SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Info buku GEREJA DUIT - gereja allah

GEREJA DUIT - gereja allah

E-mail Print PDF
User Rating: / 25
PoorBest 
ImageKata Pembuka


Buku ini tidak bertujuan untuk menyudutkan, melecehkan, ataupun mendeskreditkan gereja maupun aliran kristiani tertentu, melainkan ingin mengajak para pembaca untuk turut merenungkan lebih dalam lagi, gereja mana yang lebih sesuai untuk pertumbuhan rohani Anda.

Tidak bisa disangkal lagi, dewasa ini gereja tumbuh subur seperti jamur di musim penghujan. Setiap minggu ada saja gereja yang dibuka atau dibangun, entah di hotel berbintang lima atau di perumahan. Gereja didirikan seperti kios-kios di shopping mall yang berlomba-lomba mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya demi memenuhi "target penjualan".

Berbagai metode dan cara diterapkan sebagai usaha gereja untuk saling menggaet domba-domba dari gereja-gereja yang sudah berdiri sebelumnya. Dengan begitu banyaknya tawaran yang menarik dan iming-iming yang membuai hati itu, apakah

Anda sebagai umat tidak goyah dan tergoda untuk pindah gereja atau masuk ke gereja yang baru tersebut?

Pindah gereja saat ini sama seperti ganti baju, karena prosesnya yang begitu mudah dan cepat. Bahkan acap kali tanpa melalui proses perenungan secara mendalam dan saksama, "Apakah pindah gereja itu berfaedah bagi pertumbuhan rohani saya? Apakah yang ditawarkan oleh gereja baru itu sesuatu yang benar-benar baru? Ataukah sebenamya sama saja seperti yang sudah didapatkan sekarang ini, hanya berbeda bungkus dan verpackingnya?

Ajaran Tuhan Yesus maupun Alkitab-Nya sudah lebih dari dua ribu tahun usianya, dan tidak pemah mengalami proses kadaluarsa, tetap abadi sepanjang zaman. Karena itu, cobalah renungkan dan tanyalah pada diri sendiri, adakah sesuatu yang baru yang bisa diajarkan atau ditambahkan pada gereja-gereja baru sekarang ini?

Sukar sekali bagi kita orang awam untuk mengetahui dan membedakan gereja mana yang benar dan gereja mana yang sesat; gereja mana yang benarbenar bisa membawa kita lebih dekat kepada Allah dan gereja mana yang bisa menyesatkan kita dengan berbagai macam dokrin palsu, di mana Allah hanya menempati posisi sebagai Wakil Presiden, sementara yang menjadi Presiden adalah mamon alias berhala.

Anda bisa saja mempunyai tujuan yang tulus, bersih, dan benar-benar murni ingin mencari Allah dan lebih mendekatkan diri kepada Yesus, tetapi percayalah bila Anda salah pilih gereja, hal sebaliknyalah yang akan terjadi.

Renungkanlah, bila gembalanya sesat, otomatis domba-dombanya pun akan turut menjadi sesat. Sebagai contoh, kasus yang belum lama ini terjadi di Bandung, di mana banyak dombanya dimanfaatkan dan disesatkan oleh gembalanya. Saya yakin dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan umatnya, karena mereka adalah orang awam yang tidak mempunyai pendidikan atau latar belakang "teologi", sehingga akhimya di "tolol-egi" oleh gembalanya sendiri.

Oleh sebab itu, sebelum hal ini terjadi, pilihlah gereja yang benar dan yang baik sehingga di gereja tersebut Anda bisa bertumbuh secara rohani, semakin dibentuk menjadi bejana nan indah, semakin serupa dengan Yesus.

Anda mungkin bertanya, bagaimana saya sebagai orang awam harus memilih gereja yang tepat, yang sesuai, dan yang mendukung pertumbuhan kerohanian saya di antara sekian banyak pilihan yang menjanjikan tersebut?

Buku ini akan menjawab pertanyaan Anda.

Saya harapkan buku ini dapat dijadikan pemandu untuk memilih gereja yang benar dan tepat, serta mendukung pertumbuhan rohani Anda, karena itulah tujuan utama dari penulisan buku ini. Dengan menjadi jemaat di gereja yang benar, yang sesuai dengan pilihan Anda, maka semakin besar pulalah kasih maupun sukacita Anda saat datang ke hadirat Tuhan di gereja tersebut.


Alphen aan den Rijn, November 2003
Robert T.S. Nio alias Mang Ucup





1. Buat Apa ke Gereja?

ImageMayoritas penduduk di Eropa adalah orang kristiani. Walaupun demikian, berdasarkan jajak pendapat yang pernah dilakukan di Jerman, hanya satu dari sepuluh orang yang pergi ke gereja. Lebih dari 90% umat kristiani di sana tidak mau ke gereja lagi, sebab mereka tidak merasa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari gereja.

Seorang filsuf ateis, Freidrich Nietzche, pernah ditanya mengapa ia mempunyai pandangan yang sangat negatif terhadap umat kristiani. Ia menjawab, "Saya akan bisa percaya kepada Tuhan bila mereka yang mengaku Kristen, sedikitnya lebih terlihat kelakuannya sebagai orang Kristen."

CS. Lewis, seorang penulis kristiani yang terkenal, pernah menulis bahwa gereja bagi dia bukanlah sarana penolong yang bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan sebaliknya menjadi "penghambat"!

Gereja adalah tempat kita bisa pamer, entah pamer pakaian, mobil, status, harta, atau bakat. Gereja juga secara tidak langsung telah menjadi bursa untuk bertukar gosip. Di samping itu harus diakui bahwa melalui gereja kita bisa dengan mudah mendapatkan jodoh. Atau setidaknya akan dilihat oleh tetangga sekampung bahwa kita ini orang saleh, yang setiap minggu taat ke gereja.

Oleh karena itu, daripada menambah dosa, lebih baik diam di rumah. Sebab apa yang bisa kita dapatkan di gereja, bisa kita dapatkan juga di rumah. Ingin ikut kebaktian mulai dari bahasa Inggris sampai bahasa Indonesia, semuanya lengkap di tayangan TV. Berdoa dan membaca Alkitab bisa kita lakukan di rumah. Jadi, tidak harus ke gereja. Ingin mendengarkan khotbah tinggal beli kasetnya, ingin memuji Tuhan tinggal beli VCD karaoke lagu-lagu rohani. Lengkaplah sudah. Apa yang kita lakukan di gereja bisa kita lakukan juga di rumah. Lebih dari itu, bukankah Tuhan berada di mana-mana? Atau, Tuhan hanya bisa ditemui di gereja?


Apa sebenarnya yang kita dapatkan di gereja?

Kita pergi ke gereja bukannya ingin melihat kepalsuan, dan kita juga tidak ingin dibelenggu mati oleh bermacam-macam doktrin. Di samping itu, kita juga tidak butuh hiburan yang disajikan oleh gereja. Dan, tanyalah pada diri sendiri, "Apakah nasib Anda menjadi lebih baik setelah mengunjungi gereja selama bertahun-tahun?"

Apakah pergi ke gereja merupakan satu persyaratan mutlak untuk bisa masuk surga? Apakah gereja itu benar-benar satu kebutuhan mutlak bagi orang kristiani yang sudah percaya? Dan, tanyalah dengan jujur sudah berapa kali kita mendengar bahwa banyak orang merasa dikecewakan oleh gereja atau mendapatkan pengalaman pahit di gereja, sehingga mereka tidak mau lagi menginjakkan kaki di gereja.

Oleh karena itu, sebelum kita ke gereja pada hari Minggu yang akan datang, renungkanlah dahulu: "Apa sebenarnya yang bisa Anda dapatkan dari gereja selain (memberi) upeti sebanyak persepuluhan yang wajib dibayarkan?!"

Kalau Anda tidak bisa menjawab pertanyaan di atas, lebih baik Anda memanfaatkan waktu untuk bermain golf atau jalan-jalan ke Puncak-daripada ke gereja!





2. Gereja Bodor

ImageInjil == Kabar Baik, dalam bahasa Yunaninya adalah euanggelion, bukanlah suatu kabar seperti kesaksian yang manis-manis dan bisa membuat orang terharu. Bukan pula yang lucu-lucu agar jemaat bisa tertawa. Melainkan berita di mana orang diajak untuk bertobat. Itulah misi utama dari Injil!

Tujuan Injil bukannya untuk menghibur seperti bioskop atau Srimulat, melainkan agar orang yang mendengarnya mau merenung dan menyadari kesalahannya. Hal seperti ini bisa mengusik ketenangan pendengarnya, bahkan bisa membuat orang menjadi marah, karena ada yang berani membeberkan kebobrokannya. Beda dengan injil (sheker) yang hanya memberikan janji berupa kesuksesan materi maupun daging!

Khotbah-khotbah sekarang banyak dibumbui berbagai macam lelucon, dan lebih banyak menjurus ke hal-hal yang bersifat irendi, tetapi sebenernya harmless, seperti taichi, pokemon, Inul, dan sebagainya. Dan khotbah-khotbah tersebut lebih menjurus kepada "self-warship", sehingga akhirnya kehilangan daya gigitnya-karena khotbah-khotbah tersebut tidak kritis dan tidak gegap gempita lagi.

Khotbah-khotbah sekarang lebih menitikberatkan tentang berkat-berkat duniawi seperti orang-orang yang berseru-seru, "Damai sejahtera, damai sejahtera, padahal tidak ada damai sejahtera" (Yeremia 6:14; 8:11; Yehezkiel 13:10). Maklum, khotbah-khotbah tersebut lebih ditujukan untuk membahagiakan para jemaatnya yang notabene "domba perahannya", agar tetap rajin memberikan persepuluhan. Apalagi harus diakui bahwa zaman sekarang sudah mirip dengan zaman koboi Djon Wain nyolong domba sudah menjadi kebiasaan.

Bertanyalah kepada Pak Pendeta atau Romo, apakah mereka tidak sewot bila dombanya dicolong dan digaet untuk masuk ke kandang (baca: gereja) lain? Kalau gereja itu sama-sama rumah Allah, kenapa kita harus sewot? Bukankah ia hanya pindah dari rumah Allah yang satu ke rumah Allah yang lain?

Ah, masa sih Mang Ucup begitu telmi sehingga kagak tahu bahwa yang menjadi persoalan bukan masalah jiwa yang harus diselamatkan, melainkan menyangkut masalah DU-DU. Jumlah jemaat (baca: customers) yang hadir menentukan berapa banyak uang kolekte maupun perpuluhan yang masuk.

Begitu juga power atau kehebatan dari satu gereja atau seorang pendeta diukur berdasarkan jumlah yang hadir. Mirip pemberian bintang untuk hotel. Begitu ....

Gereja itu ada kelasnya juga, la. Gereja kelas warteg pengunjungnya di bawah 30 orang, kelas restoran pengunjungnya ratusan, kelas hotel berbintang pengunjungnya mulai ribuan, dan world class ala McDonald adalah gereja yang sudah punya franchise di mana-mana, bahkan di manca negara!

Bintang satu untuk pendeta/romo kelas warteg, bintang dua untuk pendet.a/romo kelas restoran, bintang tiga untuk pendeta/romo kelas hotel berbintang, dan bintang empat untuk pendeta/romo yang sudah khotbah di mancanegara! Dan yang mendapatkan bintang lima adalah para pendeta/ romo yang sudah memiliki kesaktian-bisa khotbah di neraka atau mampu mengkhotbahi para arwah! Ini bukan joke, benaran ada la! Nah, Anda bisa menilai sendiri bintang mana yang layak dan cocok untuk disematkan di toga pendeta/romo Anda.

Mang Ucup usul, bagaimana kalau untuk pendeta/romo tiap tahunnya juga diadakan pemilihan seperti pendeta/romo terbaik yang layak mendapatkan hadiah Oscar atau Piala Citra dari Jamu cap Jago! Siapa yang akan Anda usulkan sebagai pemenangnya di tahun 2004?

Harus diakui bahwa sudah banyak pendeta yang mempraktikkan khotbah saling menjelekkan aliran satu dengan aliran lainnya. Walaupun sama-sama rumah Tuhan, mereka menganggap rekannya itu saingan berat! Jadi, tidaklah salah kalau saya menilai bahwa rumah Tuhan pada masa kini sudah menjadi ajang bisnis, di mana terjadi persaingan berat antara satu dengan yang lain, sehingga segala macam cara pun dihalalkan. Kalau perlu bakar tuh gereja saingan!

Walaupun Mang Ucup bukan seorang penginjil, kenyataannya belakangan ini sudah banyak pentungan dan fatwa mati yang dikirimkan kepada Ucup bin Landa, sama seperti Nabi Yeremia, karena ia berani membeberkan dan berani menelanjangi "sheker"-kabar dusta yang dibungkus kesalehan. Yeremia berani memerangi "firman bodong dan para nabi palsu" (Yeremia 23:31-40). Untuk itu Yeremia telah difatwa mati!

Yeremia telah membuat kesalahan besar di mata para nabi palsu dan para pemuka agama, karena ia berani menghujat rumah Tuhan yang dianggap sebagai penghujatan terhadap Tuhan itu sendiri. Bukankah rumah Tuhan merupakan sesuatu yang suci? Yeremia telah menggoncangkan ketenangan para nabi palsu maupun para pemuka agama. Hal yang sama dilakukan oleh Yerry Lewis bin Ucup yang telah mengguncang perasaan dan ketenangan para Pe-Kun maupun Ma-Kun! Jadi, wajarlah kalau si Ucup juga harus modyaaaar!

