SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Info buku INJIL-INJIL RAHASIA (Apokrif)

INJIL-INJIL RAHASIA (Apokrif)

E-mail Print PDF
User Rating: / 2
PoorBest 


Menguak Injil-injil Rahasia
By Deshi Ramadhani
Published by Kanisius
ISBN 9792117369, 9789792117363
Sumber : http://books.google.co.id/books?id=dcd8HsGiZoQC


 

 

PENDAHULUAN



Ada satu pertanyaan yang sering dimunculkan berkaitan dengan status rangkaian tulisan kuno yang tidak menjadi bagian dari Kitab Suci. Tidak jarang pertanyaan ini berjalan seiring dengan reaksi-reaksi yang lebih emosional, misalnya "Buku-buku ini memang sengaja diterbitkan untuk menyerang iman Kristiani kita." Atau, yang lain mengatakan dengan lebih tegas, "Kita harus mendesak pemerintah untuk melarang terbitnya buku-buku ini." Dua macam reaksi ini bukanlah reaksi baru yang hanya muncul pada jaman kita. Pada abad-abad pertama Masehi reaksi-reaksi serupa juga sudah muncul. Salah satu bukti tentang kegelisahan tersebut bisa kita temu¬kan dalam bagian pembukaan Injil Lukas berikut ini:

    Teofilus yang mulia. Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar (Lukas 1:1-4).


Pernyataan ini mcmberi informasi penting bagi pemahaman akan Yesus Kristus sebagaimana digambarkan dalam tulisan-tulisan di luar Kitab Suci. Pertama, sudah sejak awal, segera sesudah masa hidup Yesus, banyak orang seolah berlomba untuk menuhs kisah tentang Yesus. Kedua, kriteria dasar penyusunan kisah itu adalah informasi langsung dari mereka yang menjadi saksi mata, mereka yang sejak semula menjadi pengikut Yesus sendiri. Atau, setidaknya, mereka yang bisa membuat klaim bahwa mereka telah menerima informasi tertentu ]langsung dari para saksi mata ini, schingga dcngan demikian layak dipercaya. Ketiga, sebagaimana penulis Injil Lukas membuat klaim kebenar-an tentang isi tulisannya, demikian pula tulisan-tulisan di luar Kitab Suci tersebut membuat klaim yang sama tentang kebenaran. Demikianlah kurang lebih situasi ketika penulis Injil Lukas menyusun bahan-bahan yang dimilikinya (baik lisan maupun tulisan) menjadi sebuah Injil pada masa menjelang akhir abad pertama (tahun 80-90 M).

Sejarah memperlihatkan bahwa setelah Injil Markus (sebagai Injil yang pertama ditulis; sekitar tahun 70-an M), Injil Matius (kurang lebih pada periode yang sama dengan Injil Lukas sekitar tahun 80-90 M), dan Injil Yohanes (sekitar 90-100 M), masih ada banyak tulisan yang mencoba menyajikan cerita-cerita tentang tokoh Yesus dari Nazaret. Hal ini berlanjut selama abad-abad pertama. Lebih dari itu, masih ada banyak tulisan serupa yang dihasilkan pada masa Abad Pertengahan (abad ke-15 dan ke-16 M). Sebelum kita masuk lebih jauh ke tulisan-tulisan tersebut, baiklah kita sekarang melihat beberapa istilah yang kerap digunakan.


a. Beberapa istilah


Ketika kita berbicara tentang Kitab Suci, kita sebenarnya berbicara tentang sebuah kumpulan tulisan. Setiap tulisan itu mengalami sebuah proses untuk akhirnya diterima sebagai tulisan yang memiliki wibawa. Tidak begitu saja setiap tulisan itu diterima sebagai tulisan yang suci yang diyakini sebagai buah inspirasi dari Roh Allah sendiri. Semua tulisan yang diterima ter-sebut akhirnya masuk menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai Kanon Kitab Suci. Istilah kanon sendiri memiliki arti dasar sebagai "alat pengukur". Bila setelah diukur terbukti bahwa sebuah tulisan memenuhi patokan sebagai ajaran resmi, tulisan itu akan diterima sebagai tulisan yang suci. Untuk membantu agar jemaat yang mulai tersebar luas sungguh-sungguh bisa membedakan tulisan-tulisan yang sesuai dengan ajaran resmi dari tulisan-tulisan lain yang tidak memenuhi ukuran tersebut, dibuatlah sebuah daftar.

