SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Renungan Anak itu sudah mati…

Anak itu sudah mati…

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 
"Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku." (2 Samuel 12:22-23)
 





Anak itu sudah mati…




Sebagai seorang Raja besar yang memiliki kuasa dan harta di bumi, Daud tidak lepas dari penderitaan sebagaimana manusia biasa lainnya. Dari Kisah Daud dalam 2 Samuel 12:15-23, Alkitab memberi kita salah satu pengertian yang paling mendalam mengenai arti sebenarnya dari kematian. Barangkali ada yang memandang bahwa kematian anak ini merupakan hukuman Allah atas dosa yang dilakukan Daud. Tetapi tentu saja kasus yang pernah dilakukan Daud ini tidak dapat kita terapkan kepada semua orang, dan untuk dapat menghakimi bahwa pasangan yang memiliki anak yang mati itu merupakan hukuman Allah terhadap dosa orang-tuanya. Karena dalam peristiwa lain, kita dapat telah melihat apa yang terjadi pada Ayub yang saleh, toh juga menghadapi kematian anak-anaknya. Karena kematian jasmani ini adalah konsekwensi/ akibat dari dosa yang dilakukan manusia sejak Adam dan Hawa. Dan jenis kematian ini akan melanda semua orang yang pernah hidup di bumi, Alkitab hanya mencatat 2 orang saja yang diangkat langsung tanpa kematian yaitu Henokh dan Elia.

Dan oleh karya Kristus yang sudah nyata dan yang dicatat dengan seksama dalam Alkitab kita, kita diajar oleh Allah kepada suatu pengertian bahwa, meski manusia tetap mengalami kematian di bumi ini, dengan iman kepada Kristus akan memperoleh kehidupan kekal (dijelaskan di Artikel :
Apa Sih Artinya Mati?). Namun, terlepas dari penyataan ilahi ini, kita sebagai manusia yang berdaging dan berperasaan ini, masih menganggap kematian sebagai suatu ancaman menakutkan, suatu kutukan mengerikan, suatu hukuman final. Mengingat fakta bahwa kematian - yaitu kematian fisik di mana nyawa terpisah dari tubuh - berarti berakhirnya semua kesempatan untuk mengenal Allah dan memuliakan-Nya dengan satu kehidupan yang saleh, ada sesuatu yang sangat serius dan mengagumkan tentang kematian. Akan tetapi Firman Allah memberi tahu kita dengan sangat jelas bahwa tidak peduli bagaimana pengamatan manusia melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang mengerikan, kematian fisik bukan akhir bagi seseorang. Orang itu melanjutkan langsung pada fase kekekalan dari kariernya, entah itu di surga atau di neraka - di mana saja yang telah dipilihnya sewaktu dia hidup di bumi.

Tetapi karena Allah telah datang ke bumi, yaitu Tuhan Yesus Kristus, Ia menawarkan kehidupan kekal bagi manusia, dan memberikan jaminan-Nya yang layak dipercaya oleh semua orang beriman. Ia berkata dengan jelas bahwa "setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:26). Melalui penghayatan ayat ini, kematian bagi umat yang percaya mengandung makna yang sama sekali baru, yang sama sekali berbeda dengan keyakinan lain yang tidak jelas apakah ia akan masuk surga atau neraka. Tetapi dengan iman kepada Kristus, kita mendapat jaminan kehidupan yang kekal bersama-sama Dia di rumah Bapa (Yohanes 14:1-6).

Kematian kekal/ hukuman kekal akibat dosa telah Yesus Kristus gantikan. Karena melalui kematianNyalah yakni mati menggantikan orang berdosa di kayu salib - Juruselamat kita "oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa" (2 Timotius 1:10). Maut telah kehilangan sengatnya dan telah ditelan dalam kemenangan Kristus yang sudah bangkit dari kematian (1 Korintus 15:54-56). Lebih jauh Alkitab dengan sangat indah berkata "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan ... mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka" (Wahyu 14:13).

Belum lama ini, saya menghadiri upacara penghiburan atas kematian anak yang menderita penyakit langka yang belum ada obatnya. Setelah penderitaan yang sekian lama menimpa anak itu dan juga membebani keluarganya, akhirnya anak itu meninggal. Orang-tua, sahabat dan teman-teman, sanak-saudara merasa kehilangan dan turut berduka. Meski secara akal-budi kita dapat melihat dan menerima bahwa ada sisi baik dari keadaan ini, dimana anak itu sudah dibebaskan dari suatu penderitaan yang berkepanjangan. Namun demikian rasa kehilangan dari orang-orang sekitar tetap ada, karena orang-orang ini begitu mengasihi anak ini. Sehingga kita perlu sedikit-demi sedikit memahami dan menerima keputusan Allah yang telah memanggil anak itu. Dalam hal anak-anak yang mati ketika masih bayi atau kanak-kanak, bisa jadi mereka justru terbebas dari kehidupan yang penuh bencana, kesedihan, dan penderitaan sebab mereka langsung meninggalkan dunia ini.

