SarapanPagi Portal

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Contents Sosial-Politik
Sosial-Politik


Alutsista TNI Sangat Parah

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 

"Kemarin ada Hercules jatuh, sampai-sampai ada anekdot di luar yang mengatakan, wah pesawat Indonesia nggak usah dipakai perang pada jatuh sendiri" (Butet Kartaredjasa)

Rentetan kecelakaan Alutsista udara tahun 2009 saja :






Ihwal Kecelakaan Pesawat Militer
Rabu, 10 Juni 2009 | 05:18 WIB

F Djoko Poerwoko

Lagi, heli militer jatuh, tiga perwira tewas (Kompas, 9/6).

Judul berita di halaman depan itu masih ditambah kata-kata, ”penyebab sebaiknya dibuka”.

Kata-kata terakhir inilah yang banyak orang kurang paham, tidak ada aturan yang mengatur kecelakaan pesawat militer diumumkan ke publik.

Hal ini terkait hilang atau rusaknya barang milik negara karena digunakan untuk pertahanan negara. Hanya berkas laporan kecelakaan dan surat kehilangan inventaris negara yang diperlukan, maka pesawat heli itu telah dihapus dari daftar inventaris negara.

Dalam kasus ini, helikopter BO-105 Bolkow/HS-7112 dari Skuadron Heli Serbu-11 yang bermarkas di Lanumad A Yani hancur, tiga perwira tewas, dan dua terluka.

Luka atau tewas dalam militer adalah risiko tugas, tetapi TNI tetap akan menyelidiki kasus ini bukan untuk mencari kesalahan, tetapi menjaga agar kecelakaan serupa tidak terulang.

Melihat registrasi pesawat dengan logo segi 5 berbintang menunjukkan pesawat ini termasuk pesawat negara atau state aircraft.

Dengan demikian, dalam penyelidikan kecelakaan tidak akan menyertakan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan hasilnya dilaporkan berjenjang ke atas. Meski untuk tahun ini TNI telah kehilangan 79 prajurit dalam enam kali kecelakaan pesawat, tugas menjaga NKRI tidak akan surut.

Keterbatasan anggaran

Menyikapi cekaknya anggaran pertahanan tahun 2009 yang dipangkas Rp 1,39 triliun, disikapi Panglima TNI dengan penajaman tugas. Setidaknya ada lima parameter menjadi fokus yang harus tetap dilaksanakan, yaitu pengaturan anggaran untuk tugas faktual; kesiapan operasional; kesiapan pendidikan dan latihan; memelihara alat utama sistem persenjataan (alutsista); serta kesejahteraan prajurit.

Lima parameter yang dikemukakan Panglima TNI itu disikapi dengan pengetatan pengeluaran yang tidak penting. Sektor-sektor yang dipangkas pendanaannya adalah kegiatan protokoler, seminar, dan kunjungan ke luar negeri. Makna lain, pemeliharaan alutsista tetap menjadi salah satu fokus pelaksanaan tugas.

Khusus pemeliharaan, diterapkan skala prioritas dengan mengoperasikan alutsista berdasarkan anggaran yang tersedia.

Bila saat ini TNI AU memiliki 19 C-130 Hercules, hanya dioperasikan 10 unit (dalam sirkulasi) ini diharapkan terbang di atas 80 persen dan akan menjadi 100 persen pada situasi yang diperlukan, misal Latgab TNI. Kekuatan pesawat yang siap akan menurun lagi sejalan tugas dan kadang hanya sekitar 40 persen.

Untuk itu, diperlukan perencanaan matang, tertuang dalam Rencana Penggunaan Alat Utama Sistem Senjata (Rengunsista) yang bergulir tiap tahun. Perlu ditegaskan, pesawat dalam sirkulasi telah memenuhi standar kelaikan sesuai prosedur baku yang dianut dalam pengoperasian pesawat terbang militer.

Pilot mahal

Sangat mahal memang ”harga” seorang pilot militer di Indonesia.