Sebagaimana akan kita lihat pada bagian selanjutnya dalam buku ini, ada banyak pihak yang terlibat untuk menyumbangkan daftar tulisan-tulisan resmi yang diterima oleh Gereja. Karena alasan ini, dalam perkembangan selanjutnya, istilah "kanon" sendiri lalu memiliki arti sebagai "daftar". Maka, setiap kali kita berbicara tentang Kitab Suci, kita sebenarnya berbicara tentang kumpulan tulisan yang termasuk dalam daftar tulisan resmi. Dengan kata lain, yang kita sebut sebagai Kitab Suci sebagai kumpulan tulisan itu tidak lain adalah Kanon Kitab Suci.

Tulisan-tulisan yang menjadi bagian dari Kanon Kitab Suci kemudian disebut sebagai tulisan-tulisan kanonik, Sementara itu, banyak tulisan lain yang tidak memenuhi ukuran sebagai ajaran Gereja yang resmi menjadi tulisan-tulisan di luar kanon. Tulisan-tulisan di luar kanon inilah yang menjadi sorotan kita bersama dalam buku ini. Istilah untuk tulisan-tulisan semacam ini adalah tulisan non-kanonik atau tulisan ekstra-kanonik (artinya, "di luar" kanon).

Istilah lain yang sering dipakai dalam pembicaraan tentang tulisan-tulisan non-kanonik adalah apokrif. Arti dasar perkataan ini adalah "tersembunyi", "disembunyikan", atau "rahasia". Tulisan-tulisan tertentu digolongkan sebagai tulisan rahasia karena tulisan-tulisan itu memang dimaksud untuk dibaca oleh kalangan terbatas. Artinya, ada tulisan yang bisa membingungkan bila dibaca begitu saja oleh kalangan luas yang belum memiliki perangkat pemahaman yang memadai.

Bukti paling jelas yang masih kita miliki seputar arti apokrif yang seperti ini bisa kita temukan dalam pengantar Surat Petrus yang dialamatkan kepada Yakobus (Epistula Petri). Surat tersebut ditulis sekitar pertengahan tahun 60-an M ketika Petrus mengirimkan kepada Yakobus tulisan yang berisi kumpulan Pewartaan-pewartaan Petrus (Kerygmata Petrou). Demikian diperingatkan oleh Petrus kepada Yakobus:

    Saya dengan sungguh mengingatkanmu (saudaraku) agar tidak memberikan kepada seorang pun dari kalangan orang kafir [non-Yahudi] buku-buku kotbah-kotbah saya yang (di sini) saya sampaikan padamu, tidak juga kepada seorang pun dari kalangan kita sendiri sebelum diuji. Tetapi jika ada dari mereka yang telah diteliti dan dinyatakan pantas, barulah kamu boleh menyampaikan itu kepada mereka… (Epistula Petri 1.2)[1]

Mengapa tidak semua orang boleh membaca dan bisa memahami tulisan tersebut? Dari surat pengantar yang sama juga terlihat bahwa kerahasiaan tulisan itu berkaitan dengan adanya penolakan di kalangan orang-orang non-Yahudi terhadap ajaran Petrus, karena mereka mengikuti ajaran Paulus. Hal itu rnenjadi salah satu indikasi adanya konflik antara Petrus dan Paulus (lihat Galatia 2:11-14). Dalam surat itu, Petrus menulis:

    Karena beberapa di kalangan orang-orang kafir [non-Yahudi] telah menolak kotbah saya yang resmi dan telah lebih menyukai sebuah doktrin yang tidak resmi dan tidak masuk akal dari orang yang merupakan musuh saya. Dan sebenarnya beberapa bahkan telah mencoba, sementara saya masih hidup, untuk menyelewengkan kata-kata saya dengan berbagai macam tafsiran, seolah-olah saya mengajarkan penghapusan hukum dan, meskipun saya berpendapat seperti itu, saya tidak menyatakannya secara terbuka. Saya tidak akan pernah melakukan hal semacam itu (Epistula Petri 2.3, 4) [2]