"Terlalu sederhana", demikian pandangan beberapa theolog untuk menganggap bahwa semua anak yang meninggal ketika masih bayi/kanak-kanak dijamin mendapat tempat di surga, seolah-olah mereka menerima karya penebusan di kayu salib tanpa mereka memberikan respons iman apa pun dan belum menerima baptisan. Doktrin seperti itu bisa berbahaya, karena akan sangat kuat mendorong para orang-tua untuk membunuh bayi-bayi mereka sebelum anak-anak itu mencapai umur yang dianggap cukup untuk bisa dimintai tanggung jawab, sebagai satu-satunya cara yang pasti bagi anak-anak tersebut untuk masuk surga. Karena Alkitab mengutuk keras pembunuhan bayi (anak-anak) sebagai kekejian di hadapan Allah (Imamat 18:21; Ulangan 12:31; 2 Tawarikh 28:3; Yesaya 57:5; Yeremia 19:4-7), meskipun itu dilakukan demi agama, maka kita harus menyimpulkan bahwa ada prinsip lain lagi yang berlaku untuk keselamatan kekal anak-anak kecil selain jika mereka mati ketika masih bayi. Dengan kata lain, kemahatahuan Allah tidak hanya mengenai hal-hal yang nyata sudah terjadi, tetapi juga hal-hal yang potensial akan terjadi. Allah mengetahui sebelumnya bukan hanya tentang apapun yang dapat terjadi, tetapi juga tentang apapun yang bakal terjadi. Dalam hal bayi-bayi yang mati ketika dilahirkan atau sebelum mereka mencapai usia di mana mereka bisa dimintai tanggung jawab, Allah mengetahui respons apa yang akan mereka berikan terhadap uluran anugerah-Nya, entah penerimaan atau penolakan, entah percaya atau tidak percaya.

Namun dengan pemahaman yang melibatkan hati nurani dalam pimpinan Roh Kudus, mari kita membaca sekali lagi 2 Samuel 12:23, dimana Daud berkata "Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku menghidupkannya kembali? Aku yang akan pergi kepadanya, tapi dia tidak akan kembali kepadaku". Ayat ini menandakan bahwa Daud mengerti bahwa kematian yang sudah terjadi ini tidak dapat dielakkan. Mungkin karena alasan ini maka Daud merasa terhibur setelah mengetahui bahwa doa-doanya tidak menghasilkan apa-apa, dan bahwa Allah telah "memanggil pulang" bayi kecilnya. Daud menyerahkan anak bayinya ke dalam kasih karunia Allah dan hanya berkata, "Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku". Meski ayat tersebut tidak dapat menjadi dasar suatu kepastian bahwa anak-anak yang meninggal pasti masuk Surga dimana suatu hari nanti Daud akan menemuinya di Surga, namun kita juga perlu memandang kalimat penghiburan Tuhan Yesus Kristus sendiri yang berkata "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 18:10). Perhatikan frasa "ada Malaikat mereka di Surga", yang bermakna Allah menganggap pentingnya anak-anak ini sehingga mereka memiliki malaikat yang menjagainya. Dalam bagian lain, Tuhan Yesus berkata "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga" (Matius 19:14). Sekali lagi, Tuhan Yesus memandang penting kehidupan anak-anak, bahwa meskipun masih anak-anak, mereka sudah memiliki iman yang diajarkan melalui orang-tuanya, dan oleh pendengaran dari orang-tuanya anak-anak itu telah memiliki iman. Malah dalam Matius 19:14 Tuhan Yesus secara khusus menunjuk dan memuji iman anak-anak yang tulus tanpa tanpa topeng, jujur dan sederhana.

Allah melalui kehendak dan karunianya dapat melakukan apa saja termasuk kepada bayi-bayi dan anak-anak kecil. Raja Daud dalam bagian lain menuliskan Mazmurnya, demikian : "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam." (Mazmur 8:3). Dan ayat ini dikutip juga oleh Tuhan Yesus ketika menerima sambutan dari anak-anak kecil di Bait Allah, mereka bersorak menyambut Tuhan Yesus "Hosana bagi Anak Daud!". Kita tidak dapat meragukan kemauan anak-anak kecil itu untuk memuji Yesus dan mengecilkan maksud mereka bahwa anak-anak tersebut sudah diajari oleh orang tuanya untuk menyambut Yesus dengan cara demikian, namun dalam ayat yang ditulis pada Matius 21:12-17 ini, Tuhan Yesus justru menyatakan bahwa Allah-lah yang membuat anak-anak kecil ini memuji. Dan itulah "dasar kekuatan" yang diberikan Allah kepada anak-anak kecil yang belum akil-balik, yang belum mengerti dosa dan belum dapat memutuskan sesuatu, dapat dijadikan Allah memuji Dia oleh kehendakNya.





