sebab kalau tidak tentu mereka akan menunjukkan dimana kuburan Yesus waktu itu dan bukan menunggu abad-21.

Hal terakhir yang perlu direnungkan adalah soal perubahan Hari Sabat Sabtu yang begitu ketat dijalankan dalam agama Yahudi (sehingga Yesus sering dituduh melanggarnya) menjadi Hari Minggu (Mat.28:1; Yoh.20:19; Kis.20:7) sebagai kenangan kebangkitan Yesus dan yang kemudian menjadi hari pertemuan Kristen, merupakan fakta sejarah yang tidak mungkin terjadi kalau Yesus mati dan mayatnya dikuburkan. Hari Minggu disebut Hari Tuhan (dominggos) yang merupakan sorak kemenangan Yesus atas maut dan kebangkitan-Nya memberikan pengharapan pada umat manusia sampai saat ini.

Akhirnya, mau kita percaya atau tidak, kehadiran Yesus dibumi dan kematian dan kebangkitan-Nya tetap diberitakan kepada umat manusia sampai hari Paskah ini, dan mau kita beriman tulus atau beriman skeptik, umat Kristiani pada hari Paskah sama-sama mengaku dan memuji Tuhan Yesus yang telah mati bagi kita dan telah bangkit dari antara orang mati. Amin!


Tulisan: Herlianto.
Disalin dari
www.yabina.org




=========================



MAKAM YESUS DITEMUKAN?



(Ini surat pembaca yang dikirimkan ke harian Kompas)


Menarik membaca
‘Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus’ yang dimuat di harian Kompas, 5 April, yang ditulis sdr. Ioanes Rachmat, hanya perlu dikoreksi karena banyak informasinya tidak lengkap dan akurat.

Disebutkan bahwa Mariamene e Mara adalah Maria Magdalena, ini asumsi prematur, soalnya tidak ada buktinya. Memang dalam Kisah Filipus ada nama Mariamne, tapi disitu disebut bahwa ia saudara Filipus, ikut menginjil dan membaptis dan menganut sekte yang asketik, dan melakukan selibat, jadi beda. Ini menunjukkan bahwa tulisan ini langsung dibangun di atas landasan asumsi yang dipercaya penulisnya sebelum terbukti.

Mengenai Matius disebut antara lain ada dalam silsilah Yesus. dalam silsilah ada nama Matan/Matat, kalau ini yang dimaksud berarti kakek dari Yusuf. Ini artinya kuburan itu sudah ada sebelum Yesus, jadi kalau sudah punya kuburan keluarga mengapa dikuburkan ke kuburan Yusuf dari Arimatea? Kalau disebut Matius anak Alfeus dan menurut James Tabor (Jesus Dynasty) adalah Alfeus saudara Yusuf, apa buktinya? Kalau Matius dikuburkan disitu mengapa Alfeus tidak? James Tabor termasuk dalam konspirasi Cameron dan Jacobovici, yang pendapatnya tidak diterima umumnya masyarakat arkeologi Alkitab.

Menurut penelitian DNA, disebutkan “tidak ditemukan adanya hubungan persaudaraan material antara “Yesus” dan “Maria Magdalena”. ... Bisa jadi Maria Magdalena adalah isteri sah Yesus, dan bisa jadi “Yudas anak Yesus” adalah anak Maria Magdalena juga.” Disini jelas juga bahwa penulis membangun satu asumsi rekaan berdasarkan asumsi rekaan sebelumnya. Test DNA (kalau memang benar) tidak menunjukkan apa-apa kecuali bahwa tulang yang diperkirakan tulang Yesus dan Mariamene bukan bersaudara, ada banyak kemungkinan untuk menghasilkan kesimpulan. Bisa juga Mariamene isteri Matius, Yusuf, atau Yudas atau tidak dengan satupun (mengapa tidak dilakukan test DNA?), kesimpulan ini sudah digiring dari asumsi bahwa Yesus anak Yusuf itu Yesus dari Nazaret dan Mariamene itu Maria Magdalena yang jadi isteri dan beranak Yudas.

Ditulis bahwa “Prof Goren menyatakan bahwa dua huruf dari nama “Yeshua” (Yesus) pada inskripsi Aramaik di osarium Yakobus itu terdapat lapisan Patina asli yang berusia tua. Dengan demikian, keseluruhan frase “saudara dari Yesus” pada osuarium Yakobus iu harus dinyatakan asli.” Ini kesimpulan distortif. Yuval Goren mengakui ada dua huruf yang diduga asli namun kesimpulan keseluruhan asli adalah kesimpulan Hershel Shanks. Goren adalah orang terdepan yang menyatakan bahwa osuari itu tua, tetapi inskripsi itu pemalsuan modern. Di sisi lain osuari ada relief Rosetta yang kabur, tapi inskripsi tulisan “Yesus anak Yusuf, saudara Yakobus” masih tajam, bentuk syntax huruf meniru foto huruf pada artifak kuno dari buku-buku Arkaeologi. Oded Golan tidak ditangkap karena inskripsi ‘saudara Yesus” tetapi ia ditangkap dengan tuduhan selama belasan tahun melakukan pemalsuan barang antik termasuk ‘Jehoash Insciption’ (inskripsi palsu dikaitkan Bait Salomo untuk mendongkrak harga), ini skandal besar bisnis arkeologi. Ketika digeledah, di ruang kerja Golan ditemukan alat-alat dan berbagai tahap pemalsuan oleh otoritas Israel (IAA).

Disebutkan bahwa menurut “Tabor dan Jacobovi ada kemungkinan satu osuari yang hilang dari Talpiot itu osuarium Yakobus.” Kedua osuari itu berbeda ukuran (yang satu 60 yang lain 50 cm panjangnya), demikian juga Amos Kloner pemimpin ekspedisi penemu makam Talpiot menyebutkan bahwa osuari ke-10 sama sekali tidak memiliki inskripsi sebelum hilang. Osuari Yakobus diakui oleh Golan berasal dari Silwan dan sudah diperolehnya pada tengah tahun 1970-an sebelum tahun 1978 dimana keluar peraturan semua penemuan arkaeologis menjadi milik negara, bekas tanah dikedua osuari itu berbeda, demikian juga relief keduanya beda. Laboratorium FBI menyebutkan bahwa foto osuari yang diambil dari ruangan Golan berasal tahun 1970-an. Makam Talpiot ditemukan tahun 1980.

