SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Info buku Book Review : The Name of The Rose

Book Review : The Name of The Rose

E-mail Print PDF
User Rating: / 2
PoorBest 
Ada buku cerdas tentang kehidupan Kristen yang di Indonesia ini diterbitkan oleh "penerbit Muslim". Dibawah ini salinan review-nya.

"Benarkah Allah pernah tertawa?" Maka, jawabnya akan mengantarkan pada peristiwa-peristiwa mengguncangkan di sebuah biara. Kematian datang, dan tragisnya, kehancuran pun adalah jawab dari segalanya. Begitulah Umberto Eco — Novelis, Semiolog, dan seorang ahli Abad Pertengahan — menulis "Il Nome Della Rosa aka The Name of The Rose (TNOTR)".

TNOTR adalah masterpiece dari seorang pakar semiotika sekaligus pakar budaya dari Italia , Umberto Eco. Gaya tulisan Umberto Eco itu sangat detail bak ensiklopedia, tersedia juga buku dari penulis lain tentang how to "crack" The Name of The Rose.......(the key of the name of the rose).

Setting cerita adalah medieval Eropa , yang sangat muram dengan teokrasi . Bahwa pemimpin agama adalah selalu benar , sehingga ilmu pengetahuan terpinggirkan . Medieval Eropa ditandai dengan inkuisisi terhadap ilmuwan , kaum-kaum bidat , orang yang tertuduh bidat , alkemis-alkemis yang dikira tukang sihir , dan persaingan antar denominasi.

Inti dari kisah TNOTR adalah bagaimana kisah pembunuhan dengan pola Alkitabiah membawa seorang william ke labirin perpustakaan. Debat antara William yang mewakili pemikir religius scholastic dengan Jorge seorang rahib senior tetapi sangat fanatik , sangat menarik.

Buku karya Eco lainnya yang cukup menarik dan njelimet , yaitu "Travel in Hyperreality"


----------

Image
    Kejahatan bisa muncul dari kesalehan.


TUJUH HARI TERAKHIR DI LABIRIN


Oleh : St Sunardi


Saya mengenal film The Name of the Rose lebih dahulu daripada novel Il Nome Della Rosa karya Umberto Eco [1]. Film itu saya tonton pada tahun 1988 di sebuah gedung bioskop di Perugia, kota kecil di Pegunungan Italia. Sudah lama saya membaca dan mendengar posisi penting Perugia dalam sejarah gereja, terutama sejak Fransiskus dari Assisi (yang termasuk wilayah Perugia) mendirikan Ordo Fratrum Minorum (OFM, di Indonesia dikenal dengan sebutan Ordo Saudara-Saudara Dina) pada awal abad ke-13.

Konon Fransiskus mendirikan ordo itu setelah dia mendengar suara Kristus yang berkata, "Fransiskus, perbaikilah rumahku yang sedang hendak roboh" [2]. Sapaan itu ditafsirkan oleh Fransiskus sebagai panggilan untuk ikut memperbaiki situasi gereja yang sedang digerogoti oleh gaya hidup kota yang membuat gereja lupa meneladani kemiskinan Kristus. Dari film itu saya ketahui beberapa hal (terutama lewat guru bahasa Latin dan sejarah gereja yang adalah seorang Fransiskan) namun juga terbuka bagi saya sejumlah peristiwa dalam sejarah gereja di Perugia yang masih harus saya pelajari lagi. Dari Perugia ternyata tidak hanya lahir seorang Santo Kemiskinan bernama Fransiskus yang pernah menggubah "Gita Sang Surya" yang amat terkenal itu namun juga lahir keputusan-keputusan keras dari Kapitel (semacam muktamar) OFM yang menggelisahkan Paus yang sedang dililit oleh godaan kekayaan.

Dari sanalah muncul keinginan saya untuk memiliki novel yang telah melahirkan film tersebut, yaitu Il Nome Della Rosa karya Umberto Eco. Dibantu dengan alur dan setting yang sudah saya saksikan lewat film, dengan kemampuan bahasa Italia yang baru dipelajari selama satu bulan, Il Nome bagi saya lebih mirip seperti pemacu untuk belajar bahasa Italia daripada sebuah novel. Baru kurang lebih sepuluh tahun kemudian, Il Nome saya baca lagi dan saya bicarakan lagi dengan seorang teman di Yogya yang berminat pada sastra Italia. Saya membacanya kembali biasanya karena dua hal: untuk keperluan melihat sejarah Eropa Abad Pertengahan (khususnya saat terjadi transmisi keilmuan dari Bagdad ke Eropa) dan untuk keperluan belajar kritik sastra sebagaimana kita temukan dalam lampiran berjudul "Il postille".

Kalau Il Nome bisa mencapai best selter di Italia, saya tidak heran. Il Nome ini bisa menggaruk banyak konsumen dari berbagai segmen dengan kepentingan yang berbeda-beda. Orang-orang yang terlibat dengan sejarah Abad Pertengahan pada umumnya, sejarah Gereja (dan secara khusus sejarah Ordo-Ordo Religius), dan kritik sastra pasti tidak akan tahan untuk tidak membaca Il Nome. Eco berhasil mengangkat tema lama bahkan tema yang jarang disentuh menjadi objek imajinasi yang menarik. Maklum, periode yang dikisahkan oleh Eco selama ini "dikunci" sebagai periode tradisional atau periode pramodern yang jarang disentuh orang-orang modern. Periode ini biasanya diandaikan begitu saja sebagai periode gelap tanpa kita tahu lebih dekat apa sebenarnya yang terjadi selama itu. Dari periode ini seakan-akan tidak ada hal-hal yang bisa dipelajari kecuali hanya sebagai objek kemarahan. Sebaliknya, orang lebih suka bicara tentang zaman Renaisans, Pencerahan, dan sebagainya dengan capaian-capaiannya yang gemilang yang menjadi fondasi zaman modern. Di tangan seorang medievalis (ahli Abad Pertengahan) dan novelis seperti Eco, periode gelap ini disajikan secara berbeda sampai akhirnya karyanya bisa menembus best selter. Ketika saya membelinya, pada hari Kamis 8 September 1988, saya menemukan bahwa novel yang muncul pertama kali pada tahun 1980 ini pada tahun 1988 sudah mencapai cetakan ke-23! Penyertaan "Il postille" menunjukkan sambutan besar di kalangan pembaca di Italia. Bahkan konon di Eropa dan Amerika, The Name of the Rose telah menimbulkan "gelombang baru Abad Pertengahan" (new medieval wave) [3].

Kalau sekarang muncul [i]Il nome[/i] dalam versi bahasa Indonesia, saya tidak tahu apakah dia akan mencapai best selter atau tidak, apakah dia bisa menimbulkan minat di masyarakat ini untuk membaca ulang abad-abad yang selama ini dicap sebagai sumber tradisionalisme atau tidak. Paling tidak, kehadiran novel ini bisa menjadi salah satu contoh novel posmodern yang menggabungkan antara "kutipan" dan fiksi, sejarah dan kisah, serta imajinasi dan semiotika [4]. Dari segi tema, kita mendapatkan sebuah contoh novel yang mengambil persoalan keagamaan, politik, dan ilmu pengetahuan sebagai objek imajinasinya.