Mikha yang sezaman dengan Yesaya juga telah bernubuat tentang kehancuran Bait Allah. Begitu juga dengan Uria, seorang nabi lain yang menentang teologi kemakmuran seperti Yeremia, ia sengaja diculik dari Mesir, dan akhirnya dihukum pancung (Yeremia 26:20-23).

Tuhan Yesus juga menentang sheker. Dia membeberkan kepalsuan dan kemunafikan para pemimpin agama pada masa itu-sama seperti para pemimpin agama masa kini-yang hanya tertarik pada DU-DU, alias DUit dan keDUdukan (money and power). Orang Farisi zaman baheula juga sama, selalu ingin disanjung dan dielu-elu oleh jemaatnya. Mereka sama korupnya seperti beberapa pembimbing agama masa kini.

Bahkan Tuhan Yesus berfirman seperti yang diucapkan oleh Yeremia: "Bukankah ada tertulis: "Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!" (Markus 11:17; Yeremia 7:11). Ucapan ini telah membuat para imam (baca: pendeta/romo) dan para ahli Taurat (baca: teolog), menjadi merah muka maupun kupingnya, sehingga mereka pun menfatwa mati Yesus (Markus 11:18).

Jadi, jangan coba-coba berani menghina gereja atau pendeta atau romo, bisa-bisa dipantek seperti Yesus. Atau, dirajam seperti Stefanus.





3. Gereja Bergengsi

ImageMemang benar gereja penuh dengan domba. Maklum, binatang lain seperti ular dan buaya dilarang masuk. Dan, harus diakui bahwa para domba ini digembalakan oleh seorang yang menamakan diri gembala. Walaupun demikian, jangan sekali-kali Anda menilai bahwa gereja tersebut adalah gereja "Kelas Kambing", sebab ini merupakan suatu penghinaan.

Tetapi paling lambat pada akhir zaman, akan terbukti apakah gereja Anda gereja kelas kambing atau gereja berbintang, seperti yang tercantum dalam Matius 7:22,23:

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Tetapi pada saat itu, nasi sudah jadi kerak, karena sudah tak ada kesempatan lagi bagi Anda untuk memutar balik waktu. Oleh karena itu, pilih¬lah mulai sekarang gereja yang bermutu sebelum terlambat. Jadi, bukan sekadar gereja Nano-Nano yang asal RAME!

Namun, bagaimana caranya memilih gereja yang bermutu? Bacalah buku pemandu gereja "Mang Ucup Church Guide"!

Tiap gereja selalu mengakui bahwa gerejanyalah yang "The Best" dan yang paling bermutu-tetapi itu menurut penilaian jemaat, pendeta, atau romonya sendiri. Jadi, penilaian ini sebenamya tidaklah solid dan tidak bisa dijamin keabsahannya. Oleh karena itu, Mang Ucup berhasrat menerbitkan buku seperti "Michelin Red Hotel Guide" atau "Buku Pemandu Hotel Berbintang", tetapi ini khusus "Buku Pemandu untuk Gereja", agar sebelum orang berjemaat di satu gereja, bisa mengetahui terlebih dahulu apakah gereja itu bermutu atau tidak.

Para inspektur atau penguji dari Michelin memberikan nilai berupa bintang untuk hotel-hotel dan restoran-restoran yang mereka kunjungi; dari bintang satu sampai bintang lima, tergantung kelasnya. Karena gereja bukanlah hotel, maka penilaiannya bukan dalam bentuk "Bintang", melainkan "Salib". Jadi, kalau kita memilih hotel, tentunya hotel yang ber-"Bintang", sedangkan untuk memilih gereja Anda harus memilih gereja yang ber-"Salib".

Tingkatannya akan dimulai dari kelas Salib Kayu, Salib Perungu, Salib Perak, Salib Emas sampai Salib Platina. Sedangkan kelas Salib Diamond hanya bisa diberikan kepada Vatikan.

Untuk memudahkan penilaian mutu, akan diberlakukan sistem ISO 9001. Jadi, yang akan dinilai adalah: Jaminan mutu, sasaran mutu, tujuan mutu, dan pelaksanaan mutu.

Moso untuk kondom azah udah ada Specijication and Guidelines for Condom Procurement dan sudah pakai sertifikat jaminan mutu standar ISO 9001, sedangkan untuk gereja belum ada!

Di samping itu, bagi mereka yang toleransinya besar terhadap agama lain di sekitarnya, akan diberikan sertifikat ISO 14001, atau pernyataan bebas dari limbah kotor dosa.

ISa untuk gereja nomornya beda dengan ISO untuk bisnis! Sertifikat ISO tertinggi yang bisa diraih oleh gereja ialah ISO 999. Oleh sebab itulah, dengan ini Mang Ucup Cs. menawarkan jasa untuk mendampingi gereja Anda sampai memperoleh sertifikat ISO 999, sebagai bukti komitmen Anda terhadap mutu surgawi.

Dengan memiliki ISO 999, berarti gereja Anda juga telah mencapai sistem manajemen dengan mutu standar "Surgawi". Dengan adanya jaminan mutu tersebut, berarti jemaat gereja Anda pasti akan bisa diterima di Surga Indah tanpa harus di-screening lagi. Apakah ini bukan tawaran yang menggiurkan?

Bagi yang membutuhkan jasa kami, silakan daftar sekarang. Pada bulan promosi ini, kami masih bisa memberikan diskon 25%. Tetapi pada saat high season, harga akan dinaikkan 10%. Tarif yang kami pasang hanya US$ 10,000, kurang lebih sama dengan hasil perpuluhan atau kolekte yang bisa diraih oleh gereja per minggu.

ImageApakah tidak keren bila gereja Anda memiliki kelas sebagai gereja ber-"Salib Emas" atau "Salib Platina", dan bisa dinilai sebagai gereja berbintang, eh maksud saya ber-"Salib", beda dengan gereja-gereja lain yang masih bertaraf kelas hotel, atau gereja "melati", atau kelas kambing. Dan pada saat penerimaan sertifikat ISa 999/ bisa dipasangkan iklan berwama satu halaman penuh sebagai gereja pertama yang memiliki sertifikat ISO 666/ eh... maksud saya ISO 999.

Walaupun demikian, Anda sebagai pendeta tidak perlu khawatir, sebab keuangan hasil persepuluhan maupun kolekte dijamin "TIDAK AKAN" diaudit, sebab itu urusan pribadi Anda dengan Tuhan. Jadi, hanya Yesus yang berhak mengauditnya. Hanya, ada satu syarat penting yang harus dipenuhi oleh Pak Pendeta dan para penatua gereja: Mulai sekarang setiap harinya harus makan ISO-babat dari Semarang. Amin ....


 



4. Gereja itu Penjara

ImageSaya dahulu menyangka bahwa umat kristiani itu semuanya sama. Kita mempercayai Allah yang sama, mempelajari Alkitab yang sama, juga memiliki gereja yang sama. Semua umat kristiani berpadu menjadi satu. Jadi, satu pikiran yang luas dan bebas.

Pada awalnya memang gereja merupakan institusi pertama dalam sejarah dunia/tempat orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi, laki-laki, perempuan/ kaya atau miskin bisa berkumpul menjadi satu. Bahkan orang-orang Yunani yang pada umumnya selalu memisahkan para budak dari kelompok sosial mereka, telah bersedia merangkul mereka untuk berkumpul menjadi satu di dalam gereja. Jadi orang kristiani mula-mulalah yang mampu meruntuhkan segala macam tembok penghalang itu.

Tetapi pada abad ini kalau kita ke gereja, hal sebaliknya yang terjadi. Kita harus siap menerima kenyataan di mana kebebasan berpikir dibelenggu, dipenjarakan oleh bermacam-macam pagar tembok penghalang yang tinggi, berupa bermacam-macam doktrin buatan manusia, yang khusus dibuat sebagai pagar pemisah yang tinggi agar domba-dombanya tidak pindah kandang, terutama domba-domba yang gemuk.

Siapa bilang gereja aliran A sama dengan gereja aliran B. Mereka saling tuding bahwa gerejanyalah yang paling superior, sedangkan lainnya aliran sesat. Yang satu dituding menyembah berhala, yang lain dituding liar dalam membawakan puji-pujian, dan yang lainnya lagi dituding berperilaku gendeng karena bergulingan di lantai atau mengucapkan bahasa seperti orang lagi teler.

Kita bukan hanya dijejali dengan segala macam doktrin pemisah, tetapi juga dengan ancamanancaman yang O'sraa...m sekali. Seandainya Anda berjemaat di gereja aliran A, pasti nantinya Anda akan digoreng jadi kerupuk sampai kering atau dipanggang jadi babi guling di api neraka.

Jadi, tidaklah salah kalau kita masuk ke gereja berarti kita juga menyatakan kesediaan untuk di"kandang"kan, yang nantinya akan dijaga sedemikian rupa dan sedemikian ketat oleh gembalanya agar domba-dombanya tidak memiliki kebebasan ataupun keinginan lagi untuk keluar dari kandang.

Apalagi kenyataan pahit yang harus diterima saat ini, di mana sudah merupakan kejadian sehari-hari kalau para gembala saling menyolong domba. Karena itu wajar kan kalau gembala-gembala tersebut ketakutan sedemikian rupa sehingga berusaha mengikat atau memenjarakan dombanya dengan segala macam cara, terutama dengan menggunakan bermacam-macam doktrin maupun ancaman yang menakutkan dari Alkitab.

Gereja sekarang sudah menjadi klub-klub yang eksklusif, hanya orang-orang "sealiran" saja yang bisa diterima menjadi anggotanya. Orang-orang berduit tentunya ingin berkumpul dengan wong sugih pula. Karena itulah, diadakan khusus persekutuan doa, umpamanya, untuk para usahawan atau para eksekutif.

Gereja wong sugih tentunya beda dengan gereja kaum gelandangan! Mana mungkin mereka digabung dengan anak-anak jalanan atau para gembel. Begitu juga gereja orang kulit putih, mana mau digabung dengan gereja orang kulit hitam.

Oleh karena itu, tidaklah salah bila pada tahun 1960-an Martin Luther King Jr. mengatakan bahwa setiap hari Minggu pada pukul 11 pagi adalah jam yang paling rasialis di seluruh Amerika. Hal yang sama diucapkan oleh Jesse Jackson, dan dikutip Billy Graham.

Tanyalah pada diri Anda sendiri apakah hari Minggu yang akan datang ini Anda akan pergi ke gereja ataukah ke "klub" Anda, tempat kita bisa bergabung dan berkumpul dengan orang-orang yang sealiran dan memiliki status yang sama seperti kita?

Coba Anda menyanyi sambil bertepuk tangan dan menari di gereja yang konservatif, apakah Anda tidak akan dianggap gendeng? Atau sebaliknya, membawa dan berdoa rosario di gereja yang non-Katolik, apakah Anda tidak akan dicap sebagai pemuja berhala?

Jadi, tidaklah salah kalau saya menilai bahwa, gereja zaman sekarang merupakan kandang atau penjara yang dikelilingi tembok-tembok tinggi, yang mampu memisahkan kesatuan kita sebagai sesama umat kristiani.






5. Gereja Itu Teater

ImageKebanyakan gereja zaman sekarang sudah berfungsi sebagai panggung hiburan atau gedung teater, karena sudah menjadi "kewajiban" gereja untuk menghibur jemaatnya-buat apa saya membayar perpuluhan kalau saya tidak bisa mendapatkan hiburan dari gereja.

Kalau kita hendak membangun gereja saat ini, bukanlah mimbar yang dibutuhkan, melainkan "stage" atau panggung yang besar tempat tim pujian berikut bandnya untuk menghibur jemaat. Gereja-gereja zaman sekarang dibangun sedemikian rupa dengan segala peralatan multimedia yang serba canggih, mulai dari big screen seukuran layar bioskop sampai sound system yang benar-benar aduhai, sehingga tak kalah dengan gedung teater di Broadway maupun di Las Vegas. Bagi mereka yang pemah ke Las Vegas, gedung teater di Caesar's Palace saja belum ada apa-apanya dibandingkan dengan gereja-gereja di Indonesia dari segi perlengkapan maupun daya tampungnya.

Untuk mempertahankan domba-domba gemuk di kandangnya, gereja-gereja tidak akan ragu mengeluarkan uang. Bukan sekadar puluhan juta rupiah, tapi bisa milyaran, khusus untuk peralatan panggung maupun bandnya. Sebab, ini merupakan investasi bisnis yang pasti akan kembali dalam jangka waktu singkat.

Hanya gereja kuno yang masih dilayani dengan piano atau organ. Gereja zaman sekarang sudah harus dilengkapi dengan full band, berikut tim pujian maupun team leader yang aduhai. Mereka berusaha menarik perhatian mata penonton, entah dengan tarian atau puji-pujian yang bersemangat ala koor dari bandnya Elvis zaman baheula. Pemimpin pujiannya pun tak kalah profesional maupun kocaknya dengan para MC dugem di TV.

Gereja~gereja saling berlomba untuk memberikan hiburan yang" the best" bagi umatnya dengan mengundang para artis untuk memberikan kesaksian maupun menyanyi di atas panggung. Mereka 'tidak

ragu mengeluarkan uang puluhan juta rupiah maupun puluhan ribu US dollar khusus untuk mengundang para Pendeta Selebritis dari dalam dan luar negeri, karena Pendeta Selebritis pasti bisa menjamin membludaknya pengunjung dengan demikian pendapatan pun bertambah.

