SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Renungan Problem Komunikasi diantara Gereja Tuhan.

Problem Komunikasi diantara Gereja Tuhan.

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 



 Kekristenan adalah relasi (hubungan) dan relasi adalah segalanya. Kristianitas menempatkan relasi dan bukan aturan-aturan agamawi. Kristianitas meyakini hubungan pribadi melebihi filosofi dan aktifitas keagamaan. Relasi kita dengan Allah yang menciptakan kita adalah segala-galanya. Yesus berkata bahwa "hukum" yang paling utama adalah mengasihi Allah, lalu diikuti mengasihi sesama kita. Tiada lain, Hukum Kristus adalah relasi! Dan ibadahnya bukanlah ritus-ritus aturan, melainkan relasi kasih diantara makhluk dengan Sang Khalik dan antara makhluk dengan makhluk. Itulah sistem dan "aturan"Nya yang terutama. Relasi tidak akan terjadi tanpa komunikasi. Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Allah. Dan komunikasi ini tidak hanya berlaku secara vertikal melainkan juga secara horizontal, yaitu komunikasi antar sesama.

Ketika Kekristenan berubah menjadi institusi keagamaan dan menjadi "agama Kristen" dengan sendirinya kekristenan menjadi suatu lembaga yang berbeda dengan label "agama" yang lain. Terdapat suatu jarak dan partisi "Kristen" dan "non Kristen". Partisi-partisi ini bertambah banyak ketika kekristenan sendiri terbagi dalam banyak sekali denominasi gereja. Paling tidak, Gereja Kristen mengalami dua kali perpecahan yang besar: yang pertama terjadi pada tahun 1054 antara Gereja Katolik Timur (Ortodoks Timur ) dengan Gereja Katolik (Barat) yang berpusat di Roma ( Gereja Katolik Roma ). Yang kedua terjadi antara Gereja Katolik dengan Gereja Protestan pada tahun 1517. Dan perpecahan tersebut terus melahirkan
denominasi baru hingga mencapai lebih dari 30,000 macam denominasi sekarang ini.


Kekristenan menjadi banyak denominasi, adalah hal yang tak terelakkan, pada masa Gereja mula-mula, yaitu pada masa rasul Paulus melayani-pun setidaknya sudah ada 3 macam
denominasi (1 Korintus 1:12, golongan Paulus, golongan Apolos dan golongan Kefas), dan Paulus pun telah memberikan nasehat bahwa sebenarnya hanya ada satu golongan, yaitu golongan Kristus, karena Paulus, Apolos dan Kefas tidak mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Artinya, apapun denominasinya, manusia tidak diselamatkan oleh seorang manusia yang memimpin sebuah gereja, tetapi manusia diselamatkan oleh Allah sendiri yang telah inkarnasi, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Paulus tahu bahwa penggolongan-penggolongan yang terjadi dalam Kristianitas ini membuat komunikasi antar pengikut Kristus terganggu. Dan sayangnya nasehat yang baik ini terabaikan hingga sekarang.

Gereja yang merasa menjadi "pusat" (induk) memandang "gereja baru" menentangnya, sebaliknya "gereja yang baru" merasa ia benar dan harus memisahkan diri. Perpecahan ini membuat komunikasi diantara pengikut Kristus terganggu, bahkan terjadi syak-wasangka antara golongan yang berbeda ini mereka seringkali memilih "tidak berkomunikasi" dan hanya mau berkomunikasi antar golongannya sendiri. Bahkan sering masing-masing pemimpin denominasi gereja menganggap dirinya "below God, above man; less than God, more than man" (Philip Schaff, 1858-1892). Dalam taraf "pemahaman" semacam ini manusia justru kehilangan relasi dengan Allah. Tuhan Yesus Kristus memberikan contoh dua macam orang datang berdoa ke Bait Allah,
orang Farisi yang saleh dan pemungut cukai yang berdosa (Lukas 8:9-14), makna dari cerita tsb, bahwa orang Farisi itu justru kehilangan Allah pada saat ia berdoa di Bait Allah, sebaliknya si pemungut cukai mendapat pendamaian dengan Allah.

