SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Sosial-Politik Bentrok Polisi vs Mahasiswa STTIA

Bentrok Polisi vs Mahasiswa STTIA

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 
Kita tidak tahu pihak mana yang terzolimi, Seandainya pihak STTIA yang terzolimi pun, apakah tindakan anarki para mahasiswa "calon-calon pendeta" ini merupakan kesaksian yang baik bagi masyarakat Indonesia umumnya yang multi-kultural ini?
Pemandangan yang sangat tidak tidak cantik dari umat Kristiani bagi Indonesia, noda bagi peringatan Sumpah Pemuda. Sangat memprihatinkan....


Eksekusi Bekas Gedung Wali Kota Jakbar Dapat Perlawanan Mahasiswa Setia


Image

FERY PRADOLO/INDOPOS : SALING LEMPAR: Ratusan mahasiswa Setia terlibat bentrok dengan polisi saat hendak dibubarkan karena memblokade Jalan S. Parman, Jakarta Barat, kemarin (27 October 2009)

JAKARTA - Eksekusi pembongkaran bekas gedung wa­li Kota Jakarta Barat kemarin pagi berlangsung ri­cuh. Petugas mendapat perlawanan dari mahasiswa Se­kolah Tinggi Theologi Injili Arastamar (Setia) yang menghuni gedung tersebut. Akibatnya, bentrok an­tara aparat keamanan dan mahasiswa pun tak terhindarkan.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.00. Saat itu se­jumlah mahasiswa Setia berorasi di depan kampus da­rurat mereka di Jalan S. Parman No 2, Jakarta Ba­rat. Tak lama kemudian mahasiswa memblokade jalan tersebut. Sejumlah mahasiswa bahkan duduk di kursi plastik yang disiapkan di tengah jalan. Tak ayal, Jalan S. Parmahn serta akses ke sana ma­cet total. Akhirnya, polisi dari Polsek Tanjung Duren hingga pasukan Dalmas Polda Metro Jaya turun tangan.

Petugas meminta mahasiswa menyingkir. Sejumlah mahasiwa mulai mundur dan masuk kampus. Namun, beberapa mahasiswa bertahan di te­ngah jalan. Mereka ngotot agar pejabat pemda mau datang untuk mendengarkan tuntutan.

Akhirnya pecahlah bentrokan antara polisi dan mahasiswa. Insiden itu berawal dari lemparan kursi plastik ke arah pasukan Dalmas oleh salah seorang demonstran. Petugas sempat melemparkan kembali kursi itu ke arah mahasiwa.

Peristiwa itu juga terpicu aksi saling dorong antara petugas dan mahasiswa. Petugas hilang kesabaran dan dua kali menembakkan gas air mata ke arah kerumunan demonstran. Mahasiswa yang berlarian ke arah kantor wali kota lama terus dikejar aparat.

Namun, dari halaman kantor wali kota itu mahasiswa menyerbu dengan lemparan batu dan kursi plastik. Tak ayal sejumlah petugas terluka akibat lemparan batu. Beberapa mahasiswa juga terkena pentungan.

Petugas meringkus lima demonstran. Tiga di antaranya Siwa Kasalapada, mahasiswa semester 3 asal NTT; Dwi Lugu, mahasiswa semester 3 asal Nias; serta seorang dosen setempat, Arif Duhude. Mereka digelandang ke Mapolrestro Jakarta Barat.

Kerusuhan itu berangsur reda setelah mahasiswa masuk ke kampus darurat mereka. Sementara petugas mengumpulkan potongan kayu, batu, serta beberapa spanduk untuk barang bukti.

Berdasar Surat Keputusan Penetapan Eksekusi No 43/2003 eks.jo. No 194/PDT.G/1996/PN Jakbar, eksekusi lahan seluas 13.765 meter per­segi itu sedianya dilakukan pada Senin, 26 Oktober 2009 pukul 09.00. Namun, rencana itu ditunda karena mahasiswa menolak pindah.

Eksekusi berawal dari perseteruan Peme­rintah Provinsi DKI Jakarta dengan Yayasan Saweri Gading. Tanah tersebut milik Yayasan Saweri Gading, sedangkan gedungnya milik Pemerintah Daerah Jakarta Barat.

