SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Renungan Filosofi Krisis

Filosofi Krisis

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 


Krisis keuangan Amerika bermula dari bangkrutnya suprime mortgage yang menjalar pada sektor investment banking. Setelah dua mortgage, Fannie Mae dan Freddie Mac tumbang. Kemudian giliran lembaga investasi AS, Lehman Brothers ikut bangkrut. Hal tersebut memberi dampak kepada seluruh dunia, dan membuka pintu bagi hancurnya berbagai korporasi raksasa dunia.

Kita akan belajar sedikit tentang filosofi Chinese terhadap kata "krisis" ini. Bahasa mandarin untuk Krisis adalah : 危机 (wēi jī) berasal dari kata 危险 (wēi xiǎn, danger) dan 机 会 (jī huì, chance).
Untuk itu setiap 危机, wēi jī (krisis), selalu memiliki 2 dimensi : pertama 有危 (yǒu wēi, ada bahaya), kedua 有机 (yǒu jī, ada kesempatan) . Jadi di setiap krisis walaupun memang memiliki bahaya, namun juga mengandung kesempatan yang menuju kepada harapan/ kesuksesan.

Misalnya akibat krisis finansial, membuat saham-saham perusahaan jatuh ke titik terendah, misalnya saham "perusahaan A" dari harga $ 20 turun ke nominal $1. Bagi sebagian orang yang mimliki saham "perusahaan A" merupakan kerugian besar, namun hal tersebut memberikan "chance" bagi orang yang memiliki uang dan yang dapat memborong saham-saham itu dengan harga yang sangat murah. Dalam jumlah tertentu ia dalam tempo cepat dapat menjadi orang yang paling berkuasa di perusahaan itu. Contohnya investor pasar modal sukses dan bertangan dingin, ia sering mendapat keberuntungan dari suatu krisis semacam ini adalah Warren Buffet, salah satu orang terkaya di dunia. (Tapi tampaknya krisis kali ini, Buffet sangat hati-hati tidak serta-merta membeli saham-saham dari perusahaan yang jatuh).

Dalam kehidupan ini, kitapun sering menghadapi krisis, sudah menjadi hal yang lazim, orang yang sedang menghadapi krisis, ia akan ingat Tuhan. Ia menjadi rajin berdoa, cari Tuhan. Syukurlah Tuhan itu selalu ada dalam saat-saat krisis, Ia tidak pernah komplain, tetapi Ia siap sedia menolong setiap orang yang berseru kepadaNya. Allah senantiasa ada pada saat krisis, ketika anak bungsu menghadapi krisis kehabisan uang di perantauan, krisis itupun masih menyisakan kesempatan bagi si anak bungsu kembali pulang ke rumah ayahnya. Bapak yang penuh kasih ini menerima kembali anaknya dan mengabaikan kesalahan-kesalahannya (Lukas 15:11-32).

Alkitab cukup banyak memberi contoh krisis yang dibarengi dengan kesempatan. Yusuf mengalami krisis, dibenci saudara-saudaranya, menjadi budak di negeri orang, dipenjara, namun itu semua merupakan jalan bagi kesempatan dia menjadi orang yang mempunyai kuasa di Mesir (Kejadian pasal 37-43). Kisah yang lainnya lagi, seorang ibu mengalami sakit pendarahan, suatu krisis yang panjang, selama 12 tahun. Kemudian ia pergi kepada Tuhan Yesus, walau ia hanya mempunyai kesempatan menyentuh purca jubahNya saja, ia menjadi sembuh karena iman, dan Sang Mesias itu memberi pujian kepadanya "imanmu menyelamatkan engkau" (Matius 9:20-22). Dalam suatu perumpamaan, Tuhan Yesus mengajar : ada seorang janda menghadapi krisis, ia sedang mempekarakan haknya di pengadilan, ia menghadapi hakim yang jahat, walau kelihatannya krisisnya mustahil diselesaikan, ia masih mempunyai kesempatan, ia memohon tak henti-hentinya kepada hakim itu, dan ia pun mempunyai kesempatan melewati krisisnya (Lukas 18:1-8).

Supaya domba berbalik kepada sang gembala. Di negara-negara Timur Tengah, jikalau seekor anak domba sering meninggalkan kawanan domba, maka gembalanya mematahkan tulang kakinya lalu membebatnya. Oleh karena anak domba itu tidak dapat berjalan, maka gembalanya menggendong domba itu di atas bahunya sendiri sehingga sembuh. Dengan demikian domba itu dekat sekali dengan gembalanya sampai sembuh, dan di kemudian hari ia tidak mau meninggalkan gembala lagi. Sering kali Allah harus "menyakiti" (memberi krisis) umatnya yang suka menyimpang dariNya, hal tersebut supaya mereka mempunyai kesempatan kembali kepada Allah, Bapa kita. Tuhan Yesus sendiri, Gembala kita yang baik mengalami krisis, Ia harus menderita di kayu salib, tetapi di dalamnya membuahkan kesempatan dan karya bagiNya untuk penyelamatan manusia dari dosa.

Kiranya ini menjadi perenungan kita. Krisis tak pernah hadir sendirian, krisis selalu mempunyai dimensi yang lain, yang membuka jalan bagi kita untuk berusaha dan berjuang, dan disitu ada kesempatan bagi kita untuk membangun diri untuk meraih sukses. Penyelesaian krisis itu suatu pilihan, Anda mengasihani diri hanyut dalam krisis atau bangkit mencapai kesempatan untuk meninggalkan krisis itu.



Blessings in Christ,
Bagus Pramono
November 30, 2008

 




Image

 

 

 

 

 

Last Updated on Friday, 06 March 2009 03:16  

Add comment


Security code
Refresh