Selain sang calon pilot harus mengikuti pendidikan terbang selama 20 bulan dalam 220 jam terbang, dana untuk mendidik berkisar Rp 1 miliar per siswa atau dua kali lipat pendidikan pilot pesawat komersial. Sebagai gambaran, untuk mengirim seorang pilot TNI AU mengikuti pendidikan di Fighter Instructor Weapon School di luar negeri perlu dana 1,5 juta dollar AS per pilot.

Setelah lulus dan mendapatkan brevet, dia harus menyelesaikan pendidikan transisi di pesawat yang akan diawaki dan pendidikan konversi.

Pendidikan berlanjut terus dilakukan sampai akhirnya menjadi seorang kapten pilot atau flight leader untuk pesawat tempur.



Pendidikan masih berlanjut untuk menjadi seorang instruktur pilot atau menjadi test pilot. Untuk sampai jenjang ini, umumnya mereka telah berpangkat mayor.

Ironisnya, dalam struktur gaji TNI, sang mayor hanya mendapat take home pay Rp 5 juta untuk hidup bersama istri dan dua anak.

Bila gugur, sang pilot hanya mendapatkan asuransi Rp 200 juta, selain santunan kematian Rp 25 juta ditambah uang perawatan jenazah Rp 2.000.000, pralaya Rp 1,5 juta, dan uang duka tiga kali pendapatan gaji terakhir. Jumlah akan lebih rendah untuk bintara dan tamtama.

Mahal dan murah amat relatif. Tetapi, kehilangan seorang pilot yang terlatih, apalagi kehilangan seorang marsekal atau seorang pasukan khusus berpangkat kolonel, memang tidak terhingga.

Terpenting menjaga kewibawaan pemimpin dan tanggung jawab lebih penting serta mengucapkan... ”Saya bertanggung jawab”.



F Djoko Poerwoko Marsekal Muda TNI (Pur); Mantan Test Pilot TNI AU

Sumber :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/10/05180317/ihwal.kecelakaan.pesawat.militer


-----

 

Rabu, 20 Mei 2009 | 17:27 WIB

AFP/NAUFAL

Petugas berkerumun di lokasi jatuhnya pesawat Hercules TNI AU di Desa Geplak, Karas, Magetan, Jawa Timur, Rabu (20/5).
 

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Komisi I DPR RI Theo L Sambuaga di Jakarta, Rabu (20/5), menyatakan, secara keseluruhan alat utama sistem persenjataan atau alutsista yang dimiliki semua angkatan di lingkup Tentara Nasional Indonesia sudah sangat parah dan benar-benar memprihatinkan.

"Kecelakaan beruntun yang dialami beberapa pesawat angkut milik TNI Angkatan Udara (AU) sejak Januari 2009, dan yang terbaru tadi pagi menewaskan hampir 90 prajurit, termasuk seorang berpangkat marsekal (jenderal) beserta beberapa keluarga sipil mereka, mencerminkan betapa parahnya alutsista TNI kita itu," katanya.

Komisi I DPR RI, katanya, telah berulang-ulang mengingatkan kepada Pemerintah RI agar jangan mengabaikan perbaikan dan pengadaan alutsista itu. "Benar ada prioritas untuk sektor-sektor ekonomi tertentu, tetapi keadaan yang alutsista kita yang sebenar -benarnya sudah sangat parah," katanya.

Karena itu, dengan menyampaikan rasa berduka sedalam-dalamnya kepada pihak keluarga korban jatuhnya pesawat Hercules itu, Theo Sambuaga mendesak Pemerintah RI untuk melakukan audit menyeluruh atas seluruh alutsista milik TNI.

"Ini harus segera. Sesungguhnya hal ini sudah berulang-ulang kami desak, tetapi kali ini tidak ada tawar-menawar lagi. Semua alutsista wajib diaudit, apakah itu pesawat angkut, patroli, tempur (di lingkup TNI AU), atau di jajaran TNI Angkatan Laut (AL) seperti kapal angkut, patroli, tempur, pemburu, radar, dan lain-lain. Termasuk di lingkungan TNI Angkatan Darat (AD) berupa kendaraan taktis (rantis) dan seterusnya," ujarnya.