1. Dari Abbazia del delitto menjadi Il nome della rosa


Seperti diakui oleh penulisnya, novel ini pernah mau diberi judul Abbazia del delitto (Biara Kejahatan). Karena judul ini dirasa membatasi kebebasan pembaca, Eco kemudian menggantinya dengan judul Il nome delta rosa (versi Inggris menjadi The Name of the Rose, dalam bahasa Indonesia kurang lebih bisa diterjemahkan menjadi "Nama Mawar"), sebuah judul yang lebih bebas ditafsirkan [5]. Nama pertama sebenarnya juga bisa dipakai karena tema utama dalam novel ini adalah kejahatan pembunuhan yang terjadi dalam biara. Alur cerita berkembang mengikuti peristiwa-peristiwa pembunuhan dan penyelidikannya. Akan tetapi, di sela-sela alur cerita ini kita menemukan begitu banyak informasi dari Abad Pertengahan sehingga kita tidak hanya menemukan peristiwa kejahatan melainkan juga budaya biara [i]cultura dell'abbazia[/i]) bahkan Zeitgeist dari periode yang sering disebut akhir Abad Pertengahan. Pembaca mempunyai begitu banyak kemungkinan untuk memberi nama novel yang begitu kaya ini. Oleh karena itu, judul Il nome della rosa kemudian dipilih karena, sebagai nama, mawar bisa berarti segala-galanya atau tidak berarti apa-apa: Stat rosa pristina nomine, nomina nuda tenemus [6].

Image Materi novel ini pada awalnya merupakan kesaksian atau memoar seorang biarawan muda (monacella). Fransiskan dari jerman bernama Adso ketika dia berada di Biara Melk selama seminggu pada tahun 1327 di akhir bulan November (menjelang hari Natal). Adso menulis (dalam bahasa Latin dengan gaya patristik-skolastik) pada akhir abad ke-14 saat dia sudah menjadi seorang biarawan matang (monaco).

Pada tahun 1968 Eco menemukan versi bahasa Prancis (dengan gaya neo-Gothik) diterjemahkan oleh Dom J. Mabillon (dengan judul Le Manuscrit de Dom Adson de Melk, traduit en francais d'aprés l'édition de Dom J. Mabillon) [7]. Kalau kisah ini terjadi pada tahun 1327, itu berarti bahwa kisah itu berada pada saat sejarah gereja mengalami apa yang disebut "Babylonian captivity", yaitu saat Paus meninggalkan "rumah tradisionalnya" Roma dan tinggal di Avignon (Prancis Selatan) dari tahun l305-l377" [8]. Memang, peristiwa itu menjadi salah satu latar belakang penting dalam Il nome seperti dikatakan dalam "Prologo" [9].

Bagi seorang medievalis pengagum Thomas Aquinas sekaligus mengajar di Universitas Bologna (salah satu universitas yang ikut membentuk budaya Abad Pertengahan) seperti Eco, dengan menerjemahkan dokumen semacam ini ke dalam bahasa Italia, dia juga melacak bekas tempat biara tersebut. Karena satu dan lain hal, dokumen yang ada di tangannya lenyap. Akhirnya, Eco menulis dokumen itu dalam bentuk novel berdasarkan catatan-catatannya dalam bahasa Italia.

Novel ini dibagi menjadi tujuh bagian, masing-masing bagian diberi judul "Hari Pertama", "Hari Kedua", dan sebagainya sampai "Hari Ketujuh". Kalau hari pertama bertepatan dengan hari Minggu ("William bertanya apakah kami bisa menemukan seseorang di skriptorium juga pada hari Minggu") [10]. Hari Kedua dengan hari Senin, dan sebagainya, pembagian dengan nama-nama ini jelas sesuai dengan nama-nama hari dalam satu minggu. Kemudian, masing-masing bagian dibagi menjadi bab-bab mengikuti acara Ibadat Harian (Liturgia Horarum) yang lazim diadakan dalam sebuah biara. Ibadat Harian adalah doa-doa wajib yang dilakukan di suatu biara sepanjang hari. (Dalam bentuknya yang paling mendekati Ibadat Harian seperti di [i]Il nome[/i] kita bisa melihatnya di Biara Trapis di Rawaseneng, Temanggung). Ibadat ini dimulai pada pagi dini hari (maka disebut Mattunina atau Vigiliae) kira-kira pada pukul 2.30 dan berakhir pada malam hari dengan Ibadat Penutup atau Completorium sekitar pukul 18.00.

Secara keseluruhan, ibadat-ibadat harian ini bisa diurutkan demikian:

1. Vigiliae (Ibadat Malam, 2.30-3.00),
2. Laudes (Ibadat Pagi, 5.00-6.00),
3. Prima (7.30), Tertia (Ibadat Siang, 9.00),
4. Sexta (Ibadat Siang, tengah hari),
6. Nona (antara pukul 14.00 dan 15.00),
7. Vesperae (Ibadat Sore, 16.30),
8. Completonum (Ibadat Penutup, 18.00).

Kini ibadat ini sudah "disederhanakan": Tertia, Sexta, dan Nona[i] disatukan menjadi [i]Hora Media (Ibadat Siang). Dengan mengorganisasi novel lewat ukuran waktu Liturgia Horarum, Il nome membawa kita pada kesadaran waktu Abad Pertengahan yang akrab dengan peribadatan.

Pada Hari Pertama, Hari Minggu, Adso mengisahkan kedatangannya bersama gurunya William Baskerville (dalam bahasa Italia disebut Guglielmo), seorang Inggris dengan tradisi intelektual Oxford, ke sebuah biara Benediktan Melk. Dia datang ke biara itu dengan tugas untuk meneliti kasus kematian seorang biarawan muda (Adelmo dati Otranto, seorang ilmuninator dalam perpustakaan) dan menjadi utusan Raja dalam pertemuan yang akan diadakan di biara itu untuk mendamaikan antara kelompok Fransiskan (yang dekat dengan Raja) dan kelompok Paus (dengan dukungan para Dominikan). Biara Benediktan Melk dianggap sebagai daerah netral dan Abbas-nya (Abbas = pemimpin biara) yang bernama Abo diharapkan bisa menjadi mediator.

Belum mendapatkan titik terang tentang kasus kematian Adelmo, pada Hari Kedua, saat mengikuti ibadat :Mattunina bersama para anggota biara lainnya, ia dikejutkan oleh sebuah peristiwa berdarah (un sanguinosissimo evento): Venantius ditemukan mati di luar. Venantius adalah juga petugas perpustakaan, sahabat Adelmo. Dari informasi yang ia kumpulkan, dia curiga rupanya perpustakaan di biara itu ada kaitannya dengan kematian. Oleh karena itu, dengan gaya seorang detektif dia bersama Adso memberanikan diri memasuki perpustakaan yang berada dalam Aedificium.

Pada Hari Ketiga, mereka semakin yakin bahwa Venantius tidak mati bunuh diri namun terbunuh. Pada hari ketiga mereka dikagetkan oleh mayat ketiga, mayat Berengar.