Mengenai patina Yakobus dan Tapiot yang dianggap sama jadi disimpulkan Yakobus berasal Tapiot, Ted Koppel dalam bukunya ‘The Lost Tomb of Jesus – A critical Look’ mendapat pernyataan tertulis dari direktur Suffolk Crime Laboratory, bahwa dalam laporan mereka tidak disebut ada kesamaan patina itu, Ahli forensik yang memeriksa DNA secara tertulis juga menyangkal menyimpulkan bahwa Mariamene isteri Yesus anak Yusuf. Ini kembali menunjukkan adanya manipulasi informasi seorang sutradara film fiksi.

Kombinasi nama Yusuf, Maria, Yesus, Mariamene (yang diasumsikan sebagai Magdalena) disebutkan oleh Feuerverger memiliki kemungkinan 1:600, dan kalau Yakobus dimasukkan, angkanya 1:30.000. Kembali ini didasarkan asumsi bahwa 4/5 nama itu sekeluarga. Kalau kita hilangkan asumsi Mariamene dan Yakobus, angkanya menjadi 1:puluhan saja, inipun kalau asumsi bahwa Yose itu Yusuf ayah Yesus dari Nazareth, Maria itu isteri Yusuf dan Yesus anak Yusuf adalah Yesus dari Nazareth. Nama di Israel biasa dikaitkan nama ayah atau asal, tidak lazim dikaitkan saudara. Feuerverger menyebut nama-nama itu umum di Israel dan nama ‘Yesus anak Yusuf’ perbandingannya 1:190, tapi kita tidak tahu apakah Yesus anak Yusuf itu Yesus orang Nazareth (dalam Injil nama terakhir ini yang biasa disebut). Dalam situsnya ‘Dear Statistical Colleague’ (4 Maret 2007), Feuerverger menulis: “I now believe that I should not assert any conclusions connecting this tomb with any hypothetical one of the NT family.” Di Israel banyak ditemukan osuari dengan inskripsi ‘Yesus anak Yusuf’ antara lain bisa dilihat fotonya dalam ‘The Interpreter’s Dictionary of the Bible, vol.3, 1962, hlm.611’, yang ditemukan jauh sebelum dicetaknya buku itu.

Menyebut Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan punya anak kembali menunjukkan asumsi yang imani yang tidak ada rujukannya dalam sejarah, dan menggunakan ayat ‘murid yang dikasihi’ yang digambarkan bersandar di dada Yesus disebelah kanannya pada waktu Perjamuan sebagai anak Yesus kembali merupakan asumsi imani (dalam the Da Vinci Code ditafsirkan sebagai Maria Magdalena).

Mengenai kritik bahwa tak mungkin Yusuf yang miskin dari Nazaret memiliki kuburan keluarga di Yerusalem, disebutkan dalam artikel bahwa Yohanes Pembaptis dibuatkan kuburan oleh pengikutnya dan Yesus juga, kembali ini merupakan asumsi yang mengada-ada, soalnya kalau benar itu kuburan keluarga Yesus mengapa saudara-saudara Yesus tidak dikubur disitu (Yose ditafisr panggilan Yusuf dan bukan saudara Yesus), padahal disitu ada nama lain yang tidak jelas memiliki hubungan keluarga dengan Yesus dari Nazaret. Kalau para murid bisa menyediakan makam untuk keluarga Yesus bukankah otoritas Yahudi/Romawi kala itu tinggal mengumumkan bahwa kuburan Yesus ada di Talpiot dan bukannya mengeluarkan isu ‘mayat Yesus dicuri’?

Dari berbagai asumsi yang belum jelas secara ilmiah itu Ioanes Rachmat mau membangun kesimpulan bahwa asumsi-asumsi itu kejadian sejarah obyektif sedangkan kebangkitan adalah metafora. Ini kembali adalah asumsi yang perlu dibuktikan, maka sayang kalau bukti belum jelas sudah dikeluarkan hipotesa yang demikian.

Penulis adalah Dosen Kajian Perjanjian Baru di STT Jakarta. Sebenarnya dari seorang doktor yang pakar Perjanjian Baru diharapkan keluar produk ilmiah yang obyektip, tetapi kajian yang dikemukakan lebih bersifat perpanjangan stereotip imani yang subyektip dari sensasi dan fiksi sains yang dipromosikan Jesus Seminar, James Tabor, dan sutradara film fiksi James Cameron. Ini bisa mengecoh para mahasiswa dan menurunkan kredibilitas institusi kondang yang diwakilinya.


Kiriman: Herlianto.
Disalin dari
www.yabina.org



Artikel terkait :
PENEMUAN ARKEOLOGIS DAN KEBENARAN ALKITAB : di
http://portal.sarapanpagi.org/ilmupengetahuan-sejarah/penemuan-arkeologis-dan-kebenaran-alkitab.html




=========================




KUBUR YANG MENGECOH PARA AHLI




Dalam 5 tahun terakhir, kubur menjadi tema penting yang banyak disorot surat kabar, buku, siaran TV, maupun film. Kubur yang merupakan simbol peristirahatan terakhir yang tenang sekarang membangunkan banyak orang dan menggemparkan. Pada Nopember 2002, peti tulang (ossuary) yang dipercaya dari Yakobus saudara Yesus dipamerkan di Royal Ontario Museum selama 2 bulan. Dalam kebiasaan Yahudi waktu itu, mayat mereka yang meninggal biasa dikubur di gua buatan dan disimpan di kamar-kamar yang ada di dalamnya, dan setahun kemudian tulangnya disimpan dalam peti tulang terbuat dari batu kapur.

Peti tulang ini terkenal karena adanya inskripsi berbunyi ‘Yakobus, anak Yusuf, saudara Yesus.’ Benarkah peti itu menyimpan tulang Yakobus saudara Yesus? Peti tulang dimiliki Oded Golan, pedagang antik yang membelinya dari orang Arab beberapa dasawarsa sebelumnya. Keberadaan peti tulang itu kemudian dicurigai para ahli, sehingga pada pertengahan tahun 2003, ‘Israel Antiquities Authority’ (IAA) mengumumkan bahwa peti tulang itu kuno (berasal abad-6sM s/d 1M) tetapi inskripsinya merupakan pemalsuan modern.

