SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents IlmuPengetahuan & Sejarah PENEMUAN ARKEOLOGIS DAN KEBENARAN ALKITAB

PENEMUAN ARKEOLOGIS DAN KEBENARAN ALKITAB

E-mail Print PDF
User Rating: / 14
PoorBest 

A 1,000-year-old parchment from a Hebrew bible manuscript is displayed during a news conference at Jerusalem's Yad Ben-Zvi institute December 2, 2007. The institute said last month the scrap of paper, the size of a credit card, forms part of the 10th century Aleppo Codex, viewed by scholars as one of the most authoritative manuscripts of the Hebrew bible. The parchment was kept as a lucky charm by Sam Sabbagh, a Syrian Jew who in 1947 plucked it from the floor of an Aleppo synagogue that was torched after a United Nations decision to partition Palestine, paving the way for the creation of Israel.

 

1. Alkitab dan Arkeologi


Sering kita bertanya : Apakah fakta-fakta arkeologis membuktikan kebenaran Alkitab? Bagaimana dengan penemuan-penemuan arkeologis yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa didalam Alkitab?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita pahami dulu apa itu arkeologi?

Arkeologi, adalah penyelidikan terhadap reruntuhan yang tidak dapat musnah, sampah peninggalan manusia yang terus bertahan dan tidak dirusakkan dari waktu ke waktu. Mula-mula dorongan untuk melakukan penggalian terhadap sisa-sisa peradaban kuno adalah hasrat untuk mendapatkan harta-karun.

Akan tetapi, dewasa ini metode-metode ilmiah yang paling mutakhir digunakan untuk menemukan serta menuelidiki sisa-sisa peninggalan zaman dulu untuk memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai orang-orang zaman purba dan cara hidup mereka. Timur Tengah, khususnya daerah Palestina, menjadi sasaran penggalian-penggalian arkeologis disebabkan karena sejarahnya yang berlangsung terus.

Namun, perlu dicamkan : Arkeologi tanpa sejarah adalah sesuatu yang tidak berarti. Arkeologi hanya dapat memberitahukan adanya serangkaian perkembangan kebudayaan, tetapi tidak dapat memberikan suatu kronologi atau urutan waktu yang persis. Sejarah memberitahukan kepada kita kronologi, peristiwa-peristiwa, orang-orang dan tempat-tempat masa lalu.

Selama 100 tahun belakangan ini arkeologi telah membuktikan sebagian catatan-catatan yang terdapat dalam Alkitab. Misalnya : dua kota yang disebutkan dalam Alkitab, yaitu Sodom dan Gomorah, selama bertahun-tahun telah dianggap berhubungan dengan mitologi.

Akan tetapi, penggalian-penggalian yang dilakukan di Tell Mardikh, yang juga dikenal sebagai tempat kota Ebla, telah menemukan 15,000 lempengan tanah liat. Beberapa daripadanya telah diterjemahkan, dan ada yang menyebutkan Sodom dan Gomorah.

Pembuktian arkeologis lainnya meliputi bukti bahwa pernah ada penguasa bernama Belsyazar, suku bangsa Het bukan saja pernah ada, melainkan juga memiliki daerah kekuasaan yang luas; juga pernah memerintah seorang raja bernama Sargon, dan hal-hal yang menyinggung sejarah dalam Kitab Kisah Para Rasul dapat dibuktikan ketepatannya. Sedemikian jauh, penemuan-penemuan arkeologi telah membuktikan, dan sama sekali tidak membantah hal-hal yang bersifat historis dalam catatan Kitab Suci.

Walaupun arkeologi dapat membuktikan sejarah dan memberi keterangan dalam berbagai bagian Alkitab, namun adalah di luar bidang arkeologi untuk membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Sekarang ini arkeologi merupakan ilmu pengetahuan yang semakin maju. Meskipun data yang didapapatkan masih terbatas, namun dengan segala keterbatasannya dalam ilmu ini, sangat membantu dan menjelaskan bahwa banyak bagian Alkitab yang berhubungan dengan sejarah secara akurat.