Di sela-sela kesibukan memecahkan "enigma dellabirino" (teka-teki labirin) dan mengautopsi jenazah Berengar di laboratorium Severinus (dengan kesimpulan: ia mati karena keracunan), pada Hari Keempat, hari Rabu, William menerima kedatangan Michele da Cessna, delegasi dari Frati Minori atau para Fransiskan pada pagi hari. Michele adalah pemimpin Ordo Fransiskan yang sebelumnya membuat kapitel di Perugia dan keputusannya membuat Paus marah. Sore harinya (sekitar Nona), delegasi Paus Yohanes dari Avignon datang dengan anggota antara lain Kardinal del Poggetto dan Bernard Gui (nama Italianya: Bernardo Guadino), seorang tokoh
inkuisisi dari Ordo Dominikan yang menulis buku pedoman inkuisisi: Practica officii inquisitionis heretice pravitatis. Walaupun Paus ingin membawa pertemuan ini demi "perdamaian dan kebaikan" (...), pihak frati minori, sebaliknya, merasakannya lebih seperti perang. Hari itu mereka dijamu dengan makan malam besar. Pada hari tersebut William dan Adso sangat sedih karena Salvatore, salah seorang pemberi informasi yang sangat jujur, ditangkap.

Pertemuan resmi (kapitel) antara dua delegasi diadakan pada Hari Kelima, hari Kamis, dengan tema diskusi tentang kemiskinan Kristus yang diputuskan dalam Kapitel General Fransiskan di Perugia pada tahun 1322. Hasilnya (sangat mengecewakan William): Kardinal del Poggetto melihat tafsiran kemiskinan Kristus itu sebagai bidah, Remigio ditahan dengan tuduhan bidah. Pada hari ini mayat baru juga ditemukan. Severinus yang banyak membantu William mengautopsi mayat-mayat sebelumnya kini menjadi korban. William dan Adso yakin mulai memfokuskan buku aneh ("un strano libro"). Hari ini ditutup dengan upacara, dengan khotbah panjang yang disampaikan oleh Jorge dengan tema: bahaya kedatangan Antikristus.

Pada Hari Keenam, hari Jumat, mayat baru masih juga ditemukan. Kali ini kematian justru menimpa Maleakhi - seorang bibliothecaricus – yang justru dicurigai William sebagai dalangnya. Adelmo, Venantius, Berengar, Severinus, dan Maleakhi telah menjadi korban pembunuhan misterius. Abo, pemimpin biara, mengeluh kepada William: "Terlalu lama, rupanya. Saya harus mengaku, frate William, bahwa saya mengharapkan terlalu banyak dari Anda. Enam hari sejak Anda datang di tempat ini, empat biarawan mati, di samping Adelmo, dua orang ditahan oleh
Inkuisisi itu keadilan, tentu, tapi kami sebenarnya bisa menghindarkan rasa malu ini seandainya inkuisitor tidak terlalu peduli dengan kejahatan sebelumnya-dan akhirnya pertemuan yang saya jembatani, hanya karena perilaku jahat ini-memberikan hasil yang pedih ... " [11]. Begitulah "hasil" penyelidikan kejahatan dan pertemuan sampai hari keenam. Biara Melk (dan William) gagal menjadi perantara, sementara penyebab kematian masih belum terungkap. Pihak Avignon, sebaliknya, merasa menang dengan mengadili Remigio sebagai bidah dan menjadikannya sebagai kambing hitam kasus-kasus pembunuhan di biara itu. Lebih dari itu, mereka juga berhasil menyandera Michele da Cessna untuk dibawa ke Avignon. Namun, akhirnya pada tengah malam William berhasil masuk ke finis Africae, tempat misteri perpustakaan.

Seluruh misteri ini terbuka pada Hari Ketujuh saat William menghubungkan orang dan hal-hal yang ia curigai: Jorge de Burgos, Secretum finis Africae, racun, buku misterius. "Hai vinto -- Kau menang," katajorge pada William [12]. Di luar biara, dekat Aedificium petugas
inkuisisi dengan bangga membakar para bidah. Sementara itu, di dalam Aedificium, William dan Adso berjuang melawan api yang sedang melalap seluruh bangunan dan buku-buku berharga.

Begitulah alur cerita "detektif" yang terjadi pada biara Benediktan Melk yang menjadi tempat pelarian orang-orang yang dikejar petugas
inkuisisi, menjadi tempat penyimpanan buku-buku yang dikumpulkan dari berbagai daerah dan berbagai zaman. Dari alur sebagaimana diceritakan di atas, novel ini memang bisa saja diberi judul [i]Abbazia del delitto[/i] karena novel ini ditata mengikuti kejahatan kriminal yang terjadi di Biara Melk serta usaha pengungkapannya. Novel ini juga bicara tentang biara Benediktus Melk yang menjadi pelarian para bidah Fransiskan yang dikejar-kejar oleh petugas inkuisisi yang didominasi para Dominikan.

Akan tetapi, di luar alur ini kita mendapatkan berbagai macam informasi tentang kehidupan biara pada khususnya dan kehidupan gereja pada Abad Pertengahan pada umumnya. Informasi-informasi ini menjadi kekuatan tekstual untuk membentuk ritme kehidupan biara dengan budayanya (cultura dell'abbazia). Secara struktural, informasi-informasi ini memang kurang menduduki posisi penting dalam perkembangan kisah. Akan tetapi, informasi-informasi itu punya peran penting dalam pembentukan dunia literer - yang masih akan kita bahas kemudian. Informasi-informasi ini meliputi seluk-beluk kehidupan baik dalam biara (kapel dan doa hariannya, perpustakaan dan kegiatan di dalamnya, dapur dan orang-orang yang lalu-lalang di desa di sekitarnya), maupun di luar biara (situasi politik baik sezaman maupun sebelumnya).

Kalau kita memerhatikan cara berkembangnya kisah yang pelik namun tetap enak diikuti, kita melihat Eco sebagai seorang story teller yang ulung; sedangkan kalau kita memerhatikan informasi-informasi tentang Abad Pertengahan yang disajikan secara selektif, kita melihat Eco sebagai seorang medievalis yang erudit. Melalui informasi-informasi ini, kita bisa mencium aroma Abad Pertengahan lewat buku-buku yang apak, melihat keseriusan wajah-wajah para penghuninya yang dibungkus dengan habitus atau pakaian biara berwarna hitam, menyaksikan kebengisan para petugas
inkuisisi, mendengarkan amarah mereka yang sedang berseteru, melihat gerak-gerik seorang monacello Adso yang masih lugu (termasuk saat bersetubuh dengan fanciulla bella dari desa dekatnya!), nasib buku-buku artes liberales yang disingkirkan, mencium bau lezat hidangan yang disuguhkan pada para delegasi, dan sebagainya. Belum lagi, kita disodori dengan "sejarah pemikiran" dari pemikiran Virgilius yang puitis, kelompok Universitas Paris yang spekulatif, sampai dengan kelompok Oxford yang empiris. Kalau Eco mengatakan bahwa dia bercerita dalam Abad Pertengahan daripada bercerita tentang Abad Pertengahan, hal itu memang benar. Dengan begitu dia bisa mengonstruksi cultura dell'abbazia. Pembaca mendapatkan ruang begitu luas dan sudut pandang yang bermacam-macam untuk mengatakan sendiri (sesuai dengan kondisi kultural dan ideologisnya masing-masing) apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalamnya. Il nome della rosa adalah judul "paling netral" yang ditawarkan Eco daripada Abbazia del delitto yang terkesan membatasi pembaca.



