|
Written by Bagus Pramono
|
"Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14)
"Tidak ada Juruselamat dunia, tidak ada Tuhan!" demikian secuplik lyric lagu The Internationale, yaitu lagu wajib kaum komunis yang menolak keberadaan penguasaan Ilahi. Agaknya mustahil apabila ada pemerintah dengan sistem komunis memprakarsai mencetak sebuah Kitab-Suci sebuah "agama" yang mengakui keberadaan Tuhan dan Sang Juruselamat. Namun, yang mustahil itulah yang kini sedang terjadi dan beritanya masih hangat disiarkan di berbagai berita di jaringan TV Nasional CCTV dan beberapa TV asing beberapa hari ini.
Terhadap penyelenggaraan Olimpiade di Beijing, pemerintah setempat mendapat banyak pergunjingan dari berbagai pihak, terutama pihak barat, hal-hal yang berkaitan dengan isu HAM termasuk kebebasan beragama, baik dari kaum sekuler maupun kaum religius Kristiani. Ada beberapa website Kristen yang menulis adanya larangan para atlit dan pengunjung asing membawa Alkitab masuk ke China, dan rumor bahwa Alkitab di China hanya dapat diperoleh dengan menyelundup/ rahasia, dan juga rumor bahwa sampai sekarang hanya ada gereja bawah tanah disana. Untuk menanggapi rumor tersebut, Pemerintah China tidak memakai cara-cara kekerasan atau dengan cara diplomasi verbal menolak rumor tersebut, sebaliknya mereka memakai cara diplomasi yang elegan untuk menggapinya yaitu dengan tindakan membagikan-bagikan Alkitab edisi Olimpiade Beijing secara gratis yang disebar di gereja-gereja di Beijing untuk para pengunjung dan di kawasan 'Olympic Village' bagi para Atlit yang memerlukannya. Plus mereka menjamin tidak ada larangan gereja harus tutup, semua orang boleh ke gereja kapan saja. Mereka berusaha menjadi tuan-rumah yang baik, sebagai penyelenggara yang baik, mereka bahkan mengharuskan semua tempat dugem/ nite-club/ karaoke tutup total selama Olimpiade, ini lebih-lebih dari masa Ramadhan disini. Suatu langkah yang 'pintar' untuk membungkam rumor.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 30 July 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
Pilkada Jatim Bukan Solusi Masalah Lapindo
Sabtu 19 Juli 2008 ini merupakan hari terakhir kampanye pemilihan
gubernur Jawa Timur, sebelum 29 juta warga berhak suara mencoblos Rabu
pekan depan. Salah satu masalah yang menonjol di Jawa Timur tidak lain
adalah lumpur Lapindo. Tapi ternyata tidak seorang pun dari kelima
calon gubernur datang dengan jalan keluar kongkrit. Jangan-jangan
pilkada Jatim memang bukan jaminan penyelesaian masalah Lapindo.
Berikut penjelasan Kurniawan Mohamad, wartawan harian Jawa Pos di
Surabaya.
Kurniawan
Mohamad [KM]: 'Kalau saya lihat calon-calon ini yang kuat itu ini
Khofifah, banyak pihak mengatakan itu berpeluang kemudian Soekarwa
juga, kemudian Soetjipto'.
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: 'PDIP ya'?
KM: 'Ya, jadi kelihatannya tiga besar itu yang berpeluang untuk ini'.
Peran media
RNW: 'Kalau kita mulai dari
masaalah yang sukar dulu. Di berbagai pilkada, di provinsi-provinsi
yang lain itu yang menjadi masalah adalah soal golput? Bagaimana Jatim'?
KM: 'Jawa Timur kalau pemilu tahun lalu itu kan 40 ya, kalau nggak
salah. Itu 40an ya, hampir 40 golput. Diperkirakan untuk pilkada Jawa
Timur sekarang ini ya berkisar antara 35-40 itu. Ya, termasuk tinggi
kalau dilihat pemilu tahun 2004. Tapi ini kan sebetulnya peran dari
media, baik media cetak maupun elektronik, terkait dengan pilgub ini
kan kelihatan signifikan. Artinya nanti angka golput itu bisa berkurang
begitu.
Ini terlihat dari setiap kali media cetak mengadakan parameternya ya,
mereka ini partisipasinya juga cukup bagus. Kalau itu dijadikan
parameter bagaimana. Kan golput itu kan macam-macam. Ada yang karena
dia tidak dapat informasi secara lengkap, ada yang dia tidak punya
ideologi. Misalnya pokoknya saya nggak mau nyoblos karena dia tidak
percaya apatismelah. Dia tau ada pilgub tapi apatis dia gitu.
Peran media cetak maupun elektronik itu, kelihatannya bisa golput yang
tidak dapat informasi itu. Karena untuk dua pasangan calon kayak pak
Naryo sama pak Karwo itu runningnya
sudah tiga tahun yang lalu. Dia ke daerah-daerah itu selain
mempopulerkan figur, mereka ini juga mempopulerkan bahwa nanti akan ada
pilgub. Jadi, dengan cara itu, bisa jadi nanti orang yang semula golput
karena tidak dapat informasi itu bisa tidak golput begitu'.
RNW: 'Tapi kalau dari 40% golput zaman pemilu tahun 2004, itu yang paling banyak kategorinya mana'?
KM: 'Pemilih usia antara 24 sampai 39an ya, usia itu antara usia itu'.
Golput cenderung menurun
RNW: 'Tapi susah mengatakan bahwa mereka justru tidak tahu-menahu karena tidak melihat media'?
KM: 'Ya, kalau dulu misalnya pemilihan legislatif. Kalau toh dia
berkampanye calon-calon, itu kan tidak langsung terasa di sini. Karena
dia anggota DPR, anggota DPRD begitu kan, tapi kalau kepala daerah itu
kan beda. Artinya orang yang milih itu akan lebih tertarik milih kepala
daerah dibandingkan dia milih presiden atau anggota DPR. Presiden itu
kan agak jauh gitu kan, kalau kepala daerah itu kan langsung dampaknya
gitu.