Bukti ini cukup untuk memperlihatkan bahwa kata apokrif itu juga berkaitan dengan tulisan yang memang ditulis sebagai tulisan "rahasia". Dalam bahasa Inggris yang sering dipakai sekarang, mungkin kata apokrif di sini sejajar dengan istilah confidential. Hal ini penting untuk kita garis bawahi, karena novel The Da Vinci Code karangan Dan Brown telah berhasil meyakinkan banyak orang bahwa kata apokrij seolah hanya memiliki arti tunggal sebagai tulisan-tulisan "yang dengan sengaja disembunyikan oleh para pemimpin Gereja" karena mereka ingin mempertahankan kemapanan mereka. Dalam bagian selanjutnya, akan kita lihat bahwa pernyataan dari Dan Brown ini tidak berdasar pada kebenaran sejarah.

Meskipun demikian, sejarah juga mencatat bahwa ada banyak tulisan yang dinilai sesat. Jemaat dilarang untuk membaca, menyimpan, atau menyebar-luaskan tulisan-tulisan semacam itu. Tulisan-tulisan ini dinyatakan tidak sesuai dengan ajaran Gereja yang resmi. Dalam arti inilah kita sekarang bisa berbicara tentang injil apokrif sebagai "injil yang disembunyikan" atau "injil yang dilarang" atau lebih tegas lagi "injil sesat". Maka meskipun arti kata apokrif sendiri pada dasarnya netral, kata tersebut menjadi berarti "sesat" atau" tidak resmi" ketika digunakan untuk menunjuk pada tulisan-tulisan yang dilarang oleh pemimpin Gereja.

Demikianlah kita melihat dua arti dalam kata apokrif. Pertama, bagi mereka yang mengakui wibawa tulisan-tulisan tersebut, apokrif memiliki arti positif. Artinya, tulisan-tulisan tersebut tersembunyi bagi orang kebanyakan, karena tulisan-tulisan ini berisi bahan yang terlalu dalam, terlalu sulit untuk dipahami oleh orang biasa. Kedua, sebaliknya, bagi mereka yang tidak mengakui wibawa tulisan-tulisan tersebut, apokrif memiliki arti negatif. Artinya, tulisan-tulisan ini disembunyikan karena isinya memang dinilai sesat (heretis), palsu, tidak sesuai dengan ajaran yang resmi [3].

Pembedaan antara tulisan yang sehat dan sesat tersebut sering kali ditempatkan dalam pembedaan antara ortodoks dan non-ortodoks. Tulisan yang dinilai sehat, benar, sesuai dengan ajaran resmi Gereja, disebut sebagai tulisan ortodoks, sedangkan tulisan yang dinilai sesat keliru, tidak sesuai dengan keyakinan iman Gereja disebut sebagai tulisan non-ortodoks. Karena istilah-istilah seperti ini tidak jarang bagi telinga kita dipahami sebagai istilah yang lebih dikaitkan dengan Gereja Ortodoks Timur (yang dibedakan dari Gereja Barat), dalam pembicaraan tentang tulisan-tulisan non-kanonik digunakan istilah tulisan resmi (ortodoks) dan tulisan tidak resmi (non-ortodoks).

Banyak dari antara tulisan yang beredar pada masa itu dinilai sesat karena tulisan-tulisan tersebut sangat dipengaruhi oleh Gnostisisme. Kita akan lebih banyak membahas hal ini dalam bagian selanjutnya. Cukuplah sekarang kita pahami secara sederhana bahwa Gnostisisme adalah sebuah istilah untuk merangkum berbagai cabang aliran yang menekankan pentingnya peran pengetahuan (Yunani: gnosis). Orang yang diselamatkan hanyalah orang yang memiliki gnosis. Tulisan-tulisan yang dihasilkan dalam paham semacam ini disebut sebagai tulisan gnostik.

Selanjutnya, penggolongan tulisan-tulisan non-kanonik sering dilakukan dengan membuat perbandingan dengan jenis-jenis tulisan yang ditemukan di antara tulisan kanonik. Demikianlah dalam penyelidikan tulisan-tulisan non-kanonik juga dikenal penggolongan tulisan-tulisan itu menjadi "Injil" (Gospel), "Kisah" (Acts), "Surat" (Epistle), "Wahyu" (Apocalypse). Artinya, bentuk sastra sebuah tulisan sebagai "Injil" hanyalah salah satu dari bentuk-bentuk sastra yang dihasilkan. Meskipun demikian, untuk menghindari banyak kebingungan, judul dalam buku ini tetap menggunakan istilah "injil."