2. Intelektualitas


Kesan paling mencolok ketika kita membaca Il nome adalah kuatnya inter-tekstualitas. Novel ini terus-menerus bicara tentang teks-teks lain. Sudah sejak kalimat pertama dalam "Prologo" dia menggunakan teks lain: "Pada awalnya adalah Sabda dan Sabda bersama Allah dan Sabda adalahAllah". Lihatlah, Eco tidak ragu-ragu menggunakan sebuah teks mapan, ortodoks, doktrinal, dan bahkan biblis (di sini dia mengambil ayat dari Injil Yohanes). Hanya pengarang yang cukup punya energi yang berani menggunakan teks semacam ini. Penggunaan teks-teks lain ini terus-menerus berjalan sampai dengan akhir bukunya. Teks-teks ini diambil dari mana saja: dari Injil, pikiran para teolog, ilmu pengetahuan dari Yunani, dan sebagainya. Ada yang bisa langsung kita kenali dengan cepat dan ada yang tercium samar-samar saja. Ada yang ditulis dengan tanda kutip (" ... ") dan ada yang dipakai begitu saja. Karena pemakaian teks-teks ini begitu konstan dan masif, cara ini bisa menjadi salah satu teknik penyusunan sebuah novel.

Tentang teknik intertekstual ini Eco membahas dalam bukunya The Limit if Interpretation. Kegunaan dan risiko menggunakan teks-teks lain dikatakan oleh Eco demikian:

    "Persoalan intertekstual itu sendiri sudah dielaborasi dalam kerangka refleksi tentang seni 'tinggi'. Meskipun demikian, sejumlah contoh yang diberikan di atas [[Raiders o] the LostArk, Bananas, dan ET] diambil secara provokatif oleh dunia komunikasi massa untuk menunjukkan bagaimana bentuk-bentuk dialog intertekstual ini sampai sekarang sudah diterapkan dalam bidang produksi populer. Gejala ini merupakan ciri khas apa yang disebut sastra dan seni posmodern (bukankah hal itu sudah terjadi pada musik Stravinsky?) dengan mengutip menggunakan (kadang-kadang dengan berbagai bungkus stilistis) tanda kutip sehingga pembaca tidak memerhatikan isi kutipan melain kan cara di mana kutipan dari teks pertama dimasukkan ke dalam jalinan teks kedua. Renato Barilli [dalam 'Dalleggibile all'illeggibile', 1984] mengamati bahwa salah satu risiko prosedur ini adalah kegagalan memperjelas tanda kutip sehingga apa yang dikutip diterima oleh pembaca yang naif sebagai temuan orisinal dan bukannya sebagai riferensi ironik." [13]


Jadi, intertekstualitas lazim dipakai dalam seni atau sastra posmodern; mula-mula dipakai dalam seni tinggi namun kini sudah lumrah dipakai dalam budaya pop. Dalam seni semacam ini, teks lain dikutip bukan sebagai temuan melainkan sebagai referensi ironik. Kalau itu adalah fungsi intertckstual, seluruh Il nome adalah sebuah korpus tekstual ironik atas Abad Pertengahan dan secara khusus atas budaya abbazia. Bagi orang yang sudah terbiasa dengan tradisi Abad Pertengahan, kutipan ini memang bisa bersifat iro nik. Bagaimana dengan kita yang belum terbiasa dengan budaya tersebut? Bukankah itu adalah sebuah temuan orisinal? Bukankah suatu kutipan dalam novel tidakjauh dari buku ilmiah? Bagi orang Barat (Eropa pada khususnya), kutipan-kutipan yang diambil dalam Il nome sebagian besar sudah jelas asal-muasalnya, sudah terang kelompok-kelompok sosial yang memakai, sudah bisa dikenali fungsi penggunaannya. Bagi kita yang tidak terlalu akrab, fungsi ironik dari suatu kutipan barangkali tidak cepat tertangkap. Saya menduga latar belakang ini bisa menjadi salah satu penyebab lambatnya perjalanan teks.

Oleh karena itu, "Il pastille" (1982) yang disertakan dalam Il nome tiga tahun kemudian bisa amat membantu untuk memahami Il nome. Hanya saja kita harus hati-hati bahwa "Il pastille" bukanlah tafsiran resmi dari Il nome, "Il pastille" bukanlah signified dari signijier Il nome. Betapapun cerdas "Il pastille" membaca Il nome, dia tetap menjadi satu di antara bacaan-bacaan kita. Eco sadar betul dengan kedudukan "Il postille" itu dengan mengakui bahwa "seorang autore harus mati begitu menyelesaikan tulisannya" ("l'autore davrebbe marire dopo aver scritto").Jadi, "Il postille" bukanlah suara autore dari Il name melainkan suara salah satu pembaca. Meskipun demikian, "Il postille" bisa membantu kita untuk membaca Il nome karena "Il postille" bicara tentang kondisi-kondisi yang menghasilkan teks Il nome. Kondisi-kondisi ini bisa menjadi pertimbangan ekstratekstual untuk memahami teks Il name dan bukannya untuk mengganggu jalannya teks itu sendiri [14].

Catatan kedua sehubungan dengan intertekstualitas, kita bisa bertanya, pada level mana suatu teks dalam kisah menunjuk teks lainnya? Suatu teks bisa berinteraksi dengan teks lain bukan hanya kalau teks itu diberi tanda kutip. Dalam Il nome, kekuatan untuk menunjuk teks-teks lain juga muncul dari nama-entah orang, judul buku, nama tempat bahkan gaya. Nama-nama seperti Isidorus dari Sevilla, Thomas Aquinas, William of Ockham, dan sebagainya bukanlah sebuah nama-nama diri melainkan menghadirkan rangkaian teks panjang yang kadang-kadang dibahas Il nome dengan gaya argumentasi seperti para profesor silogisme di Universitas Paris, kemudian dengan gaya bahasa orang-orang kudus dengan penuh kesalehan, waktu lain dengan gaya Apokalips Yohanes. Jadi, ironi tidak hanya dengan jalan mengutip melainkan juga dengan menggunakan cara bicara (retorik) suatu kelompok masyarakat. Di sini Eco tidak mengutip kata-kata melainkan menirukan cara berbicara. Begitulah Il nome membicarakan Abad Pertengahan dani atau budaya abbazia, bicara tentang dirinya sendiri, daripada bicara tentang Abad Pertengahan. Di sini intertekstual dipilih sebagai tekniknya. Hasilnya: ironisasi.