Karena itu sebetulnya ada kecenderungan menurun golput itu. Kalau kita
lihat di Jawa Tengah, kalau dibandingkan dengan itu ada kecenderungan
menurun, dibandingkan dengan pemilu 2004. Meskipun juga angkanya masih
besar tetapi ada kecenderungan menurun, itu menunjukkan bahwa tetap
beda. Dulu kalau bandingannya pemilu 2004 itu milih presiden sama milih
anggota dewan. Nah, ini milih gubernur milih pemimpin yang langsung
lebih berdampak daripada presiden sama anggota dewan'.
Kurang kongkrit
RNW: 'Pertanyaan yang saya
kira juga tidak kalah pentingnya adalah soal Lapindo ya. Bagaimana dari
kelima pasangan calon ini menawarkan jalan keluar untuk Lapindo'.
KM: 'Kita kan sebetulnya ada liputan khusus tentang bagaimana para
calon itu mengatasi problem-problem yang cukup lama penyelesaiannya di
Jawa Timur, antaranya adalah Jembatan Suramadu dan lumpur Lapindo.
Nah, ketika menjawab soal lumpur Lapindo, jawaban para calon ini kurang
kongkrit menurut saya. Kebanyakan normatif. Misalnya kita akan duduk
bersama, jadi kurang kongkrit. Ada calon yang mungkin karena sudah
punya pengalaman di birokrasi, tahu bagaimana sulitnya menangani
Lapindo, karena itu terkait kepentingan daerah, kepentingan propinsi,
kepentingan nasional, dia tidak berani membuat program yang kongkrit.
Barangkali karena dia tahu sulitnya.
Ada juga calon yang karena dia tidak tahu, sering kali tidak realistis
jawabannya. Kita ngukur kayaknya enggak realistis program yang
diajukannya'.
RNW: 'Dengan demikian sesudah pilkada ini belum ada jaminan Lapindo akan diselesaikan'?
KM: 'Ya, kita sih berharapnya dengan adanya gubernur yang baru itu
paling tidak bisa lebih proaktiflah, lebih baik dari sebelumya. Tapi
soal jaminan ini sih kalau kita sih mazhabnya kan harus optimis'.
Sumber : http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pilkada_jatim_lapindo080718
----------------------------------------
Korban Lumpur Lapindo Kecewa kepada Cagub
Tak Satu Pun Cagub Jatim Berani Bersikap soal Penanganan Lumpur
Surabaya, Kompas - Korban semburan lumpur Lapindo di Porong,
Sidoarjo, Jawa Timur, menyatakan kekecewaan mereka terhadap lima
pasangan peserta Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur periode 2008-2013.
Tak satu pun dari calon gubernur itu yang berani memberikan jawaban
tegas tentang berani atau tidak membuat kontrak politik dengan para
korban lumpur Lapindo.
Pertanyaan tentang kontrak politik dengan
korban lumpur Lapindo ini muncul sebagai pertanyaan pertama dalam debat
publik calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim yang diselenggarakan
hari Sabtu (19/7) malam di Taman Tugu Pahlawan, Surabaya.
Hadir
sebagai panelis dalam acara yang dihadiri sekitar 500 orang ini adalah
pengajar sosiologi Universitas Airlangga, Surabaya, Daniel Sparringa;
pengajar komunikasi Universitas Airlangga, Henri Subiakto; dan
pengusaha media massa, Dahlan Iskan.
Atas pertanyaan tentang
kontrak politik ini, calon gubernur Khofifah Indar Parawansa
mengatakan, yang perlu diselesaikan dalam kasus semburan lumpur Lapindo
adalah membuat ganti untung dengan para korban. Adapun Sutjipto
menuturkan, para korban yang punya kewenangan untuk menentukan apa yang
harus dilakukan pemerintah dalam kasus ini.
Soenarjo mengatakan,
yang penting diselesaikan dalam kasus lumpur Lapindo adalah unsur
manusianya. Jawaban senada disampaikan Achmady, yang mengatakan
pentingnya keberpihakan kepada rakyat dalam kasus ini. Sedangkan
Soekarwo menyatakan berkomitmen ingin menyelesaikan masalah itu dengan
baik.
”Saya kecewa karena pernyataan para calon gubernur itu tak
ada yang menjawab pertanyaan, yaitu berani atau tidak membuat kontrak
politik. Sebagai calon pemimpin, seharusnya mereka berani untuk
bersikap pada masalah Lapindo. Jika jawabannya tidak jelas seperti itu,
jangan salahkan kami jika meragukan kemampuan mereka,” kata Soenarto,
korban semburan lumpur Lapindo.
Hal serupa disampaikan Sunarsih,
korban Lapindo lainnya yang sampai sekarang masih tinggal di
pengungsian di Pasar Baru Porong. ”Saya kecewa…. Saya kecewa,” katanya
berulang-ulang.
Penanganan kasus lumpur Lapindo juga tidak
disinggung kelima pasangan calon saat mereka menyampaikan visi dan
misinya di depan DPRD Jawa Timur, 7 Juli 2008.
Ingin bermain aman
Pemerhati
politik dari Universitas Airlangga, Moh Asfar, menduga ketidakjelasan
jawaban tentang masalah Lapindo ini terjadi karena semua pasangan calon
ingin bermain aman dan ada kesadaran bahwa kewenangan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur dalam kasus ini amat terbatas.
”Namun,
seharusnya tetap ada komitmen yang jelas untuk para korban lumpur
Lapindo. Misalnya, janji untuk memberikan pinjaman modal usaha tanpa
agunan atau membantu membangunkan rumah untuk para korban. Komitmen
seperti itu dapat dilakukan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur,”
katanya.