Berdasarkan keempat Injil kanonik dalam Kitab Suci kita (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), sebuah "injil" adalah tulisan dengan sebuah bentuk sastra yang khas yang kurang lebih menceritakan secara utuh kisah Yesus Kristus sejak awal hidup-Nya sampai sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Pada kenyataannya banyak tulisan non-kanonik yang secara eksplisit menyebut diri sebagai "injil" sebenarnya tidak menyajikan kisah Yesus Kristus secara kurang lebih utuh. Dalam pengertian ini, tulisan tersebut sebenarnya tidak bisa disebut sebagai "injil" sebagaimana pemahaman kita tentang keempat Injil kanonik yang kita miliki dalam kanon Kitab Suci sekarang. Yang disebut sebagai "Injil Yudas", misalnya, hanya berkisah tentang hari-hari terakhir Yesus. Dengan demikian, sebenarnya "Injil (menurut) Yudas" lebih tepat disebut sebagai "Tulisan (menurut) Yudas."


b. Melengkapi atau menggantikan?


Sebagaimana telah kita lihat, yang disebut injil adalah sebuah tulisan yang kurang lebih berkisah tentang Yesus secara lengkap sejak awal hidup-Nya sampai sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Pada kenyataannya, keempat Injil kanonik yang ada tidak sungguh lengkap menceritakan tentang hidup Yesus. Tidak ada informasi tentang masa kanak-kanak Yesus sampai usia 12 tahun. Tidak ada juga informasi tentang hidup Yesus pada usia antara 12-30 tahun. Latar belakang tentang Yusuf dan Maria, orang tua Yesus, juga hanya disajikan secara sangat terbatas. Keempat Injil kanonik memberi porsi cukup banyak pada hidup Yesus selama seminggu terakhir di Yerusalem. Ini berarti porsi hidup Yesus selama kurang lebih tiga tahun melakukan karya publik juga tidak banyak yang diceritakan.

Tidak begitu banyak diceritakan juga percakapan-percakapan yang sungguh pribadi dan mendalam antara Yesus dan murid-murid-Nya atau salah satu dari mereka. Setelah Yesus wafat pun tidak ada kisah lebih jelas. Tidak ada informasi tentang apa yang dilakukan oleh Yesus selama tiga hari berada di dalam kubur, di dalam dunia orang mati. Demikian pula kita tidak tahu secara persis bagaimana terjadinya peristiwa kebangkitan Yesus itu sendiri. Dalam perjalanan waktu, orang juga mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas kematian Yesus. Siapakah orang yang paling bersalah? Apakah Yudas, Pilatus, atau siapa? Mengapa Yesus harus menderita? Keinginan untuk melengkapi bahan-bahan yang kurang lengkap seperti ini, serta proses untuk terus mencari jawaban atas penyebab kesengsaraan Yesus, akhirnya mendorong lahirnya berbagai tulisan "injil" tentang Yesus.

Seiring dengan proses munculnya tulisan-tulisan yang bertujuan untuk melengkapi kisah Yesus, tulisan-tulisan yang disusun lebih kemudian ini juga diwarnai oleh maksud untuk menyajikan sebuah versi kisah yang berbeda tentang Yesus. Dalam konteks semacam inilah kini kita bisa berbicara tentang dua jenis tulisan apokrif berdasarkan maksud penulisannya. Jenis pertama adalah tulisan "injil" yang dimaksudkan untuk melengkapi bagian-bagian yang kurang. Jenis kedua adalah tulisan "injil" yang dimaksudkan untuk menggantikan tulisan-tulisan yang sudah ada dengan versi baru yang diyakini oleh para penyusunnya sebagai versi yang lebih tepat atau lebih benar.


c. Wibawa teks


Di tengah kekacauan dan kebingungan tersebut, ada satu hal dasar yang penting untuk diperhatikan. Kriteria usia sebuah tulisan menjadi sebuah kriteria sangat penting untuk menentukan apakah tulisan itu bisa diterima sebagai tulisan iman atau tidak. Dengan demikian, tulisan-tulisan lain yang disusun selama abad pertama akan dipandang lebih memiliki wibawa atau otoritas daripada tulisan-tulisan yang disusun selama abad kedua. Dalam tulisan-tulisan yang lebih awal tersebut terlihatlah sebuah kriteria yang menentukan, yakni bahwa sebuah dokumen memang ditulis dengan maksud untuk menumbuhkan iman pembaca. Hal inilah yang ditegaskan dalam Yohanes 20:31, "semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya."