Apabila para domba gemuk merasa bahagia, mereka pasti tidak akan pindah ke kandang lain. Bahkan dengan demikian, bisa menggaet domba-domba baru lainnya.

Oleh karena itu menjadi hal yang penting bila pasang iklan di koran perlu disebutkan bahwa pendeta yang diundang benar-benar beken di TV maupun di manca negara. Jadi, bukan sekadar Mr. Nobody. Dan, jangan lupa dicantumkan bahwa pendeta tersebut telah berhasil membaptis sekian ribu orang. Hal ini penting, sebab kualitas dari seorang pendeta akan dinilai dari jumlah jemaat yang telah ditobatkannya.

Jadi, bagaimana pun salehnya sang pendeta, yang mungkin hafal seluruh isi Alkitab, kalau belum masuk TV ia belum ada apa-apanya.

Ini bukan sekadar dongeng bahwa ada gereja yang membuat ribuan seragam dalam bentuk setelan jas lengkap, khusus untuk gedung teaternya agar terlihat lebih profesional. Karena itu tidaklah heran kalau gereja-gereja kecil pun lebih mengutamakan pembuatan seragam dan baju majelis gereja terlebih dahulu daripada hal-hal lain, apalagi untuk membantu fakir miskin.

Pendeta yang mudah menjadi favorit umumnya para pendeta yang juga memiliki bakat menyanyi. Jadi, mantan artis atau mantan pemain band, akan lebih mudah menjadi pendeta favorit daripada orang awam. Karena yang dibutuhkan bukanlah khotbahnya, melainkan shownya!

Hamba Tuhan sekarang lebih mirip aktor utama dalam sebuah show. Selain harus pintar bicara, juga harus pandai melawak. Minimal bisa memainkan peran sedemikian rupa seperti dalam sinetron, sehingga para penonton selain bisa diajak tertawa juga harus bisa diajak menangis. Ini baru komplet, sebab show maupun hiburan sekarang jauh lebih penting daripada penyembahan.

Oh iya, jangan lupa, akan lebih menarik lagi kalau pendetanya pintar main sulap. Dengan menciptakan berbagai macam mukjizat, entah mendatangkan hujan debu emas ataupun hujan berlian.

Mang Ucup berhasrat untuk mengadakan pemilihan "The Best Actor", eh ... maksud saya pendeta/ romo yang the best dengan pemberian hadiah berupa piala Citra atau Oscar. Khusus untuk para hamba Tuhan yang merasa dirinya cukup layak, mohon segera daftar saat ini juga.

Apabila Anda ke gereja pada hari Minggu yang akan datang, pilihlah gereja yang paling banyak dan mampu memberikan funky abis, hiburan, maupun kenyamanan bagi diri Anda. Jangan cari gereja kecil, sebab pada umumnya itu adalah bukti nyata bahwa gereja tersebut adalah gereja yang tidak diberkati! Carilah gereja yang berbentuk istana atau palace, di sana dijamin mutu shownya pun bagus! Roh Kudus pasti hadir di sana, sebab mana ada Roh Kudus yang mau hadir di gubuk kecil. Roh Kudus juga ingin dapat fun sama seperti kita! Begitu kan pendapat kita?






5. Gereja itu Rumah Berhala

ImageKesamaan apakah yang dimiliki umat kristiani dengan Nazi? Mereka merasa sebagai orang-orang superior, uebermensch, atau juga sebagai Herrenvolk (master race). Lihat saja antarsesama orang kristiani, mereka saling menyudutkan seakan-akan aliran merekalah yang terhebat dan paling superior. Bahkan mereka merasa bahwa jemaatnya adalah jemaat yang telah dipilih khusus oleh Yesus. Maklum, yang lainnya adalah hasil pilihan si setan.

Ide sebagai umat terpilih itu merupakan pemahaman pokok dari teologi Calvinisme, dan ini diambil dari Alkitab di mana bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, dan orang kristiani zaman sekarang merasa dirinya adalah "Israel rohani". Mereka merasa sudah dari sononya dipilih Allah untuk masuk surga, atau dalam bahasa kerennya disebut predestinasi (baca: ditakdirkan menjadi warga surgawi!).

Hal ini juga merupakan dasar Alkitab yang digunakan oleh bangsa kulit putih yang disebut Boer di Afrika Selatan untuk melakukan politik rasis apartheid. Mereka juga merasa sebagai umat terpilih seperti bangsa Israel, dan akhimya harus melakukan exodus ke Afrika Selatan.

Oleh karena itu banyak gereja telah menggantikan kedudukan Tuhan. Mereka merasa alirannya maupun gerejanya jauh lebih penting daripada Yesus itu sendiri. Mereka lebih memberhalakan aliran maupun gerejanya sendiri. Hal inilah yang ditentang oleh Yeremia, Yesus, maupun Stefanus.

Renungkanlah, mengapa kita harus ganti aliran, ganti gereja, maupun ganti pendeta kalau yang benar-benar dicari itu adalah Yesus. Bukankah di gereja aliran A maupun di gereja aliran B itu Yesusnya sama?

Kita pindah gereja karena tertarik pada gereja aliran A yang khotbahnya hebring dan lucu. Atau, tim pujiannya keren abiz. Atau, gerejanya mirip gedung teater di Las Vegas yang nyaman, komplet dengan peralatan yang super canggih. Atau, karena pendeta Zromonya termasuk salah satu selebritis rohani di TV. Bukankah dengan demikian kita mencari hal-hal yang bersifat kedagingan untuk memuaskan diri sendiri? Bukankah dengan demikian kita memberhalakan alirannya, gedung gerejanya, ataupun pendetanya? Sayangnya yang mereka pamerkan bukannya Yesus, melainkan alirannya, gedungnya, pendeta/ romonya, tim pujiannya.

Sebelum Anda pindah aliran ataupun pindah gereja, bertanyalah terlebih dahulu apa bedanya Yesus di gereja Anda yang sekarang dengan Yesus yang ada di gereja lain? Kalau Anda tidak bisa menjawabnya, berarti yang Anda cari bukanlah Yesus, melainkan berhala!

Stefanus dihukum mati dengan tuduhan menghujat Bait Allah, walaupun kenyataannya Stefanus adalah orang yang penuh dengan iman, hikmat, dan Roh Kudus. Tuduhan kepada Stefanus adalah tuduhan yang sama seperti yang ditimpakan kepada Yeremia maupun Yesus.

Di pengadilan Stefanus membela diri dengan memberikan khotbah yang panjang. Ia menelusuri sejarah, mulai dari Abraham sampai Musa. Dalam menguraikan perjalanan Israel di bawah kepemimpinan Musa, Stefanus menekankan tidak adanya korban dan persembahan di padang gurun, seperti juga pandangan Nabi Yeremia (Yeremia 7:22) dan Amos (Amos 5:25-27). Ini membuktikan bahwa Bait Suci bukan merupakan sesuatu yang "harus" ada! Bahkan Stefanus menekankan: Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia (Kisah Para Rasul 7:48).

Dalam bahasa Yunani ungkapan "yang dibuat oleh tangan manusia" adalah cheiropoietos, dan ungkapan ini merupakan kode untuk menunjuk pada hal-hal yang berkaitan dengan penyembahan berhala-dan Stefanus secara implisit mempersamakan Bait Allah dengan berhala.

Tidak heran para pemuka agama yang mendengar khotbah Stefanus sangat tertusuk hatinya. Gigi mereka sampai berbunyi tak terkontrol sebagai akibat dari begitu sewotnya mereka terhadap Stefanus (Kisah Para Rasul 7:54).

Coba saksikan sendiri, berapa banyak gereja yang dibangun mirip dengan istana Herodes yang "wah" dan aduhai. Mungkin istana Herodes saja masih kalah glamor maupun "wah" dengan gereja-gereja pada zaman ini! Apakah karena kita menganggap Allah itu adalah Raja dari segala raja sehingga harus dibuatkan istana khusus yang super megah, seperti juga Caesar's Palace di Las Vegas!

Langit adalah takhta-Ku, dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku. Rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, demikian firman Tuhan, tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? (Kisah Para Rasul 7:49)

Hal inilah yang mengakibatkan Stefanus harus dirajam. Bahkan perlu diketahui, hampir semua nabi akhimya menjadi korban kekerasan. Tapi para nabi zaman sekarang, bukannya dirajam, malah dielu-elukan layaknya Raja Nero. Mungkin karena Firman yang dibawakan para nabi zaman baheula itu beda dengan firman para nabi zaman sekarang yang lebih cocok, lebih enak, serta lebih manis didengar. Tetapi ingat 10, belum tentu untuk melayani Allah, melainkan untuk melayani para domba gemuk maupun para pejabat tinggi. Dengarlah salah satu komentar dari nabi Petruk zaman sekarang: "Emangnya gue ma ngalamin nasib yang sama seperti Pendeta Rinaldy Damanik?"

Banyak gereja sekarang ini sudah berubah fungsi dari Bait Allah menjadi rumah bakar sate. Maka, yang dinyanyikan pun bukan lagi "Carilah domba yang sesat", melainkan "Carilah domba yang lezat"!







6. Gereja = Istana Herodes

ImageYang benar saja, masa gereja disamakan dengan f istana Raja Herodes? Bangunan gereja zaman sekarang lebih layak disebut sebagai "Christ Palace" karena sudah hampir sama seperti Caesar's Palace di Las Vegas. Bedanya cuma di gereja tak ada mesin jackpat maupun meja roulet!

Harus diakui bahwa gereja-gereja sekarang tidak kalah megahnya dengan istana-istana di zaman purba, bahkan mungkin lebih mewah lagi. Lihat saja lantainya yang terbuat dari marmer Italia dan bangunannya lebih mirip hotel bintang lima atau bank-bank multinasional. Belum lagi ruangannya yang nyaman, full AC, dan diiringi biduanita yang cantik dan band yang aduhai. Bahkan kadang-kadang diiringi tarian maupun lawak rohani.

Gereja-gereja sekarang dibangun sedemikian mewahnya sehingga harus dijaga oleh satpam, agar tidak sembarang orang bisa dan boleh masuk. Jangankan umatnya, bahkan seorang romo sekalipun kalau pakaiannya tidak setaraf dengan bangunan gerejanya, jangan harap boleh menginjak gereja tersebut, seperti yang pemah dialami Romo Gani dari Surabaya. Karena itu, jangan kaget kalau banyak gereja yang dibakar karena gedungnya seakan mencibir penganut agama lain!

Saya pemah bertemu seorang kawan dan menanyakan mengapa ia tidak ke gereja lagi. Ia bilang, buat apa ke gereja kecil yang sumpek kalau di rumah ia bisa menikmati dan melihat kebaktian di Katedral Kaca yang sedemikian indah di TV. Ia tidak menekankan khotbah maupun firmannya, tetapi khusus menekankan keindahan dari katedralnya. Pada akhimya saya berpikir, kita ini mau mencari Tuhan atau bangunan gereja?

Namun tak bisa dipungkiri, daya tarik utama bagi orang banyak bukanlah firman, melainkan gedung, acara fun, atau hiburannya. Tanyalah kepada diri sendiri, mengapa banyak pendeta yang memilih hotel berbintang untuk kebaktian daripada gedung biasa? Apakah Roh Kudus lebih suka hadir di ruang ber-AC, berlantaikan marmer, dan punya karpet tebal daripada ruangan yang gersang dan panas? Kriteria untuk memilih gedung di hotel berbintang ini apakah berdasarkan keinginan Roh Kudus atau untuk menggaet jemaat yang berkantong tebal?

Apakah Roh Kudus hanya milik orang yang berduit? Rupanya Roh Kudus sekarang, jangankan masuk ke lingkungan kampung kumuh, masuk ke gang saja sudah kagak bisa. "Mana ada Roh Kudus mau naik ojek!" katanya.

Apakah Anda tahu bahwa istana-istana dan gedung-gedung yang megah itu merupakan lambang kecongkakan dan akan menjadi sasaran murka Allah? "Anjing-anjing hutan akan menyalak di dalam puri-purinya, dan serigala-serigala di dalam istana-istana kesenangan. Waktunya akan datang segera, dan usianya tidak akan diperpanjang (Yesaya 13:22).

Raja Herodes sendiri membangun Bait Suci yang benar-benar aduhai. Bayangkan, waktu yang dibutuhkan hampir 80 tahun. Bangunan itu terbuat dari batu putih dan menggunakan paku-paku dari emas murni yang ditancapkan di atas Bait Suci. Tetapi, apakah Tuhan berkenan? Tidak! Dalam jangka waktu hanya 6 tahun setelah selesai, Bait Suci ini dihancurkan total. Tidak satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan (Markus 13:2).

Penolakan Stefanus terhadap Bait Suci itu yang antara lain menjadi penyebab kematiannya. "Sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat-istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita" (Kisah Para Rasul 6:14).

Sebelum ada Bait Suci, Allah tinggal di bawah tenda. Apakah Tuhan minta dibuatkan Bait Suci yang megah untuk-Nya? Tidak! Keinginan untuk membuat Bait Suci timbul dari Daud sendiri.

Apakah Anda mencari Yesus di Palace? Berarti Anda melakukan kesalahan yang sama dengan orang Majus saat mereka mencari Yesus di istana Raja Herodes. Tuhan Yesus tidak dilahirkan di istana, melainkan di palungan, di dalam kandang yang bau!

God puts the church in the world; Satan puts the world into the church!