Pameran Peti Tulang berbuntut panjang, sebab dalam perbaikan keretakan yang timbul dalam proses pengiriman ke Kanada, terlihat beberapa fakta pemalsuan sehingga Oded Golan pemiliknya dicurigai sebagai tokoh dibalik mata rantai pemalsuan banyak benda antik, karena itu ia diajukan ke pengadilan, dipenjarakan, kemudian dikenai tahanan rumah selama pengadilan berjalan yang sampai saat ini masih berlangsung. Tidak kurang tuduhan pemalsuan didukung para ahli seperti Yuval Goren dari Departemen Arkaelogi Universitas Tel Aviv, dan Avner Ayalon dari Geological Survey of Israel (GSI).

Berbagai kecurigaan dialamatkan pada klaim bahwa peti tulang itu milik Yakobus, di antaranya bahwa inskripsi itu terlihat memotong patina (lapisan kerak yang terbentuk karena kelapukan zaman) jadi tidak ditulis pada saat peti tulang itu digunakan. Kecurigaan lain adalah inskripsi itu terdiri dari dua bagian ‘Yakobus anak Yusuf’ dan ‘saudara Yesus’ yang berbeda bentuk hurufnya jadi kemungkinan besar ditulis oleh dua tangan berbeda. Hal lain yang mengarah pada tuduhan pemalsuan adalah bahwa lekuk-lekuk peti tulang itu umumnya sudah aus termakan usia termasuk ukiran roseta (hiasan berbentuk mawar) yang ada disitu, tetapi inskripsi itu kelihatannya masih baru dengan irisan tajam. Bukan itu saja, inskripsi itu memiliki kesalahan huruf dan sintaks yang kemungkinan besar terjadi karena menjiplak inskripsi artifak yang ada pada gambar-gambar dalam buku-buku tentang epigrafi kuno.

Yang lebih menunjukkan pemalsuan adalah bahwa Oded Golan dituduh terlibat pemalsuan banyak benda antik belasan tahun terakhir termasuk pemalsuan ‘inskripsi Jehoash’ yang dianggap peninggalan Bait Allah yang dibuat raja Salomo. Ketika rumahnya digeledah, ditemukan ruangan di lantai atap yang digunakan sebagai studio untuk memalsu inskripsi benda-benda antik dalam berbagai perkembangannya, bahkan di ruang kerja rahasianya itu ditemukan kamar mandi yang tidak terpakai dimana ‘peti tulang Yakobus’ itu diletakkan begitu saja di atas toilet, padahal menurut pengakuannya peti itu diasuransikan sebesar satu juta dolar. Dalam penelitian di pengadilan ia menyangkal bahwa studio itu tempat kerjanya, tetapi diakui disewa cukup lama oleh orang Mesir yang ia lupa namanya, bahkan siapa yang menjual peti tulang itu kepadanya ia juga berdalih lupa namanya. Amir Ganor kepala unit pencurian IAA menemukan berbagai alat pemalsuan di studio itu.
Yang menjadikan masalah kubur itu terangkat kepermukaan adalah karena ada juga para ahli yang membela bahwa inskripsi itu asli, jadi milik ‘Yakobus saudara Yesus,’ dan mereka berusaha untuk mempopulerkannya melalui media populer maupun ilmiah. Dalam hal memberi nama, nama yang dikaitkan nama saudara tidak umum digunakan di Israel, biasanya dikaitkan nama ayah atau daerah asal seseorang.

Lima tahun kemudian pada Maret 2007, Discovery Channel memutar film berjudul ‘The Lost Tomb of Jesus.’ Film ini dibuat oleh sutradara film fiksi James Cameron dan Simcha Jacobovici. Film ini mendiskusikan penemuan kuburan keluarga di Tapiot dipinggir kota Yerusalem pada tahun 1980 yang didalamnya ditemukan 10 peti tulang dimana 6 diantaranya memiliki inskripsi nama-nama Yusuf, Maria, Mariamene-e-mara, Yesus anak Yusuf, Yudas anak Yesus, dan Matius. Film ini disusul terbitnya buku karya Jacobovici berjudul ‘The Jesus Family Tomb.’ Yang membuat film ini kontroversial adalah klaim keduanya bahwa Yesus disitu adalah Yesus Injil, dan kuburan itu berisi 5 keluarga Yesus.

Cameron dkk mengemukakan teori bahwa menurut penelitian DNA, Yesus dan Mariamene bukan saudara seibu, jadi mestinya suami isteri dan memiliki anak bernama Yudas anak Yesus. Argumentasi statistik juga digunakan untuk mendukung teori bahwa kuburan itu kubur keluarga Yesus karena disebutkan bahwa komposisi keluarga Yusuf cukup langka untuk ditemukan dalam keluarga-keluarga Yahudi. Pernyataan yang belum teruji kebenarannya yang diekspos melalui mass-media dan film, lebih-lebih oleh sutradara yang terkenal dengan film-film fiksinya itu (a.l. Titanic), tentu saja cepat menyebar luas dan banyak orang terkecoh seakan-akan klaim film itu benar. Pernyataan Cameron dan Jacobovici dalam Discovery Channel yang mengutip dukungan para ahli ternyata dibantah oleh para ahli yang disebutkan. Dalam cerita fiksi film, terlalu mudah kita dikutip pendapat para ahli yang ditafsirkan sendiri padahal para ahli itu tidak bermaksud begitu.

