Pilkada Jatim Bukan Solusi Masalah Lapindo
Sabtu 19 Juli 2008 ini merupakan hari terakhir kampanye pemilihan
gubernur Jawa Timur, sebelum 29 juta warga berhak suara mencoblos Rabu
pekan depan. Salah satu masalah yang menonjol di Jawa Timur tidak lain
adalah lumpur Lapindo. Tapi ternyata tidak seorang pun dari kelima
calon gubernur datang dengan jalan keluar kongkrit. Jangan-jangan
pilkada Jatim memang bukan jaminan penyelesaian masalah Lapindo.
Berikut penjelasan Kurniawan Mohamad, wartawan harian Jawa Pos di
Surabaya.
Kurniawan
Mohamad [KM]: 'Kalau saya lihat calon-calon ini yang kuat itu ini
Khofifah, banyak pihak mengatakan itu berpeluang kemudian Soekarwa
juga, kemudian Soetjipto'.
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: 'PDIP ya'?
KM: 'Ya, jadi kelihatannya tiga besar itu yang berpeluang untuk ini'.
Peran media
RNW: 'Kalau kita mulai dari
masaalah yang sukar dulu. Di berbagai pilkada, di provinsi-provinsi
yang lain itu yang menjadi masalah adalah soal golput? Bagaimana Jatim'?
KM: 'Jawa Timur kalau pemilu tahun lalu itu kan 40 ya, kalau nggak
salah. Itu 40an ya, hampir 40 golput. Diperkirakan untuk pilkada Jawa
Timur sekarang ini ya berkisar antara 35-40 itu. Ya, termasuk tinggi
kalau dilihat pemilu tahun 2004. Tapi ini kan sebetulnya peran dari
media, baik media cetak maupun elektronik, terkait dengan pilgub ini
kan kelihatan signifikan. Artinya nanti angka golput itu bisa berkurang
begitu.
Ini terlihat dari setiap kali media cetak mengadakan parameternya ya,
mereka ini partisipasinya juga cukup bagus. Kalau itu dijadikan
parameter bagaimana. Kan golput itu kan macam-macam. Ada yang karena
dia tidak dapat informasi secara lengkap, ada yang dia tidak punya
ideologi. Misalnya pokoknya saya nggak mau nyoblos karena dia tidak
percaya apatismelah. Dia tau ada pilgub tapi apatis dia gitu.
Peran media cetak maupun elektronik itu, kelihatannya bisa golput yang
tidak dapat informasi itu. Karena untuk dua pasangan calon kayak pak
Naryo sama pak Karwo itu runningnya
sudah tiga tahun yang lalu. Dia ke daerah-daerah itu selain
mempopulerkan figur, mereka ini juga mempopulerkan bahwa nanti akan ada
pilgub. Jadi, dengan cara itu, bisa jadi nanti orang yang semula golput
karena tidak dapat informasi itu bisa tidak golput begitu'.
RNW: 'Tapi kalau dari 40% golput zaman pemilu tahun 2004, itu yang paling banyak kategorinya mana'?
KM: 'Pemilih usia antara 24 sampai 39an ya, usia itu antara usia itu'.
Golput cenderung menurun
RNW: 'Tapi susah mengatakan bahwa mereka justru tidak tahu-menahu karena tidak melihat media'?
KM: 'Ya, kalau dulu misalnya pemilihan legislatif. Kalau toh dia
berkampanye calon-calon, itu kan tidak langsung terasa di sini. Karena
dia anggota DPR, anggota DPRD begitu kan, tapi kalau kepala daerah itu
kan beda. Artinya orang yang milih itu akan lebih tertarik milih kepala
daerah dibandingkan dia milih presiden atau anggota DPR. Presiden itu
kan agak jauh gitu kan, kalau kepala daerah itu kan langsung dampaknya
gitu.