7. Gereja = Hard Rock Cafe

ImageApa yang Mang Ucup tulis ini benar-benar terjadi di Jerman. Ada beberapa gereja, bahkan salah satu gereja evangelis besar di Berlin, tiap hari Sabtu dijadikan tempat disko dengan musik techno, dan hari Minggunya dipakai untuk kebaktian.

Coba Anda renungkan dan buktikan sendiri.

Lagu-lagu rohani zaman sekarang dalam irama apa pun, bisa Anda dapatkan. Mulai dari rap, rock, disko, dangdut, saul, semuanya ada. Kita bisa membeli lagu-lagu Natal dengan nada Rock'r: Roll, bahkan banyak lagu rohani menjadi top hit antara lain yang dinyanyikan oleh Boney-M-dulu diputar hampir setiap malam di berbagai klab malam di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kita sebenamya tak perlu ke Hard Rock Cafe atau pub lagi. Jika ingin mendengarkan musik, cukup ke gereja, karena banyak gereja yang sudah menyediakan peralatan band yang serba lengkap dan cang-gih. Bahkan melebihi peralatan para profesional.

Kaset rohani pun telah menjadi komoditi yang menarik, karena banyak penggemarnya. Irama musik dari kaset ada berbagai macam jenisnya, dan ini mempengaruhi musik maupun tim pujian di gereja. Jadi, tidaklah salah kalau saya menilai musik gereja sekarang sudah menduniawi. Apa bedanya lagu¬lagu di klab malam dan di gereja? Tak ada! Bahkan kadang-kadang syairnya pun sama.

Kita membeli kaset karena tertarik pada penyanyi idola kita. Kita tertarik akan irama musiknya yang berkenan di hati. Bukan karena syairnya. Dan mengenai urusan "Tuhan", masuk dalam urutan yang ketujuh belas. Itu sih enggak penting!

Apakah Anda masih bisa membedakan mana irama musik rohani dan mana irama musik duniawi, mana lagu gereja dan mana lagu di klab malam? Jawablah dengan jujur, berapa banyak dari kita lebih senang mendengar irama musiknya daripada kata-kata dari syairnya?

Saya setuju kita harus bermain musik dengan baik karena untuk pekerjaan Tuhan, tetapi Alkitab menjelaskan bahwa alat musik hanyalah pengiring, bukan fokus utama dalam ibadah.

Berapa banyak gereja yang membuat iklan besar-besaran untuk menarik pengunjung, dan nama artis dan bandnya yang lebih ditonjolkan daripada fir-man Tuhan?

Kita tak bisa lagi membedakan" Rock Music Show" dengan KKR di stadion, karena semuanya menggunakan peralatan canggih seperti sinar laser, sound system yang hebat, bahkan diiringi tari-tarian.

Jika Anda ingin menjadi artis dan cepat beken, bergabunglah dengan tim pujian dan jadilah penyanyi tunggal di gereja. Bahkan kalau jujur, kita harus mengakui bahwa tipis sekali batasan antara mencari kemuliaan diri sendiri dan kemuliaan Allah.

Banyak gereja yang juga menyajikan minuman maupun makanan kecil, jadi tidak beda dengan pub. Di samping itu, kita pun harus bayar walau tidak diwajibkan. Satu-satunya yang tidak ada di gereja adalah "pramuria".






8. Gereja Supermie

ImagePada saat krismon dan kesulitannya sembako, banyak gereja yang membagi-bagikan sembako secara cuma-cuma, sehingga timbul istilah "Gereja Supermie", Diisukan bahwa gereja punya hobi memberikan "supermie" kepada orang-orang dari agama lain agar mereka mau menjadi umat kristiani.

Pertanyaan saya kepada para pembaca: Berapa nilai diri Anda? Imbalan apa yang harus ditawarkan sehingga Anda bersedia pindah gereja maupun pindah agama? Apakah Anda bersedia pindah gereja atau agama kalau (hanya) diberikan satu pak supermi? Saya yakin Anda tidak akan bersedia melakukannya bila tawarannya hanya itu!

Tetapi apa yang akan Anda lakukan bila ada orang yang mau memberikan uang sebanyak 10 juta US dollar hanya dengan satu syarat yang harus Anda penuhi, yaitu pindah agama? Tentu Anda akan berfikir mana mungkin sih ada orang yang mau dan bersedia menawarkan uang sedemikian besar hanya untuk pindah agama. Hal ini pemah terjadi!

Tawaran inilah yang diberikan kepada O.J. Simpson oleh orang terkaya di dunia, Sultan dari Brunei. O.J. Simpson adalah mantan champion football dari USA yang dituduh membunuh istrinya. Walaupun dibebaskan dari tuduhan, ia tetap divonis membayar kepada anggota keluarga istrinya sebanyak 33,5 juta US dollar. Agar bisa membayar utang tersebut, Sultan Brunei bersedia membantunya sebesar 10 juta US dollar asal ia bersedia meninggalkan gereja dan masuk agama Islam. Uang bagi Sultan Brunei bagai peanuts, sebab kekayaannya diperkirakan sekitar 40 milyar US dollar (Majalah Esquire, USA, 3/97).

Saya yakin banyak orang akan goyah bila mendapat tawaran sedemikian besar. Apalagi kalau sedang dililit utang besar. Iman kita akan kuat bila penawarannya hanya berwujud satu bungkus supermie, walaupun harus diakui saat ini di Indonesia banyak sekali "Kristen Supermi". Bahkan saya sendiri dulu menganut keyakinan bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, bisa dibeli. Yang menentukan bisa atau tidaknya hanyalah soal harga dan nilainya.

Semakin besar harga dan nilai yang ditawarkan, semakin mudah ia goyah. Manusia bisa dibeli bukan hanya dengan harta, melainkan juga dengan seks, jabatan, maupun kekuasaan.

Ketika bandara di Medinah dan Mekah sedangdi bangun, banyak insinyur dan tenaga ahli dari Eropa maupun Amerika yang masuk Islam agar bisa bekerja di sana, karena yang boleh bekerja di kota suci itu hanya orang lslam. Namun, setelah proyek Selesai, mereka melepaskan agamanya lagi. Apakah agama bisa digonta-ganti seperti kita gonta-ganti baju?

Berapa banyak orang kristiani yang telah meninggalkan gereja dan menukar agamanya demi wanita, karena untuk menikah dengan wanita yang menganut agama lain, calon suami di Wajibkan masuk agamanya terlebih dahulu. Ini namanya "kristiani celana dalam wanita" kan?

Cobaan Iblis ini tidak hanya berlaku untuk manusia. Tuhan Yesus pun pernah dicoba si setan. "Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya ... 'Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku;' Maka berkatalah Yesus kepadanya: 'Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah TUhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Matius 4:8-10).

Dante (1265-1321) mengungkapkan cerita berikut dalam karyanya "Divina Commedia". Pada awal mendaki gunung, ia akan diserang oleh anjing galak yang akan menggigit dan menghancurkan tubuhnya. Artinya pada saat muda (20-30 tahun) kita akan digoda oleh nafsu birahi. Pada saat mendaki lebih tinggi, di tengah jalan, ia akan bertemu harimau. Harimau adalah godaan pada saat kita berusia 30-40 tahun-kita ingin mendapatkan posisi, jabatan, pangkat, maupun nama.

Akhimya, ia akan digoda oleh singa. Singa adalah godaan pada saat kita berusia 40-55 tahun. Ini adalah godaan usia senja, saat kita berusaha memupuk harta untuk jaminan hidup di masa tua.

Jadi jelas si Iblis akan selalu berusaha menggoda setiap manusia, lelaki, wanita, tua maupun muda. Ia akan menggoda manusia di setiap tahapan kehidupan dengan senjata yang disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kita pada saat itu.

CH. Spurgeon (1834-1892) seorang pendeta yang sangat pandai, menarik,
dan memikat, mendapatkan tawaran yang sangat menggiurkan dari direktur Cirkus Bamum yang termashyur di Amerika agar mau berkhotbah di tenda Cirkus Bamum. Publikasi, personalia, musik, dan sebagainya akan disediakan oleh pihak Cirkus Bamum.

Durasi khotbah, panjang atau pendek, diserahkan sepenuhnya kepada Spurgeon. Bahkan untuk setiap kali khotbah Spurgeon akan dibayar sebanyak satu juta US dollar.

Hanya satu syarat yang harus dipenuhi Spurgeon: Cirkus Bamum diperkenankan menjual karcis masuk. Bayangkan, ini terjadi 100 tahun yang lampau. Pada zaman ini pun banyak pendeta yang akan tergiur bila mendapatkan tawaran dengan jumlah uang yang sedemikian besar. Bahkan untuk setiap kali khotbah akan disediakan sarana maupun fasilitas yang benar-benar sangat memadai, lengkap.

Jawaban Spurgeon hanya singkat: Kepada yth Tuan Barnum. Terima kasih atas iauiaran Anda. Jawaban saya tercantum di Kisah Para Rasul: 13:10, "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidaklah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?"

Tuduhan mengenai "Kristen Supermi" ini menurut saya tidak benar. Mengapa? Jika si Amen jadi umat kristiani karena diberi supermi 1 bungkus, tentu saja ia dengan senang kembali ke agamanya yang semula kalau diganti dengan dua bungkus supermi.

Kenyataannya tidak demikian, karena banyak orang yang menjadi umat kristiani harus membayar harga yang mahal, antara lain di kucilkan dari keluarga, bahkan kehilangan jabatan dan sumber nafkah.

Hal yang sama dialami oleh Hamran Ambrie. Ketika ia menjadi kristiani pada tahun 1970-an, terjadi kegemparan. Beberapa koran memuat berita besar ini, karena waktu itu Hamran Ambrie dikenal sebagai tokoh Islam. Ia dinyatakan menjadi kristiani karena diberi hadiah yang menggiurkan. Tetapi ini dibantah olehnya, karena waktu pertama kali menjadi kristiani, kehidupan ekonominya tetap sama. Tak ada perubahan, tidak ada tambahan supermi.

Namun sayang sekali alasan yang kelihatannya baik ini mempunyai dampak yang sangat buruk, karena ini secara tidak langsung telah menambah rasa benci dan permusuhan antarumat beragama. Rasa benci yang mendalam inilah yang akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Seperti pepatah orang Rusia, "Tanpa Tuhan, jalan kita akan terlihat lebih lebar dan lebih menyenangkan". Matius 7:13,14 menyatakan, "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang .masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Renungkanlah, berapa banyak umat yang bersedia pindah gereja untuk mendapatkan "supermie" dalam bentuk lain, entah karena tawaran menjadi penatua atau anggota tim pujian. Bahkan ada juga tawaran demi fasilitas, entah itu pekerjaan atau uang.






9. Gereja Nano-Nano

ImageGereja kristiani itu adalah gereja Nano-Nano. Bukan rasanya yang "rame", tetapi alirannya yang "rame", karena tidak ada agama di dunia ini yang memiliki aliran sedemikian cem-macem seperti agama kristiani.

Kita semua boleh mengaku kristiani, percaya kepada Tuhan yang sama, dan menggunakan Alkitab yang sama, tetapi masalah aliran gereja itu masalah lain lagi Bung! Walapun kita sama-sama kristiani, gereja kita tidak sama-seperti bumi dan langit.

Bad or wrong is my church! Inilah pandangan banyak orang terhadap gerejanya. Pokoknya jangan coba-coba mengkritik apa pun mengenai gereja saya, sebab kritik bisa dianggap sebagai penghinaan atau pelecehan. Kalau perlu harus dibayar dengan darah!

Lihat saja, berapa banyak pernikahan yang gagal karena sang pria dan si gadis dari gereja yang berbeda. Maklum, karena sudah ada undang-undang bahwa aliran A sebaiknya tidak menikah dengan aliran B, walaupun sama-sama beragama kristiani. Lucu, kan? Bahkan lihat saja di Irlandia Utara, sudah bertahun-tahun umat kristiani saling bunuh karena masalah perbedaan aliran gereja.

Kebanyakan anggota gereja merasa alirannya lah yang "terhebat", sedangkan lainnya adalah aliran Sapi Duduk-Bul! Sit. Kalau kita dengar si Amenjadi anggota gereja Karismatik, mungkin kita akan mencibirkan bibir, oh itu gereja orang yang "radarada", karena sering bicara ngawur seperti orang tidak waras dan kalau nyanyi pun agak liar, seperti di diskotik saja. Sebaliknya, kalau kita dengar si B adalah anggota dari gereja Katolik, langsung di anggap, dicap suka menyembah berhala dan lebih mementingkan Bunda Maria daripada Yesus. Dan banyak aliran gereja yang menilai bahwa di gerejanya selalu hadir Roh Kudus sedangkan di gereja lain hanya dihadiri Roh Kudis!

Dan banyak pendeta menilai bahwa sebaiknya para romo yang ada di dunia ini dimandikan dulu, karena mereka tidak pemah mandi benar. Maklum, mereka hanya mendapatkan baptisan percik bukannya baptisan celup.

Jadi, banyak pendeta dan romo yang merasa terpanggil untuk mentobatkan, bahkan membaptis romo atau pendeta dari aliran gereja lain, karena mereka menilai ajaran yang diberikan gereja lain itu sesat dan tidak alkitabiah-bahkan tak ada bedanya dengan agama kafir lainnya.

Kita harus mengakui bahwa ajaran kristiani seharusnya berdasarkan "kasih". Tetapi kenyataannya kalau masalah persaingan gereja, perkataan "kasih" itu mereka lupakan. Mereka saling menggosipkan dan saling menghakimi untuk memperebutkan domba-domba gemuk.