Sesungguhnya sangatlah penting bahwa Alkitab memberikan suatu gambaran historis yang akurat. Kristianitas adalah iman yang bersifat historis yang emnandaskan bahwa Allah telah masuk dan campur tangan didalam sejarah manusia dengan melakukan banyak perbuatan yang hebat.

Meskipun mujizat-mujizat yang tercatat didalam Alkitab tidak dapat diuji secara ilmiah karena sifatnya yang supranatural, dan juga ada mujizat-mujizat yang tidak bisa dilakukan kembali, namun orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa yang disebut didalam Alkitab dapat diselidiki secara sejarah. Jikalau penulis-penulis Alkitab memberi gambaran sejarah yang tidak tepat, maka orang dapat meragukan apakah mereka layak dipercayai didalam hal-hal yang tidak dapat dibuktikan.

Dengan kata lain, jikalau para penulis Alkitab suci itu akurat didalam mengisahkan hal-hal yang terjadi, maka, tentunya mereka tidak dapat dikesampingkan begitu saja apabila mereka menyebutkan hal-hal yang luar biasa.



2. Bagaimana dengan "penemuan" yang menyerang Alkitab?


Akhir-akhir ini kita diberikan banyak sekali berita-berita yang dinamakan "penemuan" namun bertentangan dengan Alkitab, mungkin dilakukan untuk tujuan komersiil juga untuk menyerang iman Kristiani. Misalnya isu-isu Yesus menikah dengan Maria Magdalena, Novel Da Vinci Code, tafsir melalui sebuah lukisan hasil karya pelukis Leonardo Da Vinci. Juga hal-halyang tertulis dalam buku Misquoting Jesus. Terbitnya buktu Injil Yudas, buku Dinasti Yesus dan isu terakhir tentang dibuatnya film "dokumenter" yang dibuat oleh sutradara James Cameron tentang peti mati Yesus dan keluarganya.

Seperti apa yang sudah ditulis diatas bahwa "Arkeologi tanpa sejarah adalah sesuatu yang tidak berarti.

Novel Da Vinci Code, mengklaim Yesus menikah, dan murid yang dikasihiNya itu adalah Maria Magdalena, namun bukti tekstual dari Alkitab tidak membuktikan itu, (dibahas di
http://www.sarapanpagi.org/post2031.html#p2031).

Demikian juga dengan tuduhan-tuduhan yang tertulis dalam buku Misquoting Jesus, yang oleh teman-teman Muslim langsung direspon positif untuk memperkuat serangannya kepada Alkitab, namun benarkah tuduhan mereka? Kalau saya melihat penulis buku Misquoting Jesus, itu model orang yang bingung dengan gonta-ganti sekolah teologi, entah bener sekolah atau tidak, ada sedikit pembahasannya di
http://www.sarapanpagi.org/mj-alkitab-kristen-seharusnya-dikasihani-vt804.html#p2071

Pak Herlianto, beliau aktif sekali dengan menulis banyak tulisan-tulisan yang menangkis tuduhan-tuduhan semacam itu. Bisa dibaca di
http://www.sarapanpagi.org/cult-bidat-vf28.html

Sutradara film James Cameron, membuat film "dokumenter" yang berjudul"The Lost Tomb Of Christ". Dalam film ini diungkapkan Keberadaan Isteri dan Anak Yesus. Film ini mendapat komentar dari presiden Southern Baptist Theological Seminary, Mr. R. Albert Mohler, dia menyebut film ini sebagai "film dokumenter yang lucu dan penuh dengan klaim-klaim yang jauh dari kebenaran". "Test DNA, bagi saya, adalah hal yang paling menggelikan dari film ini. Karena tak seorang pun yang memiliki sampel DNA Maria. Maka klaim atas sampel-sampel DNA adalah komedi saja.