Karena itu sebetulnya ada kecenderungan menurun golput itu. Kalau kita
lihat di Jawa Tengah, kalau dibandingkan dengan itu ada kecenderungan
menurun, dibandingkan dengan pemilu 2004. Meskipun juga angkanya masih
besar tetapi ada kecenderungan menurun, itu menunjukkan bahwa tetap
beda. Dulu kalau bandingannya pemilu 2004 itu milih presiden sama milih
anggota dewan. Nah, ini milih gubernur milih pemimpin yang langsung
lebih berdampak daripada presiden sama anggota dewan'.
Kurang kongkrit
RNW: 'Pertanyaan yang saya
kira juga tidak kalah pentingnya adalah soal Lapindo ya. Bagaimana dari
kelima pasangan calon ini menawarkan jalan keluar untuk Lapindo'.
KM: 'Kita kan sebetulnya ada liputan khusus tentang bagaimana para
calon itu mengatasi problem-problem yang cukup lama penyelesaiannya di
Jawa Timur, antaranya adalah Jembatan Suramadu dan lumpur Lapindo.
Nah, ketika menjawab soal lumpur Lapindo, jawaban para calon ini kurang
kongkrit menurut saya. Kebanyakan normatif. Misalnya kita akan duduk
bersama, jadi kurang kongkrit. Ada calon yang mungkin karena sudah
punya pengalaman di birokrasi, tahu bagaimana sulitnya menangani
Lapindo, karena itu terkait kepentingan daerah, kepentingan propinsi,
kepentingan nasional, dia tidak berani membuat program yang kongkrit.
Barangkali karena dia tahu sulitnya.
Ada juga calon yang karena dia tidak tahu, sering kali tidak realistis
jawabannya. Kita ngukur kayaknya enggak realistis program yang
diajukannya'.
RNW: 'Dengan demikian sesudah pilkada ini belum ada jaminan Lapindo akan diselesaikan'?
KM: 'Ya, kita sih berharapnya dengan adanya gubernur yang baru itu
paling tidak bisa lebih proaktiflah, lebih baik dari sebelumya. Tapi
soal jaminan ini sih kalau kita sih mazhabnya kan harus optimis'.
Sumber : http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pilkada_jatim_lapindo080718
----------------------------------------
Korban Lumpur Lapindo Kecewa kepada Cagub
Tak Satu Pun Cagub Jatim Berani Bersikap soal Penanganan Lumpur
Surabaya, Kompas - Korban semburan lumpur Lapindo di Porong,
Sidoarjo, Jawa Timur, menyatakan kekecewaan mereka terhadap lima
pasangan peserta Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur periode 2008-2013.
Tak satu pun dari calon gubernur itu yang berani memberikan jawaban
tegas tentang berani atau tidak membuat kontrak politik dengan para
korban lumpur Lapindo.
Pertanyaan tentang kontrak politik dengan
korban lumpur Lapindo ini muncul sebagai pertanyaan pertama dalam debat
publik calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim yang diselenggarakan
hari Sabtu (19/7) malam di Taman Tugu Pahlawan, Surabaya.
Hadir
sebagai panelis dalam acara yang dihadiri sekitar 500 orang ini adalah
pengajar sosiologi Universitas Airlangga, Surabaya, Daniel Sparringa;
pengajar komunikasi Universitas Airlangga, Henri Subiakto; dan
pengusaha media massa, Dahlan Iskan.
Atas pertanyaan tentang
kontrak politik ini, calon gubernur Khofifah Indar Parawansa
mengatakan, yang perlu diselesaikan dalam kasus semburan lumpur Lapindo
adalah membuat ganti untung dengan para korban. Adapun Sutjipto
menuturkan, para korban yang punya kewenangan untuk menentukan apa yang
harus dilakukan pemerintah dalam kasus ini.
Soenarjo mengatakan,
yang penting diselesaikan dalam kasus lumpur Lapindo adalah unsur
manusianya. Jawaban senada disampaikan Achmady, yang mengatakan
pentingnya keberpihakan kepada rakyat dalam kasus ini. Sedangkan
Soekarwo menyatakan berkomitmen ingin menyelesaikan masalah itu dengan
baik.