Hampir setiap gereja memproklamirkan dirinya sebagai gereja yang paling benar berdasarkan Alkitab. Tetapi perlu kita ketahui, yang dimaksud dengan "benar" itu adalah benar "berdasarkan penafsiran manusianya". Lihat saja sejarah gereja, sudah berapa kali mereka merombak peraturan yang seyogianya sudah benar tetapi kenyataannya harus dibenarkan lagi.

Bagaimana kita sebagai orang awam bisa menilai kualitas dari satu gereja yang benar? Apakah bisa dinilai dari gedungnya yang megah? Apakah bisa dinilai dari jumlah aktivitas yang diadakan di gereja tersebut? Apakah bisa dinilai dari jumlah jemaat yang selalu hadir di gereja tersebut? Apakah bisa dinilai dari-usia aliran gereja tersebut? Apakah bisa dinilai dari jumlah persembahannya? Apakah bisa dinilai dari tim pujiannya?

Saya yakin mereka mempunyai rumusannya masing-masing untuk menilai kualitas dari satu gereja. Namun, kenyaJ:aannya rumusannya itu tidak bisa diterapkandi semua aliran gereja, karena berbeda-beda dan harus dilihat dari kacamata siapa yang membuat rumusannya. Apakah Bapak Paus di Roma, apakah Mang Ucup? Kenapa rumusan dan aturan gereja yang dibuat oleh Paus tidak bisa diterima oleh umat gereja Prostestan? Apakah rumusan dan aturan yang dibuat oleh Paus itu sesat atau ngawur?

Kita umat kristiani merasa bangga, bahkan mengaku, bahwa Alkitabumat kristiani itu adalah Alkitab yang paling jempol sejagat raya. Namun, kenyataan pahit yang harus kita terima, tenyata Alkitab tidak mampu dan tidak bisa memberikan rumusan tentang "gerejanya sendiri", yang bisa diakui oleh semua aliran gereja! Apakah Alkitabnya yang tidak benar ataukah manusianya yang geblek?

Kalau kita jujur, jangankan rumusan tentang aliran gereja, aturan tentang cara berdoa saja ora ono alias tidak ada! Jadi, tidaklah salah kalau Mang Ucup menilai bahwa gereja orang kristiani adalah gereja Nano-Nano!





10.
Image


Saat ini, ada pendeta yang mengusulkan agar orang yang sudah meninggal juga di injili. Lalu, timbul pertanyaan dalam hati Mang Ucup: Apakah di neraka juga akan dibangun gereja? Kira-kira, beginilah gereja di neraka: Tim pujian hari ini dipimpin oleh Elvis Presley, diiringi gitar oleh Jimmy Hendrix dan John Lennon. Maklum, Minggu ini kami kedatangan pen-deta tamu dari dunia fana. Kebaktian dimulai tepat pk. 24.00, sebab para roh gentayangan kalau siang pada tidur di kuburannya masing-masing. Lagipula, mereka kagak tahan sinar matahari.

Ruangan gereja remang-remang, hanya diterangi beberapa liIin. Kebaktian dimulai dengan lagu" Aku Telah Mati Bersama Yesus" dan dilanjutkan dengan lagu" Api Roh yang Membakarku!" Maklum, mereka hanya hafal kedua lagu itu, sebab di neraka tak ada buku lagu. Setelah itu kita akan mendengar kesaksian langsung, live dari Hitler dan Kaisar Nero, dengan topik "Kenapa aku ingin bertobat". Biasa, ini gaya lama. Seperti di dunia, orang-orang VIP itu selalu ingin tampil. Dengan bersaksi, otomatis mereka bisa manggung lagi. Apalagi penontonnya sudah banyak, daripada tidak laku.

Di kursi paling depan duduk Al Capone bersebelahan dengan Marliyn Monroe-ia tak cantik lagi, kulitnya sudah ireng karena gosong. Sedangkan si setan beserta antek-anteknya duduk di kursi paling belakang, mengawasi jangan sampai ada yang minggat. Si setan merasa sewot, kok masih ada yang mau minggat, padahal servis yang diberikan sudah enak tenan, tak pernah ada yang mengeluh kedinginan atau masuk angin.

Judul khotbah Minggu ini: "Apakah Kita Bisa Diselamatkan Kembali?" Dipilih karena akhir-akhir ini terjadi diskusi seru di antara sesama penghuni neraka, "Bagaimana kita bisa diselamatkan kalau tidak dibaptis (dipermandikan)?" Karena di neraka tak ada air-maklum PAM belum masuk, tetapi Pertamina sudah dari tempo doeloe ada di sono.

Tak lama kemudian, Pak Pendeta dari dunia tiba. Ia dijemput si A Kong, mantan penjual bakpau, pakai mercynya-aneh tapi nyata, di mana-mana orang China selalu berduit, di nerakapun begitu. Para penghuni neraka umumnya kurus kering, kekurangan gizi, kecuali orang-orang China-semuanya gendut. Ini bukan karena mereka makan panggang babi terus, tetapi karena mereka tak pernah puasa. Tak satu pun penghuni neraka yang punya sound system, DVD, maupun TV, kecuali orang China. Jadi, mereka masih bisa nonton BF. Bahkan, ada yang punya pembantu maupun mobil sport, mercedes. Dan, uang mereka juga tak terhitung banyaknya. Me¬ngapa bisa begitu? Apakah ada KKN antara penghuni neraka etnis China dan si setan?

Tidak, tetapi karena kepercayaan dan tradisi mereka. Mereka tetap ada kontak dengan sanakkeluarganya yang di dunia, dan tiap dua-tiga bulan mereka selalu dikirimi, entah makanan, uang, atau lainnya. Kalau mereka mati, pulang kampung ke neraka juga selalu dibawakan pesangon, entah berupa mobil, sound system, pembantu, atau lainnya.

Mula-mula barang-barang tersebut dalam bentuk kertas, lalu dibakar untuk diekspor ke neraka. Neraka itu dunia debu, dihuni oleh orang-orang yang sudah jadi debu. Jadi, barang-barang yang berlaku di sono pun harus berupa debu.

Di neraka belum ada Alkitab. Satu-satunya cara untuk mengekspor sesuatu ke neraka adalah dengan membakarnya terlebih dahulu, karena harus jadi debu, jadi kalau Mang Ucup berhasrat membakar 1.000 Alkitab dengan tujuan untuk disumbangkan bagi para penghuni neraka, bagaimana?

Pendeta dari dunia ini hebat ruaaar biasa. Ketika ditanya apakah orang mati bisa dibaptis di neraka, "tentu bisa," jawabnya. Baca Matius 3:11. Di situ tertulis, "Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan API." Api di neraka berjibun, jadi kagak pernah kekurangan api giehu! Karena itu, satu-satunya komoditi yang tidak laku di neraka adalah korek api. Sedangkan Roh Kudus, kagak pernah mau berkujung ke sana. Nengok aza ogah!

Di samping itu, katanya dosa umat manusia itu hanya bisa ditebus oleh darah, sedang di neraka kagak ada yang punya darah. Satu-satunya yang memiliki darah adalah dracula. Apakah boleh dosa kita ditebus pakai darah dracula ?






11. Gereja Sesat

ImageWARNING! Mohon jangan dibaca oleh mereka yang imannya tidak kuat, sebab oret-oretan berikut mirip Anthrax-bisa membunuh iman Anda tanpa ampun!

Dengan munculnya Osama bin Laden, dunia sering dibikin heboh. Begitu juga dengan adanya teroris rohani, si "Ucup bin Londo", dunia maya jadi sering heboh. Betapa tidak, Ucup bin Londo berani menantang setiap pembaca milis di seluruh jagat raya, kalau ada pembaca yang bisa membuktikan bahwa ada satu saja gereja di dunia ini yang benar-benar murni dan bersih dari ajaran si setan, maka akan diberikan hadiah!

Semua gereja yang ada di kolong langit ini sudah tercemar, alias sudah ireng tanpa perkecualian. Kalau menurut buku tempat saya menimba ilmu, karya suhu Kuping Ku, semua gereja telah bergabung menjadi satu aliran, yaitu aliran Bengkauw (agama sesat)!

Masalahnya, doeloe orang menduga si setan sering nongkrong di kuburan. Kenyataannya, si setan itu berdomisili di dalam gereja. Sebab, mangsa dan makanan yang paling empuk adalah umat kristiani. Lebih lembut dari agar-agar. Coba Anda mendiskusikan masalah agama, mereka langsung memasang penyumbat mulut, penyumbat kuping, dan penyumbat mata. Dan, penyumbat ini dalam bahasa keren nya disebut "iman".

Konon, agama tidak boleh didiskusikan dan tidak boleh dipikir pakai otak. Harus ditelan" glek" begitu saja pakai "iman", seperti minum obat cespleng. Dan, harus diakui, setelah menelan glek begitu saja, pada jadi cespleng. Tetapi bukannya cespleng sehat, melainkan cespleng bego alias gendeng. Kalau kagak modya ... ar azah udah bagus.

Sebagai contoh kecil, lihat saja masalah uang hasil kolekte maupun perpuluhan. Karena jemaatnya memiliki iman sebesar biji jambu, jadi kagak ada yang berani tanya ke mana lari duitnya. Boro-boro tanya, pengin tahu azah kagak! Yang penting sudah tercantum dalam Alkitab bahwa kita harus ngasih, persepuluhan. Urusan berikutnya adalah urusan pendetanya, yang otomatis jadi kesenengan karena punya domba yang begitu telmi!

Gereja itu mirip dengan kecap ABe. Setiap merek kecap memproklamirkan bahwa kecapnya adalah yang nomor satu, tiada bandingannya. Begitu juga dengan gereja, tiap aliran gereja merasa dirinya yang paling suci sejagat raya. Semua aliran lainnya ma¬suk aliran sapi duduk, ato dalam bahasa Sundanya Buil Sil.

Tiap aliran gereja mendirikan sekolah teologi untuk mencetak generasi penerus berupa pendeta atau romo dan pelayan-pelayan lainnya. Seperti sekolah masak, lulusan sekolah Alain Ducasse toorld's best cook beda dengan lulusan sekolah masak Nyonya Tanzil. Jebolan Alain Ducasse akan pintar masak masakan Perancis, sedangkan koki jebolan Nyonya Tanzil akan pintar masak rendang jengkol.

Begitu juga dengan pendeta atau romonya. Pendeta jebolan Sekolah Teologi Advent akan beda dengan jebolan dari Karismatik. Yang satu akan mem-brain washing umatnya agar jangan makan babi, sedangkan yang lain menganjurkan latihan berbahasa Roh = bahasa "Mr Ed" (bahasa keledai) di rumah.

Memang harus diakui, sumber ajaran semua gereja adalah Alkitab, tetapi adakah satu saja gereja di dunia ini yang memberikan ajaran Alkitab murni 100% tanpa diberi tambahan berupa bumbu, kecap, cuka, dan sebagainya oleh para pendahulunya? Anda belajar teologi di sekolah mana pun pasti akan dibrain washing dengan doktrin-doktrin dari aliran sekolah teologi itu! Dengan demikian para pendeta atau romo jebolan sekolah teologi mana pun sudah kejangkitan virus SARS (Sudah Ada Rasa Sesatnya), dan virus ini akan ditularkan kepada para jemaatnya, sehingga mereka pada saling ngotot dan merasa bahwa agamanya (baca: penyakitnya) yang paling hebring di seluruh jagat raya!

Jangankan membicarakan soal ajaran Alkitab, cara memujinya saja sudah beda. Yang satu dianjurkan memuji ala Inul, goyang dan jingkrak dengan moto: "Loncatlah, berteriaklah, agar Yesus bisa hidup lebih hidup!" Lainnya dianjurkan memuji dengan cara merem-melek dengan tenang seperti wong teler habis minum valium sebotol!

Rasul Paulus menulis bahwa tak satu pun manusia di dunia ini yang tidak berdosa; sedangkan Ucup bin Londo bersabda, "Tak ada satu pun gereja di dunia ini yang tidak sesat!"

Yesus sendiri berfirman bahwa yang keluar dari mulut manusia itu najis alias kotor. Kalau ayat Alkitab sudah diberi bumbu berupa najis, otomatis jadi tercemar. Seperti pepatah, nila setetes bisa merusak ajaran Injil sebuku.

Kagak percaya lihat saja sejarah gereja dari awal sampai saat ini. Berapa banyak kesalahan yang sudah dibuat oleh para bapak leluhur dalam penafsiran Alkitabnya? Berapa banyak orang dibunuh, disiksa gara-gara salah penafsiran tersebut? Begitu juga dengan politik apartheid (diskriminiasi), timbul karena salah tafsir akan Alkitab. Mulai dari Martin Luther, Calvin, dan tokoh-tokoh lainnya, mereka memprotes gereja karena gereja sudah tercemar. Namun kenyataannya sampai dunia kiamat pun tak mungkin mereka mampu membersihkan kekotoran yang ada di dalam gereja. Juga tak mungkin dan mampu mengusir si setan yang sudah betah bercokol di dalam gereja.

Dan, kenyataan pahit yang harus diterima gereja bukannya jadi semakin bersih, malah semakin kotor dan gendeng! Lihat saja perkawinan antarsesama jenis yang diberkati oleh gereja.

Apakah Anda punya pendapat lain?






12. Gereja Cyber

ImageInternet bukan hanya bisa digunakan sebagai ajang untuk berbuat dosa, tetapi bisa juga untuk membangun "Gereja Cyber". Untuk membangun Gereja Cyber tidak dibutuhkan izin cem-macem. Di samping itu, kita tak perlu mengemis kepada umat untuk mendapatkan duit.