Ketua Pusat Pengkajian Otonomi Daerah Universitas
Brawijaya, Malang, Ibnu Tricahyo menambahkan, tiga hal penting juga
tidak terungkap dalam jawaban pasangan calon dalam membentuk
pemerintahannya yang bersih, yakni cek dan keseimbangan dalam
pemerintah dan DPRD, pelaku ekonomi, dan masyarakat. Jawaban semua
kandidat atas pertanyaan panelis masih berputar-putar dan hanya
retorika.
”Tidak ada calon yang ideal bagi pemilih,” ujar Ibnu mengkritik.
Kampanye terakhir
Sebelum
menghadiri debat publik, pada pagi hingga siang harinya kelima pasangan
peserta Pilkada Jatim masih berkampanye untuk terakhir kali.
Sutjipto-Ridwan Hisjam kemarin menutup kampanyenya di lapangan Desa
Lajukidul, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Mereka disambut ribuan
pendukungnya mulai pukul 14.00 hingga pukul 15.00.
Khofifah Indar
Parawansa-Mudjiono berkampanye di Gelanggang Olah Raga (GOR)
Tambaksari, Surabaya, dan pelataran GOR Delta Sidoarjo. Sekitar 10.000
pendukung mereka mengikuti kampanye di GOR Tambaksari yang diramaikan
artis dari Partai Pelopor, seperti Camelia Malik, Ahmad Albar, dan Ian
Antono.
Sementara itu, Soenarjo kemarin berkampanye di Jombang
dan Achmady berkampanye di Madura. Sedangkan calon wakil gubernur
Saifullah Yusuf berkampanye di Gedung Guru, Lumajang.
(IDR/VIN/INA/ENG/NWO/ACI/dwa)
Sumber :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/20/0141388/korban.lumpur.lapindo.kecewa.kepada.cagub
|
|
Last Updated ( Thursday, 24 July 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|

Abrakada... Blue!
NEGERI
dengan selaksa persoalan seperti Indonesia barangkali memang butuh
pemimpi. Tapi ada pemimpi yang mengejar cita-cita dengan kerja ilmiah
yang bisa dibuktikan, ada pula yang sekadar berilusi.
Untuk yang
pertama kita teringat Rudolf Christian Karl Diesel. Di usia 35 tahun,
pada 1893, dia menemukan mesin minyak, perkakas yang bisa bekerja
dengan bahan bakar nabati—minyak kacang, ganja, atau buah jarak. Temuan
ini mengubah paradigma para ahli ketika itu, yang berpikir mesin hanya
bisa digerakkan dengan bahan bakar fosil seperti bensin. Atas jasanya,
mesin minyak lalu diubah namanya menjadi mesin diesel.
Lahir di
Paris, Prancis, dari keluarga perajin kulit asal Jerman, sejak kecil
Rudolf dikenal jenius. Pada usia 20, ia menerima medali dari Société
Pour L’Instruction Elémentaire, atas beberapa karya ilmiahnya. Sempat
tak lulus sekolah teknik mesin dan dirawat di rumah sakit jiwa, ia
membuat mesin uap dengan efisiensi tinggi, mesin pembuat es bening, dan
mesin penyerap amoniak.
Dalam pidatonya yang terkenal ketika
menerima hak paten atas mesin diesel ciptaannya, ia menegaskan
pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar saat itu mungkin tidak
berarti. Tapi suatu saat, ketika orang berteriak tentang harga minyak
dunia yang membubung, minyak nabati akan dicari sebagaimana minyak bumi
dan batu bara. Jauh di kemudian hari, ucapan Rudolf terbukti benar.
Untuk
yang kedua, sulit untuk tak menyebut Joko Suprapto. Pria 48 tahun ini
bermimpi membuat bahan bakar minyak dari air. Seperti apa proses
pembuatannya, tak jelas betul. Yang pasti, ia berhasil meyakinkan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kalangan Istana. Adalah Presiden
sendiri yang memberi nama (calon) produk ajaib itu ”Minyak Indonesia
Bersatu”—sesuatu yang, aha, mengingatkan kita pada slogan kampanye.
Strategi
lalu disiapkan: miliaran rupiah dikumpulkan, belasan hektare lahan
dibentangkan. Target dipatok: membuat blue energy, nama lain ”minyak
persatuan”, bisa diproduksi secara massal. Joko lalu memberikan janji
yang membuat Presiden bungah: pada Mei 2008, tepat seabad usia
Kebangkitan Nasional, lelaki yang tak jelas pendidikannya itu akan
memulai proyek mimpinya.
Kita tahu cerita selanjutnya. Joko
menghilang. Desas-desus beredar: ia diculik. Orang dekat Yudhoyono
curiga ia disekap mafia minyak dunia yang terancam bisnisnya oleh
temuan Joko. Mereka mungkin teringat Rudolf Diesel yang tewas secara
misterius ketika berlayar dari Prancis ke Inggris pada 1913. Kabarnya,
ia terjatuh ke laut dan tenggelam. Lima hari kemudian jasadnya baru
ditemukan. Ada yang menduga Rudolf mati karena persaingan bisnis
otomotif. Istana barangkali tak ingin kisah Rudolf terulang: mereka
mengirim Detasemen Khusus Antiteror untuk mencari Joko. ”Sang penemu”
ternyata tengah tergolek di rumah sakit.
Dengan akal sehat kita
bisa mengatakan, proyek ”minyak persatuan” itu hanya bualan. Secara
teori, energi memang bisa diperoleh dengan memecah unsur hidrogen dan
oksigen di dalam unsur air. Tapi proses pemisahan membutuhkan energi
lain yang tak murah. Gas hidrogen yang dijual di pasar tak diperoleh
dari proses elektrolisa tapi melalui pemanasan gas alam seperti
propana, metana, dan etana.
Rupanya, Istana telanjur terpukau.