Untuk menambah wibawa sebuah tulisan pada umumnya akan digunakan nama dari salah seorang murid atau orang yang dianggap cukup dekat dengan Yesus. Adanya nama dari orang yang pernah hidup dekat bersama Yesus akan membuat publik lebih mudah menerima sebuah teks sebagai tulisan yang memiliki wibawa sebagai tulisan suci. Banyak tulisan apokrif muncul selama abad kedua Masehi. Artinya, para rasul atau tokoh yang namanya digunakan seolah-seolah sebagai pengarang tulisan-tulisan itu bisa di¬pastikan sudah lama wafat.

Dalam perjalanan sejarah, tulisan-tulisan itu melewati proses yang kurang lebih alamiah di dalam penggunaannya di kalangan Gereja awal. Melalui pertemuan-pertemuan iman atau dalam perayaan-perayaan liturgis, orang mulai tahap demi tahap bisa membedakan mana bahan yang dirasa lebih cocok untuk iman mereka ketika itu, dan mana yang tidak. Proses seleksi bahan secara alamiah ini berjalan seiring juga dengan proses seleksi yang dilakukan oleh para pemimpin Gereja. Mereka berperan untuk menilai tulisan-tulisan yang beredar itu sebagai tulisan yang benar atau tidak.

Tulisan yang dialami sebagai tulisan yang mengembangkan iman akan terus digunakan, disalin, dan disebarluaskan. Sebaliknya, tulisan yang dirasa membingungkan atau menyesatkan, ditambah dengan pernyataan-pernyataan tegas dari beberapa pemimpin Gereja yang melawan kesesatan tulisan tersebut, akhirnya tidak lagi digunakan. Karena dirasa tidak begitu berguna, mungkin kemudian tidak disimpan dengan baik, tidak disalin, tidak disebarluaskan, atau bahkan dengan sengaja dibakar dan dimusnahkan. Meskipun demikian, pada kenyataannya, tidak semua tulisan tersebut telah sama sekali musnah ditelan sejarah. Sejumlah teks kuno tersebut akhirnya sampai juga kepada kita.


d. Temuan di Nag Hammadi


Alkisah pada tahun 1945 adalah seorang bernama Muhammad Ali al-Samman. la hidup di Mesir. Bersama saudara-saudaranya, ia sudah menyusun rencana sebuah pembunuhan balas dendam terhadap Ahmed Ismail yang dianggap bertanggung jawab atas kematian ayah mereka. Tidak lama sebelum rencana pembunuhan itu dilakukan, pergilah Muhammad Ali bersama saudara-saudaranya ke Jabal al-Tarif untuk mencari sabakh, yakni lapisan tanah yang gembur yang bisa mereka gunakan untuk menyuburkan ladang olahan mereka. Ketika sedang menggali tanah di daerah Nag Hammadi itulah mereka menemukan sebuah guci tanah liat yang besar (tingginya hampir satu meter). Semula mereka takut karena mungkin di dalam guci itu bersembunyi jin-jin atau roh-roh jahat. Namun, karena mereka juga berharap akan menemukan emas atau harta karun, dipecahkanlah guci besar itu. Ternyata yang mereka temukan adalah tiga belas buku dari kertas papirus yang dijilid dan dibungkus dengan kulit. Meskipun kecewa karena mereka menemukan barang yang dianggap tidak berharga, mereka tetap membawa semua itu ke rumah. Di sana buku-buku itu dilucuti dan ditumpuk di samping perapian. lbu mereka, Umm-Ahmad. bahkan sudah membakar banyak bahan papirus itu untuk membantu menyalakan perapian.