Profesor arkeologi Israel, Amos Kloner menguatkan pernyataan Mohler. Ia mengatakan, makam-makam yang ditemukan itu adalah makam keluarga kalangan atas Yahudi. Ia mengatakan, tidak ada bukti yang bisa mendukung klaim bahwa makam itu adalah makam Yesus. Ia mengatakan "Saya seorang cendikiawan. Saya melakukan hal-hal yang terkait dengan keilmuan dan tidak ada kaitannya dengan pembuatan film dokumenter. Omong kosong, membawa kisah-kisah keagamaan dan mengarahkannya pada sesuatu yang bersifat ilmu pengetahuan, ". Ia juga berpendapat bahwa makam-makam itu makam kuno biasa. Jika ada kesamaan nama dengan "keluarga" Yesus, hanya faktor kebetulan saja.


Kita akan bahas dasar Alkitab sebagai dasar penolakan Alkitab akan klaim dalam film dokumenter nya James Cameron tsb :


1. Dalam Alkitab tertulis bahwa Yesus dikafani dengan cara adat Yahudi.

Tidak dipeti, masuk dalam gua kuburan :


* Matius 27:57-60
27:57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.
27:59 Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.



* Yohanes 19:40
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.

KJV, Then took they the body of Jesus, and wound it in linen clothes with the spices, as the manner of the Jews is to bury.
TR, ελαβον ουν το σωμα του ιησου και εδησαν αυτο οθονιοις μετα των αρωματων καθως εθος εστιν τοις ιουδαιοις ενταφιαζειν
Translit Interlinear, elabon {mereka mengambil} oun {lalu} to sôma {jenaszah} tou iêsou {Yesus} kai {dan} edêsan {membungkus/mengikat} auto {-Nya} othoniois {dengan kain-kain lenan} meta {dngan} tôn arômatôn {minyak wangi yang kental} kathôs {sama seperti} ethos {adat} estin {adalah} tois {bagi (orang2)} ioudaiois {Yahudi} entaphiazein {untuk mengubur}.


2. Kalau ada nama Yesus di suatu peti-mati, Yesus yang mana dulu?
Yesus juga adalah nama orang lain yang disebutkan di dalam Alkitab...

a. Joshua, anak Nun (Versi King James mengatakan "Yesus" dalam Kisah 7:45 dan Ibrani 4:8; semua terjemahan baru mencegah kebingungan dengan menggunakan kata "Yosua") Nama Keluarga seorang Yahudi Kristian Justus (Kolose 4:11)


* Kisah 7:45
Kemah itu yang diterima nenek moyang kita dan yang dengan pimpinan Yosua dibawa masuk ke tanah ini, yaitu waktu tanah ini direbut dari bangsa-bangsa lain yang dihalau Allah dari depan nenek moyang kita; demikianlah sampai kepada zaman Daud.

KJV, Which also our fathers that came after brought in with Jesus into the possession of the Gentiles, whom God drave out before the face of our fathers, unto the days of David;
TR Translit, ên kai eisêgagon diadexamenoi oi pateres êmôn meta iêsou en tê kataschesei tôn ethnôn hôn exôsen ho theos apo prosôpou tôn paterôn hêmôn eôs tôn hêmerôn dabid


* Ibrani 4:8
Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain

KJV, For if Jesus had given them rest, then would he not afterward have spoken of another day.
TR Translit, ei gar autous iêsous katepausen ouk an peri allês elalei meta tauta hêmeras


* Kolose 4:11
dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku.

KJV, And Jesus, which is called Justus, who are of the circumcision. These only are my fellowworkers unto the kingdom of God, which have been a comfort unto me.
TR Translit, kai iêsous ho legomenos ioustos hoi hontes ek peritomês outoi monoi sunergoi eis tên basileian tou theou oitines egenêthêsan moi parêgoria


b. Jesus Barabbas (kadang hanya disebut Barabbas) - penjahat yang dibebaskan Ponti us Pilatus (Matius 27:16-17)

* Matius 27:16-17
27:16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.
WH, eichon de tote desmion episêmon legomenon iêsoun barabban
27:17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"
WH, sunêgmenôn oun autôn eipen autois o pilatos tina thelete apolusô umin iêsoun ton barabban ê iêsoun ton legomenon christon


c. Seorang nenek moyang Kristus (Lukas 3:29). Diterjemahkan sebagai Jose Versi King James dan NJKV, Joshua di NIV dan NASB.