Setelah huru-hara raibnya Joko, Presiden kabarnya masih memberikan
kesempatan agar proyek itu dilanjutkan hingga Agustus 2008. Harapannya,
siapa tahu, abrakadabra, energi biru muncul pada Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia.
Mungkin saja optimisme itu dipelihara karena
Presiden prihatin dan ingin mencari solusi atas melambungnya harga
minyak dunia. Sekalian: jika proyek ini berhasil, jangankan rakyat di
dalam negeri, dunia pun akan menoleh kepadanya. Di tengah rongrongan
hebat kelompok ”oposisi” akibat keputusan menaikkan harga bahan bakar,
”minyak persatuan” agaknya diharapkan Istana menjadi senjata pamungkas
untuk merebut hati rakyat.
Punya mimpi tentu tak ada salahnya.
Tapi pemerintah punya cara-cara elegan untuk mewujudkan mimpi itu.
Dalam kasus ini, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia, sejumlah ahli, patut diminta meneliti kebenaran
proyek berbau sulap itu. Tidak semua urusan mesti ditangani langsung
oleh Presiden. Dengan meminta para pembantunya meneliti dulu berbagai
proposal, ia bisa terhindar dari kemungkinan tertipu proyek yang tak
jelas juntrungannya. Presiden pilihan rakyat itu mesti diselamatkan
dari rayuan para pembisik tak bertanggung jawab.
Presiden pun
mestinya tidak terburu-buru memberikan simbol— minyak persatuan,
kebangkitan nasional, sumbangan Indonesia pada dunia—untuk sesuatu yang
masih di awang-awang. Satu prinsip dasar yang mesti dipercayai siapa
pun: tak ada penemuan besar yang dasarnya hanya sulapan.
Setiap
zaman punya keedanannya sendiri. Krisis minyak dunia yang dilawan
dengan simsalabim dan abrakadabra mungkin salah satunya.
Sumber :
Majalah Tempo, OPINI, edisi 2-8 Juni 2008
http://www.tempointeraktif.com/hg/opini/2008/06/02/opi,20080602-127344,id.html
=====================================================
|
|
Last Updated ( Monday, 23 June 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
How can we win when fools can be kings? (Matthew Bellamy, Black Holes and Revelations, 2006)
Kita
patut bersedih, Indonesia pasca reformasi bukannya maju tetapi malah
terpuruk, gema reformasi yang kaya retorika miskin substansi, yang
tidak mampu me-reform bangsa dan negara. 10 tahun sudah semenjak Orde
Baru tumbang, Indonesia makin jauh tertinggal ke belakang bahkan
diantara negara-negara di Asia Tenggara sendiri. Thailand, Malaysia,
Korea adalah negara-negara yang pernah terpuruk akibat krisis keuangan,
mereka sudah bangkit, terhadap pembangunan begitu marak dan
kemajuan-kemajuan disana, kita perlu sangat iri dan memandang sedih
keadaan Indonesia kita sekarang ini.
Yang terjadi di Indonesia,
para penguasa yang tidak mencintai bangsa dan negaranya, yang selalu
bertikai untuk kepentingan kelompoknya dan membela perutnya
sendiri-sendiri. DPR yang sebagian "tidur", pejabat yang korup…. tidak
ada nasionalisme, tidak mencintai bangsa dan negara. Pemimpin yang
tidak tegas, takut dan sungkan pada kelompok tertentu, para pemimpin
negara yang tidak dapat menyelesaikan kasus lumpur panas dan menindak
yang membuat gara-gara bencana itu. Pengungsi pasca tsunami Atjeh yang
masih ada tinggal di tenda-tenda hingga kini, angka kemiskinan yang
bertambah, malnutrisi, dan lain-lain. Para mantan pejabat negara yang
tidak ada puasnya menjadi pejabat, mantan menteri-pun masih ingin
menjadi gubernur dan walikota. Para incumbent
yang sudah jelas tidak mampu membangun suatu daerah masih ingin juga
terpilih dalam pilkada. Menteri-menteri bidang kesejahteraan yang gagal
mensejahterakan rakyat, malah sebaliknya menjadikan rakyat sengsara.
Kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak mempunyai itikad membangun
negara. Mereka hanya berjuang untuk diri sendiri dan memperkaya diri
dan kelompoknya.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 30 July 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
Truth is the first casualty of war.

Written and Directed by: Brian De Palma
Brian De Palma ingin negaranya menghentikan perang melalui film terbaru yang dikemasnya dengan judul Redacted. Meski sebuah "cerita fiksi" namun film ini diangkat dari true events yang diinginkannya menjadi suatu pengungkapan betapa collateral damage
penyerangan/invansi Amerika Serikat ke Iraq tidak hanya menzolimi
rakyat Iraq namun juga telah merusak mental para prajurit yang dikirim
untuk misi tersebut. Redacted, juga terinspirasi dari Kasus Abeer Qassim al-Janabi,
yaitu kejadian nyata atas pemerkosaan dan pembunuhan terhadap gadis
Iraq yang berumur 14 tahun disertai dengan pembantaian terhadap
keluarganya yang dilakukan oleh tentara Amerika. De Palma memfiksikan kisah ini dengan sorotan ala kamera handicam seorang amatir.
Sebelum memulai proyek film ini, De Palma melakukan banyak riset yang
dilakukannya sendiri dengan berbicara dengan banyak tentara yang pernah
dikirim ke Iraq. Dari semua wawancara yang dilakukannya, ia menarik
keseragaman problem yang dihadapi para tentara itu bahwa mereka tidak
paham apa yang sebenarnya mereka lakukan di Iraq. Mereka tidak tahu
yang mana musuh, ketika rekannya mati akibat bom mereka ingin membalas
dendam dengan menembaki semua orang Iraq. Para tentara stress/ tertekan
secara psikologis terhadap keadaan yang menyudutkan mereka sebagai "bad
guy" di daerah ini. Iraq tidak seperti Vietnam, tidak ada tempat-tempat
hiburan yang lazim ada di negara barat, kalau di Vietnam ada
rumah-rumah bordil untuk mereka dapat membuang hajat, di Iraq tidak.