Hasil audit itu, katanya, harus segera diketahui untuk memastikan mana alutsista berusia tua yang tidak lagi layak operasional dan harus dibesituakan saja. "Jangan lagi dipaksa-paksa alutsista tua diperbaiki seadanya lalu dioperasikan secara nekat. Kalau memang kondisi pesawat itu masih memungkinkan, bisa dioperasikan dengan beberapa catatan atau metode khusus," katanya.

dari http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/20/17272596/Theo.Alutsista.TNI.Sangat.Para h

-----

Hercules Jatuh Konsekuensi Gunakan Alutsista Tua

http://www.kompas.com/data/photo/2009/05/20/1207326p.jpg

AFP/NAUFAL

Asap masih mengepul di puing pesawat Hercules TNI AU yang jatuh di Desa Geplak, Karas, Magetan, Jawa Timur, Rabu (20/5).

/

 

 

Rabu, 20 Mei 2009 | 16:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi I (bidang pertahanan dan luar negeri)  DPR RI Dr Yuddy Chrisnandi menyatakan, peristiwa jatuhnya pesawat Hercules TNI AU di Desa Geplak, Magetan, Jawa Timur Rabu pagi merupakan konsekuensi penggunaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang sudah tua.
    
"Kita prihatin. Jatuhnya pesawat hercules adalah musibah yang bila dirunut sebagai konsekuensi menggunakan Alutsista udara yang sudah berumur tua serta ketidakcukupan biaya perawatan." katanya ketika dihubungi di Jakarta, Selasa.
    
Tiga hal yang menjadi faktor peristiwa jatuhnya Hercules C-103  menurut Yuddy, karena umur alutsista tua, minimnya anggaran perawatan dan adanya kemungkinan suku cadang pesawat yang dikanibal.
    
Menurut Yuddy, minimnya anggaran pertahanan, menyebabkan TNI tidak bisa memiliki peralatan perang, termasuk pesawat angkut baru apalagi modern, yang dapat meminimalisir terjadinya resiko kecelakaan.
    
"Bahkan,TNI juga tidak memiliki anggaran perawatan Alutsista yang memadai untuk menjaga kontinuitas keamanan pengoperasian alat-alat pertahanannya," katanya.
    
Yuddy mengatakan, anggaran pemerintah kepada TNI. Pemerintahan kedepan, seharusnya memproyeksikan anggaran pertahanan sekurangnya 75 persen dari kebutuhan minimalnya, untuk mengurangi resiko penggunaan alutsista dan meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI.
    
Dia juga menjelaskan, sebenarnya anggaran pertahanan yang diperlukan untuk pertahanan sebesar Rp174 triliun, sementara itu minimum esential "requirement budget" yang pernah diajukan sebesar Rp76 triliun.
    
Tetapi, menurut dia, negara tidak memiliki anggaran bidang pertahanan sebesar itu dan hanya mampu menganggarkan Rp35 triliun. Menurut Yuddy, jumlah itu sangat minim.
    
"Anggaran TNI yang hingga saat ini baru dapat dipenuhi negara sekitar 45 persen dari kebutuhan minimal adalah cermin ketidakberpihakan politik," kata Yuddy.
    
Ia juga menghimbau agar politik anggaran pemerintah seharusnya pro pertahanan, demi mencegah terulangnya kecelakaan seperti ini.
    
Pesawat Hercules C-130 bernomor A-1325 jatuh di persawahan dan menimpa dua rumah warga di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur,  Rabu pagi.
   
Pesawat ini melakukan kontak terakhir pukul 06.25 WIB dari ketinggian 10.000 meter terus merendah mendekati landasan Lanud Iswahyudi, Madiun, dimana saat itu cuaca satu kilometer menjelang landasan berkabut tipis.

 dari : http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/20/16292044/hercules.jatuh.konsekuensi.gun akan.alutsista.tua

-----

JK: Hercules Jatuh karena Anggaran Alutsista Tidak Cukup

Rabu, 20 Mei 2009 | 12:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan, jatuhnya pesawat angkut jenis Hercules C-130 TNI AU akibat tidak adanya anggaran yang cukup untuk pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) di Indonesia.
    
