SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Info buku Book Review : On the Hills of God

Book Review : On the Hills of God

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 
Meratapi Palestina

ImagePagi itu, bulan Mei persis enam puluh tahun lalu, Ibrahim Fawal baru berusia 15 tahun ketika dia menemukan dunia yang selama ini dihidupinya hancur berantakan. Ramallah, kota kecil di Tepi Barat, tempat dia lahir dan hidup sehari-hari, tiba-tiba berubah menjadi tenda pengungsi raksasa.

Mereka mendirikan tenda di mana-mana, di halaman gereja, sekolah, lapangan rumput, dan tempat pemakaman,” tulisnya.

Fawal tidak sendirian. Ratusan ribu orang lain mengalami hal yang sama ketika tiba-tiba mereka, penduduk asli di wilayah itu, justru menjadi orang asing, dikejar-kejar, dibunuh, atau dipaksa pergi menjadi orang buangan di negara lain.

Itulah hari yang, bagi Fawal dan ratusan ribu orang Palestina lainnya, disebut an-Nakba, ”bencana”, ketika hampir 800.000 penduduk Palestina kehilangan tempat tinggal, kebun, pekerjaan, dan seluruh jalinan relasi kehidupan sehari-hari.

Dari data yang dikumpulkan The Institute for Middle East Understanding (IMEU), lebih dari separuh penduduk dipaksa lari mengungsi karena serangan dan teror milisi bersenjata Irgun Zvai Leumi dan Stern, di bawah komando David Ben-Gurion, dan sudah meninggalkan tanah mereka sebelum negara Israel resmi diproklamasikan (lihat http://www.imeu.net).



Hancurnya komunitas



Ibrahim Fawal termasuk salah seorang dari arus pengungsi itu. Berhasil pindah ke Amerika, meraih gelar master dari UCLA di bidang film, dan bekerja sebagai asisten sutradara terkenal, David Lean, dalam film klasiknya, Lawrence of Arabia (1961), ia kemudian menjadi pengajar film di Universitas Alabama, Birmingham. Pada tahun 1996, ketika berusia 63 tahun, ia meraih gelar doktor dari Oxford. Namun, di tengah kesuksesannya, peristiwa an-Nakba terus membayangi hidupnya.

”Kami adalah generasi an-Nakba,” katanya. ”Sebagai anak-anak muda, kami tidak pusing dengan sepak bola dan pacaran; kami lebih mengkhawatirkan kelangsungan hidup dan takut kehilangan tanah air kami.”

Dan bagi Fawal, pertaruhannya memang eksistensial: keberadaan diri dan bangsanya sendiri. ”Pada tahun 1948 itu saya menonton televisi dan mendengar pidato Golda Meir yang mengatakan bahwa ”Tidak ada yang disebut orang Palestina…. Mereka tidak ada.” Dengan kebohongan itu, ia sudah menghapus diri saya! Ia menghapus realitas saya… identitas saya… warisan saya!” kata Fawal mengenang ucapan pemimpin Israel itu.

”Orang-orang Palestina kini mencapai lebih dari sembilan juta orang jumlahnya. Dari mana kami semua datang jika kami sebelumnya tidak pernah ada? Pada saat itu saya tahu bahwa saya harus menulis sebuah buku.”

Tahun 1998, tepat setengah abad setelah peristiwa an-Nakba, buku yang direncanakan Fawal terbit: novel berjudul On the Hills of God, yang dengan segera meraup banyak pujian dan menyabet penghargaan PEN-Oakland Award for Excellence in Literature.

Padahal ini novel perdananya! Di dalamnya Fawal seperti meratapi sejarah bangsanya, peradaban multikulturalnya yang kini hancur berantakan karena teror dan cita-cita Zionis tentang ”Negara Israel Raya” yang hanya untuk orang Yahudi, sembari menyingkirkan komunitas lainnya.

Jalan cerita novel ini sangat sederhana. Ia bertutur tentang persahabatan tiga anak muda, Yousif (Kristen), Amin (Muslim), dan Issac (Yahudi), yang menjadi besar di dalam lingkungan sama di Ardallah, kota resor yang dijuluki ”mahkota di atas tujuh bukit”.

Musim panas di sana adalah surga, apalagi bagi Yousif, tokoh protagonis Fawal, yang sedang dilanda cinta pada Salwa Taweel, si gadis jelita. Namun, ketiga anak muda itu tidak tahu bahwa musim panas tahun 1947 itu adalah musim panas terakhir bagi mereka. Dalam sekejap, sejak kehadiran mata-mata Zionis yang mereka intai, yang berakhir dengan amputasi tangan Amin, kota mereka tidak lagi menjadi sorga.