Tentara menjadi objek utama sasaran penembakan dan pengeboman oleh
kalangan militan lokal dalam perang kota di Iraq. De Palma juga ingin
menceritakan hal-hal yang tak terekspos dalam berita-berita di
media-media Amerika. Dia mengklaim memiliki banya foto dari banyak photographer
yang liputannya itu tak pernah dipublikasikan di AS, namun karya mereka
beberapa dipublikasikan di beberapa media Arab. De Palma mengatakan ada
banyak juga jurnalis Amerika yang menjadi tertekan karena mereka harus
menutupi beberapa kenyataan yang telah mereka lihat disana atas
permintaan media dimana mereka bekerja. Sayang, Film ini banyak dibenci
oleh kritikus maupun rakyat Amerika. Film ini dituduh menceritakan
kebohongan dan menurunkan moral pasukan AS di Irak. Rakyat Amerika
menuding film ini akan menjadi kampanye negatif terhadap pasukan AS
yang mencitrakan dirinya sebagai Pro Demokrasi dan Pembela HAM. De
Palma menyayangkan hal ini, apa jadinya jika Amerika tidak melihat apa
yang sedang mereka lihat?
|
|
Last Updated ( Saturday, 14 June 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
SUARA PEMBARUAN DAILY
Ilmuwan Inggris Richard Davies:
Lumpur Lapindo 99 Persen Kesalahan Pengeboran
[PARIS] Luapan Lumpur Lapindo yang sudah dua tahun terjadi dan
mengakibatkan puluhan ribu orang menjadi pengungsi, hampir dapat
dipastikan bukan faktor alam, tetapi akibat kesalahan manusia, yakni
pengeboran dan sumur gas Banjar Panji-1.
Kesimpulan itu disampaikan para ilmuwan luar negeri yang dipimpin
peneliti geologi dari Universitas Durham, Inggris, Richard Davies, di
Paris, Prancis, Selasa (10/6).
Penelitian Davies dan rekan-rekannya tersebut dipublikasikan di sebuah jurnal ilmiah yang terbit minggu ini, yakni Journal Earth and Planetary Science.
Dalam jurnal tersebut, Vadies menulis tim yang dipimpinnya yakin 99
persen bahwa tekanan akibat pengeboran menyebabkan terjadi luapan
lumpur dari bawah tanah.
|
|
Last Updated ( Friday, 13 June 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
 Tracklist :
1. Intro
2. Knights of Cydonia
3. Hysteria
4. Supermassive Black Hole
5. Map of the Problematique
6. Butterflies and Hurricanes
7. Hoodoo
8. Apocalypse
9. Feeling good
10. Invincible
11. Starlight
12. Improv
13. Time is running out
14. New born
15. Soldiers Poem
16. Unintended
17. Blackout
18. Plug In Baby
19. Stockholm Syndrome
20. Take A Bow
Yang
saya tunggu-tunggu datang, sekian lama hanya mendengar beritanya.
Akhirnya bisa menontonnya juga dari DVD/CD yang baru rilis. Konser
HAARP ("High-Frequency Active Auroral Research Program") ini diadakan
di Stadion Wembley London, 16-17 June 2007, sangat spektakuler dihadiri
150ribu penonton!. Band yang terdiri dari tiga personil: Matthew
Bellamy (vokal, gitar, piano), Chris Wolstenholme (bass, keyboards,
vokal) dan Dominic Howard (drums), plus dua additional musicians
: Morgan Nichols & Dan Newell, mereka menyuguhkan music rock yang
menggabungkan banyak aliran music, bahkan ada "Prokofiev &
Rachmaninov".
Sejak lagu pertama hingga akhir, konser Muse
tidak hanya menyajikan music dan visual sound system yang luar biasa
sebuah gabungan art dan canggihnya technology. Pas lagu "Time Is Running Out" dari album Absolution dibawakan, tiba-tiba anakku yang masih kecil pun ikut menyanyi begini : Otakmu seksi itu terbukti dari caramu memikirkan aku…,
he he he, sayapun 'lupa' kalau rupa-rupanya Ahmad Dhani "terinspirasi"
dari lagu ini. It's so obvious, sehingga anak kecilpun dengan mudah dapat merujuk asal
lagu tersebut.
Matthew Bellamy senang "berkhotbah" di lagu-lagunya, ia membawa idealismenya dalam lyric lagu-lagu yang ditulisnya. Take A Bow, lagu dengan lyric yang menyumpahi kaum korup dengan kata-kata "… You will burn in hell", ditempatkan sebagai gong penutup konser ini. Bravo Muse!

Blessings,
Bagus Pramono
June 3, 2008
|
|
Last Updated ( Wednesday, 04 June 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
Menyimak musibah gempa pada hari Senin tanggal 12 Mei 2008 yang
berkekuatan "8.3 Skala Richter" di kawasan pegunungan yang jaraknya
sekitar 100 km dari kota berpenduduk 10juta jiwa, di Chengdu, ibukota
provinsi Sichuan - China. Setiap hari non-stop beritanya di TV lokal
CCTV menceritakan 1001 kisah-kisah yang menyentuh, dan didalamnya pula
kita dapat melihat rasa solidaritas kemanusiaan dan penanganan musibah
yang terkoordinasi dengan sangat baik. Dari banyaknya kisah yang
diliput, ada satu kisah yang ingin saya bagikan yang menunjukkan betapa
satu nyawa itu sungguh berharga. Tentara-tentara muda dan relawan tak
kenal lelah menyisir puing-puing reruntuhan bangunan, mengambil
mayat-mayat dan mencari-cari orang-orang yang masih bisa tertolong
nyawanya.