Beberapa hari kemudian Muhammad Ali dan saudara-saudaranya melancarkan aksi balas dendam mereka. Mereka berhasil membunuh Ahmed Ismail. Polisi segera mengadakan penyelidikan atas kasus pembunuhan itu. Karena takut akan penggeledahan, mereka menyerahkan beberapa buku papirus itu kepada imam mereka, al-Qummus Basiliyus. Selama proses penyelidikan itulah Raghib, seorang guru sejarah, melihat buku-buku papirus itu. Karena merasa bahwa buku-buku papirus itu mungkin memiliki nilai penting, ia mengirimkan kepada seorang temannya di Kairo salah satu buku yang telah diterimanya dari imam al-Qummus Basiliyus.

Entah bagaimana proses selanjutnya. Yang jelas, banyak buku papirus itu sampai ke pasar gelap di Kairo. Pemerintah setempat sempat membeli satu buku dan menyita sepuluh setengah buku dan kemudian menyimpannya dalam Museum Kopt di Kairo. Namun demikian, tanpa sepengetahuan mereka sebagian besar dari buku ketiga belas berhasil diselundupkan keluar dari Mesir dan sampai ke Amerika. Berita tentang hal ini didengar oleh Profesor Gilles Quispel, seorang ahli sejarah agama di Utrecht, Belanda. Dengan bantuan Jung Foundation di Zurich, Profesor Quispel berhasil mendapatkan buku tersebut. Segera ia menyadari bahwa ada bagian-bagian yang hilang. Kemudian ia pergi ke Museum Kopt di Mesir. Di sanalah ia terkejut ketika menyadari bahwa bahan yang sedang dibacanya adalah terjemahan versi bahasa Kopt dari Injil Tomas yang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani yang telah ditemukan sekitar tahun 1890-an. Ia juga bisa mengenali di sana sebuah teks yang disebut sebagai Injil Filipus.

Temuan itu sangat besar artinya karena menyajikan dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan perkembangan tahap awal Kristianitas. Secara khusus, dokumen-dokumen tersebut memperlihatkan berbagai usaha pemahaman akan pribadi Yesus Kristus. Biasanya dipahami bahwa buku-buku papirus dalam bahasa Kopt[4] yang ditemukan di Nag Hammadi itu ditulis pada tahun 300-400 M. Tulisan asli dalam bahasa Yunani mungkin ditulis pada tahun 120-150 M.


e. Mengapa disembunyikan?


Bila kita melihat betapa pentingnya buku-buku papirus itu, kita lalu bertanya-tanya mengapa teks-teks itu justru secara sangat hati-hati dan rahasia disembunyikan? Di sini kita perlu mengingat kembali situasi Gereja pada abad-abad pertama. Sebagaimana akan kita bahas lebih jauh dalam bagian selanjutnya, sejak pertengahan abad kedua muncul berbagai ajaran tandingan yang ingin bereaksi terhadap ajaran yang kurang lebih sudah menjadi ajaran resmi (ortodoks) sebagai kesepakatan bersama di wilayah Kristianitas saat itu[5]. Tertulianus, Klemens dari Aleksandria, dan terlebih lagi Ireneus (Uskup Lyons; sekitar tahun 180 M menulis Adversus Haereses [Melawan Para Bidah]) memberi gambaran tentang sekte-sekte yang memperkenalkan ajaran-ajaran yang berbeda dari ajaran resmi Gereja. Di dalam tulisan-tulisan tersebut ajaran dari sekte-sekte itu juga dikutip. Hal ini dilakukan mungkin dengan dua alasan. Pertama, untuk bersikap objektif terhadap ajaran-ajaran lain tersebut. Kedua, untuk menjebak para penganut ajaran-ajaran tersebut dengan kata-kata yang mereka pakai sendiri.

Dalam konteks perang melawan ajaran-ajaran sesat semacam inilah Gereja juga menyita banyak tulisan yang dinilai sesat. Banyak dokumen dirampas dan dibakar. Bahkan mereka yang masih menyimpannya bisa diseret ke pengadilan karena telah melakukan tindakan yang digolongkan sebagai sebuah tindak kriminal. Dalam situasi semacam itu, mungkin, seorang rahib dari biara Santo Pakomius (292-349 M), melarikan buku-buku papirus yang dilarang tersebut dan menyembunyikannya di Nag Hammadi. Kondisi yang sangat kering dan tempat yang sangat tersembunyi itu memungkinkan buku-buku terlarang itu bertahan meskipun telah terkubur selama kurang lebih 1600 tahun [6].