Bobot sensasi ‘peti tulang Yakobus,’ menjadikan skandal Talpiot menuai kritik lebih besar lagi. Dipertanyakan bagaimana Yusuf yang miskin yang tinggal di Nazareth bisa memiliki dan dikubur di kuburan keluarga di pinggir Yerusalem yang notabene hanya mampu dimiliki orang kaya? Data statistik tidak berbicara banyak karena kuburan keluarga mencakup berbagai generasi orang mati dan nama-nama keluarga Yesus adalah nama yang populer dan banyak digunakan oleh orang Yahudi, lagipula data untuk diukur tidak tersedia dan adalah asumsi bukan realita. Nama-nama yang di klaim sebagai keluarga Yesus, setidaknya tiga bukan keluarga yaitu Mariamene, Yudas anak Yesus, dan Matius. Tidak ada catatan abad pertama menyebutkan mereka keluarga Yesus, kesimpulan film itulah yang menyebutkan demikian. Nama-nama Yusuf, Maria dan Yesus pun belum tentu nama-nama yang menjadi tokoh kitab Injil.
Mereka yang skeptik terhadap kebangkitan Yesus cenderung mempopulerkan teori ‘Yesus sebagai Pemberontak Yahudi,’ bahkan John Dominic Crossan, pendiri Jesus Seminar’ mengikuti Martin Hengel menyatakan bahwa ada kemungkinan Yesus tidak dikubur, soalnya para pemberontak Yahudi cenderung disalib dan mayatnya dibiarkan menjadi mangsa anjing-anjing dan binatang pemangsa lainnya yang berkeliaran di bawah salib sebagai shock therapy bagi pengikutnya. Maka adalah bertentangan kalau tulang-tulang pemberontak bisa dikubur di kuburan keluarga dengan tenang dan damai, padahal bisa dijadikan obyek kultus yang keramat dan menjadi mesin pemanas pengikut pemberontak. Dan kalau kubur Yesus ada, bukankah para pemimpin Yahudi kala itu cukup menunjuk kubur Talpiot sebagai bukti Yesus mati daripada menebarkan kabar angin tentang ‘teori pencurian mayat’? (Matius 28:13).

Nama Mariamene-e-mara yang diklaim sebagai nama lain ‘Maria Magdalena’ juga rekayasa yang dicari-cari. Memang penemu makam Talpiot Francois Bovon semula memperkirakan nama Mariamene mungkin nama lain Maria Magdalena, tapi kemudian dalam suratnya (Maret 2007), Bovon menolak mengkaitkan nama itu sebagai Maria Magdalena. Bovon menyebut bahwa nama Mariamene adalah nama lain dari Maria, dan memang dalam ‘Kisah Filipus’ (The Act of Philips) ada ditulis tentang Mariamne yang adalah saudara Filipus yang menjadi penginjil dan ikut membaptis, dan mengikuti ritual asketik yang vegetarian, perjamuan kudus dengan air, dan tidak menikah. Maka mengkaitkan nama Mariamne sebagai Mariamene yang dianggap Maria Magdalena merupakan spekulasi saja.

Menarik menyaksikan pemikiran James Tabor yang mendukung teori bahwa itu makam ‘Yesus anak Yusuf’ padahal dalam bukunya ‘Jesus Dynasty’ ia mengemukakan teori nama ‘Yesus ben Panthera’ (Yesus anak Panthera, serdadu Romawi). Dalam Injil, Yesus tidak biasa disebut dengan nama ‘Yesus anak Yusuf’ tetapi ‘Yesus orang Nazaret.’ Karena itu terlihat sekali bahwa Talpiot merupakan skandal baru yang dibesar-besarkan untuk menolak kebangkitan Yesus dari kematian, untuk itu perlu ada kuburannya!

James Cameron, Jacobovici, dan James Tabor, dalam siarannya ketiganya meng’klaim’ bahwa ‘peti tulang Yakobus’ berasal dari Talpiot, ini memperbesar kemungkinan Talpiot menjadi kuburan keluarga Yesus. Seperti diketahui, pada tahun 1980, di Talpiot ditemukan 10 peti tulang dimana 6 diantaranya berisi inskripsi dan 4 lainnya tidak, dan yang ke-10 kemudian disebut hilang. Maka yang hilang ini kemudian diklaim oleh mereka sebagai peti tulang Yakobus.

Kalau kita mempelajari peti tulang Yakobus dan Talpiot, jelas keduanya berbeda. Peti tulang Yakobus lebih kecil dari peti tulang Talpiot, dan bentuknya lebih polos dibandingkan dengan Talpiot yang diberi relif ukiran. Lagipula, menurut penelitian para ahli, tanah yang menempel di peti tulang Yakobus tidak berasal dari Talpiot. Oded Golan sendiri mengaku bahwa peti tulang Yakobus berasal dari Silwan yang jauh dari Talpiot. Amos Kloner yang memimpin penggalian di tahun 1980 menyebutkan dengan pasti bahwa peti tulang yang ditemukan di Talpiot dan kemudian hilang tidak mungkin peti tulang Yakobus karena peti tulang yang hilang itu tidak memuat inskripsi apapun, dan Joe Zias dari IAA menyebut usaha mengkaitkan peti tulang Yakobus dengan Talpiot, secara ilmiah tidak jujur.

Yang lebih menafikan kemungkinan peti mati Yakobus sebagai berasal dari Talpiot adalah bahwa Talpiot baru ditemukan pada tahun 1980, sedangkan peti mati Yakobus berasal dari penemuan sebelum 1980. Di pengadilan, Oded Golan mengaku sudah memiliki peti tulang Yakobus itu beberapa tahun sebelum 1978 sebab pada tahun itu, Pemerintah Israel mengeluarkan peraturan bahwa semua penemuan arkaeologis menjadi milik negara. Laboratorium FBI meneliti foto atas peti tulang Yakobus yang dibuat dalam studio Oded Golan berasal dari tahun 1970-an. Jadi mustahil peti tulang Yakobus berasal dari Talpiot.

Menarik menyaksikan kontroversi Kubur yang mengecoh para ahli ini. Kita menyadari bahwa banyak kepentingan politis berada dibalik sensasi kubur ini, a.l.:
(1) masyarakat pers, penerbit, dan film punya kepentingan menjadikan sensasi agama menjadi komoditi yang potensial menggaet untung besar (ingat sukses cerita fiktif ‘The Da Vinci Code’);
(2) para skeptik yang menolak ‘Yesus yang Bangkit’ sangat terobsesi untuk ‘mematikan’ Yesus dan menjadikan berita kebangkitan sekedar metafora, untuk itu diperlukan ‘kubur’nya untuk ditemukan;
(3) Ada kepentingan besar para pedagang antik yang ingin menjual benda antik setinggi mungkin harganya (lihat skandal harga Injil Yudas). Hanya dengan merekayasa mengkaitkan suatu benda antik dengan peristiwa besar seperti ‘pembangunan Bait Allah Salomo’ atau ‘Kehidupan Yesus,’ harga bisa didongkrak tinggi;
(4) Kepentingan para pemilik museum yang tidak ingin kalau benda-benda antik di museumnya yang dibeli mahal bukan barang kuno tetapi hasil rekayasa;
(5) Popularitas yang dicari sebagian orang dari sensasi ini; dan
(6) Masyarakat yang haus akan cerita sensasi dan gosip.