"Ini akibat tidak diberi porsi yang cukup untuk alutsista kita," kata Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Rabu, ketika ditanya komentarnya atas kecelakaan Hercules di Magetan, Jatim.
   
Menurut Wapres, alutsista yang dimiliki oleh TNI AU sebagian besar sudah tua usianya dan dibeli ketika zaman (Alm) Jenderal M Jusuf. Oleh karena itu, Wapres menegaskan ke depan soal anggaran alutsista ini harus segera dipenuhi. "Ini (anggaran alutsista) harus segera. Saya jamin itu," kata Wapres dengan nada serius.
    
Apalagi, tambah Wapres, untuk pesawat angkut jenis Hercules ini tidak hanya dipakai untuk perang, tetapi juga untuk tugas-tugas kemanusiaan di saat damai. Dalam kesempatan itu Wapres juga mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban.
    
Hercules jenis C-130 dengan nomor registrasi A1325 mengalami kecelakaan dan jatuh di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Rabu (20/5) pagi sekitar pukul 06.00.

Pesawat Hercules milik TNI AU yang membawa 98 penumpang dan 14 kru pesawat itu tengah melakukan penerbangan rutin dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dengan tujuan akhir Biak, Jayapura, dan rencana singgah di Madiun.

dari : http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/20/12445227/jk.hercules.jatuh.karena.angga ran.alutsista.tidak.cukup

-----

February 7, 2008

Alutsista Uzur Cermin Bangsa yang Keropos

Cermin bahwa kita miskin -karena itu tidak bisa bertepuk dada untuk unjuk diri bahwa kita masih di jajaran negara berkembang- tidak hanya pada masih berjibunnya rakyat yang kesulitan membeli sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako).

Cermin itu dengan telanjang bisa kita saksikan pada alat utama sistem persenjataan (alutsista) tua bangka yang tetap digunakan, meski untuk keperluan latihan. Bukan untuk tembak-menembak di medan pertempuran yang sesungguhnya.

Tengoklah, tank amfibi BTR-50 buatan Rusia tahun 1962. Tank itu sudah berumur 46 tahun. Pabriknya di Rusia sana sudah tidak memproduksi suku cadang. Toh, tank itu tetap digunakan. Tragisnya, amfibi BRT-50 tersebut karam dalam latihan Armada Jaya 27 pada Sabtu (2/2). Korbannya, tujuh anggota Marinir tewas dalam latihan itu.

Simak pula helikopter TNI yang jatuh di perkebunan kelapa sawit di Jambi pada bulan lalu. Dalam peristiwa yang menewaskan salah seorang penumpangnya yang kebetulan warga Singapura itu, heli tersebut celaka diduga karena sudah berusia uzur.

Alutsista ibarat sembako bagi manusia. Kemampuan membeli sembako menjadi cermin tingkat kesejahteraan di ambang batas paling minimal. Dengan kata lain, ketidakmampuan TNI -dalam hal ini pemerintah melalui Departemen Pertahanan (Dephan)- untuk berbelanja alutsista yang paling standar dengan jumlah yang cukup mencerminkan bahwa TNI adalah korps militer yang tergolong amat miskin.

Apa pun dalih atau persoalannya, kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa sebagian besar alutsista TNI sudah uzur. Apa pun alasannya, kenyataannya, kita tidak mampu berbelanja alutsista untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan negara yang memadai.

Apa yang bisa kita harapkan dari kemampuan TNI kalau "sandang pangannya" (alutsista itu) tidak bisa mencukupi kebutuhan fisik, minimal untuk sekadar berlatih?

Kalau senjata milik TNI sudah "berkarat" dan banyak yang mereteli (runtuh akibat usia tua), apa yang bisa diharapkan dari TNI untuk membentengi tumpah darah tanah air Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke?

Ketika kita dihadapkan pada "kemiskinan" anggaran untuk membeli alutsista dalam jumlah memadai seperti saat ini, tampaknya, menjadi tidak banyak gunanya membuat sejumlah perjanjian keamanan dan pertahanan bersama negara lain.

Kalaupun, misalnya, dalam perjanjian itu terdapat klausul yang menguntungkan RI, dengan alutsista yang sudah berkarat, tetap saja dalam jangka panjang kita berada pada posisi yang "dikalahkan".

