SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Renungan "Berperang" dengan Hati-nurani

"Berperang" dengan Hati-nurani

E-mail Print PDF
User Rating: / 4
PoorBest 
Peperangan manusia yang berat, yang sering tidak nampak oleh orang lain, adalah peperangannya melawan hati-nuraninya sendiri.





"Berperang" dengan Hati-nurani







Peperangan manusia yang berat, yang sering tidak nampak oleh orang lain, adalah peperangannya melawan hati-nuraninya sendiri. Ada film bagus yang typenya adalah "psychological movie" yang berjudul THE MACHINIST, bercerita tentang anak manusia yang berperang berat melawan hati-nuraninya sendiri, ini bukan film entertainment, jadi jangan harap Christian Bale tampil macho dan keren seperti di film Batman Begin, di film ini ia menurunkan badannya hingga 63 pounds dari beratnya yang normal 185 pounds (1 pound = 453 gram), sehingga terlihat seperti seseorang yang kena malnutrisi. Diceritakan seorang pemuda yang tabrak-lari setelah menabrak seorang anak, dia memang lepas dari hukuman penjara, namun ia tidak lepas dari hukuman hati-nuraninya. Konflik batin ini diperankan dengan apik oleh Christian Bale yang dulu juga dikenal sebagai seorang aktor cilik dalam film Empire of The Sun (1987) garapan sutradara Steven Spielberg.

Seorang penjahat, bisa jadi ia adalah seorang yang sadis tak berbelas-kasihan, atau seorang pelacur, atau seorang koruptor atau seorang penipu, di suatu moment tertentu akan berhadapan dengan hati-nuraninya sendiri. Dan tidak jarang suara-hatinya ini dapat membuat mereka mengerem tindakannya, atau menghentikannya sama sekali. Presiden Bush melakukan invasi ke Iraq hingga sekarang, barangkali hati-nuraninya masih diparkir di suatu tempat, namun ada satu saat dia tidak akan dapat lari dari hati-nuraninya sendiri. Pol Pot, mantan penguasa Kamboja yang terkenal sadis dalam peperangan membunuh jutaan orang manusia juga akhirnya pasti tidak akan dapat lari dari hati-nuraninya. Mengapa? Karena inilah reserve yang diberikan Allah bagi manusia agar manusia itu dapat kembali ke jalan yang benar, hati-nurani adalah karunia.



Hati nurani tak pernah mati...


Rasa cinta adalah anugerahnya, kita ada dari buah cinta
Cinta yang murni selalu abadi
Apapun rintangannya & resikonya

Raga bisa dikurung
Mulut bisa dibungkam
Tetapi mahakaryaNya yang sangat ajaib
Masih ada reserve, yaitu hati nurani yang tak pernah mati
Selalu jujur dan tak kan sanggup dibunuh....
Selalu hidup dan menghidupi cinta
Untuk berani dan sanggup memegang komitmen

Mengapa bumi berputar, mengapa mentari bersinar…
Untuk ingatkan kita bahwa Tuhan mencintai…
Tetaplah teguh dengan cintamu.




Dosa dan hati-nurani :


Dihadapan Allah, semua umat manusia adalah satu didalam kutukan dosa, telah menjadi hamba dosa, condong dan bernafsu berbuat dosa sebagai warisan turun-temurun, dan memang nyatanya semua manusia pernah melakukan dosa, entah dia seorang nabi, seorang imam ataupun orang biasa. Tabiat dosa ini menjalar ke seluruh manusia sejak ia dilahirkan. Seorang bayi meski belum berbuat dosa, namun ia sudah mempunyai tabiat dosa. Seorang anak kecil meski tidak ada yang mengajari berbohong , dia dapat berbohong dengan sendirinya, meski tidak ada yang mengajarinya memukul, ia dapat memukul, marah, mau menang sendiri dan seterusnya. Inilah yang disebut "dosa waris" yaitu tabiat dosa yang diturunkan dari Adam manusia pertama.

Namun ada banyak salah-paham mengenai istilah Dosa Asal atau yang kadang disebut Dosa Waris ini. Ada kalangan yang sering mengkritisi Kristianitas mengidentikkannya sebagai transfer-muatan dosa dari nenek-moyang ke anak-cucu. Misalnya, banyak teman-teman Muslim yang memahami dosa-asal ini sebagai dosa yang pertama yang "segepok" dari Adam itu terturun "segepok" pula kepada anak-cucunya. Akibatnya dirasakan tidak masuk akal, bahwa setiap bayi yang terlahir sudah membawa hutang-waris, walau ia belum berbuat dosa apapun!

Itulah proto-type yang salah kaprah dari kalangan yang sering memaksakan makna teologis-kristiani secara dangkal, dan menurut pengertian mereka sendiri. Andaikata itu benar maksudnya, tentulah akan lebih tidak masuk akal bahwa kita-kita yang hidup di ujung zaman ini akan ketimpaan ratusan/ribuan/jutaan gepok dosa-asal kumulatif dari ratusan generasi sejak kejatuhan Adam! Dosa asal atau yang dikenal dengan dosa waris ini tidak ada hubungannya dengan pemindahan muatan dosa dari siapa saja, melainkan merupakan penjalaran imbasan kultur dosa Adam yang diturunkan kepada seluruh peradaban umat manusia sejak Adam dikutuk dan diusir dari Taman Eden.