Suatu ketika seorang regu penyelamat seperti biasa
memanggil-manggil kalau-kalau ada korban yang masih hidup
tertimbun di reruntuhan bangunan. Dan suatu ketika mereka menemukan ada
seorang gadis belasan tahun yang telah tertimbun beberapa hari dan
masih dalam keadaan bernyawa, dengan susah payah mereka mengeluarkan
gadis ini dari timbunan itu, dan ajaib setelah beberapa hari tertimbun,
gadis ini masih dalam keadaan yang lumayan sehat. Ketika menyambut
gadis ini keluar dari reruntuhan itu, salah seorang regu peyelamat
menyanyikan lagu "Happy birthday to you...."
kemudian diikuti teman-temannya yang lain, mereka menyanyikan lagu itu
dengan tepuk-tangan. Saya yang sedang menonton TV saat itu agak heran
mengapa mereka menyanyikan lagu ini? Dan seketika itu juga saya
mengerti sekaligus trenyuh karena dalam nyanyian itu ada suatu dasar
filosofis yang dalam yang keluar dari mulut sekumpulan orang-orang muda
yang menjadi regu penyelamat. Bahwa mereka sedang merayakan nyawa gadis
yang tertolong itu sebagai perayaan bahwa gadis itu telah "born again", hari itu "ia dilahirkan lagi". Pantaslah mereka menyanyikan lagu "Happy birthday to you....".
Gadis itu tersenyum dan menangis, diantara relawan juga ikut menangis
haru menyambut "hari lahir" yaitu hari keselamatannya. Mereka bertepuk
tangan merayakan satu nyawa yang tertolong.
Betapa Alkitab juga
mengajarkan kepada kita bahwa kita ini sungguh berharga, meski Allah
telah menciptakan banyak sekali manusia, namun Ia tetap memandang satu
jiwa dan setiap jiwa sungguh berharga. Tuhan Yesus berkata :
"Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (Lukas 15:10). Kembali saya tersentuh merenungkan satu ayat ini. Ketika ada yang bertobat, para Malaikat menyanyi "happy birthday to you....", menyambut anak-anak Allah yang dilahirkan lagi dan menerima keselamatan kekal dari Allah.
Amin.
Blessings in Christ,
Bagus Pramono
May 22, 2008
|
|
Last Updated ( Wednesday, 30 July 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
Meratapi Palestina
Oleh : Trisno S Sutanto
Pagi
itu, bulan Mei persis enam puluh tahun lalu, Ibrahim Fawal baru berusia
15 tahun ketika dia menemukan dunia yang selama ini dihidupinya hancur
berantakan. Ramallah, kota kecil di Tepi Barat, tempat dia lahir dan
hidup sehari-hari, tiba-tiba berubah menjadi tenda pengungsi raksasa.
Mereka mendirikan tenda di mana-mana, di halaman gereja, sekolah, lapangan rumput, dan tempat pemakaman,” tulisnya.
Fawal
tidak sendirian. Ratusan ribu orang lain mengalami hal yang sama ketika
tiba-tiba mereka, penduduk asli di wilayah itu, justru menjadi orang
asing, dikejar-kejar, dibunuh, atau dipaksa pergi menjadi orang buangan
di negara lain.
Itulah hari yang, bagi Fawal dan ratusan ribu
orang Palestina lainnya, disebut an-Nakba, ”bencana”, ketika hampir
800.000 penduduk Palestina kehilangan tempat tinggal, kebun, pekerjaan,
dan seluruh jalinan relasi kehidupan sehari-hari.
Dari data yang
dikumpulkan The Institute for Middle East Understanding (IMEU), lebih
dari separuh penduduk dipaksa lari mengungsi karena serangan dan teror
milisi bersenjata Irgun Zvai Leumi dan Stern, di bawah komando David
Ben-Gurion, dan sudah meninggalkan tanah mereka sebelum negara Israel
resmi diproklamasikan (lihat http://www.imeu.net).
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
|
“Pesan yang dibawa Alkitab sudah cukup jelas bagi kita semua, yakni kekuatan seorang ayah jasmani kita akan membuat kita sadar akan kemampuan Abba kita di Surga yang mengatasi segala sesuatu, dan kelemahan ayah jasmani kita akan membuat kita semakin sadar bahwa cuma Abba di Surga lah satu-satunya ayah ideal yang bisa kita harapkan.” - JED-ReVoLuTiA
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
|
Ada buku cerdas tentang kehidupan Kristen yang di Indonesia ini diterbitkan oleh "penerbit Muslim". Dibawah ini salinan review-nya.
"Benarkah Allah pernah tertawa?" Maka, jawabnya akan mengantarkan pada peristiwa-peristiwa mengguncangkan di sebuah biara. Kematian datang, dan tragisnya, kehancuran pun adalah jawab dari segalanya. Begitulah Umberto Eco — Novelis, Semiolog, dan seorang ahli Abad Pertengahan — menulis "Il Nome Della Rosa aka The Name of The Rose (TNOTR)".
TNOTR adalah masterpiece dari seorang pakar semiotika sekaligus pakar budaya dari Italia , Umberto Eco. Gaya tulisan Umberto Eco itu sangat detail bak ensiklopedia, tersedia juga buku dari penulis lain tentang how to "crack" The Name of The Rose.......(the key of the name of the rose).
Setting cerita adalah medieval Eropa , yang sangat muram dengan teokrasi . Bahwa pemimpin agama adalah selalu benar , sehingga ilmu pengetahuan terpinggirkan . Medieval Eropa ditandai dengan inkuisisi terhadap ilmuwan , kaum-kaum bidat , orang yang tertuduh bidat , alkemis-alkemis yang dikira tukang sihir , dan persaingan antar denominasi.