Lewat tulisan para Bapa Gereja yang menjadi lawan mereka, sebelumnya kita hanya tahu bahwa beberapa tulisan dinyatakan sesat. Temuan naskah-naskah kuno di Nag Hammadi dan di tempat-tempat lain sebelum dan sesudahnya memberi informasi penting tentang isi-isi ajaran yang telah dinilai sesat itu. Dalam bagian-bagian selanjutnya kita akan berkontak langsung dengan isi dari teks-teks tersebut. Perjumpaan langsung dengan teks-teks semacam ini akan sedikit membantu kita untuk menyusun hipotesis kita sendiri tentang alasan penilaian para Bapa Gereja yang telah berusaha sedemikian keras untuk melarang teks-teks tersebut.


f. Membaca buku ini


Dalam bab selanjutnya kita akan melihat sedikit sejarah lahirnya kanon resmi Kitab Suci Perjanjian Baru. Kemudian berturut-turut kita akan mengikuti kisah-kisah seputar hidup Yesus, mulai dari sebelum kelahiran-Nya hingga sesudah kebangkitan-Nya. Selama membaca teks-teks yang akan tersaji ini, Anda akan diajak untuk terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri Anda sendiri: Mengapa teks-teks semacam ini akhirnya tidak masuk ke dalarn kanon resmi Kitab Suci Perjanjian Baru? Bagian mana dari teks-teks ini yang menggelisahkan atau rnembingungkan? Seandainya bagian-bagian yang menggelisahkan ini tidak ada, mungkinkah teks yang bersangkutan diterima ke dalarn kanon Perjanjian Baru?

Akhirnya, baiklah kita ingat bahwa alasan mengapa teks-teks ini tidak masuk ke dalarn kanon tidaklah senantiasa jelas. Dengan mencoba masuk dan merasakan kegelisahan kita saat ini pada saat kita membacanya, mungkin kita bisa masuk ke dalarn kegelisahan yang serupa yang dialami oleh orang-orang beriman selama abad-abad pertama pertumbuhan Gereja. Tidak mustahil bahwa kegelisahan atau kebingungan semacam inilah yang merupakan salah satu alasan mengapa tulisan-tulisan tersebut akhirnya harus menerima status sebagai tulisan di luar kanon Kitab Suci.


Catatan :

[1] Dikutip dalam Fred Lapham, An introduction to the New Testament Apocrypha (London: T&T Clark International, 2003, hlm. 4 dan J44.

[2] Dikutip dalam Lapham, An Introduction, hlm. 45.

[3] Bruce M. Metzger, The Canon of the New Testament: Its Origin, Development, and Significance (Oxford: Clarendon Press, 1987), hlm. 165.

[4] Berdasarkan dokumen yang sudah ditemukan, diketahuilah bahwa sudah sejak abad ke-3 M di Mesir dikembangkan sebuah tulisan baru. Cara ini berbeda dari yang lama digunakan di dalam bahasa Mesir yang lebih tua. Cara menulis Kopt ini adalah tahap paling akhir dari perkembangan bahasa Mesir sendiri. Dari sini lalu secara bertahap dikembangkan bahasa Arab yang mulai sejak abad ke-11M. Lih. Stephen Emmel, "Coptic Language," ABD IV: 180.

[5] Rangkuman tentang situasi tersebut bisa ditemukan dalam Philip Jenkins, Hidden Gospels: How the Search for Jesus Lost Its Way (Oxford: Oxford University Press, 2001), hlm. 28-32.

[6] Elaine Pagels, The Gnostic Gospels (New York: Random House, 1979), hlm. xviii. Lih. juga Dan Burnstein, ed., Secrets of the Code: The Unauthorised Guide to the Mystery behind The Da Vinci Code (London: Weidenfeld & Nicholson, 2004), hlm. 92.

 

http://www.sarapanpagi.org/injil-injil-rahasia-apokrif-vt2455.html


Last Updated on Monday, 12 January 2009 06:41  

Add comment


Security code
Refresh