Kita paham sepaham-pahamnya, anggaran militer dan pertahanan dalam APBN -meski tiap tahun cenderung naik- jauh dari memadai dibandingkan luas wilayah dan jumlah penduduk Indonesia. Kita paham karena sadar bahwa sebagian besar anggaran dalam APBN masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih prioritas dan urgen.

Masalahnya, tanpa TNI yang kuat dan gagah perkasa, dengan alutsista yang memadai dan modern, keberadaan kita sebagai negara dan bangsa yang besar hanyalah klaim yang naif.

Dengan kata lain, kebesaran kita -tanpa militer yang kuat dengan alutsista yang modern dan tangguh- sesungguhnya adalah kita ini bangsa yang gembos dan keropos. Nauzubillah!

Jawa Pos
Dari : http://jawabali.com/militer-plus/alutsista-uzur-cermin-bangsa-yang-keropos


-----

Mayoritas Alutsista Berumur di Atas 20 Tahun



Selasa, 05 Februari 2008 23:17 WIB

 

Reporter : Fardiansah Noor

JAKARTA--MI: Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen menyatakan, TNI akan melakukan inventarisasi alutsista (alat utama sistem persenjataan) dan mengelompokkannya berdasarkan usia.

Perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengandangkan alutsista tua akan dilaksanakan, segera setelah inventarisasi selesai.

"Perintah presiden pasti kita akan laksanakan. Kita akan laporkan mana saja yang sudah diremajakan dan repowering untuk diizinkan bisa dipakai terus," kata Sagom ketika dihubungi Media Indonesia , Selasa (5/2).

Dia mengakui, hampir sekitar 70% alutsista sudah berusia di atas 20 tahun. Tapi, TNI tetap membutuhkan peralatan dan persenjataan untuk latihan dan melaksanakan operasi sesuai tugas pokok, peran dan fungsi TNI. "Jika semua peralatan dan persenjataan yang telah berusia diatas 20 tahun langsung dikandangkan, maka TNI tidak dapat melaksanakan latihan rutin untuk memelihara kesiapan operasional dan

profesionalitasnya," cetus Sagom.

Dia menjelaskan, beberapa alutsista yang berusia di atas 20 tahun atau buatan tahun 1960 di antaranya adalah pesawat angkut berat C-130 Hercules dan Helikopter S-58T Twin Pack milik Angkatan Udara, panser amphibi BTR 50 P milik TNI AL, dan beberapa tank milik TNI AD. "Awalnya memang buatan 1960-an. Tapi mesin sudah kita remajakan dengan sistem yang baru sehingga tetap akan kita gunakan. Ada beberapa yang kita minta izin untuk tetap digunakan," ungkap Sagom.

Dia menjelaskan, TNI tetap mengutamakan faktor keselamatan prajurit dalam setiap latihan tempur atau pertempuran. Karena itu, perawatan alutsista dan kesiapan operasinya terus menjadi perhatian utama.

"Memang kita tidak dalam kondisi perang. Tapi kesiapan alutsista dan prajurit harus terus dijaga dengan latihan. Artinya di masa damai ini kita sudah bersiap untuk perang, walaupun itu tidak kita inginkan," ujar Sagom. (Far/OL-2)
 


Dari : http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=158251


-----

Reduksi Alutsista Tua TNI Harus Dilakukan

Korban Kecelakaan F-27 TNI AU Dimakamkan

http://www.kompas.com/data/photo/2009/04/08/0454555p.jpg

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Tujuh jenazah korban kecelakaan pesawat Fokker-27 tiba di Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Adisutjipto, Yogyakarta, Selasa (7/4). Setelah disambut dengan upacara militer, jenazah dibawa ke daerah asal masing-masing untuk dimakamkan.

/

Rabu, 8 April 2009 | 04:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Reduksi alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia yang berusia tua harus dilakukan. Kalau tidak, prajurit TNI seperti berada dalam ”peti mati” yang sewaktu-waktu bisa membunuh mereka.