Hampir tiap gereja sudah memiliki homepage. Hanya gereja-gereja kuper yang belum memilikinya. Oleh karena itu, apa salahnya kita mulai membangun Gereja Cyber Gn atau www.Gereja-Intemet-Indonesia.Com.

Gereja Cyber bisa didesain dan dibangun seenak udel kita. Mau yang tujuh tingkat, mau ala istana di Las Vegas, ala Bait yang di Yerusalem, atau yang pakai cat emas. Semua serba mungkin. Yang penting arsiteknya menguasai bahasa HTML. Agar gerejanya tak dibakar atau dirusak, harus dilengkapi tembok pengaman-program Antivirus tujuh lapis.

Keuntungan pertama yang bisa didapatkan dari Gereja Cyber, orang bisa berdoa dengan tenang karena tidak akan terganggu jemaat lain yang berbahasa lidah/Roh.

Kebaktian atau misa selalu dimulai dengan Cliek Here atau Klik di Sini. Dan Gereja Cyber hanya bisa dibuka pada hari Minggu atau hari Sabat. Selain hari-hari itu, Anda hanya akan menemukan tulisan "The page cannot be found".

Persembahan bisa dilakukan ala e-comerce dengan menggunakan kartu kredit atau kerja sama dengan www.E-bay.com. Jadi, bisa langsung ketahuan jemaat mana yang pelit ato kagak pemah mo ngasih perpuluhan. Doa bisa dikirim via e-mail. Hanya sayang www.God.org maupun www.doa.com masih dalam status "For Sale". Dan, naskah doanya tinggal nyontek. Kagak perlu mikir, hanya pijat tombol Copy, Paste, dan Send. Jangan lupa menyediakan tempat persekutuan doa di www.persekutuan.com.

Jemaat yang bisa masuk jelas hanya orang dari golongan lumayan "The Have", karena harus punya komputer, modem, dan kartu kredit.

Pemimpin pujian bisa oleh Elvis atau Herlin atau Madonna. Tinggal pilih melalui media-player, Oleh karena itu, setiap jemaat diwajibkan men-download Real Player. Puji-pujiannya akan dilakukan dengan MP3 yang sudah diprogram dengan sistem karaoke, sehingga jemaat tak perlu iri kepada mereka yang selalu dipilih untuk nyanyi dan tampil di atas podium. Dan, jemaat akan menjadi lebih pandai mengetik 10 jari, bahkan pendetanya bisa merangkap jadi programmer.

Bagi jemaat yang bandel ato kagak pemah mo ngasih perpuluhan, akan dikirim "The Holy Virus", sehingga bisa diusir secara halus tanpa perlu melalui khotbah yang keras lagi.

Pendetanya tak perlu pilih kasih kalau mau berkunjung ke jemaat yang berduit, karena kunjungan bisa dilakukan pada saat bersamaan kepada semua anggota jemaat tanpa pandang objeknya domba gemuk, kurus, sakit, budukan, atau korengan.

Gosip antarumat bisa lebih cepat disebarluaskan seperti virus dan lebih seru lagi, sebab sampai saat ini belum ada program penangkal gosip (Software Anti Gosip). Jemaat bisa menyebarluaskan gosip melalui Chat-Room di www.gereja.com.

Pendetanya akan mengenal semua nama dombanya yang selalu mengandung huruf "@". Tapi kalau mau konsultasi pribadi, jemaat bisa mengubah nama maupun identitasnya agar tak ketahuan belang dan bobroknya.
 
Image

Beginilah enaknya Gereja Cyber. Kalau lagi sebal sama yang khotbah, kita bisa melakukan apa saja.
Kehadiran jemaat tidak akan tergantung pada cuaca lagi, melainkan PLN atau sambungan telepon.

Persekutuan malam dilakukan secara maya. Bagi mereka yang hobi tampil dan ingin memberikan kesaksian, dipersilakan memberikan kesaksian atau sharing di depan digital kamera internet. Tepuk tangan maupun seruan "haleluya" dari jemaat pun bisa di program.

Untuk rapat para penatua gereja/diaken, bisa dilakukan via net meeting, karena para penatua/ diaken gereja hanya terdiri dari internet administrator, web designer, web developer maupun programmer. Selain mereka, tak ada yang bisa masuk nominasi sebagai diaken gereja.

Keuntungan bagi jemaat, bila sudah bosan dengan pendeta/gerejanya, tinggal ganti atau ubah gereja dengan menggunakan bantuan search engine. Dan bila khotbahnya membosankan, tinggal tekan tombol Stop atau Del. Kalau ketiduran, dengkur kita tidak akan terdengar oleh jemaat di sebelah.

Jemaat bisa jadi lebih fleksibel, tidak tergantung jam maupun tempat kebaktian, bisa masuk "Kapan saja dan di mana saja". Lamanya khotbah pun bukan ditentukan atau dimonopoli Pak Pendeta yang sering lupa waktu. Di samping itu, jemaat tidak perlu pusing membawa Kitab Suci yang berat-berat, tinggal down load "Online Bible". Dan, perkataan "amin" bisa diganti dengan "Send".

Kalau kita bisa melakukan perjudian, seks, atau pernikahan secara online, mengapa kita tidak bisa dibaptis atau dipermandikan secara online melalui Gereja Cyber-dengan air maya? Begitu juga dengan urapan minyak.

Bagi yang hobi berziarah, tiap Minggu bisa mengikuti kebaktian di mancanegara. Minggu ini di Vatikan, esok di New York, esoknya lagi di Amsterdam. Jadi kagak perlu berjemaat di Tanah Abang atau di Pasar Rumput terus-menerus.

Bahkan kalau hari Natal Anda bisa ikut kebaktian di Betlehem, kalau Paskah di Yerusalem. Asyik kan? Berziarah ke Lourdes pun oke. Jangan lupa, kalau sudah sampai di sono, kirim kartu pos ke sanak keluarga di tanah air dan bawa jerigen untuk nampung air.

Yang jadi masalah saat ini, programmemya lagi mengalami kesulitan memprogram teks untuk bahasa Roh. Mungkin ada rekan yang bisa memberikan saran dan masukan. Apakah bahasa Roh bisa disamakan dengan teks yang sudah kena virus sehingga kagak jelas maknanya?

Omong-omong, apakah jemaat dari Gereja Cyber bisa diterima di surga atau kagak? Dan, mungkin ada usulan lain untuk Gereja Cyber? Bagaimana kalau Mang Ucup diangkat menjadi uskup pertama dari Gereja Cyber?







13.
Image


Robert G. Lee dalam bukunya The Sinner's Saviour (Juruselamat Orang Berdosa), menyatakan bahwa dosa adalah utang-pengampunan Allah adalah uang logam yang melunasinya. Tetapi apakah benar kita tak perlu membayarnya? Apakah benar keselamatan bisa didapatkan secara gratis tanpa kewajiban untuk melakukan apa pun?

Jawablah dengan jujur, apakah Anda akan merasa lega dan tidur dengan tenang bila mulai besok kita mogok berdoa, baca Alkitab, dan ke gereja? Kalau keselamatan yang dijanjikan itu benar-benar gratis, maka tak ada lagi "kewajiban" yang harus dilakukan. Yang penting kan kita percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat, yang penting kan sudah dibaptis. Jadi kasarnya, one-way-ticket ke surga sudah di tangan, kenapa harus berdoa lagi, kenapa harus ke gereja lagi? Wasting timeonly!

Saya masih ingat ketika masih kecil kalau sudah bikin pe-er sekolah, rasanya ayem-tentrem untuk main ke mana saja dan berapa pun lamanya. Begitu juga di hari Minggu, bila belum ke gereja rasanya seperti masih ada utang atau kewajiban yang harus diselesaikan. Rasanya belum santai untuk pergi rekreasi atau piknik. Seakan-akan angsuran utangnya belum dibayar.

Begitu juga dengan doa. Kalau kita punya kebiasaan berdoa sebelum tidur, rasanya tak bisa tidur sebelum melunasi utang doa tersebut. Walau bagaimana pun mengantuknya, pasti hendak melunasi utang ini. Hal yang sama terjadi dengan doa makan -makanan baru bisa kita nikmati kalau utang doa makannya sudah dilunasi.

Jadi berdoa, membaca Alkitab, ke gereja merupakan utang wajib yang harus diangsur tiap hari dan tiap minggu. Kalau tidak, otomatis akan menimbulkan guilty feeling.

Begitu juga dengan uang perpuluhan maupun kolekte. Seakan-akan saya diwajibkan membayar angsuran utang tiket surgawi. Karena rasa takut nanti tiketnya di cancel oleh Heaven- Travel-Office, maka pasti akan selalu diangsur on-time.

Sementara angsuran ke bank atau ke relasi binis boleh dilupakan, utang ama Tuhan harus dibayar tepat waktu. Sebab kalau lupa bayar sehari saja, bisa disambar gledek lo! Kagak percaya baca tuh Kisah Para Rasul 5:1-11. Kisah ini kagak bakal bisa dilupain, sebab sudah bisa dipastikan dalam setahun minimum 10 kali akan diulang-ulang terus oleh Pak Pendeta. Bukankah Tuhan bersabda, "Gereja-Ku adalah Debt Collector-Ku"!

Namun sebaliknya, saya tidak merasa berkewajiban memberikannya kepada pengemis yang sangat membutuhkannya. Perasaan bersalah pun tak akan timbul, walau kita tidak memberikan sesen pun kepada mereka. Maklum, kalau kita berinvestasi pada sesuatu, kan harus jelas take and give-nya. Jawablah, apa yang bisa kita dapatkan dari pengemis atau pengamen selain bau badan dan pakaian mereka? Dan renungkanlah, apa kita pemah ngutang ama pengemis atau pengamen?

ImageDan bukankah menurut Pak Pendeta uang kolekte atau perpuluhan yang kita berikan adalah tabungan Anda di Bank Surga di mana bunganya saja minimum 20% per bulan? Mohon Bank Surga ini jangan disamakan dengan Bank Surya yang sudah di BBO (bank beku operasi). Jadi, hanya orang geblek dan O'on saja yang masih ma nabung ama gembel ato pengemis. Boro-boro buat bayar bunga, untuk makan saja mereka kagak gablek!

Di samping itu, kalau kita berikan ke pendeta, minimal ia adalah calo surgawi. Bisa membisikkan kepada yang di atas agar kita mendapatkan fasilitas kavling yang agak besar dengan lokasi yang benar-benar strategis-umpamanya bersebelahan dengan warungnya Maria Magdalena ato Batsyeba! Jadi, kalau ma jajan kagak jauh. Begitu.

Coba lakukan tes, bagaimana reaksi wajah maupun mimik Pendeta Anda bila Anda mengatakan bahwa uang perpuluhan Anda sudah diberikan semuanya kepada fakir miskin! Dan bukan kali ini saja, melainkan untuk seterusnya! Apakah Anda akan masih tetap di-welcome di gereja?

Pertanyaan: Apakah perasaan berutang kepada Allah ini hanya dialami oleh Mang Ucup? Apakah dirasakan juga oleh pembaca? Dan, bagaimana agar kita bisa menghilangkan rasa berutang ini?







14. Demo Gereja, yuuk...!

ImageBagaimana kalau pada hari Minggu yang akan Mang Ucup melakukan demo berdiri di depan pintu gereja sambil berteriak-teriak memberikan warning kepada setiap pengunjung: "Jangan percaya ama celotehan dusta pendeta/romo, sebab gereja ini sudah tercemar, sebab gereja ini adalah gereja mata duitan!" Apakah Mang Ucup tidak akan mati dirajam mereka?

Apakah ada orang sinting yang berani melakukan hal ini? Ada! Bahkan Allah sendiri yang mengajari nabi-Nya bagaimana mendemo gereja. Kagak percaya, baca tuh ketika Yeremia mendemo Bait Allah yang mempraktikkan teologi kemakmuran: "Berdirilah di pintu gerbang rumah Tuhan, serukanlah di sana firman ini .... Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan" (Yeremia 7: 2,4).

Dalam Yeremia pasal 7, Allah melalui nabi-Nya Yeremia, memperingatkan jemaat-Nya yang lupa daratan dan menjadi munafik. Tanpa malu-malu setelah melakukan berbagai macam kejahatan selama seminggu, mereka ramai-ramai ke Bait Suci untuk menikmati keselamatan yang disediakan Tuhan bagi umat-Nya. Oleh karena itu, Tuhan tidak ragu menuduh umat yang telah membuat rumahNya menjadi sarang penyamun.

Perlu diketahui, Yeremia sendiri adalah keturunan imam dari kota para imam yang disebut Anatot dekat Yerusalem, tetapi ia tak segan-segan mendemo Bait Allah!

2500 tahun kemudian, Nabi Ucup menyerukan di milis, tempat Ucup bin Landa menyatakan hal yang sama: Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: "Ini adalah gereja dan ini adalah rumah Tuhan!"

Calvin berpendapat bahwa manusia adalah pabrik berhala. Mereka punya hobi membuat berhala karena melalui berhala itulah manusia seakan-akan dapat mewujudkan mimpinya yang indah-indah, yang menjadi dambaan dan cita-cita manusia. Bahkan gambaran mengenai citra Allah. De Gruchy merumuskannya demikian: Berhala adalah impiety yang dikemas sebagai piety (kesalehan).