Inilah dunia teologi dan ilmu pengetahuan. Kalau dahulu para rasul dianggap mempercayai ‘kebangkitan Yesus’ sebagai bukan sejarah ilmiah melainkan hanya gagasan iman halusinatif atau proyektif, ternyata sensasi kubur belakangan ini menunjukkan kepada kita bahwa apa yang disebut bersifat ‘ilmiah’ (science) ternyata bisa merupakan sejarah yang dimanipulasi atau direkayasa (science fiction). Ini menunjukkan dengan jelas bahwa para ahli sejarah, arkeolog, dan teolog bisa saja mengungkapkan ilmu sejarah yang fiktif dan direkayasa berdasarkan iman skeptik mereka. Fakta ini sebaliknya bisa menguatkan kita untuk kembali bertanya, bahwa para Rasul yang hidupnya sederhana dan telah diubahkan hidupnya oleh Tuhan dan menjadi orang-orang yang tulus, sebagai saksi mata kebangkitan dan karenanya berani menjadi martir yang mati syahid, bukankah mereka melaporkan dengan jujur kenyataan sejarah yang sebenarnya bahwa Yesus memang bangkit dari kubur?


Disalin dari
www.yabina.org




=========================





ASCENSI, SEBUAH FENOMENA PARANORMAL



Pada umumnya kalender di Indonesia memberi warna merah atau tanda hari libur untuk tanggal 17 Mei 2007 yang diberi keterangan sebagai hari peringatan ‘Kenaikan Yesus Kristus (ascension),’ 40 hari setelah peringatan ‘Kebangkitan Yesus.’ Kenaikan Yesus yang dicatat Alkitab sebagai ‘naik ke surga’ memang merupakan puncak kontroversi yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa Yesus dalam pelayanannya menjalankan mujizat dan gejala supranatural/paranormal dan puncak dari semua itu adalah ‘Kebangkitan Yesus dari Orang Mati’ dan ‘Kenaikan Yesus ke Surga,’ dua mujizat yang paling sukar diterima manusia modern (mujizat Yesus dan Kenaikan ke Sorga juga dicatat dalam Al-Quran).

Memang banyak yang mempersoalkan dan mempertanyakan: “Bagaimana tubuh Yesus yang sudah mati dan membusuk bisa pulih dan bangkit kembali, dan bagaimana tubuh yang bangkit itu kemudian bisa naik ke langit?”

Komentar demikian tipikal merupakan pemikiran mereka yang terjerat konsep alam natural yang berdemensi tiga dan mengabaikan keberadaan dimensi supra alami. Memang sejak timbulnya rasionalisme yang menghasilkan ilmu pengetahuan alam dengan hukum-hukum alamnya dan memuncak dalam sekularisme yang hanya berorientasi pada yang ‘Saeculum’ (dunia ini), banyak orang terjerat konsep yang menolak dan mengabaikan realita ‘Aeternum’ (eternal/kekal). Manusia menolak segala hal yang disebut sebagai mujizat dan gejala supranatural/paranormal, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil terjadi di alam tiga dimensi ini, akibatnya semua hal-hal yang berbau mujizat dan supranatural/paranormal (yang dipercayai dalam semua agama) ditolak sebagai tidak pernah terjadi.

Sejak kehadiran rasionalisme pada abad–XVII, kita melihat perkembangan ilmu pengetahuan alam yang luar biasa dan dirumuskannya hukum-hukum alam yang dianggap mampu menggambarkan semua kemungkinan yang terjadi di alam nyata ini, namun disisi lain, kemajuan rasionalisme ini menolak realita supra-alami yang diberitakan agama-agama. ‘Manusia sudah dewasa’ (come of age) merupakan motto abad rasionalisme, maksudnya manusia yang sudah dewasa tidak lagi perlu bergantung kepada otoritas diluar dirinya (baca John A. T. Robinson dalam bukunya ‘Honest to God,’ dan Dietrich Bonhoeffer dalam bukunya ‘Letters & Papers from Prison’).

Dalam dunia teologi kita melihat perkembangan liberalisme yang terungkap dalam pemikiran beberapa orang. Para teolog era rasionalisme banyak terpengaruh liberalisme menolak mujizat dan kebangkitan sebagai melawan hukum alam. Banyak yang kemudian melakukan studi Kristologi (terutama abad-18/19) yang didasari asumsi rasionalisme bahwa mujizat dan gejala supranatural dalam Alkitab tidak mungkin terjadi terutama soal kebangkitan Yesus, penolakan ini memuncak dalam karya Albert Schweitzer berjudul 'The Quest of the Historical Jesus.' Buku terkenal lainnya adalah 'Life of Jesus' karya D.F. Strauss, dan J.E. Renan. Karya Strauss menolak samasekali sifat sejarah hal-hal yang bersifat supra alami dalam Alkitab demikian juga dalam tulisan Renan. Arthur Drews dalam buku 'The Christ Myth' menganggap kitab Injil sebagai fiktif. Adolf von Harnack dalam 'What is Christianity' menurunkan ‘Yesus hanya manusia yang memiliki damai dan membaginya kepada orang lain.’ Pandangan yang menurunkan Yesus sekedar menjadi manusia etis dan menjadikan 'Etika sebagai Jantung Agama' adalah Albrecht Ritschl.

Puncak pemikiran liberal yang menolak mujizat Alkitab terutama kebangkitan Kristus diwakili teolog sekular Rudolf Bultmann. Istilah Demitologisasi dipopulerkan Rudolf Bultmann (1884-1976), menurutnya kitab Injil seharusnya dianalisis lebih lanjut dalam berbagai bentuk yang dibuat oleh gereja awal sebelum ditulis. Bentuk-bentuk ini tidak banyak menjelaskan kepada kita tentang apa yang sebenarnya dilakukan dan dikatakan Yesus, melainkan tentang 'apa yang dipercayai oleh gereja awal tentang Yesus'. Di tahun 1926 Bultmann menulis buku 'Jesus' dimana dikatakan bahwa yang penting bukan apa yang obyektip tentang Yesus, tetapi bahwa 'kebenaran itu akan timbul dalam tanggapan iman yang subyektip dari para pengikut.' Dalam era ini dikotomi antara ‘Yesus Iman’ dan ‘Yesus Sejarah’ menjadi jurang yang semakin lebar dan dalam.