Peringatan itu dikatakan pengamat militer dari Universitas Indonesia, Andi Widjojanto, di Jakarta, Selasa (7/4). Hal itu dikatakannya terkait dengan jatuhnya pesawat Fokker (F)-27 milik TNI Angkatan Udara yang menewaskan 24 prajurit TNI AU, termasuk 17 prajurit Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU, di Bandara Husein Sastranegara, Bandung (Kompas, 7/4).

Pengajar teknik penerbangan di Institut Teknologi Bandung, Hari Muhammad, menambahkan, pesawat F-27 sebaiknya tak dipakai lagi karena berisiko. ”Walau dilakukan aging (penambahan usia melalui perawatan yang baik), usia pemakaian pesawat jenis itu sebaiknya hingga 25 tahun. Normalnya, 15-20 tahun,” ujarnya.

Secara terpisah di Jakarta, Senin malam, Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengakui, kecelakaan F-27 dengan nomor A-2703 TNI AU harus menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Banyak alutsista TNI yang tua. ”Kita tahu, pesawat itu tua, buatan tahun 1976,” katanya.

Wapres mengakui, 24 prajurit TNI AU yang tewas itu tengah menjalankan tugas. Pemerintah memberikan perhatian dan belasungkawa kepada korban dan keluarga.

Korban dimakamkan

Dari Bandung dilaporkan, 19 jenazah korban kecelakaan F-27 TNI AU, Selasa, diberangkatkan ke Bali, Magetan, Padang, Makassar, Jakarta, dan Yogyakarta. Jenazah diberangkatkan memakai dua pesawat Hercules tipe C-130. Sebelumnya digelar upacara pelepasan jenazah dengan inspektur upacara Komandan Korps Paskhas TNI AU Marsekal Pertama Harry Budiono.

Di Jakarta, enam jenazah korban diterima Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Subandrio di Lanud Halim Perdanakusuma. Selanjutnya dilakukan serah terima jenazah dari keluarga korban, yang diwakili Panglima Kodam Iskandar Muda Mayor Jenderal TNI Soenarko, ayah kopilot Lettu (Pnb) Yudho Pramono, kepada pemerintah. Lima jenazah yang semuanya kru pesawat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, kecuali pilot Kapten (Pnb) I Gede Agus Tirta Santosa yang diterbangkan ke Bali.

Mereka yang dimakamkan di TMP Kalibata adalah Yudho Pramono, Letda (Tek) Dadang Setiyono, Letda (Tek) Rachmat Suryono, Serda Bakhtiar, dan Serda Mas Karebet.

Tiga jenazah dikembalikan ke keluarga masing-masing di Lanud Iswahjudi, Magetan, yakni Pratu Teguh Widodo, Pratu Danang Tetuko Mulyatin, dan Prada Erwin Agus Untoro. Kedatangan jenazah disambut dengan upacara kemiliteran yang diwarnai isak tangis. Di antara keluarga korban adalah istri Teguh, Nur Ika Mayasari (23), yang kini hamil enam bulan. Ia terus berurai air mata.

Jenazah Pratu Didik Kurniawan tiba di rumah duka di Kasuran, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Selasa. Kedatangan jenazah juga disambut isak tangis keluarga, terutama istri Didik, Dwi Lestari (25), yang mengandung anak pertama mereka. Usia kehamilan Dwi saat ini delapan bulan.

Sebelumnya, tujuh korban kecelakaan pesawat F-27, termasuk Didik, disambut dengan upacara militer di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Enam korban lain adalah Letnan Satu Wahyu Nanik Sardi, Prada Heru Kustanto, Pratu Ari Purwanto Putro, Prada Ipnu Setiawan, Prada Dedi Jati Kuncoro, dan Pratu Darmanto. Mereka dimakamkan di daerah masing- masing.

Jenazah Letnan Satu (Psk) Dhani Ariadi Koto, korban lain, dimakamkan di Limau Manis, Padang. Keluarga, kerabat, dan anggota TNI AU mengiringi pemakamannya.