”Saya kecewa karena pernyataan para calon gubernur itu tak
ada yang menjawab pertanyaan, yaitu berani atau tidak membuat kontrak
politik. Sebagai calon pemimpin, seharusnya mereka berani untuk
bersikap pada masalah Lapindo. Jika jawabannya tidak jelas seperti itu,
jangan salahkan kami jika meragukan kemampuan mereka,” kata Soenarto,
korban semburan lumpur Lapindo.
Hal serupa disampaikan Sunarsih,
korban Lapindo lainnya yang sampai sekarang masih tinggal di
pengungsian di Pasar Baru Porong. ”Saya kecewa…. Saya kecewa,” katanya
berulang-ulang.
Penanganan kasus lumpur Lapindo juga tidak
disinggung kelima pasangan calon saat mereka menyampaikan visi dan
misinya di depan DPRD Jawa Timur, 7 Juli 2008.
Ingin bermain aman
Pemerhati
politik dari Universitas Airlangga, Moh Asfar, menduga ketidakjelasan
jawaban tentang masalah Lapindo ini terjadi karena semua pasangan calon
ingin bermain aman dan ada kesadaran bahwa kewenangan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur dalam kasus ini amat terbatas.
”Namun,
seharusnya tetap ada komitmen yang jelas untuk para korban lumpur
Lapindo. Misalnya, janji untuk memberikan pinjaman modal usaha tanpa
agunan atau membantu membangunkan rumah untuk para korban. Komitmen
seperti itu dapat dilakukan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur,”
katanya.
Ketua Pusat Pengkajian Otonomi Daerah Universitas
Brawijaya, Malang, Ibnu Tricahyo menambahkan, tiga hal penting juga
tidak terungkap dalam jawaban pasangan calon dalam membentuk
pemerintahannya yang bersih, yakni cek dan keseimbangan dalam
pemerintah dan DPRD, pelaku ekonomi, dan masyarakat. Jawaban semua
kandidat atas pertanyaan panelis masih berputar-putar dan hanya
retorika.
”Tidak ada calon yang ideal bagi pemilih,” ujar Ibnu mengkritik.
Kampanye terakhir
Sebelum
menghadiri debat publik, pada pagi hingga siang harinya kelima pasangan
peserta Pilkada Jatim masih berkampanye untuk terakhir kali.
Sutjipto-Ridwan Hisjam kemarin menutup kampanyenya di lapangan Desa
Lajukidul, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Mereka disambut ribuan
pendukungnya mulai pukul 14.00 hingga pukul 15.00.
Khofifah Indar
Parawansa-Mudjiono berkampanye di Gelanggang Olah Raga (GOR)
Tambaksari, Surabaya, dan pelataran GOR Delta Sidoarjo. Sekitar 10.000
pendukung mereka mengikuti kampanye di GOR Tambaksari yang diramaikan
artis dari Partai Pelopor, seperti Camelia Malik, Ahmad Albar, dan Ian
Antono.
Sementara itu, Soenarjo kemarin berkampanye di Jombang
dan Achmady berkampanye di Madura. Sedangkan calon wakil gubernur
Saifullah Yusuf berkampanye di Gedung Guru, Lumajang.
(IDR/VIN/INA/ENG/NWO/ACI/dwa)
Sumber :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/20/0141388/korban.lumpur.lapindo.kecewa.kepada.cagub
Pilkada Jatim & Korban Lapindo
Friday, 04 July 2008 |
Pada 23 Juli mendatang Jawa Timur bakal punya gawe besar berupa
pagelaran pilkada langsung. Hasil Pilkada akan mempengaruhi nasib 35,56
juta penduduknya, termasuk korban Lapindo. Saat Pilgub digelar nanti,
kasus Lapindo telah berumur 784 hari dan tanpa penyelesaian pasti.
Apakah calon-calon gubenur Jatim bisa memastikan itu?
Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan di atas. Apalagi
melihat sepak terjang para kandidat yang begitu marak jauh sebelum masa
kampenye ditetapkan. Ini terlihat dari deretan baliho, poster, spanduk
para kandidat menyesaki jalan-jalan protokol, gang-gang sempit tengah
kota, hingga jalan setapak desa.