* Lukas 3:29
anak Yesua, anak Eliezer, anak Yorim, anak Matat, anak Lewi

KJV, Which was the son of Jose, which was the son of Eliezer, which was the son of Jorim, which was the son of Matthat, which was the son of Levi,
NIV, the son of Joshua, the son of Eliezer, the son of Jorim, the son of Matthat,
WH, tou iêsou tou eliezer tou hiôrim tou maththat tou leui


3. Yesus Kristus tidak meninggalkan tulang-belulangNya di bumi karena Ia bangkit dan Naik ke Surga.


Ia bangkit :


* Matius 28:6-7
28:6 Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.
28:7 Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu."

* Markus 16:6,9,14
16:6 tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: "Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.
16:9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
16:14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

* Lukas 24:6-7, 34,46
24:6 Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea,
24:7 yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga."
24:34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."
24:46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,

* Yohanes 21:14
Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.



Ia naik ke Surga :


* Lukas 24:50-53
24:50 Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka.
24:51 Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.
24:52 Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.
24:53 Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.

* Kisah 1:6-11
1:6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"
1:7 Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
1:9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
1:10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
1:11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

* Markus 16:19
16:19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
16:20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

* Efesus 4:8-10
4:8 Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia."
4:9 Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?
4:10 Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.

* 1 Timotius 3:16.
Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan."




Amin.




Blessings in Christ,
BP
March 1, 2007




Sumber :
- Donald J Wiseman & Edwin Yamauchi, Archaeology and the Bible
- Josh Mc Dowell, More Evidence that Demands a Verdict
- Josh Mc Dowell & Don Steward, Jawaban Bagi Pertanyaan Orang yang Belum Percaya.

See Also :

http://www.jpost.com/servlet/Satellite?c=JPArticle&cid=1171894508893&pagenam=JPost/JPArticle/ShowFull

http://dsc.discovery.com/convergence/tomb/explore/explore.html




Historisasi Makam Kosong Yesus

DESHI RAMADHANI
May 5, 2007


Kesimpulan bahwa kebangkitan Yesus dari kematian seperti yang dikatakan Injil adalah sebuah metafora belaka, yang didasarkan pada temuan makam dengan tulang-belulang di Talpiot yang diduga adalah Yesus yang dipercaya umat Kristiani, terlalu dini. Sebuah metafora yang bergerak hanya dalam ranah subyektif, bukan obyektif. Pilihannya antara prinsip "yang ajaib pasti tidak historis" atau "yang ajaib bisa sungguh historis".

Kontroversi belakangan ini tentang makam keluarga Yesus dan kepastian kebangkitan-Nya dengan seluruh tubuh perlu ditempatkan dalam gambar besar penelitian kisah- kisah ajaib di dalam Alkitab. Usaha untuk menjelaskan secara ilmiah hal-hal ajaib yang dikisahkan dalam Alkitab bukanlah hal baru. Hal ini sudah banyak dilakukan, baik terhadap Perjanjian Lama (misalnya, sepuluh tulah atau kutuk yang menimpa bangsa Mesir sebelum orang Israel akhirnya pergi meninggalkan Mesir) maupun Perjanjian Baru (misalnya, Yesus yang berjalan di atas air atau Yesus yang meredakan badai ganas di danau). Usaha ini memperlihatkan sikap tertentu terhadap kisah ajaib dalam Alkitab dalam kaitan dengan dimensi historis kejadian-kejadian itu.


Kesejarahan mukjizat

Di balik usaha-usaha ini terdapat sebuah prinsip yang menempatkan hal-hal ajaib dan penjelasan ilmiah sebagai dua kubu yang saling bertentangan. Tujuan penelitian ilmiah ini adalah memperlihatkan bahwa apa yang diceritakan dalam Alkitab sebagai sebuah peristiwa ajaib karena campur tangan langsung dari Sang Ilahi pada dasarnya adalah peristiwa-peristiwa alam biasa yang bisa dibuktikan berdasarkan pendekatan-pendekatan ilmu alam. Maka, usaha ini membawa bendera yang mengatakan: "Untuk segala mukjizat, pasti bisa ditemukan penjelasan ilmiahnya."