3. Abduksi


    "Saya merasa sedih. Selama ini saya selalu yakin bahwa logika adalah senjata universal dan kini saya menyadari bagaimana ternyata validitasnya tergantung pada cara kita menggunakan logika tersebut. Dari sisi lain, dengan selalu hadir pada Guru saya, saya mulai menyadari dan terlebih pada hari-hari selanjutnya bahwa logika bisa sangat befaedah dengan syarat kita memasuki logika itu dan kemudian kita keluar lagi." [15]



Begitulah Adso mulai meragukan kekuatan mutlak logika. Logika yang dimaksud tidak lain adalah logika Aristotelian. Untuk menelusuri kasus-kasus kematian di biara, senjata logika Aristotelian ternyata tumpul. Orang hanya menemukan kasus-kasus kematian berupa mayat. Orang masih harus mencari penyebabnya. Sejauh itu, dilihat dari tempat ditemukannya mayat, orang mengira bahwa penyebab kematian adalah bunuh diri. Mengapa bunuh diri? Sampai seberapa banyak orang bunuh diri? Sebagai seorang mantan inkuisitor, sejak kedatangannya di biara itu 'William Baskerville berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya, menghubungkan satu dengan lainnya untuk mendapatkan titik terang bagi penyebab kematian Adelmo dati Otranto. Strategi yang dipakai William ini bisa disebut abduksi (abduction). Abduksi adalah cara penalaran yang dibedakan dari induksi dan deduksi. Dalam Il nome, deduksi ini dipakai oleh Adso yang sangat setia dengan silogisme Aristotelian, sedangkan induksi oleh Severinus. Di samping itu, ada cara-cara lain untuk memahami berbagai peristiwa seperti biblis (terutama dengan menggunakan "ramalan" dalam Kitab Apokalips Yohanes).

Perdebatan tentang pencarian penalaran yang paling tepat bisa kita lihat dalam dialog ini:


    "Saya benar-benar tidak mengerti," kata Severinus. "Dua orang mati, keduanya dengan jari-jari hitam. Apa yang bisa kamu deduksi [dedurre] darinya?"

    "Saya tidak mendeduksi apa-apa: nihil sequitar geminis ex particularibus unquam. Kedua kasus itu seharusnya dikembalikan lagi [ricondure] pada suatu hukum [regola]. Misalnya, terdapat bahan yang memberikan noda hitam pada jari orang yang menyentuhnya .... "

    Dengan penuh rasa kemenangan saya [Adso] melengkapi silogisme: "Venantius dan Berengar memiliki jari hitam, ergo mereka telah menyentuh bahan itu."

    "Bravo Adso," kata William. "Sayangnya bahwa silogismemu tidak valid karena aut semel aut iterum medium generaliter esto, dan bahan silogisme ini term tengah tidak pernah tampak sebagai universal. Tanda yang kita pilih dengan tidak tepat [adalah] premis mayor. Saya tidak harus mengatakan bahwa semua orang yang menyentuh bahan tertentu memilikijari-jari hitam. Saya harus mengatakan bahwa semua orang dan hanya semua orang yang mempunyaijari hitam pasti telah menyentuh suatu bahan yang ada. Venantius dan Berengar, dan sebagainya. Dengan apa kita punya Darii, silogisme ketiga yang sempurna dari figur silogistik pertamai?"
    [16]


Itulah perdebatan tentang silogisme yang membuat Adso merasa sedih karena selama ini dia terlalu percaya pada silogisme. Lewat William, dia diingatkan untuk tidak memutlakkan silogisme deduktif William memperkenalkan Abduksi di tengah-tengah orang yang tergila-gila pada Deduksi (seperti Adso) maupun Induksi (seperti Severinus). Lewat Abduksi, William ingin menemukan hukum umum (regola) atas dasar kasus-kasus yang ada. Dengan menemukan hukum dan kasus dia akan menarik hipotesis. Lewat hipotesis semacam inilah dia kemudian melakukan penyelidikan secara sistematis. Memang, seperti diperingatkan Severinus, ada bahaya orang akan cepat-cepat menyimpulkan. William sadar betul de¬ngan bahaya itu. Lewat metode abduksi itu dia hanya ingin tidak menutup berbagai hipotesis sekalipun hipotesis itu secara sepintas terkesan aneh. Abduksi hanya dimaksudkan untuk mencari tahu "sesuatu yang mungkin bisa terjadi" [17]. Abduksi berusaha menggabungkan antara metode deduksi dan induksi. Dari deduksi dipinjam silogismenya dan dari induksi dipinjam cara pengamatan empirismenya. Hasilnya adalah sebuah hipotesis.

Tentang abduksi (yang dipinjam Eco dari Peirce) dibahas Eco dalam The Theory of Semiotics maupun The Limit of Interpretation [18]. Dalam buku pertama, Eco membahas abduksi dalam konteks "Teori Kode" dan secara khusus dalam konteks "Overcoding in Uqbat" Eco meneliti Uqbar karya Borges. Lewat contoh-contoh yang sudah amat terkenal dan banyak dipakai, Eco membedakan deduksi, induksi, dan abduksi sebagai berikut :

    Deduksi: Semua kacang dari karung ini berwarna putih, Kacang ini berasal dari karung ini, Kacang ini berwarna putih.
    Induksi: Kacang ini berasal dari karung ini, Kacang ini berwarna putih, Semua kacang dari karung ini berwarna putih.
    Abduksi: Semua kacang dari karung ini berwarna putih, Kacang ini berwarna putih, Kacang ini berasal dari karung ini. [19]

Kita melihat bahwa di dalam Deduksi kita tahu aturan umum dan kasus, kemudian kita menarik kesimpulan secara deduktif, dan hasilnya adalah validitas logis. Dalam Induksi, kita mempunyai kasus dan akibat, kemudian kita mengasumsikan sebuah aturan umum, hasilnya adalah probabilitas. Dalam Abduksi, kita mempunyai aturan umum dan akibat kemudian kita menarik sebuah kasus, hasilnya adalah probabilitas [20]. Secara ringkas, Eco menjelaskan pentingnya Abduksi demikian:

    "Pada kenyataannya, karena kita tidak tahu berapa banyak percobaan yang diperlukan sebelum Induksi dapat dianggap sebagai Induksi yang baik, kita benar-benar tidak tahu apa itu Induksi yang valid. Apakah sepuluh percobaan cukup? Mengapa tidak sembilan? Atau delapan? Dan mengapa bukan malah satu?

    Pada titik ini, Induksi bergerak melampaui dan menciptakan ruang bagi Abduksi. Dengan Abduksi saya menemukan diri saya dikonfrontasikan dengan hasil yang aneh dan tak terduga. Dengan mengambil contoh kita, saya mempunyai satu kantong kacang di meja, dan di sampingnya, juga di atas meja, terdapat segenggam kacang putih. Saya tidak tahu bagaimana segenggam kacang itu bisa berada di sana atau siapa yang menaruh kacang itu di sana, atau bahkan dari mana kacang itu berasal. Anggap saja hasil ini merupakan kasus yang aneh. Sekarang saya perlu menemukan Hukum ....

