SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Info buku Novel : Sekuntum Nozomi, oleh Marga T

Novel : Sekuntum Nozomi, oleh Marga T

E-mail Print PDF
User Rating: / 13
PoorBest 
Novel Sekuntum Nozomi adalah wujud dedikasi dari penulis Marga T, tentang keprihatinan Tragedi Mei 1998 yang mungkin dianggap angin-lalu saja oleh Pemerintah Indonesia.
Hasil penjualan buku dan royalti, Marga T mempersembahkan semuanya  kepada korban Kerusuhan Mei 1998.
Mari kita sama-sama beli novel ini untuk ikut berkontribusi dan wujud empahty kita kepada para korban.

Sekuntum Nozomi oleh Marga T,
Memperingati Sewindu Tragedi Mei 1998

riot.jpg
[update 20 Mei 2006]
Kata pengantar oleh Wimar Witoelar:
Bulan Mei 1998 tergores dalam ingatan kita sebagai tragedi yang mengerikan dan amat menyedihkan. Pasti juga memalukan karena pembunuhan dan perkosaan, dengan nada kotor rasisme, ternyata merupakan bagian dari karakter masyarakat kita. Sangat sedih kita melihat bahwa pengalaman bersaudara sebagai sesama warga Indonesia selama puluhan tahun, masih memungkinkan segelintir orang memicu penghinaan dan penganiayaan luar biasa.
 
Bersenjatakan kekuatan politik bersenjata, kelompok misterius membangkitkan rasisme terhadap warga Indonesia yang kebetulan berketurunan Tionghoa. Predikat “mengerikan” muncul ketika kita sadar bahwa kejadian yang berkorbankan kelompok minoritas tidak bisa terbongkar. Jutaan mayoritas orang baik dan lima pemerintahan RI tidak bisa mencegah elite politik untuk mengalihkan perhatian dari proses peradilan untuk perkosaan, pembunuhan dan pembakaran.
Peristiwa Mei 1998 membingungkan sebab faktanya belum pernah terungkap. Kepentingan penguasa pada umumnya adalah mengubur peristiwa itu sebagai kecelakaan sejarah. Upaya penyelidikan dan penegakan hukum selalu menjumpai jalan buntu. Akhirnya orang percaya apa yang ia ingin percaya. Bagi yang tidak mau merepotkan hidupnya, kenangan Mei 1998 dikesampingkan dari ingatan.