Berjalan seiring dengan usaha ini, pertanyaan tentang historisitas peristiwa dalam Alkitab pun menjadi bagian dari penyelidikan para ahli. Pendekatan ilmiah membuktikan bahwa peristiwa yang dikisahkan dalam Alkitab sendiri secara historis bisa saja terjadi. Seiring dengan pembuktian historis ini, konsekuensinya, kemungkinan adanya intervensi langsung dari Sang Ilahi disingkirkan. Peran Sang Ilahi harus tunduk pada peran sains.

Pembuktian ilmiah mengatakan bahwa peran Sang Ilahi tidaklah sedemikian dahsyat seperti dikisahkan dalam Alkitab. Alam memiliki hukumnya sendiri. Mukjizat bukanlah intervensi dari Sang Ilahi, melainkan hasil yang sangat masuk akal dari proses alami. Film berjudul Reaping yang sedang diputar di bioskop-bioskop di Jakarta, misalnya, mencoba menceritakan pergulatan seorang ilmuwati bukan dalam menerima historisitas kisah-kisah Alkitab, melainkan dalam menerima intervensi langsung Sang Ilahi di dalamnya.

Pada kenyataannya dalam Alkitab banyak kisah ajaib yang tidak berhubungan dengan gejala alam. Dalam Perjanjian Baru dikisahkan banyak penyembuhan fisik yang dilakukan baik oleh Yesus maupun oleh para murid-Nya yang menerima dan menggunakan kuasa dalam Nama-Nya yang kudus. Penelitian ilmiah atas kisah-kisah ajaib dalam ranah penyembuhan fisik semacam ini tentu tidak bisa begitu saja membuktikan bahwa semua itu adalah proses biologis atau ragawi belaka.

Dalam konteks semacam ini pertanyaan tentang historisitas kisah-kisah ajaib menjadi semakin tajam. Apakah penyembuhan ajaib seperti yang dikisahkan dalam Alkitab itu benar terjadi secara historis? Dengan demikian, yang disingkirkan tidak hanya kemungkinan intervensi dari Sang Ilahi (sebagaimana halnya dalam penjelasan ilmiah atas keajaiban yang berkaitan dengan gejala alam), melainkan juga kejadian itu sendiri. Bila tidak bisa ditemukan penjelasan ilmiah bagi penyembuhan ajaib itu, haruskah disimpulkan bahwa kisah semacam itu tidak pernah sungguh terjadi secara historis?

Fakta yang sering terjadi secara kasat mata di hadapan orang modern justru mengatakan lain. Ada banyak orang yang menurut ilmu kedokteran menderita penyakit yang tidak tersembuhkan justru mengalami kesembuhan. Tidak sedikit dokter yang akhirnya harus mengatakan bahwa penyembuhan itu memang tak bisa dijelaskan secara logis berdasarkan pendekatan ilmiah. Pertanyaan lebih jauh harus dijawab.

Bila penyembuhan terjadi di luar jangkauan penjelasan medis, siapkah seseorang menerimanya sebagai sebuah keajaiban atau mukjizat? Di satu pihak, penyembuhan itu begitu kasat mata dan secara empiris bisa dibuktikan. Di lain pihak, tidak bisa dibuktikan secara jelas apa atau siapa yang menyembuhkan orang yang bersangkutan.

Di sinilah orang akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan empiris bahwa keajaiban bisa sungguh bersifat historis. Artinya, "yang ajaib" bisa sungguh terjadi secara historis dalam ruang dan waktu di mana manusia ini hidup dan bergerak. Mukjizat yang berada di luar jangkauan akal budi manusia bisa benar-benar terjadi secara historis. Keajaiban adalah sebuah peristiwa sejarah juga. Craig A Evans, Fabricating Jesus (2005), bahkan mengatakan bahwa satu kesalahan serius dari banyak kesalahan lain adalah "kegagalan untuk memperhitungkan perbuatan ajaib Yesus". Sungguh disayangkan bahwa banyak ahli yang meneliti keajaiban yang berkaitan dengan tokoh Yesus dalam Alkitab justru berangkat dengan sebuah asumsi bahwa "yang ajaib pasti tidak historis".