Persahabatan itu hancur. Karena bom yang meledak di Yerusalem dan membunuh George Mutran, penduduk Ardallah. Kecurigaan kepada kelompok teroris Yahudi membuat keluarga Issac harus pergi keluar karena menjadi bagian dari apa yang disebut ”Yahudi”.

Sementara bagi Yousif, perjuangan mempertahankan Ardallah sama seperti perjuangan mempertahankan cintanya: merebut Salwa dari tangan orang yang hendak menikahinya, tetapi kembali kehilangan dia saat harus pergi mengungsi.


Politik ingatan

Membaca novel Fawal seperti menyaksikan penghancuran suatu masyarakat, bahkan peradaban multikultural, dari sebuah bangsa yang sejarahnya dicatat dalam ketiga kitab suci agama monoteis yang lahir dari Nabi Ibrahim.

Dan kita menjadi sadar bahwa peristiwa traumatis an-Nakba sungguh merupakan akar persoalan dari gejolak di wilayah Timur Tengah yang gemanya, khususnya dalam soal relasi antar-agama, masih dapat kita rasakan sampai sekarang.

Kisah tragis Issac memberi contoh baik soal itu. Antara Yousif dan Issac, sesungguhnya, terjalin persaudaraan unik: keduanya pernah disusui oleh perempuan yang sama. Praktik semacam itu lumrah dilakukan pada masyarakat Palestina, antara komunitas Yahudi, Kristen, ataupun Islam—tiga agama yang sering disebut ”anak-anak Ibrahim”. Anak-anak yang dilahirkan pada hari yang sama akan disusui bersama-sama sehingga terjalin persaudaraan. Tetapi, sejak 1920-an, ketika kelompok-kelompok radikal Zionis mulai mengimpikan Negara Israel Raya hanya untuk orang Yahudi, praktik itulah yang pertama kali dilarang (hal 163).

Kecurigaan masyarakat, dan bujukan dari sekelompok Yahudi, membuat keluarga Issac harus meninggalkan Ardallah. ”Sekarang kami ada di Tel Aviv,” tulisnya kepada Yousif. ”Di mana-mana ada pagar kawat berduri dan karung-karung berisi pasir. Pemuda dan pemudi didaftar di dalam gerakan bawah tanah” (hal 225).

Perjalanan nasib membawanya kembali ke Ardallah. Namun, kini ia kembali sebagai ”teroris” yang tertangkap, dan dihukum mati oleh penduduk di situ—sebuah peristiwa yang mengguncang nurani Yousif (hal 268 dan seterusnya). Dan ketika ayahnya, seorang pasifis yang tetap mempertahankan prinsip dan idealismenya, juga harus mati di tengah pertempuran, Yousif tidak kuat lagi menahan beban.

Ia pun meradang: ”Apa yang akan terjadi, Tuhan? Sebuah gereja, masjid, atau sinagoga? Engkau mengajari kami untuk saling mencinta, dan kami melakukannya. Kami sangat mencintai satu sama lain sampai-sampai kami saling membunuh. Ini bukan cinta, kan, Tuhan?” (hal 379).

Dan itu semua terjadi sejak tanggal 29 November 1947, hari ketika PBB mengesahkan (atas tekanan Amerika) resolusi pembagian Palestina yang menjadi pintu masuk bagi kelompok garis keras Zionis untuk menerapkan kebijakan mereka.

Itulah hari, kata Basim, paman Yousif yang menjadi tokoh perlawanan bawah tanah, ”ketika dunia kehilangan akal sehatnya dan menuntut sebuah bencana. Ingatlah hari ini ketika para pemimpin dunia bersama-sama terjun untuk bunuh diri” (hal 91). Setelah enam puluh tahun berlalu, agaknya dunia masih belum menyadari kebenaran kata-kata Basim itu. Bahkan cenderung menafikan peristiwa an-Nakba.

Lewat ratapannya ini, seperti juga ratapan para nabi di masa lampau, Fawal sudah melakukan politik ingatan yang sangat diperlukan agar kita siuman, sebelum semuanya terlambat dan hancur dalam lingkaran setan balas dendam. Atau kita sudah sangat terlambat?


(oleh Trisno S Sutanto, Direktur Eksekutif Madia (Masyarakat Dialog Antar-Agama Jakarta)



-------------------


Data Buku (terjemahan Indonesia):
Judul : Di Atas Bukit Tuhan : My Salwa My Palestine
Judul Asli : On the Hills of God
Penulis : Ibrahim Fawal
Penerbit : Pustaka Mizan, 2007
Tebal : 581 halaman


Sumber :
Kompas, Minggu, 18 Mei 2008


Last Updated on Monday, 12 January 2009 05:38  

Add comment


Security code
Refresh