Kita mengenal ada diantara kita
denominasi-denominasi yang cukup fanatik dan keras, seringkali mengecam denominasi-denominasi yang lain, mereka bangga akan kepandaiannya, bangga akan sistem teologinya, apa saja dilakukan dengan mengunggulkan denominasinya sendiri, entah dalam bentuk tulisan ataupun dalam khotbah-khotbah lisan. Komunikasi semacam ini justru akan memutuskan pertalian antara Allah dan manusia, maupun manusia dengan sesamanya karena mereka masuk dalam taraf seperti si Farisi tadi yaitu "below God, above man; less than God, more than man". Sikap membenarkan diri ini menyebabkan problem komunikasi diantara Gereja Tuhan.

Problem komunikasi di dalam gereja pun juga terjadi. Ada banyak jemaat-jemaat biasa yang masih merasa "serem" bertemu dengan kalangan saleh yang sekaligus yang fanatic dan judgemental, hanya karena ia tidak melakukan yang golongan saleh ini lakukan. Betapa kita banyak kehilangan relasi hanya karena suatu kesalahan komunikasi. Yesus Kristus adalah seorang yang sangat piawai berkomunikasi, meski Ia adalah Allah yang mulia dan suci, Ia tidak membuat seorang pendosa seperti Zakheus merasa serem melihat Yesus dan lari menghindariNya, karena Yesus sendiri berkata dengan bahasa yang sangat bersahabat "Aku mau menumpang di rumahmu" (Lukas 19:5), cara komunikasi seperti ini sangat sederhana, tidak perlu membuat suatu rencana panjang untuk menentukan tempat dan waktunya. Dari komunikasi yang sederhana ini Zakheus yang dulu terhilang kini ditemukan kembali, dan ia mendapat anugerah keselamatan dari Sang Juruselamat.

Namun apa yang terjadi pada gereja-gereja sekarang? Sering suatu gereja mengecam gereja yang lain, dan dengan sendirinya tertutup suatu relasi, karena sikap "aku benar - kamu salah"! Janganlah sampai kesalehan kita di gereja itu tidak bermakna apa-apa. Percuma saja seseorang menghabiskan waktu, mengeluarkan dana untuk sumbangan gereja bahkan membayar persepuluhan yang dilakukan dengan taat itu pun tidak akan bermakna apa-apa di hadapan Allah. Kita harus ingat bahwa ketika si Farisi itu berdoa, ia justru kehilangan Allah. Karena ia menutup relasi dengan sesamanya, ia menganggap dirinya sendiri benar.

Kita menyadari bahwa Kristen sebagai "agama" mempunyai banyak tradisi agama yang bervariasi berdasarkan budaya, dan juga kepercayaan dan aliran yang jumlahnya ribuan, dalam wadah
denominasi-denominasi. Meski kita menghadapi kenyataan demikian, bukan mustahil bahwa kita tetap dapat dipersatukan sebagai umat yang sama-sama beriman kepada keselamatan dari Tuhan Yesus. Dengan komunikasi yang benar kita dapat berelasi dengan baik, ingat bahwa Hukum Kristus itu berbasis relasi, relasi antara Allah dengan manusia, dan manusia dengan sesamanya.

Meski belum semua, tetapi cukup banyak denominasi Gereja yang makin menyadari bahwa sikap sektarianisme itu justru menyimpang dari pesan Tuhan Yesus Kristus yang mendoakan kesatuan di antara para murid-muridNya. Di dalam Yohanes 17:20-21 tertulis, "Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku". Doa inilah yang menjadi dasar rasa kesatuan antar umat Kristiani. Dan menjadi dasar kita berelasi dan melahirkan komunikasi-komunikasi yang baik diantara denominasi yang berbeda-beda.

Mari kita mulai tahun yang baru, tahun 2008 dengan suatu dasar bahwa kita masing-masing akan membina komunikasi yang baik untuk membina relasi yang baik diantara umat Kristiani. Ini adalah tahap awal, karena bagaimana kita dapat menjadi garam dan terang bagi dunia yang belum mengenal Kristus, apabila diantara kita umat pengikut Kristus masih belum mempunyai relasi yang baik?





Blessings in Christ,
Bagus Pramono
December 2, 2007
http://portal.sarapanpagi.org


Ditulis untuk Tabloit Shekinah, edisi January 2008
Last Updated on Sunday, 10 February 2008 18:36  

Comments  

 
0 #1 Amalia Larasati 2008-01-06 18:29
Memang sulit sekali untuk tidak emosional, membenarkan diri sendiri, atau gereja sendiri, mengasihi tetangga kita yang tidak satu gereja dan tidak satu keyakinan. Tulisan ini membantu banget agar kita selalu ingat bahwa Tuhanlah yang di muliakan, bukan manusia.

Thanks a bunch
Quote