Inti dari kisah TNOTR adalah bagaimana kisah pembunuhan dengan pola Alkitabiah membawa seorang william ke labirin perpustakaan. Debat antara William yang mewakili pemikir religius scholastic dengan Jorge seorang rahib senior tetapi sangat fanatik , sangat menarik.
Buku karya Eco lainnya yang cukup menarik dan njelimet , yaitu "Travel in Hyperreality"
----------
|
|
Last Updated ( Thursday, 08 May 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
Dulu, seorang budak dan keturunannya tak pernah menyanyi, budak tak pernah tersenyum. Sampai pada tahun 1950, ada harapan baru, ada satu juta orang budak mulai dibebaskan, dan mereka dapat bernyanyi bersama-sama. Itulah masa lalu yang dialami Basang (巴桑, 1937 - ) seorang penulis perempuan asli Tibet yang selalu aktif mengkounter aksi-aksi yang dilakukan Dalai Lama dan kroni-kroninya.
|
|
Last Updated ( Monday, 23 June 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
August Rush adalah sebuah film drama bercerita tentang "Mozart, the child prodigy zaman sekarang", yang terpisah dari kedua orangtuanya dan tinggal di sebuah panti asuhan dengan penuh harapan bahwa suatu saat orang-tuanya akan menemukannya. Meski merupakan film yang sifatnya mystically romantic dan penuh dengan sentuhan fairy-tales element, film ini adalah sebuah film keluarga yang baik ditonton.
August Rush adalah sebuah film drama bercerita tentang "Mozart, the child prodigy zaman sekarang", yang terpisah dari kedua orangtuanya dan tinggal di sebuah panti asuhan dengan penuh harapan bahwa suatu saat orang-tuanya akan menemukannya. Meski merupakan film yang sifatnya mystically romantic dan penuh dengan sentuhan fairy-tales element, film ini adalah sebuah film keluarga yang baik ditonton.
August Rush bukan hanya film drama, tapi sekaligus film musikal yang musiknya ditata sangat bagus dan menampilkan music dengan berbagai jenis, mulai dari classic, jazz, rock, soul, techno, latin dll., membuat film ini kaya dan imaginative ketika sound dan musiknya itu masuk ke telinga kita. Macam-macam jenis music yang ditampilkan, menunjukkan bahwa semua jenis music itu indah dan semuanya layak mendapat apresiasi.
Di Film August Rush, Anda tidak hanya disuguhi cerita yang bagus, original, tetapi juga sajian music experimental yang baik ditonton untuk para musisi dan pecinta music. Bagaimana sebuah gitar dimainkan bagai sebuah perkusi, dan juga menampilkan guitar tapping technique yang pasti bakal membuat para pemain guitar berdecak kagum. Anda juga menikmati drums loops mengimitasi bunyi-bunyian kereta dan hiruk-pikuk apapun yang ada di sebuah kota yang sibuk. Kita juga dapat mendengar suara Jonathan Rhys Meyers, aha rupanya dia juga pandai bernyanyi, plus suara yang punya karakter. Menjadi seorang penyanyi tenar bukan sekedar perlu modal suara bagus, tetapi perlu juga menampilkan suaranya itu in the unique way.
Film ini dibuka dengan narasi yang diucapkan dengan bagus oleh aktor cilik, yang sudah cukup banyak berakting di film-film besar, Freddie Highmore, yang berperan sebagai Evan Taylor/ August Rush :
Listen, can you hear it?
The music, I can hear it every where
In the wind, in the air, in the light, it's all around us
All you have to do is to open yourself up, all you have to do is listen
Where I've grown up, they tried to stop me from hearing the music
But when I'm alone, it builds up from inside me
And I think if I could learn how to play it
They might hear me, they would know I was theirs and find me
Sometimes the world tries to knock it out of you
But, I believe in music the way that some people believe in fairy tales
I like to imagine that what I hear came from my mother and father
Maybe the notes I hear are the same ones they heard the night they met
Maybe that's how they'll find me
I believe that once upon the time long ago
They heard the music and followed it…
Evan Taylor (Freddie Highmore), adalah seorang anak yang lahir diluar rencana dari pasangan musisi, pemain cello yang cantik, Lyla Novacek (Keri Russell) dan penyanyi dari sebuah rock band asal Irlandia, Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers). Evan adalah hasil dari pertemuan mereka semalam di San Francisco, dan karena nasip, mereka terpisah. Dalam keadaan hamil, Lyla mendapat kecelakaan. Ayah Lyla yang merasa anak gadisnya belum siap berkeluarga, maka ia memakai kesempatan ini untuk mengelabuhinya bahwa bayi yang dikandungnya itu mati, dan menyerahkan bayi Evan ini untuk diadopsi.
Di dalam panti-asuhan, seperti anak-anak yang lainnya, Evan adalah anak yang mendambakan kehadiran orang-tua. Bedanya, ia mencari jejak orang-tuanya dengan music, ketika ada saat dia hendak dikirimkan kepada orang-tua yang hendak mengadopsi anak oleh seorang Social Service worker, Richard Jeffries (Terrence Howard, yang berkarakter simpatik di film ini). Namun, Evan mendadak hilang di tengah keramaian kota New York. Bakat Evan ditemukan oleh seorang preman jalanan yang membina anak-anak pengamen, Maxwell 'Wizard' Wallace (Robin Williams), ia mengatakan kepada Evan "You got to love music more than you love food. More than life. More than yourself!". Oleh Wizard, Evan diberi nama professional "August Rush", sebuah nama yang diambil secara random dari sebuah tulisan di body sebuah truck yang sedang lewat.