Maklum, berhala menjanjikan surga dunia yang bisa segera dinikmati tanpa harus menunggu di alam baka. Dan, berhala menjanjikan manusia untuk mencapai cita-citanya yang paling agung, yaitu "keserakahan" = penyembahan berhala (Kolose 3:5; Efesus 5:5). Karena itu, banyak orang terjangkit penyakit SARS (Sudah Amat Rakus Sekali).

Berhala inilah yang sekarang masuk ke dalam banyak gereja di dunia ini melalui "Dewa DU-DU" -DUit dan keDUdukan. Melalui gereja, mereka menuai uang, kekuasaan, dan kemasyhuran. Gereja jadi tempat yang paling mudah untuk mendapatkan ini semua. Lihat saja para pendeta di TV maupun para penyanyi rohani. Gereja bukan hanya tempat big business, tetapi juga tempat show biz. Hanya gereja kelas kaki lima atau gereja ndeso yang tidak punya sound system canggih, lengkap dengan peralatan band maupun kamera TV -nya. Suara Money Talk terdengar

jauh lebih keras dan jelas daripada suara God Talk Bayangkan, sementara jemaatnya berlari ke sana kemari di dalam gereja, tim pujian menyanyikan lagu "Lari Demi Uang". Rupanya, semakin cepat lari mereka, semakin banyak berkat uang yang bisa didapatkan. Mereka bukannya berteologia lagi, melainkan ber-tolol-gia!

Di banyak gereja, persepuluhan merupakan bagian utama dalam liturgi, dan sebagai tolok ukur dari kuat atau lemahnya iman. Iman Anda tercermin melalui besar atau kecilnya persembahan yang Anda berikan. Jawablah dengan jujur, gereja mana yang paling laris dan paling banyak pengunjungnya? Gereja yang memberhalakan kesuksesan materi maupun kesuksesan duniawi. Jadi, gereja yang menyembah Dewa DU-DU.

Seorang pengajar aliran kemakmuran memberitahu jemaatnya bahwa tak ada gunanya menderma orang miskin. Sebaliknya ia berkata, "Berikanlah uangmu kepada orang yang diberkati Tuhan (baca: pendeta atau pejabat), maka pasti kamu akan balik diberkati berlipat ganda!" Penyebaran dusta seperti ini dalam bahasa Ibraninya disebut SHEKER, yang artinya bukan sembarang dusta, tetapi dusta yang dibungkus dengan apik seakan-akan itu firman dari Tuhan sendiri.

Tentu saja sebagai gembala yang baik, harus diawali dengan contoh agar bisa dijadikan teladan. Hal ini langsung dipraktikkan oleh ketua PGI yang didampingi tokoh gereja lainnya dengan mempersembahkan (membayar upeti kepada Firaun) emas 2 kg dan uang Rp 5.115.000,00 (pada saat itu kurs US dollar masih rendah) kepada Bapak Presiden Soeharto di Jl. Cendana (28 Januari 1998). Ibarat orang Majus dari Jl. Salemba yang membawa emas dan uang, yang jumlahnya jauh lebih besar dari Majelis Ulama lndonesia, ke rumah Kaisar Nebukadnezar di Jl. Cendana. Kunjungan ini namanya "Kunjungan Pastoral". Hmm... sambil menulis, saya merenung dan mengkhayal, kapan ya Mang Ucup mendapatkan "Kunjungan Pastoral" yang sama?

Hati Yeremia hancur saat ia melihat keadaan yang amburadul seperti itu, sehingga Allah berfirman kepada Yeremia, "Aku tidak tahan melihat gerejaKu yang sudah berubah. Penyembahan berhala dan kebodohan orang-orang semua ini membangkitkan amarahku. Segala kedagingan dan hal yang tidak berasal dari Aku, akan Kubakar sampai hangus!"






15. Gereja Top One

ImageApakah Anda tahu gereja mana yang nomor wahid dan gereja mana yang paling benar saat ini? Jawabannya adalah gereja di mana Anda berjemaat saat ini! Kenapa?

Saat ini, banyak jemaat yang mengeluh tidak puas dengan gerejanya, alirannya, maupun dengan pendeta atau romonya. Mereka merasa di tempat lain lebih "wah" dan lebih conok dengan apa yang mereka cari. Begitu juga dengan para pendeta atau romo. Mereka juga merasa tidak puas, sehingga selalu berusaha mencari hal baru, mulai dari musik, metode penginjilan, taktik, sampai KKR gaya baru. Bahkan, berusaha membangun gereja baru. Mengapa enggak sekalian mencari Yesus yang baru?

Mang Ucup ingin mengajak para pembaca untuk merenungkannya sejenak. Adakah gereja yang benar-benar sempurna, yang benar-benar alkitabiah, yang benar-benar bebas dari noda si setan? Tidak ada! Karena semua gereja adalah hasil buatan manusia berdosa untuk manusia yang berdosa. Begitu juga di dunia ini tidak ada-entah pendeta, romo, ataupun pausnya sendiri-yang bisa menyatakan ia bebas 100% dari cobaan si setan. Sebab, si setan itu ada di mana-mana. Bahkan, Rasul Petrus yang berada di sebelah Yesus pun bisa kemasukan setan. Dan, Yesus sendiri pemah dicobai oleh si setan!

Oleh karena itu, percuma kita pindah aliran atau pindah gereja, sebab semuanya sama-sudah tercemar. Tetapi karena tujuan utama kita ke gereja adalah untuk mencari Tuhan yang tidak tercemar oleh dosa, maka ke gereja mana pun Anda pergi, akan selalu bisa menemukan Tuhan yang Kudus. Jadi, daripada mencari gereja yang sudah tercemar, carilah Yesus yang Kudus, dan saya yakin Anda akan dapat menemukan-Nya. Dan, kalau kita sudah bersama Yesus, apakah kita masih takut pada si setan? Jadi, walaupun si setan berada di dalam gereja, pasti kita bisa dan kuat mengalahkannya, karena kita bersama Dia!

Gereja didirikan oleh umat untuk umat. Jadi, sudah suatu keharusan bagi umat untuk membantu membiayai gereja tersebut. Tanpa bantuan dari umat, tidak akan ada gereja yang bisa berdiri. Renungkanlah, apakah fair kita ke rumah Tuhan hanya ingin mendapatkan berkat, menikmati fasilitas yang ada, tetapi tidak bersedia memberikan bantuan untuk gereja, dan semuanya ingin kita dapatkan serba gratis? Itu namanya bukan hanya pelit, tetapi juga egois Bung!

Si Akong yang jualan bakpau, hanya jebolan SD, datang ke gereja dengan memberikan uang ala kadarnya, sesuai dengan kemampuannya. Apakah kita bisa menilai bahwa ia telmi karena tidak bisa dan tidak tertarik untuk mengetahui pembukuan keuangan gereja? Apakah tiap jemaat diwajibkan menjadi controller atau public accounting? Saya yakin tidak. Kita datang ke gereja sebagai jemaat yang mencari Tuhan, bukan pejabat pajak. Jadi, saya kira tidak salah kalau kita mempercayakan kepada penatua, pendeta, atau romo di gereja tersebut. Namun, sebaliknya, kalau Anda tidak percaya kepada penatua, pendeta, atau romo di gereja tersebut, sebaiknya Anda tidak berjemaat di situ, karena saya pikir tidaklah baik kita datang ke gereja dengan praduga dan pikiran kotor.

Tiap gereja mempunyai peraturan maupun doktrinnya masing-masing. Jadi, wajar dan sah-sah saja kita mencari gereja yang sesuai dengan pandangan maupun selera kita. Tak seorang pun di dunia ini yang berhak mencela maupun mengkritik pilihan Anda, karena hak pilih ini diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia. Walaupun demikian, bila Anda merasa tidak yakin, berdoalah dan mohonlah petunjuk dari Tuhan.

Jadi, kesimpulannya, tidak ada gereja sempurna atau yang tidak tercemar oleh dosa, sebab gereja dibuat dan didirikan oleh orang berdosa untuk orang yang berdosa. Kita tidak datang untuk mencari gereja, melainkan mencari Yesus yang Kudus. Di gereja mana pun juga, Anda akan bisa dan dapat menemukan Yesus. Jadi, tidak ada alasan untuk pindah gereja maupun aliran gereja. Gereja membutuhkan bantuan jemaatnya, tanpa itu gereja tidak bisa berdiri. Tetapi janganlah datang atau memberikan sumbangan ke gereja bila Anda mempunyai praduga negatif. Lebih baik cari gereja lain di mana Anda merasa senang dan aman.

Di samping itu, daripada kita mengkritik gereja dengan sifat NATO alias No Action Talk Only, lebih baik kita melakukan seperti yang diajarkan John F. Kennedy, "Ask not what your Church can do for you but ask what you can do for your church." Kebanyakan Pak Pendeta atau Romo bukanlah jebolan sekolah ekonomi, karena itu mungkin ia membutuhkan Anda untuk membantu membenahi pembukuannya atau hal lain di mana Anda jauh lebih mengerti dan lebih profesional. Dan, perpuluhan tidak harus berupa duit, bisa juga Anda sumbangkan tenaga maupun pikiran. Percayalah, bila Anda ingin benar-benar membantu, banyak sekali pekerjaan yang bisa kita lakukan untuk gereja maupun untuk jemaat-Nya.

Dan, yang terpenting dari segalanya, janganlah pindah gereja dengan alasan tertarik pada tim pujian, pendeta, romo, selebritisnya, ataupun gedungnya. Karena itu namanya bukan lagi mencari Tuhan, melainkan mencari berhala untuk memuaskan kedagingan kita.






16. Gereja yang Sempurna

ImageGerejaku yang paling sempurna, itulah perkataan yang sering kita dengar. Menurut majalah "Der Weg" dari Jerman, saat ini di Jerman ada sekitar 394 macam aliran agama di bawah naungan bendera agama Kristen. Pada masa Rasul Paulus hanya ada dua, yaitu untuk orang Yahudi dan non-Yahudi. Jadi, bagi mereka mudah untuk memilih. Tetapi bagi orang awam saat ini, sukar untuk memilih dan mengetahui aliran atau gereja mana yang sempurna.

Banyak gereja yang menawarkan, bahkan mengiklankan, bahwa gereja merekalah yang paling sempurna. Apakah kita tertarik pada gereja itu karena berlokasi di hotel berbintang yang nyaman, full AC dengan sound system yang serba canggih? Apakah kita tertarik karena paduan suaranya yang diiringi band lengkap? Atau, karena pendetanya orang beken?

Ataukah karena di gereja tersebut banyak VIP dan artis? Ataukah karena di sana banyak kawan yang kita kenal? Bahkan, ada gereja yang memberikan atraksi tarian dan lawak rohani. Anda bisa memilih hari Minggu ini mau menyanyi sepuasnya atau mau tertawa sepuasnya. Atau, ingin menangis sepuasnya. Kalau kita menonton acara kerohanian di TV, terutama di Amerika, mereka memberikan pertunjukan yang sedemikian memikat sehingga tak kalah dengan show lainnya.

Saat ini banyak orang menganggap gereja sebagai tempat hiburan yang murah, karena tidak dipungut bayaran. Gedungnya nyaman, full AC, ada band, paduan suaranya merdu, seragamnya pun lengkap dan bagus. Ada aktris atau aktor yang akan memberikan kesaksian, pendetanya pun pandai berkhotbah diiringi humor yang lucu-lucu. Puji-pujian yang dinyanyikan pun dari lagu-lagu yang populer. Last but not least, setelah kebaktian selalu disediakan minuman dan makanan kecil. Apakah ini bukan full service yang sangat memuaskan? Bahkan kalau tak punya uang, kita bisa mendapatkan sumbangan walaupun hanya berupa supermie.

Kita sering mendengar keluhan pendetanya tidak pandai berkhotbah atau tema yang dibawakannya tidak menarik. Atau, khotbahnya terlalu panjang, sehingga kita jadi ngantuk. Lagu-lagunya pun membosankan. Lalu, apa sebenarnya tujuan kita ke gereja? Apakah kita ingin "memusatkan pikiran dan hati untuk Tuhan" atau "memusatkan pikiran dan perhatian untuk menghibur diri kita sendiri"? Kalau tujuannya untuk menghibur diri sendiri alias "kepuasan daging", tentu kriteria untuk memilih gereja yang sempurna berbeda dengan kriteria untuk memilih kepuasan rohani.

Tujuan utama kita ke gereja bukanlah untuk memenuhi selera kita atau memenuhi kriteria standar jasmani atau kedagingan kita. Kita ke gereja untuk menyembah Tuhan. "Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita" (Mazmur 95:6).

Demikian pula dengan persaingan antargereja maupun antarsesama umat kristiani. Kita saling menyudutkan. Kita merasa aliran dan gereja kitalah yang terbaik, yang "The Best"!

Ibrani 12:22 menyatakan, "Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah." Ayat ini jelas mengungkapkan bahwa setiap orang kristiani sudah menjadi warga negara surga, karena di situ tercantum "sudah datang". Bukan "akan datang". Kita menyembah Tuhan Allah yang sama, menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, dan mengakui bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dari kematian untuk menyelamatkan kita.

Dengan hak dan wewenang apakah kita boleh saling menyudutkan dan menghakimi orang yang telah diterima oleh Tuhan sebagai warga-Nya? Siapakah yang berhak dan boleh memberikan kriteria maupun persyaratan bagaimana bisa diterima sebagai warga surga? Hanya Tuhan yang bisa dan boleh menentukannya!