    Pada titik ini saya menciptakan suatu conjecture: saya meneoretisasi suatu Hukum .... " [21]



Saya bicara tentang abduksi agak panjang karena metode ini memang sangat kental dalam seluruh Il nome. Metode abduksi bukan hanya dipakai oleh tokoh seperti William namun sudah menjadi landasan struktur Il nome [22]. Dengan membaca Il nome dari perspektif abduksi, kita sebenarnya langsung tahu alur cerita Jl nome. Eco bahkan menggunakan idiom-idiom teori abduksi secara verbatim. Langkah-langkahnya mulai kelihatan saat William bersama Severinus memeriksa lidah dan tangan para korban: semuanya berwarna hitam. Jadi, William menemukan "kasus": semua ujung-jari dan lidah para korban berwarna hitam (lalu mati). Untuk sampai ke sana, William minta informasi dari Severinus bahwa itu adalah benar-benar racun yang mematikan dan minta kepastian juga bahwa di biara itu ada atau pernah ada racun yang mematikan. Kemudian dia mencari "rule" umum yang bisa dipakai untuk menjelaskan kasus tersebut. Aturan ini ia dapatkan dari Severinus bahwa memang pernah ada racun mematikan yang dibawa dari seorang biarawan namun sekarang lenyap. Dari dua informasi dan ditambah dengan imajinasi kreatifnya, William kemudian menarik hipotesis atau melakukan "the irference of a case from a rule and a result" [23] : Hipotesis ini kurang lebih berbunyi demikian: Ada racun mematikan di biara, Orang-orang ini mati karena keracunan, Orang-orang ini mati karena keracunan tersebut. Hipotesis ini dijadikan dasar bagi penyelidikan selanjutnya. Sisa waktu yang ada digunakan untuk menjelaskan bagaimana racun itu ada di dalam perpustakaan. Hipotesis ini menjadi "misteri terletak di perpustakaan". Kisah-kisah lainnya hanyalah sophistication atau perumitan sehingga menjadi menarik. Dengan menyusun alur kisah melalui logika semacam ini, tidak mengherankan kalau novel ini menjadi novel "detektif" dalam arti sedalam-dalamnya. Teresa menyebut struktur Il nome "investigative and inferrial [abductive] structure" [24].

Jadi, logika abduksi bukan hanya menjadi pesan yang ingin disampaikan lewat Il nome namun juga menjadi struktur seluruh novel. Sebagai pesan, abduksi didampingkan dengan logika deduksi seperti dipraktikkan oleh para petugas
inkuisisi. Sebagai pesan abduksi juga dipersonifikasi oleh Adelmo seperti diakui sendiri oleh Maleakhi. Hal ini diakui sendiri oleh Maleakhi: "Adelmo dati Otranto, karena usianya yang masih muda, hanya bekerja pada marginalia. Dia memiliki imajinasi sangat hidup dan dari hal-hal yang mencolok dia mampu menyusun komposisi tentang hal-hal yang tidak diketahui dan menakjubkan seperti orang yang menyatukan tubuh manusia dengan leher kuda. Lihat buku-bukunya ada di bawah sana. Belum ada orang yang menyentuh mejanya" [25]. Marginalia adalah garis margo yang diberi ilustrasi untuk mengomentari isi buku dan dia diakui sebagai salah satu ilustrator paling berbakat ("miniatori piit valenti").

Jadi, di sini kita melihat dua macam
inkuisisi: inkuisisi sejati dan inkuisisi formal. Inkuisisi sejati adalah sebuah penelitian untuk mencari kebenaran. Inkuisisi formal, sebaliknya, tidak punya minat untuk memeriksa. Maunya hanya menghukum.



4. The Possible World: Labirin


    "Jiwa menjadi cerita hanya kalau mengontemplasikan kebenaran dan mencapai kenikmatan dalam kebaikan, kebenaran dan kebaikan tidak ditertawakan. Itulah sebabnya Kristus tidak pernah tertawa. Senyum merangsang keraguan.?" [26]



Hari kedua pengalaman Adso berada di Biara Melk membuatnya bertanya-tanya tentang dunia yang sedang ia jalani. Ia mulai menggugat ayahnya yang telah mengirimnya untuk menjadi seorang biarawan Fransiskan. Untung saja sebagai seorang monacello Adso memiliki seorang Guru yang penuh pengertian yang bisa membimbingnya untuk belajar dari situasi hidup yang sulit. Ia kadang-kadang malah diajak William untuk menertawakan apa yang sedang mereka jalani. Ia merenungkan hidupnya itu saat siesta:

    "Kemudian William menyuruhku untuk istirahat. Ketika berbaring saya menyimpulkan bahwa ayah saya seharusnya tidak usah mengirimkan saya ke dunia yang ternyata lebih rumit daripada yang saya pikirkan. Saya sedang belajar begitu banyak hal." Kemudian dia menutup dengan sebuah doa "Salva me ab ore leonis - Selamatkan saya dari mulut singa." [27]


Begitulah Adso berada dalam ambang putus asa. Dunia yang ia masuki ternyata tidak seindah dan setenteram yang ia pikirkan sebelumnya. Dalam Il nome tak ada ungkapan yang lebih tepat untuk melukiskan dunia semacam ini kecuali kata labyrinthus - labirin, dan tak ada gambaran yang lebih tepat tentang labirin kecuali perpustakaan yang berada dalam Aedificium. Adso dan William baru benar-benar merasakan labirin itu pada hari keempat khususnya pada malam hari, sesudah Komplina. Sebelumnya, mereka hanya mendengar ucapan kata labirin itu dari Alinardo dari Grottaferrata yang menyebut bahwa perpustakaan adalah labirin. Mendengar pengakuan ini William balik bertanya: "Perpustakaan adalah labirin?" Kemudian Alinardo menjawab:

    "Hunc mundum tipice labyrinthus denotat ilie. Intranti largus, redeunti sed nimis artus. Perpustakaan adalah sebuah labirin besar, tanda dari labirin dunia. Begitu kamu masuk, kamu tak tahu lagi apakah kamu bisa keluar atau tidak. Kamu tidak bisa melewati pilar-pilar Hercules .... " [28]


Ungkapan yang diucapkan Alinardo, seorang monaco senior ini, memang tepat untuk melukiskan "dunia yang lebih rumit daripada yang saya pikirkan". Hanya saja, Alinardo membiarkan labirin sebagai labirin, dia tidak ingin melangkahkan kakinya ke sana, dia mendengar peristiwa-peristiwa mengerikan dan wajah-wajah seram di sana namun dia tidak menelitinya. Adso sebaliknya, berkat tugas yang sedang dilakukan oleh William, mau tidak mau harus memasuki labirin itu. Mereka berdua tidak bisa menghindar seperti Alinardo dan para biarawan lainnya; lebih daripada itu, mereka harus bisa masuk dan keluar dengan membawa hasil dan bukannya seperti sejumlah biarawan yang bisa masuk namun berakhir dengan kematian. Jadi, mereka harus bisa masuk, bisa keluar lagi, dan membawa hasil.

Labirin sebagai metafor dunia secara khusus bisa kita kaitkan dengan dunia Abad Pertengahan yang sedang dikisahkan dalam Il nome. Dengan demikian, seluruh teks kisah Il nome sesungguhnya adalah sebuah strategi untuk memasuki dan keluar dari labirin dunia Abad Pertengahan. Bagaimana mundus labyrhintlzus Abad Pertengahan ditata dalam Il nome?