Para kandidat berupaya meraup
simpati rakyat. Pasangan Kaji atau Khofifah-Mujiono berkeliling ke
Pondok Pesantren se Madura dan berdialog dengan 300 Kepala Desa.
Beberapa pengusaha yang dikumpulkankelompok media di Jatim, telah
merapat ke pasangan Kaji, termasuk PT Indo Multi Niaga, yang dinahkodai
Jakfar Amri, salah satu petinggi DPP PPP. Perusahaan ini sedang
bermasalah dengan warga sekitar tambangnya di Banyuwangi.
Pasangan
SR – Sucipto dan Ridwan Hisyam yang diusung PDIP tak mau kalah
mengusung jargon: calon dari wong cilik. Dengan berbekal mengumpulkan
tukang becak di berbagai kota, mereka yakin bahwa saat wong cilik
memimpin akan tiba. Poster, spanduk, dan papan reklame mereka bergambar
Sucipto dan Megawati dengan tulisan “Pemimpin Wong Cilik, Sudah Saatnya
Pahlawan Memimpin” dan kalimat lain untuk menegaskan keberpihakan SR
pada rakyat kecil.
Pasangan Karsa atau Karwo-Saifullah Yusuf
tak ketinggalan merapikan barisan PNS dan berusaha merebut simpati
beberapa DPC PDIP, yang sebelumnya mencalonkan dirinya. Acara jalan
sehat pun digelar diberbagai kota, mirip yang dilakukan pasangan Sby-JK
masa Pilpres lalu. Sejak Maret, Karsa memasang iklan di berbagai media.
Pasangannya - Saifullah Yusuf, yang pernah menjabat Ketua GP. Ansor NU
mengimbangi lawan politiknya berkeliling Ponpes, meminta Restu Kyai,
dan berdialog dengan para santri.
Pasangan Salam, yaitu
Sunaryo-Ali Maschan diberangkatkan Partai Golkar. Tak berbeda yang
lain, mereka memperbanyak reklame, mengumpulkan tukang becak dan kaum
miskin kota, serta berebut pengaruh kyai dan santri. Ali yang menjabat
Ketua NU Jawa Timur menegaskan dirinyalah yang berhak mewakili NU.
Kabarnya
kawasan Tapal Kuda, Pasuruan, Jombang, dan Madura sudah mendukungnya.
Sementara Naryo yang dikenal sebagai dalang di kawasan Mataraman, mulai
Ponorogo, Madiun, Magetan, Kediri, Blitar, Nganjuk, Tulungagung dan
sekitarnya, dipercaya akan mendulang suara kaum abangan.
Yang
terakhir, Akhsan, pasangan Akhmadi-Suhartono yang diberangkatkan PKB.
Pasangan ini mendapat restu Gus Dur, tokoh paling berkharisma kalangan
Nahdiyyin. Akhmadi bahkan menyejajarkan dirinya dengan Damar Wulan,
salah satu raja Majapahit yang mengawali karier politiknya sebagai
perumput istana. Ia dulunya tukang sapu pasar dan putra Mojokerto
asli. Poster bertuliskan “Putra Majapahit” pun ditebar, seolah ingin
mengingatkan tentang kebesaran Majapahit pada kurun 1200-an.
Politik Gincu
Kampanye
kelima pasangan kandidat ini punya beberapa kesamaan; pertama, kelima
pasangan calon berusaha mencuri perhatian para kyai dan kaum santri.
Kedua, mengatasnamakan wong cilik - seoalah berpihak pada ketertindasan
rakyat. Ketiga, mengotak-kotakkan rakyat sesuai tingkatan sosial mereka
dan mempraktekkan “politik gincu” kemudian berusaha mencuri perhatiaan
pemilih. Keempat, sama-sama memprioritaskan perolehan suara, bukan
gagasan ke depan.