Hampir semua gereja yakin bahwa alirannyalah yang paling benar dan paling sesuai dengan yang Kitab Suci. Bagaimana orang awam yang tak pemah sekolah teologi bisa membedakan, berdebat, dan berdiskusi untuk "melawan" pendeta yang telah mendapatkan pendidikan bertahun-tahun, bahkan mendapatkan gelar doktor. Apalagi kalau pendetanya pandai meyakinkan dan pandai bicara. Kita bisa diperlakukan seperti kambing atau kerbau yang dibawa ke mana saja nurut, wong ora mudeng!

Semua umat kristiani membaca Alkitab yang sama, memuji Tuhan yang sama, menyembah dan berlutut di hadapan Tuhan yang sama, tetapi aneh bin nyata gerejanya berlainan! Apakah ini tidak termasuk hal yang harus kita renungkan bersama?

Kita semua digerakkan oleh Roh yang sama. Menurut 1 Korintus 12:4 ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Karena itu, kita adalah satu tubuh sebagaimana tercantum dalam 1 Korintus 12:12,13: "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh."

Kita tidak bisa dan tidak boleh saling menyudutkan. Apakah mata kita lebih baik dan lebih bagus dari tangan kita? "Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: 'Aku tidak membutuhkan engkau.' Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: 'Aku tidak membutuhkan engkau'" (1 Korintus 12:21).

Dengan demikian tubuh tidak terbagi-bagi. Masing-masing anggota saling memperhatikan. Kalau satu anggota menderita, semua anggota lainnya menderita juga. Kalau satu anggota dipuji, semua anggota lainnya turut bergembira. Kita semua adalah tubuh Kristus dan diri kita masing-masing juga adalah anggota dari tubuh itu (Baca: 1 Korintus 12:25-27).

Efesus 4:3-6 menyatakan, "Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua."

Jadi, bagaimana kita bisa mengetahui dan menemukan gereja yang sempurna? Di dunia ini tidak ada gereja yang sempurna. Gereja yang tercantum di dalam Alkitab dibangun dan didirikan oleh jemaat yang tidak sempurna, oleh orang-orang berdosa. Mereka berkumpul menjadi satu, karena mereka saling membutuhkan agar bisa menjadi serupa dengan Tuhan kita yang sempurna. Sebagai perumpamaan, botol yang hanya diisi setengah, bisa didefinisikan sebagai botol setengah kosong dan yang lain bisa mendefinisikannya sebagai setengah penuh. Sebenarnya keduanya benar, hanya masalah interpretasi.

Di samping itu, seperti yang tercantum dalam Alkitab, setiap orang yang sudah bersatu dengan Kristus itu "sempurna" di dalam Tuhan.

"Kristus itulah yang kami beritakan kepada setiap orang. Kami mengingatkan dan mengajar mereka semuanya dengan segala kebijaksanaan. Tujuan kami ialah supaya setiap orang dapat dibawa kepada Allah, sebagai orang yang dewasa dalam hal-hal rohani, karena sudah bersatu dengan Kristus" (Kolose 1:28).

Jadi, janganlah mencari gereja yang sempurna, sebab semua gereja didirikan untuk orang yang tidak sempurna. Untuk orang yang berdosa, orang yang pelupa, orang yang punya banyak masalah. Untuk para napi, untuk para pecandu alkohol maupun obat bius. Bahkan, untuk orang yang sudah dianggap sampah masyarakat. "Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka : 'Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa:" (Markus 2:17).

Daripada mencari gereja yang sempurna, lebih baik kita renungkan: Apa sebenarnya yang menjadi motivasi saya ke gereja? Apa yang bisa saya lakukan untuk mempersiapkan hati menyembah Tuhan? Bagaimana saya bisa memusatkan pikiran untuk Tuhan?

Perlu kita ketahui bahwa yang mempersatukan semua gereja di dunia ini adalah "paku" Tuhan di kayu salib.

    Don't reject anyone whom God has accepted
    Since God receive repentant souls

    Who've trusted in His Son,
    We too must love and welcome them Because in Christ we're one.

    Although we of ten feel the urge To prove a point to others,
    We must respect divergent views Expressed by Christian brothers.

    Our union with Christ in the basis for unity with one another.







17. Gerejanya Mang Ucup



Banyak orang ke gereja dengan pemikiran seperti Mang Ucup: Berharap mendapatkan se¬suatu dari gereja, seakan-akan gereja itu diwajibkan untuk menyenangkan [emaatnya. Jika khotbahnya bagus, jemaatnya senang. Kalau jelek, mereka merasa kecewa. Bahkan, yang dipamerkan oleh sesama je¬maat adalah: "Di gerejaku pendetanya pintar khotbah", "Di gerejaku tim pujiannya hebat", atau "Di gerejaku banyak artis-selebritisnya". Dan sebagainya.

Pokoknya, semua yang bisa memenuhi kepuasan dan kesenangan daging kita. Kita lupa bahwa gereja adalah tempat kita menyembah, tempat kita mengucap syukur, tempat kita memuliakan Tuhan. Jadi, bukan jemaatnya yang penting dan menjadi faktor utama di dalam gereja itu, melainkan Tuhan yang kita sembah!

Satu pemikiran yang salah besar kalau kita ke gereja dengan membawa pertanyaan: "Apa yang bisa saya dapatkan dari gereja?" Seharusnya pertanyaan tersebut diubah menjadi: "Apa yang bisa saya bawa dan berikan sebagai persembahan kepada Tuhan?"

Dan, juga satu praduga yang tak benar kalau kita menganggap tim pujian maupun lagu-lagu yang kita nyanyikan di gereja untuk menyenangkan diri kita. Ini semua kita lakukan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Jadi, bukan untuk menghibur diri kita maupun anggota jemaat lainnya.

Hampir setiap hari kita mengalami berbagai macam masalah, mulai dari rasa kesepian, depresi, ketakutan, penyakit, kekecewaan, dan lain-lain. Ke manakah kita bisa dan dapat membawa luka goresan, luka memar, dan retakan kecil maupun luka besar ini? Tentunya ke gereja!

Gereja adalah tempat kita bisa membawa rasa sakit kita, sebab gereja mirip satu keluarga besar. Mereka yang lemah dan sakit akan mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lebih besar. Gereja adalah suatu lingkungan tempat kita dapat beristirahat, menumpahkan keluh-kesah hidup, dan mendapatkan pandangan yang penuh simpati dari saudara seiman kita-bukan lirikan penuh rasa benci maupun hinaan.

Saya mengakui tak ada gereja yang sempurna di dunia ini, karena gereja berisi kumpulan orang berdosa yang tak luput dari segala macam pencobaan.

Kita tak henti-hentinya mendatangkan kesedihan bagi Allah-tetapi Allah tetap saja dengan sabarnya menyertai kita.

Sejujurnya, saya merasa lebih bersimpati dengan kegagalan-kegagalan gereja, karena sebenamya saya juga turut berperan di dalam kegagalan tersebut. Banyak di antara kita yang merasa dikecewakan oleh gereja bila keinginan atau doa kita tidak dikabulkan-kita memiliki "Iman Kontrak". Hanya pada saat senang saja kita percaya kepada-Nya dan masa kontrak berjalan. Tetapi pada saat kita "susah", langsung kontraknya diputuskan dan kita ingin meninggalkan-Nya, bahkan tak mau lagi ke gereja.

Gereja bukanlah tempat untuk berkompetisi atau untuk mendapatkan nilai, melainkan tempat kita bisa melepaskan topeng keseharian. Di gereja kita bisa berlutut dengan segala kerendahan hati bahwa hidup kita ini sebenamya bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Karena itu, tepatlah seperti yang tercantum dalam Alkitab, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (2 Korintus 12:9,10).

Dan, renungkan sebelumnya Anda mengkritik gereja, seperti yang diucapkan Yesus kepada murid-murid-Nya: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu" (Yohanes 15:16).

Tuhan Yesus pun telah mendemonstrasikan apa yang seharus kita lakukan di gereja, yaitu melayani, bukannya untuk dilayani. Seperti yang telah dilakukan Tuhan Yesus di mana Dia bersedia dan mau membasuh kaki murid-murid-Nya.






Kata Penutup


Banyak orang pada masa kini pergi ke gereja sekadar untuk memenuhi kewajibannya, seperti membayar premi asuransi ke surga. Apabila kebaktian atau misa sudah lebih dari satu jam, mereka mulai merasa gundah dan tak betah duduk. Sudah kelamaan dan bosan, ingin cepat-cepat pulang. Lihat saja di gereja Anda, walaupun kebaktiannya belum selesai, mereka sudah saling berlomba untuk bisa segera mencapai pintu keluar.

Juga perlu diketahui bahwa gereja bukanlah tempat berkumpulnya orang yang hebat-hebat atau orang kelas DU-DU-ber-DUit atau punya ke-DUdukan saja. Juga bukan tempat untuk orang-orang yang merasa dirinya suci dan saleh. Melainkan tempat berkumpulnya orang-orang yang berdosa, orang-orang yang mempunyai luka batin, dan orang-orang yang hancur hatinya.

Gereja adalah tempat orang mau mengakui bahwa mereka itu adalah orang yang lemah, berdosa, dan yang merasa dirinya tidak sempurna. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus, "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak" (Roma 3:10).

Oleh karena itu, di hadapan Tuhan kita semuanya sama, yaitu orang yang berdosa. Begitu juga dengan gereja, tak ada gereja di dunia ini yang benar-benar sempurna tanpa noda 100%, mulai dari pendeta/romo maupun para panatua gerejanya sendiri. Setiap gereja mempunyai kelemahan maupun kebobrokannya masing-masing. Mungkin di luarnya tampak putih bersih dan sempurna, tetapi di mata Allah yang Mahakudus, kita masih jauh dari standar-Nya. Kita semua memerlukan anugerah pengampunan dosa yang hanya dapat diberikan oleh Yesus Kristus.

Kristus mati untuk orang berdosa, terlepas dari mereka menyatakan dirinya baik atau jahat. Yesus datang ke dunia ini bukan untuk orang sehat, melainkan untuk orang yang sakit, lemah, punya luka batin, dan menanggung beban. Untuk itulah gereja didirikan: Untuk mereka yang bersedia berlutut di hadapan-Nya dan mau menyerahkan beban maupun dosa-dosa mereka di bawah kaki-Nya.

Setiap kali berkunjung ke rumah orangtua saya di Bandung, saya selalu merasakan kebahagiaan tersendiri bisa berkumpul dengan mereka. Rasa sukacita ini bukan dari pihak saya saja, melainkan juga dari pihak orangtua saya sendiri. Walaupun kami berkumpul berjam-jam, bahkan berhari-hari lamanya dengan mereka, tak pernah timbul rasa bosan sesaat pun.

Saya yakin perasaan yang sama bisa dialami dan dirasakan juga oleh para pembaca, terutama kita orang Asia di mana hubungan kekeluargaan masih sangat erat. Namun, tanyakanlah pada diri Anda sendiri, apakah sukacita yang sama bisa kita rasakan dan dapatkan bila kita berkunjung ke gereja? Bukankah gereja sebenamya bisa disamakan seperti rumah Bapak kita, tempat kita bisa berkumpul dengan saudara-saudara kita di dalam Kristus?

Coba renungkan, apakah Anda berkunjung ke rumah orangtua untuk menjenguk mereka atau sekadar untuk melihat rumah mereka yang wah dan aduhai? Apakah rumah mereka jauh lebih penting daripada orangtua Anda sendiri? Apakah kalau rumahnya kecil dan furnitur butut dan tua, Anda tidak akan mau berkunjung lagi ke tempat mereka?

Begitu juga kita ke gereja bukan karena gedung atau tim pujiannya, bukan juga karena pendeta/ romonya yang aduhai dan pintar khotbah, me¬lainkan karena kita ingin mencari Yesus. Kita ingin lebih mendekatkan diri kepada Yesus, dan kita ingin berkumpul bersama Yesus serta dengan saudara-saudara kita di dalam Kristus.
Oleh karena itu, menurut pendapat saya, bila kita benar-benar ingin mencari Tuhan Yesus dan ingin bersekutu dengan Dia, gedung gereja maupun tim pujiannya tidak lagi penting. Kehadiran-Nya jauh lebih penting daripada segala macam sarana maupun embel-embelnya.

Dan tanyalah kepada diri sendiri: "Di mana Yesus akan berada seandainya Dia datang hari ini? Yang pasti Yesus tidak akan menanyakan di mana gereja yang paling baik atau di mana gereja yang paling banyak pengunjungnya, atau di mana gereja yang paling megah dan wah bangunannya. Tetapi Yesus akan berkata: "Tunjukkan kepada-Ku di mana orang-orang yang paling membutuhkan Aku saat ini!", yaitu mereka yang rumahnya baru saja digusur, di penjara, di rumah sakit, di rumah duka, para pelacur, para yatim piatu, dan terlebih lagi bagi mereka yang merasa dirinya berdosa dan membutuhkan pengampunan-Nya. Di situlah tempat yang akan dipilih-Nya terlebih dahulu.

Di samping itu, Dia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur untuk mendudukkan mereka bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat mereka memiliki kursi kehormatan. "Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan" (1 Samuel 2:8).

Pertanyaan: "Apakah Anda bisa memilih gereja dengan kriteria yang sama seperti yang diajukan oleh Yesus?" Jawabannya hanya Anda sendiri yang tahu, dan sebelumnya Anda memilih-milih gereja, renungkanlah terlebih dahulu ayat yang tercantum di bawah ini dengan saksama:

"Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu (Yohanes 15:16).



Disalin dari :
Mang Ucup, Gereja Duit vs Gereja Allah, Kairos, 2004.



 

Add comment


Security code
Refresh