Dalam karyanya berjudul 'New Testament and Mythology' (1941) Bultmann mengemukakan bahwa seluruh pola pikir masa Perjanjian Baru terutama kosmologinya bersifat mitologi yang merupakan faham pra-ilmiah yang berasal dari faham Gnostik pra-Kristen (seperti misalnya soal surga-bumi-neraka, kekuatan spiritual, kekuatan supranatural yang menerobos alam nyata, dan perlunya manusia ditebus) (New Testament & Mythology, dalam ‘Karygma & Myth,’ hlm. 1 dst.). Mengenai Mitologi, tepatnya dikatakan:

"Seluruh konsep dunia yang dikemukakan dalam kotbah Yesus seperti yang dijumpai dalam Perjanjian Baru bersifat mitologis; yaitu: konsep mengenai dunia yang terdiri dari tiga lapis, surga, bumi dan neraka; konsep campur tangan kekuatan-kekuatan supranatural pada kejadian-kejadian di bumi; dan konsep mujizat terutama konsep mengenai campur tangan supra-natural dalam kehidupan dalam dari jiwa, konsep bahwa manusia dapat digoda dan dirusak oleh iblis dan roh-roh jahat" (Jesus Christ & Mythology, hlm.15)

Menurut Bultmann, konsep itu disebut mitologi karena berbeda dengan konsep dunia yang dibentuk dan dikembangkan oleh ilmu pengetahuan yang diterima orang modern. Menurutnya, dalam konsep dunia, hubungan sebab-akibat bersifat azasi. Yang sekarang dibutuhkan adalah 'demitologisasi kekristenan' yaitu 'melepaskan dan mengartikan kembali kenyataan sebenarnya lepas dari kerangka mitologi tersebut sehingga Injil dapat diberitakan dalam kemurniannya.' Dalam bukunya Bultmann juga mengatakan bahwa:

"... ucapan mitologis secara keseluruhan mengandung makna yang lebih dalam yang dikemas dalam bungkus mitologi. Bila demikian, tepatnya, kita membuang konsep mitologi karena kita ingin menemukan artinya yang lebih dalam. Cara penafsiran demikian yang berusaha mengungkap artinya yang lebih dalam dibalik konsep mitologi saya sebut sebagai demitologisasi ... Maksudnya bukannya untuk meniadakan pernyataan yang bersifat mitologis tetapi menafsirkannya kembali" (Jesus Christ & Mythology, hlm. 18).

Pada prinsipnya Kritik Historis dan studi tentang Yesus Sejarah dan Kitab Injil menunjukkan 'keraguan akan sifat sejarah kitab-kitab Injil, menolak hal-hal yang bersifat mujizat dan supranatural, dan menjadikan Yesus hanya sebagai tokoh moral atau politis saja,' dan lebih lanjut menurut Bultmann, tugas manusia adalah melepaskan manusia dari kerangka mitos yang tidak ilmiah itu (demitologisasi) atau melepaskan 'Yesus Sejarah' dari 'Yesus Iman.' Konsep ini jelas menolak kematian Yesus sebagai juruselamat dan penebus, dan kebangkitan Yesus sebagai kemenangan atas maut dan kenaikan Yesus ke sorga ditolak sebagai bukan bagian sejarah. Konsep de’mitologi’sasi yang dikemukakan oleh Bultmann tepat sama dibandingkan istilah yang dengan tepat disebut de’mirakuli’sasi oleh Deshi Ramadhani dalam tulisannya ‘Historisasi Makam Kosong Yesus’ (Kompas, 5 Mei 2007).

Jesus Seminar yang dirintis a.l. oleh John Dominic Crossan di tahun 1985 mewarisi penolakan akan sifat supranatural berita Injil. Bagi mereka Yesus hanya tokoh politik yang mati suri kemudian sadar kembali dan diwaktu kemudian mati dan dikuburkan disuatu tempat. Jadi tidak ada Yesus yang bangkit dari kematian apalagi naik ke sorga. Pemikiran Jesus Seminar terlihat dengan jelas dari semangat para pengikutnya dalam mendukung Talpiot sebagai kuburan keluarga Yesus yang belakangan ini diramaikan setelah James Cameron merilis filmnya melalui Discovery Channel dengan judul ‘The Lost Tomb of Jesus’ (yang merupakan kepanjangan buku James Tabor berjudul ‘Jesus Dinasty’).

Benarkan alam semesta hanya terdiri dari realita alami yang berdemensi tiga? Mungkinkah ada realita lain yang belum terjangkau oleh ilmu pengetahuan alam masakini dengan hukum-hukum alamnya yang mutakhir?

Menarik menyaksikan perkembangan budaya dunia dimana era modern (abad-17-20) yang sekular dan materialistis ternyata membuat manusia mengalami kekosongan rohani, dan sejak era 1960-an kembali dunia mencari nilai supranatural dan transendental yang selama ini dibungkam rasionalisme. Era posmo (postmodern) ditandai kembalinya manusia membuka diri akan masalalu dan melongok ke agama-agama tradisional dan mistik. Masyarakat umum kembali membuka diri kepada yang paranormal yang menurut The Journal of Parapsychology (2006), diartikan sebagai:

“semua gejala yang dalam satu dan banyak hal melampaui batas apa yang secara fisik dianggap mungkin menurut perkiraan ilmu pengetahuan masakini”.

Encarta memasukkan paranormal dalam kategori Psychical Research, yaitu penelitian ilmiah akan gejala yang terjadi tetapi berada diluar jangkauan teori fisika, biologi, maupun psikologi konvensional. Ensiklopedi Britannica menyebut paranormal sebagai gejala parapsikologi (PSI) yang menyangkut kejadian yang tidak dimengerti hukum alam atau ilmu pengetahuan biasa yang hanya terjangkau oleh pancaindera.