Ketika ada suatu kejadian, polisi menangkapi para gelandangan anak-anak, Evan lari dan nasip membawa Evan ke sebuah gereja, di dalam gereja itu Evan melihat seorang gadis kecil yang bernama Hope (Jamia Simone Nash) yang menyanyi dengan sangat bagus bersama anggota koor gereja itu. Kemudian mereka saling kenal, dan Hope mengajari Evan mengenal notasi music dan piano. Dengan bakat alam yang luar biasa, Evan mampu memainkan piano, menulis notasi music dan memainkan organ klais yang terdapat di gereja itu, sang pendeta melihat bakat Evan ini dan mengirimkannya ke sebuah sekolah music bergengsi di New York Juilliard School. Di sinilah Maestro cilik ini dibina menjadi seorang musisi sebenarnya.
Sementara itu, Lyla sang ibu yang tinggal di kota Chicago, akhirnya mendapat pengakuan dari ayahnya bahwa bayi yang dilahirkan Lyla dahulu sebenarnya tidak mati. Maka, Lyla bergegas kembali ke New York untuk mencari anaknya. Lyla bertemu Mr. Jeffries dan mendapat kabar bahwa anaknya telah hilang entah kemana, Lyla memutuskan tinggal di New York dan kembali bergabung dengan The New York Philharmonic sambil melakukan pencarian anaknya.
Di lain pihak, sang ayah, Louis Connelly, semenjak pertemuannya dengan Lyla 11 tahun yang lalu tak henti-hentinya mencari jejak pujaan hatinya dan membuat ia tetap tinggal di San Francisco, ia tidak pernah menyadari kalau ia sudah menjadi ayah. Kemudian, ia menemukan alamat Lyla di Chicago, dan mendapati kabar yang salah dan mengira bahwa Lyla sudah menikah. Melihat kenyataan ini Louis enggan kembali ke San Francisco, dan ia memilih New York dan kemudian memutuskan kembali bergabung dengan abangnya dalam Rock Band, sebagai lead vocal dan guitarist di band itu.
Evan yang telah menjadi seorang composser karena pendidikannya di Juilliard School, atas kemampuannya yang luar biasa ini, ia diberi kesempatan untuk menampilkan karyanya dalam sebuah symphony orchestra yang akan ditampilkan di Central Park di kota New York itu. Namun kesempatan ini hampir tak terlaksana karena ganguan dari Wizard yang mengklaim bahwa dia adalah ayah dari Evan, perbuatannya ini didasari karena ia ingin "make money" dari bakat musisi cilik ini.
Di sebuah taman kota di New York Louis bertemu dengan Evan, Louis mengagumi bakat music Evan, mereka bercakap-cakap dan bermain guitar bersama, namun mereka tidak mengenali satu sama lain. Evan memperkenalkan dirinya kepada Louis dengan nama "August Rush" dan mengatakan ia akan memimpin sebuah orchestra dan tampil di Central Park, dan mengatakan penampilannya ini terancam batal karena Wizard tidak setuju. Louis memberikan semangat agar Evan tetap tampil pada pertunjukan itu, "Come on. Be brave. You never quit on your music. No matter what happens. Coz anytime something bad happens to you, that's the one place you can escape to and just let it go. I learned it the hard way. And anyway, look at me. Nothing bad's gonna happen. You gotta have a little faith. ".
Ternyata pertunjukan di Central Park itu juga menampilkan sang ibu, Lyla Novacek yang bermain Cello bersama The New York Philharmonic. Di sebuah pertunjukan music, keluarga yang terpisah itu bersatu. Harapan Evan sang komposer cilik itu tercapai, bahwa dengan music ia dapat memanggil kedua orang-tuanya untuk datang dan menemukannya. Film garapan sutradara perempuan asal Irlandia Kirsten Sheridan ini pasti akan menggugah emosi para ibu. Bersiaplah tersenyum juga menangis haru dan merasakan betapa penting kehadiran anak dalam keluarga.
Aktor Freddie Highmore tangannya bagus, tangan seorang musisi, dan berperan cemerlang sebagai August Rush ini, mengingatkan kita pada aktor cilik terdahulu Haley Joel Osment yang pernah bermain apik di film The Sixth Sense. Para pecinta music, rasanya juga perlu melengkapi koleksinya karena Soundtrack film ini, Music yang dikemas dengan supervisi Hans Zimmer, Original Score oleh Mark Mancina, didukung beberapa musisi besar, ada Chris Botti, ada John Legend, dll. Juga suara emas dari penyanyi cilik Leon G. Thomas dan Jamia Simone Nash.

August Rush, Best Family Film of the Year. A MUST SEE!
Selamat Paskah!
Blessings,
Bagus Pramono
March 27, 2008
|
|
Last Updated ( Sunday, 04 May 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
Directed by Joe Wright; written by Christopher Hampton, based on the novel by Ian McEwan; director of photography, Seamus McGarvey; edited by Paul Tothill; music by Dario Marianelli.

Cast :
Saoirse Ronan/ Romola Garai/ Vanessa Redgrave ... Briony Tallis
James McAvoy ... Robbie Turner
Keira Knightley ... Cecilia Tallis
|
|
Last Updated ( Friday, 28 March 2008 )
|
|
|
Written by Bagus Pramono
|
Oleh Hassan Hanafi
ABSTRAK
Agama dinamis, lawan dari agama statis, adalah konsep keagamaan yang bersifat liberal, spiritual, modernis, moral, internal, individual dan manusiawi, dan hasil dari pengalaman religius mendalam yang datang dari kedalaman hati manusia. Kredo, ritual, hukum, kesucian, institusi, sejarah adalah konsep sekunder dalam agama dinamis yang tidak bisa mengantarkan orang pada dialog agama. Sebaliknya, Transendensi membebaskan pikiran manusia dari dogmatisme, fiksasi, pendewaan dan materialisme. Ia merupakan sebagai sebuah konsep metafisik, kode etik universal, norma perilaku, dan sebuah nilai untuk dikuasai. Ia sama dengan bukti rasional, dengan kecenderungan umat manusia untuk selalu mencari yang melampaui. Dalam yang universal, semua yang partikular bertemu. Transendensi melindungi persamaan semua orang, budaya dan agama.
|
|
|