Di bagian lain, Rektor Setia Matheus Mangentang mengatakan, aksi mahasiswa itu murni demo dan tanpa ditunggangi pihak mana pun. Mereka menuntut hak untuk dapat belajar dan hidup dengan layak. "Kami minta hati nurani pemerintah. Berilah kami relokasi tempat yang layak untuk belajar mengajar," tegasnya. (dni/pes/aak/jpnn/kum/ http://www.jawapos.co.id/ )


http://www.seputar-indonesia.com/edisic ... ew/279885/


Demo Eksekusi Kantor Wali Kota Lama Ricuh

Tuesday, 27 October 2009
JAKARTA (SI) – Aksi unjuk rasa ribuan mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (STTIA) yang menempati gedung kantor wali kota lama berakhir bentrok dengan aparat kepolisian di Jalan S Parman,Jakarta Barat kemarin.

Akibat bentrokan tersebut, sejumlah mahasiswa dan aparat kepolisian mengalami luka-luka, akibat terkena lemparan batu dan pukulan benda keras. Bentrokan itu juga mengakibatkan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan seperti Jalan Daan Mogot, Jalan Kyai Tapa dan Jalan Letjen S Parman macet total hingga puluhan kilometer.

Dari informasi yang dihimpun Seputar Indonesia, bentrok fisik yang terjadi sekitar pukul 10.15 WIB ini merupakan buntut dari aksi mahasiswa yang memblokir Jalan Letjen S. Parman yang menuntut kepastian relokasi. Kepala Asrama Julius Thomas Bilo mengatakan, bentrokan berawal ketika polisi memaksa masuk mahasiswa yang tengah melakukan unjuk rasa menuntut kepastian tempat relokasi bagi mahasiswa.

”Entah siapa yang memulai, tibatiba terjadi bentrokan,”ujarnya. Menurut dia, pihaknya sangat menyayangkan bentrok fisik tersebut. Pasalnya para mahasiswa hanya meminta haknya agar dapat belajar dengan layak. ”Kami berharap Pemprov DKI Jakarta segera turun untuk memberikan jaminan kepastian tempat relokasi,”jelasnya. Hal senada dikatakan Rektor STTIA Matheus Mangentang.

Menurut dia, keberadaan mereka di gedung kantor wali kota lama merupakan instruksi dari Pemprov DKI Jakarta. Dengan insiden ini, mereka seolah-olah lepas tangan terhadap nasib anak bangsa yang membutuhkan tempat belajar. Matheus mengatakan, pihaknya akan meminta perlindungan kepada dewan gereja,wali kota,Pemprov DKI Jakarta termasuk presiden. Sebab, sejak terjadinya eksekusi proses belajar mengajar terhenti lantaran aliran listrik diputus.

Kapolsek Tanjung Duren, Jakarta Barat Kompol Joni Iskandar mengatakan, pihaknya terpaksa mengambil tindakan tegas karena aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa dengan cara memblokir jalan dinilai mengganggu kepentingan umum.Menurut dia, sedikitnya 150 personel dikerahkan untuk meredam aksi mahasiswa.

”Kalau mereka melakukan aksi di dalam kami biarkan selama tidak mengganggu kepentingan umum,”tuturnya. Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Muhayat menjelaskan, pemprov akan meminta bantuan kepada yayasan Sawerigading untuk membantu proses evakuasi mahasiswa STTIA ke kantor Suku Dinas Transmigrasi Jakarta Utara.

“Kalau diambil dari APBD itu kelamaan, kita akan minta bantuan Rp300 juta untuk renovasi gedung itu,”jelasnya. Apalagi Sawerigading sendiri, mengatakan sudah berjanji sebelumnya untuk membantu evakuasi mahasiswa dari gedung wali kota Jakarta Barat itu.

Mengenai eksekusi yang ricuh, Muhayat mengungkapkan sudah menyarankan kepada eksekutor di lapangan dan juga pengadilan agar tidak terburu- buru mengeksekusi sebelum ada konsultasi dengan pemprov untuk mencari solusi yang terbaik. “Namun, mereka tidak bersabar, maunya cepat-cepat,”tandasnya. (sucipto/neneng z)
 

Comments  

 
0 #1 setia 2009-10-29 03:14
Kita tidak tahu pihak mana yang terzolimi, Seandainya pihak STTIA yang terzolimi pun, apakah tindakan anarki para mahasiswa "calon-calon pendeta" ini merupakan kesaksian yang baik bagi masyarakat Indonesia umumnya yang multi-kultural ini?
Pemandangan yang sangat tidak tidak cantik dari umat Kristiani bagi Indonesia, noda bagi peringatan Sumpah Pemuda. Sangat memprihatinkan....



saya rasa duduk persoalan nya dulu di bahas, bukan menilai dengan tiba tiba buntut persoalannya ... :-)
Quote