Pendekatan gejala supranatural/paranormal melalui perspektif penelitian sulit, bukan karena gejala itu tidak benar, tetapi sulit dijelaskan menggunakan ukuran teori dan hukum yang ada. Karena itu gejala paranormal terjadi diluar konvensi yang normal. Apakah paranormal itu realita yang lain dari realita tiga dimensi yang bisa diamati dan dirasakan oleh kelima pancaindera manusia, ataukah paranormal bisa disebut bagian dari realita dimensi supra-natural yang lebih luas dari realita natural? Profesor Hans Bender, salah satu tokoh perintis penyelidikan psikik (psychic), mengemukakan bahwa ia menemukan banyak bukti bahwa dibalik realita alam nyata yang dapat kita hayati dengan pancaindera, ada realita yang lain. Menurutnya:

“Realita yang lain ini bukan supranatural, itu natural, tetapi kita belum bisa menjelaskannya secara penuh.” (J.L. Collier, Sciece Probe the Mystery of P.K. dalam Reader Digest, April 1974).

Sedini tahun 1882, di Inggeris sudah dibentuk Society of Psychical Research, dan salah satu tokohnya, J.B. Rhine (1895-1980), di tahun 1930-an mulai menggunakan pendekatan eksperimen untuk meneliti gejala-gejala yang termasuk paranormal atau psikik. Pada tahun 1957 dibentuklah Parapsychological Association yang kemudian berafiliasi dengan American Association for the Advancement of Science, jadi paranormal masuk dalam hitungan sains!

Charles Fort (1874-1932) adalah kolektor anekdot paranormal yang mengumpulkan 40.000 gejala paranormal yang sukar untuk dijelaskan menurut hukum alam yang selama ini kita ketahui. Kejadian ganjil/aneh yang dikumpulkannya termasuk gejala poltergeist (roh ribut), jatuhnya katak/ikan/benda-benda dari langit dalam area yang luas, suara-suara dan ledakan yang tidak jelas penyebabnya, kehadiran api yang tiba-tiba, kondisi melayang, bola-bola api, UFO, penampakan yang misterius, roda cahaya di lautan, penampakan binatang diluar habitatnya, penampakan maupun menghilangnya manusia tanpa kejelasan, dll. Segitiga Bermuda menunjukkan gejala persinggungan alam natural dan material dengan alam supranatural/paranormal.

Justus Schifferes dalam tulisannya mengenai ‘science through the ages’ dalam abad-XX, mengemukakan bahwa:

“Nada ilmu pengetahuan pada abad-XIX bersifat positif dan materialistik; para ahli sains melepaskan ikatannya dengan filsafat yang bersifat spekulatip. Tetapi hari ini situasinya berubah secara drastis. Ahli ilmu pengetahuan modern tidak lagi berbicara secara final; ia tidak berharap mengungkap hukum-hukum yang tidak berubah. Ia mengedepankan kesimpulannya sebagai relatif, tentatif dan tidak tentu.” (The Book of Popular Science, 1967, hlm.279).

Keterbukaan akan hal-hal bersifat mujizat dan supranatural/paranormal yang dahulunya dicap sebagai magis/sihir sedikit demi sedikit diakui kembali oleh dunia ilmu pengetahuan dan kejadian sehari-hari. Di Indonesia, di kalangan perdukunan dan tradisi sudah biasa penyakit yang sudah membusuk bisa dipulihkan menjadi baik kembali oleh ‘orang-orang pinter’ dan rasanya kejadian ini dijumpai diseluruh Indonesia. Memang berbeda dengan konsep ilmu pengetahuan dimana obyek yang diteliti harus bisa diulang dan diamati oleh panca-indera, gejala mujizat dan supranatural/paranormal tidak bisa diharapkan terjadi karena manusia mau mengulangnya, mujizat dan gejala supranatural/paranormal adalah kejadian nyata yang terjadi secara insidentil, dan lebih banyak terjadi dikalangan yang terbuka hatinya (yang mengimaninya). Para skeptik kurang beruntung menyaksikan kejadian-kejadian mujizat dan gejala supranatural/paranormal, bukan karena kejadian itu tidak ada dan tidak bisa dibuktikan oleh hukum-hukum alam yang terbatas itu, tetapi karena banyak ahli sains terjerat keterbatasan pemikirannya dan ketertutupan hati mereka.

Dalam edisinya pada 10 April 1995, majalah Time mengemukakan ‘cover story’ berjudul: “Can We Still Believe In Miracle?” dimana diceritakan seorang bayi bernama Elizabeth yang sebelah matanya tidak bisa digerakkan dan dalam penelitian ditemukan penyakit tumor, dan lebih dari itu ia ternyata menderita meningioma, tumor ganas yang selama ini belum pernah ada penderitanya yang sembuh. Mendengar itu, keluarga Elizabeth menggelar doa-doa kesembuhan yang sinambung, dan heran bahwa sebelum dilakukan usaha terakhir sebelum operasi besar, kembali jaringan tumor diperiksa dan samasekali tidak ada bekas-bekas tumor yang terlihat! Di Amerika Serikat ada serial TV yang menguak kejadian-kejadian paranormal, yaitu ‘Miracle Research Center’ yang mengumpulkan dan menyelidiki peristiwa-peristiwa demikian di seluruh dunia. Realita yang lain itu yang tidak diragukan lagi dan jelas keberadaannya itu diberi nama bermacam-macam. Selain supranatural dan paranormal, ada nama-nama lain yang kita kenal.

Keterbukaan masyarakat akan gejala paranormal bisa dilihat dari hasil survai Gallup Poll yang pada tahun 2005, menemukan di Amerika Serikat, fakta bahwa 73% responden angketnya pernah mengalami setidaknya salah satu dari 10 gejala paranormal berikut:

- Indera keenam (ESP, 41%);
- Rumah hantu (37%);
- Hantu (32%);
- Telepati (31%);
- Melihat jarak jauh (26%);
- Astrologi (25%);
- Hubungan dengan orang mati (21%);
- Dukun sihir (21%);
- Reinkarnasi (20%);
- Pawang (9%).

Penelitian lain yang dilakukan Monash University di Australia pada tahun 2006 kepada 2000 responden mengungkapkan fakta bahwa 70% responden mengalami gejala paranormal yang tidak bisa dimengerti tetapi telah mengubah kehidupan mereka.