Tanda palingjelas yang kita temukan dalam Il nome adalah cara mengatur dan menghayati waktu. Tidak sulit bagi kita untuk menentukan makna simbolis struktur novel ini yang mengambil tujuh hari dengan jadwal ibadat harian. Tujuh hari adalah simbol sejarah dalam waktu dan Liturgia Horarum adalah Abad Pertengahan. Tujuh hari terakhir sebagaimana diceritakan dalam Il nome tidak lain adalah akhir dari Abad Pertengahan. Gereja yang telah ikut mengharumkan Abad Pertengahan sampai mencapai Renaisans abad ke-12 ikut menghancurkan apa yang telah dilahirkannya sendiri. Saya merasa sah menafsirkan gejala-gejala Abad Pertengahan dengan cara yang kurang lebih demikian. Jadi, novel ini adalah sebuah novel tentang Abad Pertengahan. Eco tidak hanya menafsirkan Abad Pertengahan secara semiotik namun juga minta supaya hasil laporan tafsirannya dibaca secara semiotik pula atau-paling tidak-ada dalam posisi untuk ditafsirkan demikian.

Akan tetapi, tujuh hari dengan pembagian waktu menurut Liturgia Horarum terjadi tidak mulus. Sebagaimana Aedificium yang dari luar tampak megah dan gagah, kehidupan ibadat yang ditata lewat Liuagia Horarum punya arti lain bagi para penghuninya.

Dunia hierarkis Abad Pertengahan didukung dengan logika Aristotelian. Sebagai labirin, ada wilayah yang tidak boleh dimasuki. Ada wilayah yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu. Perpustakaan sebagai labirin berada dalam kekuasaan Abo, seorang Abbas. Barangsiapa membutuhkan sesuatu dari dalam dunia labirin, dia harus menyebutkan barangnya, petugas akan menentukan boleh dan tidaknya. Tidak semua orang boleh masuk ke dalam perpustakaan karena di sana ada buku-buku yang mematikan. Mengapa mematikan? Menurut William, wajah mematikan itu bisa dibaca dalam wajahjorge. Ketika ditanya "Wajah siapa", William dengan tegas mengatakan, "Jorge, dico - Aku bilang: Jorge." Kemudian dia meneruskan alasannya:

    "Dalam wajahnya yang dihancurkan oleh kebenciannya atas filsafat, saya menyaksikan untuk pertama kalinya gambar Antikristus, yang tidak datang dari suku Yudas seperti dimaui oleh para pewarta, juga bukan dari tanah seberang yang jauh. Antikristus bisa lahir dari kesalehan itu sendiri (stessa pieta), cinta yang berlebihan pada Allah atau kebenaran, seperti halnya seorang bidah lahir dari orang suci dan orang kesurupan dari orang yang melihat vision. Takutlah, Adso, pada para nabi dan mereka yang bersedia mati demi kebenaran, yang biasanya mereka mengajak banyak orang mati bersama mereka, sering kali sebelum mereka, kadang-kadang demi mereka. Jorge telah menyelesaikan sebuah karya iblis (opera diabolica) karena dengan cara licik dia mencintai kebenarannya sehingga dia tidak takut apa-apa untuk menghancurkan kepalsuan. Jorge takut atas buku kedua Aristoteles [Poesia] karena buku itu barangkali benar-benar mengajarkan untuk mendeformasi wajah setiap kebenaran supaya kita tidak menjadi budak fantasma kita. Barangkali tugas mereka yang mencintai manusia adalah membuat kebenaran tertawa, membuat kebenaran tertawa, karena satu-satunya cara menuju kebenaran adalah belajar membebaskan diri kita dari nafsu tidak sehat akan kebenaran." [29]



Mundus labyrinthus - dunia labirin - muncul karena ketakutan. Logika Aristotelian menjadi fondasi untuk membangun sebuah labirin karena salah pakai. Logika Aristotelian menghasilkan cara berpikir yang valid namun tidak pernah bisa bicara banyak tentang kasus-kasus empiris yang terjadi. Gaya labirin adalah gaya yang mengandalkan hukum umum. Sementara hukum umum ini ditentukan oleh yang berkuasa untuk kepentingan lain. Ada banyak cara untuk mempertahankan dunia semacam ini termasuk lembaga inkuisisi, penguasaan para teolog, baik oleh Raja maupun Paus.

Bersamaan dengan gambaran tentang dunia labirin tersebut, kita melihat dunia lain, possible world, yang diimajinasikan dalam Il nome. Dunia yang dimaksud adalah dunia penuh tawa. Tertawa adalah bagian dari cara orang melihat kebenaran, melihat dunia. Tertawa adalah cara orang melihat kebenaran supaya tidak rnenjadi dogma. Tertawajuga menjungkirbalikkan apa yang sudah ada. Dunia yang dilukiskan oleh Adelmo dalam marginalia adalah "dunia lain". Dalam Il nome, dunia semacam ini dicita-citakan dan dirintis oleh orang-orang abduksionis (kalau saya bisa menggunakan istilah ini) seperti William, Adso, dan Adelmo.

Terlepas dari itu semua, dunia lain yang coba diangkat oleh Il nome adalah dunia yang mencoba mendudukkan kembali pembagian dunia keilmuan. Persoalan ini sedikit banyak juga membekas dalam cara biara itu mengurus perpustakaan. Dalam Abad Pertengahan, puncak dari hierarki ilmu diduduki oleh hukum dan teologi. Tidak mengherankan bahwa dalam sistem universitas pada Abad Pertengahan-misalnya di Universitas Bologna dan Universitas Paris-hanya orang yang sudah menyelesaikan hukum atau teologi yang berhak menyandang gelar doktor. Kedua ilmu ini sering disebut ratu segala ilmu. Sedangkan ilmu-ilmu lainnya yang dikenal dengan ar/es liberales menduduki posisi di bawahnya, sebagai ilmu-ilmu bantu. Sudah sejak abad ke-12 di Paris ada persaingan antara para pendukung artes liberales dan para pengelola universitas yang ingin tetap mempertahankan ideologi sebagai puncak ilmu [30]. Dalam Il name, sebagaimana kita temukan dalam Biara Melk, kita masih menyaksikan sisa-sisa persaingan ini

Apakah Melk merupakan simbol benteng biara terakhir bagi artes liberales? Rupanya begitu. Paling tidak, di sana kita menyaksikan nasib buku-buku artes liberales yang coba disembunyikan dari mata-mata pikiran yang terus mencari ilmu dari mana saja asalnya. Dari sisi lain, kita menyaksikan kekuatan ratu segala ilmu yang sudah terlembagakan dalam tata tertib (Regula) dalam biara itu. Eco memasukkan tradisi keilmuan lainnya, terutama dari para pemikir di Oxford. Sejumlah penafsir bahkan berpendapat (dan pendapat ini memang sangat beralasan) bahwa William Baskerville dalam Il nome tidak lain adalah personifikasi semangat keilmuan William of Ockham, yaitu "filsuf empiris, politisi Fransiskan yang mengajar di Oxford dan yang, setelah dipanggil ke Avignon oleh Yohanes XXII dengan tuduhan bidah, berusaha mencari perlindungan di istana Louis Bavarian dan menjadi pendukungnya" [31]. William of Ockham mengajar di Oxford dari tahun 1318 sampai 1324 dan dikenal sebagai seorang Nominalis [32]. Ilmuwan lainnya yang mendapat tempat istimewa dalam tulisan ini adalah Roger Bacon (1214-1294), juga seorang biarawan Fransiskan, yang banyak melakukan penelitian eksperimental berkat bacaannya atas karya-karya ilmiah yang tertulis dalam bahasa Arab [33]. Bacon juga mengajar di Oxford dari tahun 1240 sampai 1247 [34]. Seperti diketahui, dalam sejarah universitas, Bologna menjadi pusat kajian hukum, Universitas Paris menjadi pusat kajian Teologi, dan Oxford menjadi pusat kajian ilmu-ilmu empiris. Dalam Il nome, Biara Melk diimajinasikan sebagai focal point yang mempertemukan berbagai tradisi keilmuan ini dan dibumbui dengan kepentingan politik serta semangat keagamaan yang menyertainya. Dengan demikian, Il name bisa berfungsi sebagai cermin yang sedang mendeformalisasikan gambaran tentang dunia Abad Pertengahan selama ini, yaitu dunia yang ditata sesuai dengan Aristotelianisme yang sudah dikristenkan.



