SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Sosial-Politik INJIL DAN BUDAYA

INJIL DAN BUDAYA

E-mail Print PDF
User Rating: / 2
PoorBest 
ChineseNewYear

Tanggal 14 Februari 2010 ini merupakan momentum budaya yang unik. Di saat orang Kristen mengadakan Kebaktian Minggu, hari itu juga merupakan Tahun Baru Imlek 2561 dan hari Valentine. Momentum unik ini jadi kesempatan baik untuk kita belajar tentang hubungan Injil dan Budaya.

Pertanyaan praktis yang muncul adalah bolehkah, atau perlukah orang Kristen merayakan Imlek ? Lebih luas lagi, apakah boleh merayakan budaya-budaya lama kita ? Secara prinsip kita mengulas hal ini dalam perayaan Imlek dibawah ini,

TAHUN BARU IMLEK
Hari ini orang-orang Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek ke 2561. Pada umumnya perayaan Imlek sekarang ini dapat dibagi dalam dua golongan,
1. Yang hanya menekankan unsur Kultural; seperti kebersihan rumah, saling berkunjung dan makan bersama keluarga, mengucapkan selamat dan hormat kepada orang yang lebih tua, baju baru, kue untuk menjamu tamu, berbagi kebahagiaan berupa ang pao untuk yang lebih muda. Hal ini merupakan ungkapan dan kesadaran budaya sebagai etnis Tionghoa, sekalipun yang bersangkutan beragama beda dengan leluhurnya di Tiongkok/Chungkuo. Tidak sedikit dalam golongan ini yang tidak memahami Imlek, baik tata ibadahnya maupun sejarahnya
2. Yang juga menekankan unsur spiritual; seperti ritual sembahyang dan memelihara Meja Abu Leluhur (hao), Ritual ini sudah dimulai satu minggu sebelum tanggal 1 Imlek dan berakhir lima belas hari kemudian, yaitu pada hari raya “ Cap Go Me”


Perayaan Tahun Baru Imlek dan budaya Cina di Indonesia pernah dilarang Orde Baru melalui Inpres No. 14 / 1967. Ekspresi kultural dan spiritual orang Tionghoa menjadi terbatas. Banyak yang bertahan dengan indentitasnya, namun tidak sedikit yang mengapdopsi system kepercayaan yang diakui resmi oleh hukum Negara. Tetapi melalui Gus Dur, dengan Kepres No. 6 / 2000, Imlek bisa dirayakan kembali dengan bebas. Tidak ada lagi hambatan politis untuk orang-orang Tionghoa kembali merayakan Imlek dan kepercayaan leluhur secara kultural maupun spiritual. Maka diperkirakan tahun-tahun berikutnya perayaan Tahun Baru Imlek dan ekspresi budaya Cina akan lebih semarak, apa lagi dengan adanya SK Menteri Agama No. 13 / 2001 yang menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif.
Bagaimana seharusnya gereja, khususnya umat Kristen etnis Tionghoa, menyikapi Tahun Baru Imlek itu ? Bagaimana menyikapi Valentine, dan perjumpaan-perjumpaan Injil dengan budaya lainnya ? Kesadaran ini penting bagi gereja untuk terus membangun pengertian identitas dirinya, indentifikasi medan yang dilayani dan keterampilan yang cocok sebagai solusi dari tuntutan budaya zamannya. Dengan demikian, sifat missioner gereja selalu progresif dan applikatif.

Ada dua alasan mengapa umat Kristen etnis Tionghoa boleh merayakan Imlek secara kultural, bahkan perlu merayakan secara kultural. Mengapa ? Pertama Karena keberadaan Tahun Baru Imlek bisa menjadi kesempatan kesaksian dan pelayanan Injil, Kedua Karena keberadaan Tahun Baru Imlek bisa menjadi kesempatan bagi umat Kristen etnis Tionghoa untuk menjawab dan menghilangkan kesalahpahaman orang Tionghoa pada umumnya terhadap ajaran kekristenan, disamping itu, banyak pula nilai-nilai Imlek yang positif yang dapat menjadi jembatan budaya sebagai kontribusi kehidupan Kristen kita.

Pertama : Kesempatan kesaksian dan pekabaran Injil

Allah menyelamatkan kita dan memakai setiap orang Kristen sebagai saksi dan pelayan InjilNya. Kita adalah agen pembaharu budaya kita sendiri. Allah memakai budaya untuk menyatakan dan menggenapkan maksud Nya, Budaya kita adalah jembatan penghubung, bukan tembok pemisah. Tuhan Yesus lahir dan hadir didalam budaya Yahudi. Paulus membawa berita Injil ke dalam budaya Yahudi dan Yunani, Injil terus hadir dan mentahirkan beragam budaya di dunia..

Dua tokoh pemikir Kristen berikut ini menuliskan hal itu dengan tepat J.H. Bavinck, “Kristus mengambil hidup seseorang didalam tangan Nya, Dia memperbaharui dan membangun kembali yang menyimpang dan yang buruk. Dia mengisi setiap hal, setiap kata dan setiap praktik dengan arti baru dan memberinya arah baru” Charles Kraft “(Allah) mengisi bentuk budaya lama dengan arti baru. Diakui bahwa Allah sudah bekerja didalam budaya tersebut, kemudian Injil memasuki budaya tersebut dan bekerja untuk mengubah dari dalam”
Disinilah kita melihat Kristen sebagai Transformator Budaya yaitu, budaya merefleksikan keadaan manusia yang sudah jatuh dalam dosa; namun didalam Kristus umat manusia ditebus dan budaya dapat diperbaharui kembali untuk memuliakan Allah dan memajukan tujuan-tujuan Nya.

Kedua : Menghilangkan kesalahpahaman

Orang Tionghoa pada umumnya salahpaham tentang ajaran agama Kristen, dengan menganggap bahwa kekristenan menjadi biang kerok anak-anak bersikap tidak berbakti pada orang tua karena lunturnya budaya mereka. Kesalahpahaman ni dapat dihilangkan melalui peluang yang terdapat dalam merayakan Imlek secara kultural, bersihkan rumah, saling berkunjung, dan makan bersama keluarga, mengucapkan selamat dan hormat pada keluarga yang lebih tua, baju baru, menyambut kerabat dan menjamu tamu, berbagi kebahagiaan berupa ang pao untuk yang lebih muda dll.


Bagaimana kita mengetahui suatu tindakan itu berkaitan secara spiritual atau hanya kultural, hal ini dapat dilihat dari objeknya. Jika objek itu harus disembah dan bernuansa mistis, magis, maka jelas itu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ritus atau spiritual ! Hindarilah !

Kiranaya dengan ini kita lebih siap menghadapi dan menghidupi Injil di tengah-tengah keragaman budaya yang ada di sekitar kita. Bukan dengan menentang atau menantang Budaya, melainkan melaluibudaya, kita menjunjung Kristus membaharuinya.

Pdt. Deddy G. Satyaputera, S.Th.
( Pendeta GKI Emaus - Surabaya )

 

Add comment


Security code
Refresh