Proses demirakulisasi

Akibat logis dari asumsi semacam ini adalah sebuah proses yang saya sebut sebagai demirakulisasi (Latin miraculum; Inggris miracle) Yesus. Perkataan miraculum, berkait dengan kata kerja mirare, yang berarti ’melihat’ atau ’memandang’. Secara bebas miraculum berarti sesuatu yang mau tidak mau dilihat atau dipandang dengan mata terbelalak. Dengan demikian, proses demirakulisasi tidak lain adalah sebuah proses pengingkaran terhadap apa yang sebenarnya begitu jelas terlihat meskipun tidak bisa dijelaskan dengan akal budi.

Cara kerja yang dipilih menjadi jelas: Yesus yang benar-benar ada secara historis harus dijelaskan dan direkonstruksi dengan menyingkirkan segala hal ajaib atau mukjizat seperti dikisahkan dalam Alkitab. Pembuktian Yesus Historis dalam proses demirakulisasi mengharuskan sang peneliti memilih data yang masuk akal saja. Dalam praktiknya, ini bisa membuat sang peneliti mengambil data yang diperlukan terlepas dari konteksnya begitu saja. James D Tabor, penulis buku The Jesus Dynasty, adalah salah satu peneliti yang mengikuti cara kerja seperti ini.

Dua contoh kecil bisa diperlihatkan di sini. Pertama, Tabor mencoba menjawab pertanyaan tentang profesi Yesus sebelum Ia tampil secara publik di Galilea. Perkataan Yunani dalam Injil adalah tektôn. Kamus besar yang disusun oleh Bauer, Arndt, Gingrich (1957) menjelaskan tektôn sebagai carpenter, wood-worker, builder. Tabor begitu saja memilih arti tektôn sebagai builder (tukang bangunan; tukang batu). Untuk mendukung argumennya ia merujuk pada tulisan yang sekarang dikenal sebagai Protoevangelium Yakobus 9:3 yang mengatakan bahwa pekerjaan Yusuf adalah sebagai tukang bangunan. Tabor hanya memilih satu rujukan kecil ini untuk mendukung hipotesisnya bahwa Yesus pun bekerja sebagai tukang bangunan.

Tulisan Protoevangelium Yakobus sudah beredar sekitar tahun 150 M. Argumen-argumen penting dalam tulisan ini justru bertujuan membuktikan kelahiran ajaib Yesus melalui Maria yang masih perawan dan tetap perawan sesudah kelahiran Yesus. Tabor siap menggunakan bahan di luar Alkitab untuk mendukung argumennya meskipun untuk itu ia harus mengambil rujukan kecil dari sebuah bahan yang justru berlawanan arah dengan cara kerja demirakulisasi yang dipilihnya. Dengan kata lain, untuk mendukung argumennya, Tabor siap mengambil sebuah teks dan melepaskannya dari konteks begitu saja. Menurut kacamata keahlian saya dalam bidang tafsir, pemisahan teks dari konteks adalah sebuah kesalahan metodologis yang sungguh fatal.

Kedua, Tabor mencoba membuat rekonstruksi kronologis tahap perjalanan Yesus dan para murid-Nya menuju Jerusalem dan hari-hari terakhir-Nya di sana. Dengan menggabungkan berbagai data dan loncatan-loncatan kreatif berdasarkan informasi dari Injil, sebuah kronologi diusulkan. Namun, satu hal segera menjadi jelas. Ada satu bahan yang dalam konteks Injil memiliki arti penting yang justru dihindari oleh Tabor. Dalam Injil Yohanes bab 11 dikisahkan bahwa di sebuah kampung yang bernama Betania, Yesus membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Kisah Yesus yang menyembuhkan dan kisah Yesus yang membangkitkan orang mati tentu saja berada di luar ranah pembuktian mukjizat berdasarkan gejala-gejala alam.