Tak satupun dari lima pasangan calon yang
berusaha merumuskan tawaran cerdas bagi penyelesaian seaarek persoalan
Jatim. Mereka hanya menebar Janji-janji politik ‘abstrak’ yang sangat
sulit diukur. Parahnya, tak satupun yang menyinggung kasus besar
berskala nasional dan terjadi di Jatim dan tak tertangani: Semburan
lumpur Lapindo (SLL). Padahal kasusnya Nyata dan dampaknya terukur.
Sejak
menyembur lumpur telah menenggelamkan sedikitnya 12 desa, termasuk 34
gedung sekolah (dari TK hingga SMU). Lebih 60.000 orang mengungsi.
Sekitar 87 industri skala rumahan hingga skala pabrik besar tenggelam.
Belum lagi sarana publik seperti jalan tol, listrik, pipa gas, air
minum dan telekomunikasi terganggu bahkan rusak tidak bisa digunakan.
Ironisnya, disaat nasib korban makin tak jelas masa depannya, Abu
Rizal bakrie – sang pemilik PT Lapindo Brantas malah dinobatkan menjadi
orang terkaya di Asia Tenggara.
SLL sejatinya merupakan
pertaruhan integritas pemimpin Jatim ke depan. Bagaimana bisa mengurus
kasus lain, jika kasus ini tak berani diurus. Ketidakseriusan para
kandidat membebaskan Jatim dari belenggu persoalan, khususnya, korban
Lapindo, semakin menciutkan harapan rakyat dari Pilgub Juli mendatang.
Jika
saja para kandidat tadi mempunyai komitmen menuntaskan persoalan
masyarakat Jatim, sebagaimana yang kini di derita korban semburan
Lumpur Lapindo (SLL), dan berusaha meyakinkan masyarakat untuk
menjalankan tekad mulia tadi. Tentunya Jatim masih memiliki harapan di
tengah dunia politik, yang kerap meminggirkan (bila tidak mau disebut
mengorbankan) rakyat.
Cara berpolitik semacam ini tidak saja
menguntungkan kandidat untuk memperoleh suara, akan tetapi biaya
politik (politic cost) sejatinya jauh lebih murah. Dibanding jor-joran
pasang iklan di media masa, menebar simpati berkeliling pesantren,
menggelar pawai keliling kota, atau memberi fasilitas wah bagi para
pendukungnya. Itupun bila pagelaran pilkada langsung tidak dipenuhi
politik uang. Namun anehnya cara murah dan lebih menjanjikan ini justru
tidak diminati para kandidat.
Fenomena politik gincu di atas
menegaskan budaya filantropi politik sedang dilanggengkan. Yaitu sebuah
budaya tebar pesona, rakyat hanya diajak bermimpi hingga pilkada
digelar, selebihnya perlahan tapi pasti mereka akan ditinggalkan. Fakta
ini mempertegas integritas dan loyalitas kandidat terhadap pendukung
mereka. Bila ini terus berlanjut, rakyat Jatim hanya akan mendapat
seorang pemimpin yang terbaik di antara yang terburuk.
Pada
situasi inilah penting mempertimbangkan keterlibatan rakyat secara
aktif dalam Pilkada Jatim mendatang, yang nyaris tak memiliki calon
yang kredibel dan prorakyat. Meski tulisan ini tidak dimaksudkan
mengajak tidak memilih alias golput. Namun perilaku para kandidat yang
seolah melakonkan parodi politik di atas, perlu dipertimbangkan.
Meningkatnya golput diberbagai daerah patut menjadi refleksi bagi
proses pilkada Jawa Timur. Menurut Diamond, 1996 demokrasi akan
terkonsolidasi hanya apabila mendapatkan legitimasi yang luas dan kuat
dari warga sehingga sangat kecil kemungkinannya akan ambruk.
Em Lukman Hakim,
Aktif di BP Jatam (Jaringan Advokasi Tambang)
|
Sumber :
http://www.surya.co.id/web/index.php/Headline/index.php?option=com_content&task=view&id=49179&Itemid=149
Copyright 2007. All Rights Reserved. |