Mercia Eliade pakar sejarah agama itu sudah lama menyebut realita lain itu sebagai ‘The Sacred’ (yang dibedakan dengan ‘the Profane’). Sekalipun Bultmann secara skeptik menolak adanya terobosan dunia ilahi ke dunia alami, Eliade menemukan banyak bukti di seluruh dunia adanya terobosan realita the Sacred ke realita the Profane disebutnya sebagai ‘Hierophany’ yaitu penampakan yang suci. Biasanya hierophany menggunakan media orang suci, kitab suci, gunung, pohon besar, atau kawasan khusus lainnya sebagai jendela antar realita untuk menyatakan diri.

Buku The World of the Paranormal menunjukkan secara skriptural dan visual bahwa gejala-gejala paranormal adalah normal banyak terjadi di alam nyata ini disana-sini. Pendahuluan buku itu menyebutkan:

“Dunia baru yang mengagumkan nyaris terungkap didepan mata saudara. Sebuah dunia yang mencengangkan para ahli ilmu pengetahuan dan para skeptik. Sebuah dunia yang menggugah rasa ingin tahu kita. Sebuah dunia yang menantang penjelasan rasional.” (1995, hlm.3)

Dalam buku lain berjudul Paranormal Files yang memaparkan secara gamblang banyak gejala paranormal, menyebutkan, bahwa:

“Sejak masa kuno yang tidak diingat manusia, semua bentuk kejadian yang aneh, berlawanan dengan hukum alam seperti yang kita mengerti, telah mencengangkan umat manusia. ... reaksi kita atas kejadian-kejadian yang semula kelihatan sangat tidak mungkin tidak seharusnya diwarnai dengan ketidakpercayaan secara mutlak. Tujuannya seharusnya selalu diarahkan untuk tetap menerimanya dengan pikiran terbuka (open mind)” (1997, hlm. 135,136).

Buku ‘Marvels & Mysteries of the Unexplained’ (2006) mengungkapkan kenyataan mutakhir gejala paranormal diseluruh dunia. Ketiga buku paranormal yang disebutkan menunjukkan bahwa Paranormal adalah gejala riel namun belum dimengerti oleh keterbatasan sains dan hukum alam yang selama ini dikenal. Kenyataan ini mendorong kita untuk membuka diri terhadap hal-hal yang supra-natural baik sebagai sesuatu yang dibedakan dengan yang natural atau memasukannya dalam kategori natural karena memang terjadi di alam nyata ini. Kenyataan ini juga membuka wawasan kita bahwa hal-hal supranatural dan mujizat yang banyak menghiasi halaman Alkitab memang terjadi dalam sejarah alam nyata ini dalam konteksnya masing-masing.

Berdasarkan kenyataan Paranormal dan Supranatural yang membuka wawasan kita, setengah abad berikutnya sesudah Bultmann mengucapkan ‘demitologisasi’nya, kita melihat bahwa ucapannya itu telah menjadi kuno dan teori masa lalu. Konsep dunia tiga lapis (dunia, surga dan neraka) menjadi terbuka dalam paranormal, adanya campur tangan yang paranormal pada yang normal sudah tidak diragukan lagi karena banyak kasus paranormal membuktikannya. Mujizat juga adalah biasa dalam dunia paranormal, apalagi konsep kerasukan setan dan roh jahat sudah menjadi bagian yang banyak terjadi dan diamati dalam dunia paranormal dan normal sehari-hari.

Ada dua kesalahan pokok dalam pola pikir Bultmann, yaitu:
(1) Bultmann melakukan generalisasi dimana semua gejala supranatural/paranormal dalam Alkitab seperti kosmologi Perjanjian Lama sampai mujizat Perjanjian Baru digeneralisasikan sebagai mitologi;
(2) Bultmann juga melakukan generalisasi dengan menganggap yang disebutnya mitologi/mitos itu sebagai pemikiran pra-ilmiah yang tidak benar terjadi dalam sejarah.

Karena itu, berdasarkan perkembangan sains masa kini yang mulai terbuka akan gejala paranormal/supranatural, kita bisa yakin bahwa penebusan darah (semua agama kuno memiliki ritual kurban darah), dan mujizat, kebangkitan Yesus, dan Kenaikan Yesus adalah realita yang tidak mustahil terjadi dalam sejarah. Konsep de’mitologi’sasi Bultmann sekarang perlu digantikan dengan de’Bultmann’isasi mitos, maka dengan men-de’Bultmann’isasi-kan mitos Paskah dan Ascensi, kita menyaksikan realita Paskah dan Ascensi sebenarnya, yaitu Yesus yang Bangkit dan Naik Kesurga dalam sejarah! (jangan membayangkan dengan keterbatasan imajinasi kita bahwa Yesus melayang-layang dilangit, tapi cukup berpindah dimensi melalui jendela hierophany tertentu. Setelah kebangkitannya, tercatat Yesus beberapa kali melakukan perpindahan dimensi itu).

Masalah Mujizat dan gejala Supranatural/Paranormal adalah normal terjadi dalam sejarah selama kita mempercayai sebagai normal, jadi yang menjadi masalah disini adalah bahwa bukan dikotomi antara Iman dan Rasio, atau antara Yesus Iman dan Yesus Sejarah, tetapi dikotomi terjadi antara ‘Rasio Orang Beriman’ dan ‘Rasio Orang Tidak Beriman,’ atau juga Yesus yang kita imani mujizat, kebangkitan dan kenaikan-Nya sebagai bagian sejarah, atau iman yang tidak mempercayai sejarah mujizat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus.

Tepat seperti yang dikemukakan oleh Deshi Ramadhani dalam tulisannya berjudul
‘Historisasi Makam Kosong Yesus’ (Kompas, 5 Mei 2007), bahwa masalahnya terletak pada pilihan antara prinsip “yang ajaib pasti tidak historis” atau “yang ajaib bisa sungguh historis.”

Berdasarkan hal ini maka sudah tepat kita mengenang pada hari 17 Mei 2007, Kenaikan Yesus ke Sorga dengan sukacita dan syukur sebagai bagian dari kehidupan kita dalam beragama.


Disalin dari
www.yabina.org




Artikel terkait :
KUBURAN YESUS DITEMUKAN? , di http://www.sarapanpagi.org/kuburan-yesus-ditemukan-vt1373.html


Last Updated on Wednesday, 11 July 2007 09:26  

Add comment


Security code
Refresh