Lebih dari itu, bila Tabor menggunakan kisah tentang kebangkitan Lazarus ini, ia tentu akan harus juga menerima kemungkinan adanya kebangkitan Yesus sendiri dari mati. Padahal, argumen penting yang justru sedang diperjuangkan adalah untuk membuktikan bahwa Yesus tidak bangkit. Tabor ingin membuktikan bahwa tubuh Yesus telah dipindahkan oleh para pengikut-Nya dari tempat semula Ia dimakamkan setelah penyaliban, ke tempat yang baru. Untuk maksud itu Tabor berani membuat pernyataan bahwa Ia telah menemukan makam Yesus dan keluarga-Nya.


Temuan arkeologis

Temuan arkeologis yang kembali hangat belakangan ini dan penggunaannya untuk sebuah pembuktian Yesus Historis perlu ditempatkan secara jelas dalam kerangka cara kerja demirakulisasi para peneliti yang terlibat di dalamnya. Hasil proses semacam inilah yang tersaji ke kalangan publik. Film dokumenter The Lost Tomb of Jesus dengan produser pelaksana James Cameron, buku karangan Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino The Jesus Family Tomb: The Discovery, the Investigation, and the Evidence that Could Change History, dan buku James D Tabor The Jesus Dynasty adalah bukti hasil kerja peneliti yang berprinsip "yang ajaib pasti tidak historis." Sikap terhadap publikasi semacam ini akan sangat ditentukan oleh penerimaan atau penolakan terhadap prinsip tersebut. Bila menerima prinsip tersebut, berarti orang harus menolak kebenaran empiris yang justru masih berlangsung sampai hari ini, yakni bahwa "yang ajaib bisa sungguh historis".

Hal yang sama berlaku dalam bersikap terhadap kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus dengan seluruh tubuh-Nya adalah peristiwa ajaib. Maka, bagi para peneliti ini harus disimpulkan bahwa hal itu pasti tidak historis. Yang historis adalah bahwa Yesus tidak bangkit dengan seluruh tubuh-Nya. Untuk membuktikannya, temuan makam di Talpiot dijadikan sebagai argumen penting. Pertanyaan untuk sebuah temuan arkeologis senantiasa berkaitan dengan hubungan antara artefak arkeologis dan data dalam Alkitab.

Fakta pertama. Pada tahun 1980 ditemukan 10 osuarium (tempat tulang) di makam Talpiot, sebelah selatan kota lama Jerusalem. Satu di antaranya dinyatakan hilang. Pada sembilan osuarium itu ada enam yang memiliki inskripsi nama-nama: Yesus anak Yusuf, Maria, Mariamene e Mara (Maria Magdalena), Yoses, Matius, Yudas anak Yesus. Seluruh inskripsi tersebut tertulis dalam bahasa Aram, kecuali inskripsi Maria Magdalena yang tertulis dalam bahasa Yunani.

Fakta kedua. Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang sangat umum dimiliki oleh orang pada zaman itu di wilayah tersebut. Meskipun demikian, bahwa nama-nama semacam itu ditemukan sebagai sebuah kesatuan di satu kompleks makam adalah sebuah kenyataan yang sangat unik. Peluang empat nama (Yesus anak Yusuf, Maria, Maria Magdalena, Yoses) dalam cluster semacam itu adalah 1:600. Demikian pendapat Prof Andrey Feuerverger, pakar statistik dari Universitas Toronto.

Fakta ketiga. Hasil uji DNA terhadap endapan organik pada osuarium "Yesus anak Yusuf" dan osuarium "Maria Magdalena" tak memperlihatkan adanya hubungan persaudaraan di antara keduanya menurut garis ibu.

Bila ingin setia pada data-data empiris semacam ini, kesimpulan yang harus diambil adalah: (1) Ada sebuah kompleks makam keluarga tempat ditemukan 10 osuarium; satu dari osuarium itu telah hilang; enam dari yang masih ada memiliki inskripsi nama-nama yang sangat umum; (2) Kesatuan nama-nama umum itu hanya terjadi satu kali dari antara 600 kasus; (3) Yesus anak Yusuf dan Maria Magdalena bukan saudara-saudara sekandung.