Yogyakarta,
Menjelang 'Id al-Fitr 1424,
Menjelang Natal 2003



* Dr. St Sunardi, Cendikiawan Katholik, dari Magister Religi dan Ilmu Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Catatan :


[1] Untuk menyiapkan tulisan ini saya membaca baik Il nome della rosa In Appendice Postille A "Il name delta rosa" (XXIII Ed., Millano: Bompiani) maupun The Name of the Rose (diterjemahkan oleh William Weaver, San Diego: A Harvest Book, 1994). Referensi yang saya pakai dalam tulisan ini diambil dari versi Italia.

[2] Donald Attwater (1983), Dictionary as Saints, Edisi Kedua, Penguin Books, 135.

[3] Teresa de Lauretis, "Gaudy Rose: Eco and Narcissism" dalam Rocco Capozzi (1997), Reading Eco: An Anthology, Indiana University Press, 254.

[4] Bdk. Teresa de Lauretis, op.cit., 243. Tentang bentuk novel ini, David H. Richter mengatakan: "There is a peculiar tension all through The Name of the Rose between creation and parody, betuieen apparently sincere imitation of the topoi of the classic mystery novel and the carniualization qf its forms. This tension exploded in the denouement. It requires a backward glance, though, at the standard ending of the detective story and the way its postmodern revisionirts have turned it inside out." David H. Richter "The Mirrored Hlorld" dalam Roeco Capozzi (1997), op.cit., 270.

[5] Il nome della rosa, 508.

[6] Il nome della rosa, 503

[7] Il nome della rosa, 11.

[8] Thomas Bokenkotter (1977), A Concise History qf the Catholic Church, Edisi Revisi, Image Books, 189-192.

[9] Il nome della rosa, 30.

[10] Il nome della rosa, 78.

[11] Il nome della rosa, 448.

[12] Il nome della rosa, 470.

[13] Umberto Eco, The Limits of Interpretation, 94. Cetak Miring dari saya.

[14] Il nome della rosa, 509.

[15] Il nome della rosa, IV (Lauda), 265.

[16] Umberto Eco, The Limits of Inierpretation, 133-134 (?).

[17] Il nome della rosa Umberto Eco, The Limits qf Interpretation, 262.

[18] Umberto Eco (1979), A Theory tf Semiotics, Bloornington: Indiana University Press, (Judul Asli: Trattato di Semiotica Generale, Milano: Bompiani, 1975); The Limus of Interpretation, Indiana University Press, Bloomington-Indianapolis, 1979.

[19] Umberto Eco, A Theory of Semiotics, 131.

[20] Ibid., 131.

[21] Umberto Eco, The Limits of Interpretation, 94.

[22] Teresa de Lauretis, op.cit., 243.

[23] Umberto Eco, The Limits of Interpretation, 131.

[24] Teresa de Lauretis, op.cit., 243.

[25] Il nome della rosa, 84.

[26] Il nome della rosa, 139.

[27] Il nome della rosa, 160.

[28] Il nome della rosa, 163.

[29] Il nome della rosa, 494.

[30] Lihat Friedrich Heer (1961), The Medieval World. Europe 1100- 1350, tr. Janet Sondheimer, Cleveland and N.Y: The World Publishing Company, 201.

[31] Teresa de Lauretis, op.cit., 244. Tentang kedudukan William of Ockham dalam abad Pertengahan yang didominasi Aristotelian, dalam sejarah gereja dikatakan demikian: "William of Ockham broke decisively with bath schools and shattered the already shaky structure qf Christian Anstotelianism. He denied the very existence of a mental process qf abstraction and excluded all knowledge of the extramental world except the intuitive knowledge qf individual things. Universals or essences for Ockham, were purely intramental phenomena, mental artifacts," Pendapatnya ini mempunyai dampak luar biasa pada pemikiran teologis pada Abad Pertengahan: "The effects were devastating indeed: metaphysics were rendered practically impossible, while theology, deprived of its metapliysicalfoundations, became increasingly a mere arid conirouersy over worlds; Ockham taught that God decrees,for instance, were not in evident correspondence with the nature of things (which he held we also could not know) and therffore could only be understood as arbitrary. God might just as well have commanded us to do the opposite; he could have commanded us to hate him abooe all things." Thomas Bokenkotter (1977), op.cit., 179. Bdk. Sheridan pilley dan WJ. Sheiis, ed. (1994), A History of Religion in Britain. Practice and Belie] .from Pre-Roman Times to the Present, Blackwell, 63.
[32] Friederich Heer (1961), op.cit., 213.

[33] Chase, Perry, et.al. (1985), Western Civilization. Ideas, Politics & Society. Second Ed. Boston: Houghton Mimin Company, 239; Thomas Bokenkotter, op.cit., 171.

[34] Friederich Heer (1961), op.cit., 213.


Image


Silahkan baca terjemahan Indonesia :
Judul: The Name of The Rose
Penulis: Umberto Eco
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Pengantar: St. Sunardi
Cetakan Pertama 2003
Penerbit : Bentang Budaya Yogyakarta
Distributor : Mizan Media Utama
Tebal: xxxiv + 709 halaman
ISBN : 978-979-1227-00-1
















--- satu-satunya cara menuju kebenaran adalah belajar membebaskan diri kita dari nafsu tidak sehat akan kebenaran ---
Last Updated on Thursday, 08 May 2008 15:41  

Comments  

 
0 #2 krisianto 2008-06-25 06:25
Mohon maaf ada ada beberapa kesalahan waktu, pd ibadat dirawasenang, pertama 03:30 Pagi(2)06:00 Siang pertama (3) 08:00 Siang ke-2 (4) 12:00 Sore(5) 14:30 Ekaristi(6) 17:30 dan terakhir(7) 19:30, dengan info ini saya berharap temen2 memahami dengan benar...
GBU.... Amin
Quote
 
 
0 #1 krisianto 2008-06-25 06:25
Mohon maaf ada ada beberapa kesalahan waktu, pd ibadat dirawasenang, pertama 03:30 Pagi(2)06:00 Siang pertama (3) 08:00 Siang ke-2 (4) 12:00 Sore(5) 14:30 Ekaristi(6) 17:30 dan terakhir(7) 19:30, dengan info ini saya berharap temen2 memahami dengan benar...
GBU.... Amin
Quote