 
RiotPoints.jpg
Begitu besarnya skala kesedihan dan kekejaman di bulan Mei 1998 sehingga orang tidak bisa menangkapnya. Dalam proses seleksi kognitif massal, masyarakat berpaling dari kenyataan dan melanjutkan kehidupan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Memang muncul protes keras terhadap kekerasan dan simpati bagi para korban, tapi kecenderungan orang untuk tidak membahayakan dirinya meluputkan para pelaku dan perancang peristiwa Mei 1998 dari sangsi yang seharusnya berjatuhan dalam skala besar.
Mozart konon pernah mengatakan, bahwa pernyataan yang sulit hanya bisa disampaikan dalam bentuk musik. Mungkin juga pembeberan realitas yang kompleks hanya bisa disampaikan dalam bentuk fiksi. Karena itu kita kenal novel historis yang besar, memukau tapi juga mendidik. Dalam bentuk lebih populer, film hiburan Hollywood seperti “Ray” dan "Gandhi”  lebih membuka pengertian orang terhadap kehidupan Ray Charles dan Mahatma Gandhi daripada bentuk informasi lain.
Dalam kehampaan persepsi mengenai Peristiwa 1998, muncul buku Marga T. “Sekuntum Noizumi” buku ketiga. Marga T.  adalah penulis amat produktif. Sampai saat ini Marga T telah menerbitkan 80 cerita pendek, 50 tulisan untuk anak-anak  (novel, novelet, dan kumpulan cerpen) dan 38 novel lengkap. Banyak orang dalam buku Marga T berhubungan dengan Karmila, tokoh salah satu novel pertamanya. Novel Marga T selanjutnya menceriterakan percintaan, karir  dan intrik mereka. Kerangka sistemik menempatkan semua ceritanya, semua karakternya, dalam kanvas besar sejak tahun 1974 sampai sekarang.
Kecerdasan Marga T selalu menyertakan akurasi detail dibalik bentangan imajinasi. Kekayaan adegan dalam buku-bukunya telah mengilhami film, sinetron, cerita dan budaya harian dua generasi. Imajinasi subur tampil dalam suasana masyarakat yang berubah dari tahun ke tahun. Tidak pernah lepas konteks, penuh variasi, dari kampus ke restoran Tionghoa di Rotterdam, dari kehidupan mahasiswa sampai pergulatan keluarga lintas perioda. Dari pegunungan nyaman di Puncak, sampai  ke bus di Jakarta dimana Lydia diperosokkan kedalam kebengisan Mei 1998.
nozomi3.jpg
Tidak bisa dihindari kesan, bahwa klimaks dari semua novel Marga T bermuara dalam lima Bab terakhir buku ini. Terkesan bahwa dunia dalam novel ini berbeda dengan dunia dalam novel sebelumnya. Tetapi benang merah kehadiran teman-teman Karmila mengikat tragedi Mei 1998 dalam suatu kontinuitas. Lebih mengerikan karena realistis, terjadi pada orang-orang yang sudah dikenal lama. Diluar kekejaman tahun 1966, tidak ada peristiwa sejarah yang berskala dahsyat seperti Peristiwa Mei 1998. Pada ujung masa jaya Presiden Soeharto, peristiwa Mei 1998 adalah karikatur mengenai segi-segi terburuk dari rezim Orde Baru.
Kalau ada yang masih meragukan kekejaman Orde Baru, silakan baca buku ini. Kalau ada yang kurang menyimak detail peristiwa karena banyaknya simpang siur cerita mengenai perkosaan, pembunuhan, dan kebiadaban Peristiwa Mei, silakan baca buku ini. Lebih dari tulisan dokumenter, buku ini memberikan ulasan yang berkesan mengenai kejadian Mei 98, mulai dari perkosaan di bus kota sampai pada pembunuhan gadis korban yang siap melaporkan pelanggaran HAM ke luar negeri. Dengan perspektif para korban yang terdiri atas orang biasa, peristiwa Mei 1998 ditampilkan secara gamblang sebagai tragedi kemanusiaan, bukan sekedar peristiwa politik.
Karena itu saya menilai bahwa buku ‘Sekuntum Nozomi (Buku Ketiga)’  ini harus diklasifikasikan sebagai karya besar, novel historis berukuran epik. Membaca buku ini, peristiwa Mei 98 yang menggoncangkan kita pada saat terjadi, kembali terhujam dalam kesadaran pembaca. Kembali ia menantang ‘the conscience of our nation’. Verifikasi detail peristiwa dapat dilakukan oleh para ahli. Tapi secara pasti, novel ini dengan gamblang membentangkan ketajaman penderitaan dan keluasan arogansi kekuasaan yang menjadi beban Indonesia dari dulu sampai sekarang.
Kita hanya bisa tunduk kepala dengan malu, bukan saja bahwa peristiwa Mei 1998 bisa terjadi, tapi bahwa sampai saat ini peristiwa ini tidak diselesaikan. Masih banyak orang tidak percaya, tidak mengakui peristiwa hitam ini telah terjadi. Terima kasih kepada Marga T yang membangunkan kesadaran kita. Mudah-mudahan hati nurani bangsa ini terketuk oleh buku monumental ini.
Seperti ditulis dalam satu bagian buku ini: “…. Pak Haji mengangkat tangan ke atas lalu berkata, ‘Ini adalah urusan besar, bukan sekedar preman mengamuk di jalanan. Malahan anak SMP bisa mengerti komplotan ini pasti menyangkut orang-orang tinggi dan berkuasa yang ditakuti polisi sampai mereka tidak berani bertindak.’”




Disalin dari : Perspektif Online/ 16 May 2006

Last Updated on Thursday, 22 May 2008 09:42  

Add comment


Security code
Refresh