Maka terhadap ayat-ayat ini, saya secara pribadi ingin menyampaikan penghiburan kepada Saudaraku yang sekarang masih berduka atas kematian anaknya. Baiklah kita menyerahkan semuanya kepada belas-kasihan Allah, bahwa Allah telah meletakkan dasar kepada anak yang telah mati itu suatu kekuatan melawan musuh terbesar manusia, yaitu kematian kekal. Bahwa Allah dengan karuniaNya dan dengan kasihNya dan keadilanNya telah menempatkan anak ini di
Pangkuan Abraham (Lukas 16:22), sebagaimana Lazarus yang telah menerita di dunia akhirnya mendapat peristirahatan yang kekal bersama Abraham, bapa orang-orang percaya di Firdaus. Kisah yang dicatat dalam 2 Samuel 12 ini memberikan kita suatu teladan, dimana Daud sangat yakin bahwa kehendak Allah adalah sempurna, meskipun dalam keadaan hati terkoyak seperti ini.

Tetaplah dalam iman dan pengharapan Saudaraku, karena engkau akan menemuinya kelak di waktu dan tempat yang telah ditentukan Allah bagi kita semua.


Amin.



Blessings in Christ,
Bagus Pramono
December 19, 2007



=================================









All of the greatest religions speak of the soul's endurance beyond the end of life.
So, what then does it mean to die?
(Eisenheim, The Illusionist)




1. Apa sih artinya mati?


Eisenheim sedang berbicara logika, bukan tentang hal-hal spiritisme. Apa sih makna mati, kalau memang ada kebenaran dalam ajaran tentang keabadian jiwa. Dalam ajaran Kristiani makna mati mempunyai macam-macam arti. Kata "mati" yang pertama dalam Alkitab kita tertulis dalam :


* Kejadian 2:17
tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.

UME'ETS HADA'AT TOV VARA LO TOKHAL MIMENU KI BEYOM AKHALKHA MIMENU MOT TAMUT


Ular memperdaya manusia sbb :


* Kejadian 3:4
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: 'Sekali-kali kamu tidak akan mati,'

VAYOMER HANAKHASH EL-HAISHA LO-MOT TEMUTUN



Manusia melanggar apa yang difirmankan Allah, sebaliknya menuruti ular itu. Apakah benar Adam langsung mati? (secara fisik mati?), lalu apa yang dimaksud "mati" dalam Kejadian 2:17 ini?

Semua manusia, yang percaya dan yang tidak percaya, akan mati. Akan tetapi, kata "mati" di dalam Alkitab, memiliki lebih dari satu arti. Penting untuk mengerti hubungan orang percaya dengan berbagai arti kematian. Kejadian 2:1-3:24 mengajarkan bahwa kematian memasuki dunia karena dosa. Manusia pertama diciptakan dengan kemampuan untuk hidup selama-lamanya; ketika mereka tidak menaati perintah Allah, mereka dijatuhi hukuman atas dosa itu, yaitu kematian. Kematian ini mencakup :



1. Tunduk kepada hukum kematian


Setelah Adam dan Hawa memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Allah mengatakan, "engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu". Maka, sekalipun mereka "tidak mati" secara jasmaniah pada hari mereka memakan buah itu, mereka kini tunduk pada hukum kematian sebagai akibat dari kutukan Allah. Demikian juga seluruh keturunan dari mereka.



2. Mati secara Moral


Adam dan Hawa juga mati secara moral. Allah mengingatkan Adam bahwa ketika ia makan buah yang terlarang itu, ia pasti akan mati. Peringatan itu sangat serius. Sekalipun Adam dan Hawa tidak mati secara jasmaniah pada hari itu, mereka mati secara moral, yaitu tabiat mereka menjadi berdosa. Sejak Adam dan Hawa, semua orang dilahirkan dengan tabiat berdosa, yaitu suatu keinginan bawaan untuk mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan Allah atau orang lain.



3. Mati secara rohani


Adam dan Hawa juga mati secara rohani ketika mereka tidak taat kepada Allah, yaitu hubungan intim mereka yang dahulu dengan Allah menjadi rusak. Mereka tidak lagi mengharapkan saat-saat berjalan dan berbincang-bincang dengan Allah di taman; sebaliknya mereka bersembunyi dari hadapan-Nya. Di bagian lainnya, Alkitab mengajarkan bahwa terlepas dari Kristus, semua orang terasing dari Allah dan dari hidup di dalam-Nya; mereka mati secara rohani.