Manusia di dunia meski telah tercemar dengan dosa, masih diberi bekal oleh Allah Bapa kita di Sorga dengan hati-nurani. Manusia bukan robot, bagaimanapun manusia diciptakan dengan "image" Allah (Kejadian 1:26). Hati-nurani manusia tak pernah mati, kecuali manusia berubah menjadi mati, atau berubah menjadi arca batu tanpa spirit. Sejahat apapun dia, hati-nurani mengetuknya, mengadilinya. Hati-nurani menjadi kriteria untuk mengembalikannya ke "jalan yang benar" bila ia tersesat. Maka tak heran, agama-agama duniapun menganalisanya sebagai "suara Tuhan" yang berbisik dalam hati kita.

"Sentuhan pada hati" itulah hati-nurani. Ketika kita hati kita tergerak melihat orang jompo miskin dan lemah, pengemis cacat, orang tak bersalah dituduh salah, orang hidup hendak dihukum mati. Darimana kita tahu rasa manisnya gula, indahnya pemandangan di pantai? Yaitu dengan mencicipinya, merasakannya, mengalaminya. Bukan dengan membaca artikel tentang gula, membaca karangan tentang pantai. Hati-nurani menyangkut rasa dan empati, hati-nurani terasa juga termasuk ketika kita memungut sampah yang tercecer dan memasukan ke tempat sampah untuk menjaga kebersihan di bumi ini. Hati-nurani sebenarnya bekerja dalam keadaan apa saja, ketika dalam keadaan marah-pun kita dapat menahan untuk tidak berkata-kata kotor dan berbuat jahat karena ketukan hati-nurani. Walaupun kadang kita pun dapat mengabaikan "suara-hati" ini, namun pasti ada saatnya hati-nurani akan menggedor dengan kencang pintu hati kita, dan kita tak akan mampu menutup telinga untuk hal itu.


Dalam Alkitab, kita mengenal kata Yunani "
συνειδησις - suneidêsis" (padanan katanya dalam bahasa Latin conscientia, kata dari mana kita kenal kata "conscience" dalam bahasa Inggris) memberi kesan bahwa artinya yang biasa ialah pengetahuan pendamping, atau kecakapan untuk pengetahuan bersama dengan dirinya sendiri. Kata dalam bahasa Indonesia adalah "hati-nurani" menyerap dari kata serapan Arab "nurani" (terang, ada cahayanya), sehingga kata ini menjadi sangat indah yang bermakna "cahayanya hati". Dengan kata lain, hati-nurani mengandung dalamnya lebih daripada hanya kesadaran atau penginderaan, ia memberi penerang ketika kita dalam gelap, karena kata ini mencakup juga penghakiman (dalam Alkitab memang penghakiman moral) atas suatu perbuatan yang dilakukan dengan sadar.

Alkitab mencatat suatu peristiwa dimana Tuhan Yesus Kristus pernah "menghukum" manusia dengan "ketukan hati-nurani", yaitu pada peristiwa perempuan sundal yang kedapatan berbuat zinah dan harus dirajam mati (Yohanes 8:2-11), dan masalah ini dibawa oleh orang-orang saleh (para Imam dan orang Farisi) untuk "mencobai" Tuhan Yesus :


* Yohanes 8:2-11
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”



Memang, perempuan pezinah itu teramat najis dan tak mungkin tidak harus dirajam. Tetapi apa kata Tuhan Yesus? Dan apa kata hati-nurani Anda mendengar jawaban Yesus yang menjunkir-balikkan "pengadilah orang-orang saleh" tersebut? Dia menjawab pertanyaan mereka dengan penuh otoritas : "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yohanes 8:7). Dan... semua orang-orang saleh itupun terbungkam! Lalu satu persatu, secara diam-diam, mereka beranjak pergi! Mengapa mereka pergi? Karena kini status mereka bukan lagi menjadi pendakwa, tetapi terdakwa. Mereka semua terhukum oleh hati-nuraninya sendiri. Dihadapan Tuhan Yesus mereka semua harus dirajam!