Kesimpulan yang lebih dari itu adalah hipotesis. Satu hipotesis yang belum berdasarkan fakta justru dijadikan sebagai kesimpulan oleh Tabor. Di sini Tabor sudah berkeyakinan bahwa osuarium lain dengan inskripsi "Yakobus, anak Yusuf, saudara dari Yesus" adalah satu osuarium yang hilang dari makam keluarga di Talpiot itu. Hipotesis lain adalah ikatan perkawinan antara "Yesus anak Yusuf" dan "Maria Magdalena". Hipotesis lanjutan dari ini adalah bahwa "Yudas anak Yesus" adalah anak dari perkawinan antara "Yesus anak Yusuf" dan "Maria Magdalena" itu. Masih perlu dilihat bagaimana uji DNA terhadap endapan organik dalam osuarium "Yudas anak Yesus" tersebut.

Hipotesis paling berani adalah dengan mengatakan kemungkinan bahwa "Yesus anak Yusuf" itu adalah Yesus yang dikisahkan dalam Injil. Ini sama saja dengan seorang peneliti asing di abad-abad kemudian yang bisa menyimpulkan bahwa sebuah makam dengan nama "Bambang anak Suharto" di sebuah tempat di bumi ini adalah makam Bambang anak dari seorang bernama Suharto yang selama bertahun-tahun menjadi penguasa tunggal di sebuah negeri di bumi ini. Tidak mustahil bahwa Bambang yang dimakamkan di sana adalah Bambang preman pasar di kampung sekitar makam itu yang bapaknya bernama Suharto yang punya toko kelontong dekat alun-alun.


Yesus yang mana?

Di sinilah letak persoalan paling serius dalam penelitian Yesus Historis berdasarkan temuan arkeologis saat ini. Ada sebuah makam dengan osuarium bernama "Yesus anak Yusuf". Sungguh tidak mustahil bahwa artefak yang tersedia ini adalah sebuah keunikan istimewa, satu dari 600 kemungkinan kasus, yang merupakan makam dari seorang yang sama sekali lain. Hipotesis berikut ini sama kuatnya dan harus bisa diterima.

Ada seorang pedagang yang cukup kaya di Jerusalem pada dekade pertama abad Masehi. Nama orang itu adalah Yusuf. Seorang anaknya yang bernama Yesus itu bekerja sebagai seorang ahli hukum yang mencapai puncak kariernya setelah berhasil menentang dan menghukum mati seorang guru eksentrik berasal dari Nazaret yang juga bernama Yesus. Suatu hari Yusuf dan Maria istrinya memutuskan mengadopsi seorang anak putri dari Magdala, dan mereka beri nama Maria Magdalena. Yesus sang ahli hukum itu pernah punya hubungan dekat dengan seorang perempuan sehingga ia punya anak, tetapi lalu ditinggal pergi oleh kekasihnya itu. Yesus ini akhirnya harus menitipkan anaknya yang bernama Yudas untuk diasuh oleh Yusuf dan Maria. Demikianlah pada akhirnya satu per satu mereka mati. Jasad-jasad Yusuf, Maria, Maria Magdalena, Yesus anak Yusuf, dan Yudas anak Yesus ini akhirnya dimakamkan di kompleks makam keluarga yang sudah mereka siapkan di Talpiot.

Berabad-abad kemudian sekelompok peneliti menemukan makam itu dan mulai menduga- duga bahwa Yesus dalam makam itu adalah Yesus yang diyakini oleh orang Kristiani sebagai Tuhan yang bangkit dengan seluruh tubuh-Nya. Maka, sungguh masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan seperti itu. Terlalu dini juga untuk mulai yakin bahwa kebangkitan Yesus dari Nazaret itu adalah sebuah metafora belaka, bukan persitiwa historis; sebuah metafora yang bergerak hanya dalam ranah subyektif, bukan obyektif. Maka, pilihannya kembali antara prinsip "yang ajaib pasti tidak historis" atau "yang ajaib bisa sungguh historis".


DESHI RAMADHANI Dosen Tafsir Kitab Suci di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta

Disalin dari : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/05/fokus/3492011.htm




Artikel terkait :

KUBURAN YESUS DITEMUKAN?  di http://www.sarapanpagi.org/kuburan-yesus-ditemukan-vt1373.html#p4726
Last Updated on Thursday, 02 April 2009 18:44  

Add comment


Security code
Refresh