4. Kematian kekal


Akhirnya, kematian sebagai akibat dosa mencakup kematian kekal. Hidup kekal seharusnya menjadi akibat ketaatan Adam dan Hawa; namun sebaliknya, prinsip kematian kekal telah diberlakukan. Kematian kekal adalah hukuman dan pemisahan kekal dari Allah sebagai akibat ketidaktaatan, yaitu menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya.


Alkitab menyebut "orang hidup yang bisa mati atau akan mati" pun disebut mati :


* Zakharia 11:9
Lalu aku berkata: 'Aku tidak mau lagi menggembalakan kamu; yang hendak mati, biarlah mati; yang hendak lenyap, biarlah lenyap, dan yang masih tinggal itu, biarlah masing-masing memakan daging temannya!'

VAOMAR LO ERE ETKHEM HAMETA TAMUT VEHANIKHKHEDET TIKAKHED VEHANISHAROT TOKHALNA ISHA ET-BESAR REUTA


HAMETA TAMUT, harfiah "orang mati itu mati" diterjemahkan "yang hendak mati, biarlah mati" padahal yang disebut orang mati itu belum mati tetapi akan mati.

Jadi , makna "mati" di dalam Alkitab tidak semata-mata berhubungan dengan kematian fisik belaka.


Bandingkan ketika Yesus memakai makna "mati" yang sama pada ayat ini :


* Matius 8:22
Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."



Apa yang dikatakan oleh Yesus selaras dengan Zakharia 11:9 dan juga selaras dengan Kejadian 2:17. Bahwa manusia berdosa yang bisa mati itu pun disebut mati meskipun secara fisik mereka masih hidup di dunia. Sebab siapapun manusia di dunia ini tunduk pada hukum kematian.

Inilah pengertian "mati". Dalam Bahasa Indonesia sendiri pun mencatat makna beragam tentang "mati": hilang nyawa, tidak hidup lagi, padam, buntu, tidak digunakan, tidak bergerak, diam atau berhenti, tidak ada kegiatan. Jadi , makna "mati" di tidak semata-mata berhubungan dengan kematian fisik ragawi belaka.



2. Bagaimana sikap kita terhadap kematian?


"Kematian-raga" adalah salah satu akibat dosa manusia pertama, hal ini menjadi hal kodrati bagi seluruh umat yang lahir dari keturunan mereka, yaitu semua manusia di dunia. Sekalipun orang percaya di dalam Kristus memiliki jaminan hidup kebangkitan, kita masih harus mengalami kematian jasmaniah. Tetapi kita - orang percaya -menghadapi kematian dengan sikap yang berbeda dari orang tidak percaya.

Karena kita sudah mengerti cara untuk lolos dari semua aspek kematian ini ialah melalui Yesus Kristus yang telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. Dengan kematian-Nya Ia mendamaikan kita dengan Allah, sehingga memutarbalikkan pemisahan dan pengasingan rohani yang dihasilkan dosa. Oleh kebangkitan-Nya, Ia mengalahkan dan mematahkan kuasa Iblis, dosa, dan kematian jasmaniah.

Paulus secara gamblang menjelaskan "Kebangkitan Kristus" membawa semua orang-orang yang percaya kepadaNya "dihidupkan bersama-sama" (Yunani, suzoopôieô)


* Efesus 2:5
telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan -

KJV, Even when we were dead in sins, hath quickened us together with Christ, (by grace ye are saved; )
TR Translit Interlinear, kai {bahkan} ontas {sekalipun} hêmas {kita} nekrous {mati} tois paraptômasin {dalam pelanggaran-pelanggaran} sunezôopoiêsen {telah menghidupkan (kita) bersama} tô christô {dengan Kristus} chariti {karena anugerah} este sesôsmenoi {kamu diselamatkan}

Lihat juga Kolose 2:13


Suzoopôieômenghidupkan bersama-sama, mengisyaratkan suatu perubahan, manusia yang seharusnya "mati secara kodrati" akibat dosa Adam, mereka akan hidup karena konsekwensi kebangkitan Kristus.

Maka, kalaupun kita pasti mati (secara fisik) hal itu menjadi tidak berarti sebab kematian fisik hanyalah babak baru dalam menuju Kehidupan yang kekal. Untuk itu Rasul Paulus yang memang sangat mengeti apa arti dan akibat dari kematian Kristus, ia mengajarkan kepada kita apa yang ia fahami, demikian :


* Filipi 1:21
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.



Untuk itulah saya sangat menyukai quote dari Eisenheim diatas "So, what then does it mean to die?". Karena Yesus Kristus telah mempersiapkan tempat bagi kita :


* Yohanes 14:1-6
14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
14:5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"
14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.



Haleluyah!



Blessings in Christ,
BP
January 11, 2007


Last Updated on Wednesday, 19 December 2007 06:25  

Add comment


Security code
Refresh