Kata "hati nurani" tidak nampak dalam terjemahan LAI, maka kita tinjau bersama ayat tsb sbb :


* Yohanes 8:9
LAI TB,
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
KJV,
And they which heard it, being convicted by their own conscience, went out one by one, beginning at the eldest, even unto the last: and Jesus was left alone, and the woman standing in the midst.
TR,
οι δε ακουσαντες και υπο της συνειδησεως ελεγχομενοι εξηρχοντο εις καθ εις αρξαμενοι απο των πρεσβυτερων εως των εσχατων και κατελειφθη μονος ο ιησους και η γυνη εν μεσω εστωσα
Translit interlinear, hoi de {tetapi} akousantes {mendengar} kai {dan} hupo {oleh} tês suneidêseôs {hati nurani} elegkhomenoi {(mereka) dihukum} exêrkhonto {pergi} heis kath heis {seorang demi seorang} arxamenoi {mulai} apo {dari} tôn {yang} presbuterôn {tertua} [heôs {hingga} tôn {yang} eskhatôn {terakhir}] kai {dan} kateleiphthê {tinggallah} monos {seorang diri} ho iêsous {Yesus} kai {dan} hê gunê {perempuan} en {di} mesô {tempatnya} housa {berdiri}


Dalam kisah tersebut, Tuhan Yesus dengan otoritasNya sebagai Allah yang Mahasuci, dan Pemegang Hukum, memperingatkan kepada semua manusia untuk berkaca diri/ menghakimi dirinya sendiri sebelum memperhadapkan orang-lain untuk dihukum/ dihakimi. Kisah ini jelas mengajar, ketika hati-nurani mereka tersentuh, mereka menjadi sadar, bahwa mereka tidak lebih suci dari seorang pezinah.

Tapi Awas!, kita jangan cepat-cepat menyimpulkan kesalahan yang naif, seolah-olah Tuhan Yesus memberi kelonggaran untuk berzinah. Tidak! Tuhan Yesus ingin menelanjangi para ahli Taurat, Farisi, Anda dan saya yang sok saleh, sok menghakimi, dan sok menghukum dengan caci-maki, perusakan dan pembunuhan. Dalam PengajaranNya ini, kita benar-benar diperingatkan untuk merombak dari dalam diri kita secara drastis sebelum menghadapkan orang lain untuk dihukum.


* Matius 7:1-3,5
7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."



Perempuan yang berzinah itu dan seharusnya diserahkan kepada pemerintah yang sah (Romawi pada waktu itu) yang mempunyai hukum sipil tersendiri atau Mahkamah Agama (Sanhedrin), yang khusus menangani masalah agama, dan tidak bisa semena-mena dibunuh beramai-ramai oleh orang-orang yang samasekali tidak layak mencabut nyawa orang lain.
Tuhan Yesus, yang tidak berdosa bisa saja menghukum dengan dasar Taurat, namun Ia tahu bahwa perempuan itu dapat DISELAMATKAN dengan sentuhan pertobatan. Bila ia dibiarkan dirajam mati, ia akan mati dalam dosanya. Tetapi Tuhan Yesus mengampuninya dan memulihkan kehidupannya dan memintanya agar tidak berbuat dosa lagi. Tuhan Yesus memberikan kesempatan hidup yang baru itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata :


* Yohanes 8:10-11
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”



Jadi disini, sekalipun tidak menghukum, namun Tuhan Yesus samasekali tidak mengecilkan dosa yang dilakukan oleh perempuan itu. Dengan sekali pukul, Tuhan Yesus "menelanjangi dan merombak" kehidupan dari 2 jenis manusia berdosa yang ada dihadapanNya. Yang satu adalah segerombolan "orang yang saleh-saleh" yang binasa dalam kesalehannya (Pengkotbah 7:15); dan yang satunya lagi adalah "orang najis" yang seharusnya dibinasakan, namun oleh karena rahmat Tuhan karena telah menyesal, pasrah dan menggantungkan seluruh imannya kepada sang Hakim!





Kisah diatas hanyalah sebuah contoh, dan kita tahu bahwa hati-nurani bekerja dalam segala aspek kehidupan manusia, dalam masalah apapun. Itulah kedasyatan hati-nurani. Manusia tak akan mampu membutakan mata dan telinga terhadap ketukan hati-nurani, karena ketukan itu akan terus mengetuk. Jika kita mengabaikannya, itu akan menjadi siksaan bahkan sampai tubuh kita akan berkalang tanah. Itulah pengadilan!

Jikalau kita mengalami konflik atau peperangan dengan hati-nurani kita sendiri, dan kita dihakimi olehnya. Baiklah kita duduk diam sejenak dan mendengar apa kata hati-nurani kita, dan kemudian berdamailah dengannya. Ikut sertakan hati-nurani kita dalam setiap langkah kita. Apalagi, sebagai murid-murid Kristus, kita telah dibekali dengan Roh Kudus, Sang Pendamping dan Penolong yang setia (Yohanes 14:26). Hati-nurani kita bekerja dengan tuntunan Roh-Kudus, menjadikan kita murid-murid yang hari demi hari makin disempurkan dan meneladani semua hal yang telah dilakukan Sang Guru kita Tuhan Yesus Kristus.


Amin.





Blessings,
Bagus Pramono
December 5, 2007





Note :
Buat sahabatku Ferrywar, beberapa wejangan Anda yang dulu menjadi inspirasi tulisan diatas, thank you!


Last Updated on Wednesday, 05 December 2007 06:03  

Add comment


Security code
Refresh