Dari Makassar, tiga jenazah korban, yakni Lettu (Psk) Baso Nai, Pratu Abdul Kadir, dan Prada Faisal Rezki, diterima di Bandara Sultan Hasanuddin. Upacara serah terima jenazah kepada keluarga dipimpin Komandan Pangkalan TNI AU Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI IB Putu Dunia. Setelah upacara, ketiga peti jenazah dimasukkan ke tiga ambulans. Isak tangis keluarga dan kerabat pun terjadi.

Jangan kaitkan usia

Menurut Andi, TNI perlu segera menerapkan mekanisme pengelolaan alutsista transisional, yang di dalamnya tegas disebutkan perlunya reduksi. ”Jika tidak, ibaratnya prajurit TNI selalu berada dalam ’peti mati’ yang sewaktu-waktu akan membunuh mereka,” ujarnya.

Pengurangan alutsista itu, kata Andi, tak hanya untuk pesawat, tetapi juga alutsista lain yang berfungsi mengangkut personel. Kini tingkat kesiapan alutsista TNI tak lebih dari 40 persen.

Andi mengakui, reduksi akan mengakibatkan kekosongan alutsista TNI. ”Sebab, alutsista yang dikurangi tidak bisa digantikan langsung akibat anggaran yang minim. Namun, itu harus berani diambil,” ujarnya.

Namun, KSAU mengatakan tidak ada masalah dengan kelaikan F-27 Troopship/A-2703 yang jatuh di Bandung. Karena itu, berbagai pihak tak perlu mengaitkan usia atau tahun produksi pesawat dengan kelaikan terbangnya. Selama perawatannya baik dan pesawat dinyatakan laik terbang, usia pesawat bukan masalah.

”Pesawat Hercules yang usianya lebih lama saja laik terbang. Jika pesawat tak laik, saya suruh menerbangkan, sama saja saya membunuh anak buah. Pesawat tempur Raptor (F- 22) Amerika Serikat saja bisa jatuh,” katanya.

Di Jakarta, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan masih ada daftar belanja alutsista TNI yang diusulkan sejak tahun 2005 belum direalisasikan hingga kini sehingga anggaran yang dialokasikan untuk pembeliannya pun tak terpakai.

Dari : http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/04/08/04560336/reduksi.alutsista.tua.tni.haru s.dilakukan

-----

Pengamat: Buang Senjata Usang

/

 

 

Selasa, 7 April 2009 | 21:37 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Wisnu Dewabrata

JAKARTA, KOMPAS.com — Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), yang juga pengamat isu militer, Andi Widjojanto, meminta TNI segera menerapkan mekanisme pengelolaan senjata transisional. Dengan cara ini, yang harus dilakukan adalah melakukan proses reduksi persenjataan.

Hal itu, menurut Andi, mau tidak mau harus dilakukan lantaran pemerintah tidak mampu memenuhi 100 persen kebutuhan pertahanan, khususnya persenjataan untuk TNI. Pernyataan itu disampaikan Andi, Selasa (7/4), menanggapi kecelakaan peralatan utama sistem persenjataan TNI, yang terus dan kembali terjadi.

"Reduksi persenjataan harus dilakukan segera dengan membuang alutsista yang tidak lagi laik operasional. Jika tidak, ibaratnya, para prajurit TNI akan selalu berada dalam "peti mati" terbang yang sewaktu-waktu akan membunuh mereka," tegas Andi. Hal itu, menurutnya, juga berlaku pada jenis persenjataan lain, yang berfungsi membawa atau mengangkut sejumlah personel TNI dalam mengoperasikannya.

Menurut Andi, saat ini tingkat kesiapan persenjataan TNI tidak lebih dari 40 persen. Andi lebih lanjut mengakui di kalangan TNI dan pemerintah sendiri memang masih ada keraguan untuk mengambil langkah reduksi persenjataan tersebut. Hal itu lantaran langkah reduksi dapat menciptakan kekosongan persenjataan.

"Memang langkah reduksi bisa menyebabkan kekosongan karena senjata yang dibuang tidak dapat langsung digantikan akibat anggaran yang minim. Memang semua itu pilihan sulit, namun masa transisional harus berani diambil," ujar Andi.



Dari : http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/04/07/21373836/pengamat.buang.senjata.usang



Last Updated on Wednesday, 10 June 2009 23:09
 


Page 7 of 15